
Moedya melepaskan pelukannya dengan perlahan. Ia pun kembali menyentuh wajah cantik gadis itu dengan lembut.
"Katakan "iya" Arumi!" Pinta Moedya.
"Untuk apa?" Tanya Arumi.
"Menjadi istriku," jawab Moedya dengan yakin.
Arumi terdiam seraya menatap tajam ke arah Moedya. "Ada apa denganmu? Kenapa kamu ...." Arumi tidak melanjutkan kata-katanya. Ia pun kembali berdiri dari duduknya. Melipat kedua tangannya di dada, Arumi terdiam memikirkan permintaan Moedya yang sangat tiba-tiba.
"Aku harus memikirkannya dulu," sahut Arumi pelan. Perasaannya tiba-tiba kacau. Ia bingung harus berkata apa, karena ini semua terlalu mendadak untuknya.
Arumi kemudian membalikan badannya. Ia kembali menatap pria yang kini mengisi hatinya. Kembali dihampirinya pria itu. Arumi menyentuh wajah Moedya dengan lembut.
"Terima kasih Moemoe. Seharusnya aku merasa bahagia karena ajakanmu tadi. Aku senang jika kamu memang menganggap hubungan kita ini bukan hanya sebuah ikatan main-main. Aku berjanji akan memberikan jawaban untukmu, secepatnya!" Tutur Arumi dengan keyakinan yang terlukis jelas dalam binar indah matanya.
Moedya tersenyum kala mendengar jawaban dari sang kekasih. Setidaknya, itu telah memberinya sebuah harapan yang sangat besar. Ia tahu jika Arumi juga sangat mencintainya.
"Segeralah bicara kepada ibu Ryanthi!" Pinta Moedya dengan penuh harap.
"Setelah itu, berikan aku jawaban yang akan membuatku menjadi pria yang paling bahagia!" Ucap Moedya lagi dengan semangat yang membara dalam dirinya.
Arumi mengangguk dengan yakin.
"Datanglah besok malam ke rumahku! Aku janji jika kamu akan segera mendapatkan jawabannya," ucap Arumi memberikan sebuah harapan besar untuk Moedya.
Moedya tersenyum lebar. Ia pun segera mengangkat tubuh gadis itu hingga membuat si empunya terpekik kaget. Namun tak lama, Arumi malah tergelak karenanya.
...🕊 🕊 🕊...
Jam dinding sudah berdentang sebanyak sepuluh kali. Akan tetapi, Arumi masih tampak asik berbincang dengan sang ibu. Mereka tengah membahas niat baik Moedya kepada Arumi.
"Kamu yakin dengan Moedya?" Tanya Ryanthi.
"Aku mencintainya, Bu," jawab Arumi dengan datar.
__ADS_1
"Cinta seperti apa?" Tanya Ryanthi lagi.
Arumi terdiam untuk sejenak. Ia pun hanya memainkan bibirnya dan berfikir.
"Aku tertarik kepadanya. Entah apa yang telah membawaku untuk masuk ke dalam pelukan Moedya? Tapi yang pasti aku bahagia ketika dia menawarkan masa depan untukku," tutur Arumi.
"Rasanya sangat berbeda dengan ketika Edgar yang menwarkan hal itu. Dia pria yang tampan, rapi, formal, dan jauh lebih manis. Akan tetapi, hatiku tidak tersentuh sama sekali. Entahlah, rasanya sangat hambar ...." lanjut Arumi.
Ryanthi menghela napas panjang. Ia pernah muda dan merasakan jatuh cinta. Ia tahu seperti apa rasanya ketika ada ribuan kupu-kupu yang terbang di atas kepalanya. Ia juga tahu seberapa menggelitiknya ketika ia diserang oleh ribuan semut, hanya karena sebuah sentuhan kecil dari bibir seorang Adrian.
Perlahan dipejamkan kedua matanya. Ryanthi merasakan desiran angin malam itu mulai menerpa wajah cantiknya. Cuaca dingin pun tak ia rasakan lagi, karena ia kini tengah berada dalam pelukan seorang pria tampan bermata abu-abu.
"Adrian ...." lirih Ryanthi.
Adrian menggumam pelan. Pria itu meletakan dagunya di atas pundak wanita kesayangannya. Ia pun tidak mengendorkan pelukannya sama sekali.
"Kamu akan mengingat malam ini, Ryanthi?" Bisik Adrian yang diakhiri dengan sebuah ciuman lembut pada pundak wanita itu.
"Aku akan mengingat semua hal yang telah kulalui denganmu. Tidak terkecuali ...." sahut Ryanthi pelan. Ia kemudian menoleh pada seraut wajah blasteran yang berada di sampingnya.
"Apa?" Tanya Ryanthi.
"Aku menjadi seseorang yang sangat melankolis. Tiba-tiba aku melupakan gitar dan play stasionku. Aku lebih memilih untuk bernyanyi bersama alam. Mendengarkan senandung burung dan angin. Melihat kemarahan ombak. Aku hanya berharap agar tidak pernah tersesat dalam gelapnya malam. Berada jauh darimu sungguh sesuatu yang terasa begitu berat," ungkap Adrian dengan suaranya yang terdengar begitu dalam.
"Mungkin itu namanya cinta sejati. Akan tetapi, aku tidak berani untuk mengambil kesimpulan. Aku masih terus mencari maknanya dalam setiap helaan napas kerinduanku padamu," lanjut Adrian lagi masih dengan nada bicara yang sama.
"Lalu ... apa kamu menemukannya?" Tanya Ryanthi.
Adrian mengalihkan tatapannya kepada Ryanthi. "Ya. Sebenarnya jawaban itu sudah pasti. Namun ... aku hanya ingin lebih mendalaminya. Semakin aku mendalaminya, maka aku semakin tidak ingin muncul ke permukaan," jelas Adrian.
"Seorang Adrian telah tenggelam dalam cinta?" Gumam Ryanthi yang diakhiri dengan sebuah tawa bernada mengejek.
"Lebih tepatnya ... aku menenggelamkan diriku sendiri," ralat Adrian. Ia pun tertawa pelan.
"Sebegitu besarnya cinta Ryanthi sehingga dapat meruntuhkan keangkuhan seorang Adrian," ucap Adrian seraya membalikan tubuh Ryanthi. Ia pun mengelus lembut wajah yang akan selalu ia rindukan.
__ADS_1
"Kamu bukanlah seorang yang angkuh, Adrian. Kamu adalah pria yang baik," bantah Ryanthi dengan senyuman lembut di sudut bibirnya.
Adrian kini terdiam. Ia menatap lekat Ryanthi dengan sorot matanya yang dalam.
"Aku mencintaimu dengan tiba-tiba. Aku bahkan tidak pernah menyangka jika perasaan itu akan hadir dengan begitu cepat. Aku tahu dan dapat merasakan ketakutan juga keraguanmu padaku. Namun, pada akhirnya ... aku merasa senang karena aku telah berhasil menaklukan kerasnya hati seorang Ryanthi."
"Jangan biarkan keraguan bertahta dalam hatimu. Biarkan ia untuk segera pergi. Jangan menolak cahaya mentari di pagi hari, karena malam tidak selamanya memberikan keindahan!"
Ryanthi terdiam. Ditatapnya pria itu. Tuan Tampan, miliknya seorang.
"Pejamkan matamu, Ryanthi!" Bisik Adrian seraya mendekatkan wajahnya. Ryanthi pun tersenyum dan menuruti perintah dari pria yang memang senang memberinya perintah.
"Ibu! Ibu!" Panggil Arumi pelan. Gadis itu terlihat sedikit jengkel. Ia pun mengeluh pelan.
Ryanthi tersentak. Ia pun tersadar dari lamunannya. Segera ia menoleh kepada Arumi yang sejak tadi mengoceh namun tidak ia dengarkan.
"Ibu tidak mendengarku?" Tanya Arumi dengan kesal.
Ryanthi menjadi gelagapan. Ia tidak tahu harus berkata apa saat itu.
"Maaf, Sayang ... Ibu ...." Ryanthi tidak melanjutkan kata-katanya.
"Ah ... sudah kuduga!" Keluh Arumi. "Aku bicara panjang lebar dan Ibu mengabaikanku. Entah apa yang tengah Ibu fikirkan tadi. Aku yakin jika tidak ada yang Ibu tangkap sama sekali dari ucapanku," rajuk Arumi. Ia melipat kedua tangannya di dada.
Ryanthi tertawa pelan. Entah dengan cara apa ia harus menutupi rasa malunya saat itu. Akan tetapi, Ryanthi tetap berusaha untuk menjaga wibawanya.
"Kakakmu mengatakan jika besok malam dia akan mengenalkan seseorang kepada kita. Kenapa tidak undang Moedya sekalian. Kita bisa berkumpul bersama di sini," ucap Ryanthi.
"Puff pastry?" Tawar Ryanthi.
"Palmier?" Sahut Arumi seraya tertawa renyah.
"Ide bagus," jawab Ryanthi.
"Mari kita eksekusi!" Ajak Ryanthi dengan senyuman terkembang di bibirnya.
__ADS_1
Arumi menatap sang ibu. Ia pun tersenyum. Sesaat kemudian, ia menyandarkan kepalanya di pundak Ryanthi.