Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● DUA PULUH SEMBILAN : Kejutan di Pesta Pernikahan


__ADS_3

Dering telepon membangunkan Ryanthi dari tidur lelapnya. Setengah sadar, gadis itu meraba permukaan kasur hingga menemukan ponsel yang terus berbunyi.


"Hallo," sapa Ryanthi parau.


"Kamu adalah gadis pertama yang membuatku menunggu selama seharian." Terdengar suara seorang pria yang mulai akrab di telinga Ryanthi.


Ryanthi seketika tersadar.


"Adrian?"


"Menurutmu siapa?" Pria itu balik bertanya. Kedengarannya dia begitu kesal.


Ryanthi bangkit, lalu duduk. Dia baru sadar bahwa dirinya tidur sambil memakai kebaya yang akan dikenakan besok.


"Hhh!" Ryanthi memdengkus kesal. Dia lupa bahwa dirinya tengah berbincang di telepon.


"Seharusnya aku yang marah," ujar Adrian jengkel.


Ryanthi turun dari tempat tidur. Dia sibuk mencari baju yang tadi dirinya kenakan. Ryanthi meletakan ponselnya begitu saja.


Sementara, Adrian duduk di kursi santai sambil menunggu jawaban dari Ryanthi.


"Ryanthi?" panggilnya. Namun, tak ada jawaban sama sekali.


Adrian mendengkus kesal. Dia sudah akan melemparkan ponselnya ke kolam. Untunglah, suara dering pesan menghentikan niat pria itu. Adrian segera membuka pesan tadi. Namun, lagi-lagi dia harus kecewa, karena ternyata bukan Ryanthi yang mengirim pesan padanya.


Andrea dan suaminya akan makan malam di tempat mama akhir pekan ini. Mama harap, kamu bisa ikut bergabung. Ajak juga Ryanthi.


Adrian mengembuskan napas panjang setelah selesai membaca pesan tadi. Apalagi, kalimat terakhir menyatakan agar dia mengajak Ryanthi. sementara, gadis itu selalu mengabaikannya.


......................


Hari yang ditunggu oleh Vera telah tiba.


Acara resepsi kali ini diadakan di sebuah gedung mewah yang merupakan milik seorang rekan Surya.


Hari itu, Ryanthi tampil cantik dengan Kebaya Kutu Baru, lengkap dengan bawahan kain batik Parang Rusak. Tak lupa dia menata rambutnya meski hanya dengan sanggul sederhana berhiaskan bunga berwarna silver. Ryanthi juga mengenakan bros kupu-kupu yang sangat indah.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik hari ini. Ayah sampai pangling melihatnya," sanjung Surya bangga.


Perhatian Surya kemudian tertuju pada bros yang dipakai Ryanthi. Dia menatap lama benda mengilap itu.


Ryanthi seakan tahu bahwa Surya memperhatikan bros yang dipakainya. "Ini milik ibu. Aku menemukannya dari dalam tas yang. Menurutku ini sangat cantik." Ryanthi menjelaskan tanpa ditanya.


"Iya. Ayah tahu. Ayah yang membelikan itu untuk ibumu, ketika kami akan mengadakan syukuran kelahiranmu dulu," jawab Surya.


"Maaf, Nak. Hari ini, Ayah harus menemani Vera. Jadi, Ayah tidak bisa lama-lama bicara denganmu," lanjutnya.


Ryanthi tersenyum seraya mengangguk, ketika Surya meninggalkannya menuju pelaminan.


Ryanthi hanya berdiri menatap semu, pada pelaminan mewah berhiaskan lebih dari sepuluh macam bunga yang indah.


Di sana, Vera duduk dengan anggun. Dia memakai kebaya pengantin berwarna putih dengan hiasan kepala yang sangat cantik.


Di sebelahnya, duduk gagah seorang pria yang sangat Ryanthi kenal, yaitu Arshan. Pria itu mengenakan beskap warna senada dengan kebaya Vera. Tatapan Arshan terus bergerak ke seluruh penjuru ruangan, mencari seraut wajah cantik yang sangat dai rindukan, yaitu Ryanthi. Akan tetapi, Arshan tidak melihat gadis itu dimana pun.


Ryanthi memang sengaja berada di tempat yang cukup tersembunyi dari arah pelaminan.


Selain itu, pergerakan Ryanthi sangat terbatas, karena high heels yang dipakainya. Ryanthi takut hilang keseimbangan, lalu terjatuh. Dia hanya akan terlihat konyol dan memalukan di depan para tamu undangan, yang kelihatannya merupakan orang-orang penting.


Ryanthi berjalan menuju meja prasmanan. Di sana, ada aneka desert yang menggugah selera. Namun, tak ada apapun yang diambilnya.


Ini memang pesta yang mewah dan meriah, tapi sangat membosankan bagi Ryanthi. Lagi-lagi, dia tidak dapat mengalihkan pandangannya dari sepasang pengantin yang terlihat bahagia. Terlebih, si pengantin wanita.


"Kebaya yang cantik," bisik seorang pria, yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Ryanthi.


Ryanthi menoleh. Wajah Adrian tepat di sebelahnya, hingga pipi mereka hampir bersentuhan. Gadis itu terkejut bukan main.


Sedangkan, Adrian hanya tertawa pelan.


"Apa kabar?" sapanya kembali berbisik dari arah belakang.


Ryanthi mengarahkan wajahnya ke depan. "Kenapa kamu ada di sini?" tanyanya heran.


"Menurutmu?" Adrian balik bertanya.

__ADS_1


"Tentu saja karena undangan Pak Surya Wijaya," lanjut pria itu dengan sikapnya yang terlihat sangat kalem, tapi penuh wibawa.


Adrian mengikuti arah tatapan Ryanthi yang tertuju ke pelaminan. "Jadi, pria itu yang sudah menciptakan awan mendung dalam hidupmu?" tunjuk Adrian kepada Arshan.


Ryanthi tidak menjawab. Lagi pula, dia tidak fokus, karena wangi parfume yang dipakai Adrian yang benar-benar membuatnya terbius.


"Mau kuambilkan sesuatu?" tawar Adrian.


"Tidak usah," tolak Ryanthi datar.


"Sungguh? Tidak ada yang kamu inginkan?" tanya Adrian lagi.


"Aku hanya ingin pergi dari sini," jawab Ryanthi malas.


Adrian tersenyum senang. "Mobilku ada di area parkir. Kuncinya ada di saku celanaku," ucap pria itu, seakan memberi tawaran kepada Ryanthi agar pergi bersamanya.


Ryanthi menoleh sekilas. Namun, dia tidak memberikan jawaban.


"Baiklah. Tunggu sebentar, karena aku harus menyapa calon ayah mertuaku dulu," celetuk Adrian. Dia berjalan gagah menuju pelaminan dengan diiringi tatapan Ryanthi.


Adrian tampak menyalami Vera dan Arshan. Sikap tengilnya tak terlihat saat itu. Dia tampak sangat tegas dan berwibawa. Semua itu tergambar dari bagaimana caranya berjabat tangan. Terlebih, saat dia bersalaman dengan Surya. Sikapnya benar-benar seperti bukan Adrian yang kerap menggaggu ketenangan Ryanthi.


Sepertinya, Surya meminta Adrian untuk berfoto bersama. Tanpa diduga, Surya juga mengajak Ryanthi agar bergabung.


Ryanthi tak dapat menolak. Dia melangkah anggun menuju pelaminan, lalu berdiri di sebelah Vera. Sedangkan, Adrian berdiri di dekat Arshan.


Selepas berfoto bersama, Adrian kembali mennghampiri Surya. Dia membisikkan sesuatu. Setelah itu, tanpa canggung dirinya meraih pergelangan Ryanthi, lalu menuntun si gadis turun dari pelaminan. Pemandangan tadi, tentu saja begitu mengejutkan bagi Arshan dan Vera. Begitu juga dengan kedua orang tua mereka.


"Aku sudah minta izin kepada Pak Surya, untuk membawamu kabur dari sini," ucap Adrian tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Ryanthi dan Adrian?" gumam Vera seraya mengernyitkan kening. Wanita yang sudah resmi menjadi istri Arshan tersebut, tampak begitu terkejut. Pasalnya, Ryanthi tidak pernah mengatakan apapun tentang kedekatan mereka.


"Sejak kapan Ryanthi dan Adrian ...." Vera berbisik kepada Surya.


"Entahlah. Papa juga tidak tahu. Biarkan saja. Dia berhak menemukan pria yang cocok dan dapat membuatnya bahagia," jawab Surya.


Ucapan ayahanda Ryanthi tersebut, telah membuat Arshan tersindir. Namun, pria itu tak dapat berkilah. Dirinya memang telah berkhianat. Dia pantas kehilangan gadis sebaik Ryanthi. Seberapapun besarnya penyesalan Arshan, tak ada gunanya kini. Ryanthi telah terlepas darinya.

__ADS_1


__ADS_2