
Maya terus marah-marah, karena keputusan Surya yang membawa Ryanthi kembali ke rumah megah itu. Dia merasa akan mendapat saingan, jika Ryanthi ada di sana. Maya merasa tidak nyaman, karena dia sadar bahwa posisinya tidak lebih kuat dari Ryanthi.
"Kenapa papamu harus membawa gadis itu pulang? Kamu lihat sendiri bagaimana dia. Ih, baju yang dipakainya sangat jelek. Mama harus mencuci wajah sampai berkali-kali, karena acara penyambutan tadi," gerutunya kesal.
"Jangan keras-keras, Ma. ananti papa dengar," tegur Vera sambil meletakkan jari telunjuk di bibir.
Maya mengempaskan tubuh ke sofa. Dia duduk sambil menyilangkan kaki dengan gayanya yang sangat angkuh. "Kamu pikir Mama senang melihat kucing kampung itu datang kemari? Tentu saja tidak! Namun, kita juga tak boleh bertindak gegabah. Kalau sampai papa kamu tahu kita tidak menginginkan Ryanthi ada di sini, maka itu akan jadi masalah besar," lanjut Maya. Dia terus bicara, meskipun Vera tidak menanggapi. Gadis itu terlalu asyik dengan cermin kecil yang dipegangnya.
Melihat sikap Vera yang mengabaikannya, Maya menjadi semakin kesal. "Kamu dengar Mama tidak?" bentak wanita itu dengan suara tidak terlalu keras.
Mengetahui Maya mulai marah, Vera segera menyimpan cermin tadi. Dia duduk sambil memeluk salah satu bantal yang ada di kasur. "Iya, aku dengar. Sebenarnya, aku juga tidak suka melihat Ryanthi ada di rumah ini. Namun, aku tidak mau mencari masalah dengannya. Mama lihat sendiri bagaimana papa memperlakukan dia," ujar Vera enteng.
"Hhh! Mama heran, kenapa dia tidak ikut mati bersama ibunya?" Maya benar-benar geram. Dia sudah menularkan sifat jahat dan serakah terhadap anak gadisnya. Semua kesombongan dan keangkuhan itu, dirinya anggap sebagai sesuatu yang melambangkan harga diri. Maya adalah istri Surya Wijaya, seorang pengusaha tekstil ternama.
"Untuk sementara, kita lihat situasi dulu. Terus awasi si kucing kampung itu dengan baik. Setelah dapat kartu as-nya, baru kita tendang dia kembali ke jalanan." Maya menyeringai jahat. Dia seakan tidak puas sudah membuat hidup Ryanthi dan Farida berada dalam kesulitan selama belasan tahun.
"Mama saja yang awasi dia, karena aku masih punya pekerjaan lain yang jauh lebih penting. Rasanya membosankan jika terus melihat penampilan udik gadis itu. Aku harus berobat ke dokter mata kalau sampai itu terjadi," tolak Vera. Dia lalu bangkit dan mematut dirinya di cermin. Vera selalu mengagumi kecantikan dan keindahan tubuhnya. Dia melenggak-lenggok sambil memainkan rambut dengan nakal.
Seperti itulah kebiasaan Vera. Gadis cantik tersebut selalu ketat. Tak jarang pula dia memakai baju yang terbuka. Padahal, Surya sudah mengingatkannya berkali-kali. Namun, Vera tetap saja membandel.
Sedangkan, Maya seringkali membiarkan bahkan memanjakan secara berlebihan, hingga Vera tumbuh menjadi gadis yang selalu berbuat semaunya. Apapun yang dia inginkan, harus dirinya dapatkan.
"Mama ingin aku mengganggu gadis itu?" tanya Vera tiba-tiba. Maya mengangguk, sebagai tanggapan dari pertanyaan putrinya.
"Apa imbalannya untukku?" tanya Vera lagi, sambil duduk di sebelah Maya.
"Imbalan? Astaga, Vera! Imbalannya adalah ketenangan kita di rumah akan kembali." Maya begitu jengkel dan tidak mengerti dengan sikap putrinya.
__ADS_1
"Kita?" Vera tertawa pelan. "Ryanthi baru datang, Ma. Aku lihat dia juga sepertinya pendiam dan tidak berbahaya," bantah Vera tak acuh.
"Itu karena kamu belum tahu. Mama yakin jika dia tidak jauh berbeda dengan ibunya. Farida juga dulu seperti itu. Dia terlihat begitu tenang, tapi ternyata wanita itu berani menantang papamu. Farida bahkan pernah menampar Mama sekali. Itu penghinaan yang sangat besar bagi Mama," tutur Maya. Dia memegangi pipi sebelah kiri.
Maya teringat saat dulu Farida menamparnya dengan sangat keras, sampai pipinya terasa panas dan berwarna merah. Itu terjadi ketika Surya pertama kali membawa dia ke hadapan sang istri.
Tamparan yang diberikan Farida, menjadi sesuatu yang tidak dapat dilupakan oleh Maya. Karena itulah dia merasa sangat puas, ketika Surya membiarkan Farida pergi dan lebih memilihnya. Meskipun sampai sekarang, Surya masih menganggap dirinya hanya sebagai simpanan.
Sudah berkali-kali Maya meminta Surya untuk menikahinya secara sah. Namun, ayahanda Ryanthi tersebut selalu mengulur-ulur waktu dengan banyak sekali alasan. Maya tidak pernah mengira, ternyata Surya akan membawa Ryanthi kembali ke rumah itu.
Vera bangkit dari sofa. Dia melangkah ke dekat pintu. Gerak tiba-tiba gadis bertubuh semampai itu, membuat Maya seketika tersadar dari lamunannya. "Kamu mau ke mana?" tanya Maya penasaran.
Vera yang sudah akan memutar gagang pintu, langsung menoleh. "Aku mau menyapa tamu kita sebentar," jawabnya centil. Dia berlalu dari kamar, meninggalkan Maya sendirian untuk menemui Ryanthi. Setibanya di depan kamar Ryanthi, Vera langsung mengetuk pintu dengan tenang.
Sesaat kemudian, Ryanthi muncul dari baliknya. Dia mendapati Vera yang tengah berdiri angkuh. Putri Maya tersebut, menyunggingkan senyuman yang dipaksakan terhadap Ryanthi. Sedangkan, Ryanthi hanya menatap aneh padanya. Dia tak tahu untuk apa Vera datang ke sana.
Vera tidak langsung menjawab. Dia hanya memperhatikan Ryanthi dari atas sampai bawah. Membuat gadis itu merasa risi.
"Aku hanya ingin menyapamu. Jangan sampai papa berpikir bahwa aku tidak menyukai keberadaanmu di rumah ini. Ya, meskipun itu memang kenyataannya." Vera tertawa renyah.
Ryanthi menyunggingkan senyum sinis pada gadis sombong itu. "Tenang saja, aku tidak akan mengadukanmu atau Maya kepada ayah. Meskipun aku tahu bahwa kalian tidak henti-hentinya melotot padaku saat di ruang tamu tadi," balas Ryanthi tenang.
Vera kembali tertawa. "Wow! Ternyata mamaku memang benar. Kamu lebih berani dari yang kuduga," ucap Vera memasang ekspresi terkejut.
Malas rasanya bagi Ryanthi, ketika harus meladeni gadis itu. Sementara, dirinya tengah berusaha mengumpulkan energi yang sudah hilang sebagian, karena duka atas kematian Farida. Namun, Ryanthi sadar jika tantangan besar akan dia hadapi di rumah yang seharusnya menjadi tempar ternyaman untuk ditinggali. Ryanthi tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan.
"Aku pikir kamu tidak akan ikut pulang dengan papa," lanjut Vera sinis.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" tanya Ryanthi heran.
"Jujur saja, kedatanganmu ke rumah ini sudah membuat ketenangan hidup mamaku terganggu. Aku minta maaf kalau diriku terlalu jujur padamu. Namun, kamu harus tahu bahwa kami tidak menginginkan hal ini," jawab Vera ketus.
Ryanthi sekali lagi menyunggingkan senyuman sinis. "Aku kemari karena ayahku. Aku tidak peduli dengan kalian berdua. Jika kalian senang aku di sini, maka itu akan jauh lebih baik. Namun, jika sebaliknya ... itu bukan urusanku. Lagi pula, kalian berdua sudah terlalu lama menikmati kehidupan yang seharusnya menjadi milikku. Sejujurnya, kamu dan ibumu benar-benar tidak punya malu." Ryanthi mulai kesal.
"Kita lihat saja nanti. Aku pastikan papa akan membiarkanmu pergi, seperti yang dilakukannya terhadap ibumu dulu," tantang Vera yakin.
Kemarahan Ryanthi tiba-tiba muncul, mendengar Vera menyinggung kepergian Farida lima belas tahun yang lalu. Terlebih, dengan nada ejekan seperti tadi. Ryanthi mengepalkan tangan kanan, mengumpulkan semua kekuatannya di sana.
"Haruskah kupukul gadis ini, agar dia lebih tahu caranya bersikap?" pikir Ryanthi.
Namun, Ryanthi segera tersadar. Dia baru datang ke rumah itu. Tidak etis rasanya jika langsung membuat kegaduhan. Apa yang akan dipikirkan Surya tentang dirinya? Terlebih dia yakin orang-orang seperti Vera dan Maya pasti sangat licik dan pandai memutarbalikan fakta.
"Pergilah dan jangan ganggu aku!" usir Ryanthi. Dia mencoba menghindari pertengkaran dengan gadis itu.
"Kenapa? Apa kamu takut?" tantang Vera. Gadis itu sedikit diuntungkan, berhubung posturnya beberapa senti lebih tinggi dari Ryanthi. Vera maju sambil mengangkat dagu, sebagai tanda bahwa dirinya tidak takut sama sekali.
Ryanthi menatap tajam kepada putri Maya tersebut. Dia baru tiba di rumah itu, tetapi harus langsung menghadapi orang-orang seperti Vera dan ibunya. Pantas saja dulu Farida lebih memilih pergi, karena belum satu hari saja bersama mereka, Ryanthi sudah dibuat sangat jengkel oleh sikap mereka.
"Dengar Vera. Aku baru datang ke rumah ini. Jadi, tolong jangan ganggu aku sekarang. Jika kamu ingin mengajakku berdebat, maka kita lakukan lain kali saja. Hari ini aku sedang malas berbicara dengan siapa pun. Apalagi dengan seonggok daging busuk sepertimu!" Seumur hidup, ini pertama kalinya Ryanthi berkata sekasar itu pada seseorang. Dia benar-benar jengkel atas kehadiran Vera di kamarnya.
Vera terdiam sejenak. Dia lalu tersenyum sinis. "Baiklah. Aku hargai itu. Aku tahu saat ini kamu masih dalam suasana berduka. Kita bisa lanjutkan ini nanti. Akan tetapi, sebelum kamu menemuiku, tolong perbaiki dulu penampilanmu. Mataku sakit karena melihatnya," ejek Vera seraya tertawa puas. Dia berlalu pergi meninggalkan Ryanthi.
Sementara, Ryanthi segera menutup pintu kamarnya. Gadis itu duduk di ujung tempat tidur. Ryanthi termenung memikirkan ucapan Vera. "Ah." Keluhan pendek meluncur dari bibirnya.
Ryanthi lalu bangkit dan berdiri di depan cermin. Dia terus memandangi dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gadis itu memperhatikan baju yang dikenakan saat itu. "Oh, astaga." Dia menggeleng kencang.
__ADS_1
Ryanthi lalu melihat tirai yang terpasang di jendela kamar. Sambil menghela napas panjang, gadis itu menyadari bahwa tirai tadi jauh lebih indah, dari baju yang dipakainya. "Luar biasa sekali hidupmu, Ryanthi," gumamnya diiringi decakan pelan.