
Malam itu, Ryanthi tampil cantik dengan dress A Line sebatas lutut, yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Dia juga merias diri, meski hanya tipis-tipis. Namun, itu penampilannya tetap membuat Adrian begitu terkesima.
Adrian tak henti-henti melayangkan tatapan nakal penuh isyarat. Dia mengajak Ryanthi pergi ke taman untuk berjalan-jalan. Bagi pria itu, terlalu membosankan saat harus mendengarkan obrolan para orang tua. Untungnya, Ryanthi setuju.
"Permisi. Aku ingin mengajak Ryanthi menikmati suasana malam di taman." Tanpa menunggu persetujuan Indira dan Surya, dia langsung meraih tangan Ryanthi. Adrian menuntunnya menyusuri koridor menuju taman.
"Hey, tunggu." Adrian meraih pinggang Ryanthi, kemudian merengkuh lalu menyandarkannya ke dinding. "Kamu cantik sekali malam ini," sanjungnya penuh rayuan. Tanpa banyak bicara, dia mencium bibir Ryanthi beberapa saat.
"Sudah, Adrian. Bisakah kita bicara sebentar?" Ryanthi memasang wajah serius.
"Tentang apa? Kamu terlihat sangat tegang." Adrian masih terlihat tenang. Sesekali, dia tersenyum kalem.
"Kita bicara di taman saja," ajak Ryanthi. Kali ini, gilirannya yang menuntun Adrian keluar dari rumah.
Setibanya di taman, Ryanthi kembali memasang ekspresi serius. "Aku akan melanjutkan pendidikanku," ucapnya pelan.
"Tentu saja. Itu berita yang sangat bagus. Aku senang jika kamu ingin melanjutkan pendidikan, meski sebenarnya itu bukan hal penting bagiku," balas Adrian.
"Kamu yakin akan mengizinkanku melanjutkan pendidikan?" Ryanthi meyakinkan Adrian.
"Kenapa tidak?"
Ryanthi menatap lekat Adrian. Dia mengumpulkan segenap keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. "Aku sudah memimpikan ini sejak lama. Dari semenjak ibuku masih hidup. Beliau menginginkanku melanjutkan pendidikan."
"Di mana?" tanya Adrian.
Ryanthi tak langsung menjawab. Dia berpikir sejenak, sebelum kembali bersuara. "Perancis," jawabnya.
"Perancis?" ulang Adrian tak percaya. Tatapannya menajam terarah kepada Ryanthi.
"Kenapa harus di sana?" Nada pertanyaan Adrian menyiratkan sikap protes.
"Itu cita-citaku dan mendiang ibu. Aku hanya ...."
Adrian tampak menahan emosi. Napasnya mulai tak beraturan. Dia memalingkan wajah.
"Maksudku, kenapa harus sejauh itu? Aku tidak mau menempuh waktu selama 16 jam hanya untuk bisa bertemu denganmu selama beberapa saat saja. Aku ingin bisa menemuimu kapan pun aku mau!" Nada bicara Adrian menjadi sangat tegas.
"Kumohon. Mengertilah. Ini adalah cita-citaku," pinta Ryanthi. Dia mulai takut melihat perubahan sikap Adrian yang tampak menakutkan.
"Persetan dengan cita-citamu! Aku tidak peduli itu. Dengar Ryanthi! Bagiku, kamu yang seperti ini sudah jauh lebih dari cukup!" sentak Adrian.
"Aku punya banyak uang. Aku memiliki segalanya. Jika kamu menjadi istriku, aku akan menjadikanmu seperti seorang ratu. Kamu tidak perlu takut terlihat bodoh atau semacamnya."
Adrian begitu marah. Dia bersikap demikian, karena dirinya tak rela jika Ryanthi akan pergi jauh. Adrian seolah telah kehilangan akal sehatnya.
__ADS_1
"Aku mohon Adrian. Mengertilah. Lagi pula, keputusan ini kuambil sebelum kita menjalin hubungan ...."
"Tapi sekarang kamu adalah pacarku! Sebentar lagi aku ingin menikahimu. Namun, kamu malah ingin pergi dariku! Coba katakan berapa lama kamu akan di sana?"
Ryanthi tertunduk lesu. "Tiga tahun," jawabnya pelan.
Adrian mendengkus kesal. Dia melampiaskan amarah pada rerumputan yang ada di dekat kakinya. Adrian tak peduli, meskipun nanti Indira akan memarahinya karena sudah merusak tanaman.
"Tiga tahun bukan waktu yang sebentar! Aku tidak akan sanggup menunggu selama itu!
Apa kamu tidak lihat bagaimana menderitanya aku kemarin saat jauh darimu? Padahal itu hanya beberapa hari. Tiga tahun, Ryanthi! Tiga tahun!" Adrian kembali membentak Ryanthi dengan amarah memuncak.
Ryanthi tidak menyangka sama sekali Adrian akan semarah itu. Dia tak dapat berkata apa-apa selain meneteskan air mata.
"Kamu ingin membunuhku secara perlahan? Kamu berdiri di hadapanku dengan wajah lugu! Kamu berhasil menarik perhatianku, dan membuatku jatuh cinta! Saat aku benar-benar mencintaimu, kamu justru pergi meninggalkanku! Apa maumu? Apa yang kamu inginkan?"
Berkali-kali Ryanthi menerima bentakan dari Adrian di depan wajahnya. Namun, Ryanthi tetap berusaha tegar. "Aku hanya ingin menjadi wanita yang mandiri."
"Persetan dengan semua itu! Aku tidak membutuhkan wanita mandiri. Aku tidak menginginkan seorang wanita yang merasa bisa melakukan segalanya tanpa diriku. Aku hanya ingin seorang istri penurut!"
"Tapi ... mamamu ... dia wanita yang sangat hebat dan mandiri. Aku sangat mengaguminya dan ...."
"Kamu tidak tahu bagaimana kehidupanku memiliki seorang ibu sehebat dia! Kamu tidak tahu apa yang papaku rasakan selama beliau masih hidup! Aku tidak berharap kamu bisa jadi seperti mamaku! Tidak sama sekali! Aku tidak akan merasa bangga memiliki istri seperti itu!" Amarah seorang Adrian masih meluap-luap.
Ryanthi tidak mengerti kenapa Adrian bicara seperti itu tentang Indira. Padahal, Indira adalah wanita yang sangat luar biasa dengan segenap jiwa sosialnya.
"Terserah apa maumu!" sentaknya lagi. Dia berlalu meninggalkan Ryanthi. Adrian berjalan masuk dengan membawa amarahnya yang sudah meguasai akal sehat. Dia tak menoleh lagi kepada gadis itu.
"Mana Ryanthi?" tanya Indira, ketika Adrian melintas di ruang tamu.
"Di luar," jawab Adrian singkat tanpa menoleh sedikit pun. Dia meraih kunci mobilnya, kemudian berlalu tanpa pamit.
Sikapnya tentu saja membuat Indira menjadi keheranan. "Kamu mau ke mana?" tanya wanita itu.
"Pulang!" jawab Adrian sambil terus melangkah keluar rumah. Dia masuk ke mobil, kemudian melajukan Range Rover itu cukup kencang. Adrian bahkan menabrak pintu gerbang yang telat dibuka.
Sesaat kemudian, Ryanthi muncul dengan wajah masam. "Ayo kita pulang, Yah," ajaknya lesu. Tanpa banyak bicara, gadis itu langsung keluar.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Maya penasaran.
Selama dalam perjalanan, Ryanthi tidak bicara sama sekali. Dia duduk sendiri di jok belakang. Sesekali, dirinya melihat ke luar. Pada jalanan Ibukota yang masih ramai. Berbeda dengan suasana dalam mobil yang begitu hening. Tak ada percakapan sama sekali.
Sesampainya di rumah, Ryanthi segera masuk ke kamarnya. Dia masih puasa bicara.
"Apa mereka bertengkar?" pikir Maya. Dia kembali memasang raut penasaran.
__ADS_1
................
Hari semakin siang. Namun, Ryanthi masih betah berdiam diri di dalam kamar. Gadis itu terus teringat akan kemarahan Adrian semalam.
Tak jauh beda dengan Adrian. Pria itu juga berdiri termenung di tepian kolam renang. Adrian memikirkan ucapan Ryanthi semalam.
Niat suci Adrian pupus sudah. Tadinya, malam itu dia akan melamar Ryanthi di hadapan Indira dan Surya. Namun, bukannya tawa bahagia yang didapat, justru amarahlah yang hadir menghancurkan segalanya.
Adrian teramat kecewa dengan sikap Ryanthi yang tidak terbuka. Padahal, gadis itu sudah tahu bahwa dirinya tak ingin mereka berjauhan. Namun, Ryanthi justru memilih pergi demi meraih cita-cita. Adrian merasa bahwa dirinya tak jauh lebih penting dari ambisi seorang Ryanthi.
"Apa yang sudah kamu lakukan padaku? Mengapa aku bisa jadi seperti ini?" gumam Adrian pelan.
Sesaat kemudian, terdengar bunyi lift terbuka.
Adrian menoleh dengan wajah semringah. Namun, yang muncul justru bukan gadis yang ditunggunya. Melainkan Indira.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Indira. Namun, Adrian tak menjawab. Dia terlihat sangat malas. "Mama sangat mencemaskanmu serta Ryanthi," ucapnya lagi. Sesekali, dia membelai rambut Adrian yang sudah mulai mengering.
"Jangan khawatir. Aku baik-baik saja," jawab Adrian datar.
"Sepertinya tidak," sanggah Indira. "Bicaralah. Mungkin, Mama bisa sedikit membantumu," bujuknya.
Adrian masih terdiam. Dia tak ingin memperlihatkan raut sedih di hadapan Indira. Pria itu hanya tertunduk lesu, dengan keluhan yang sesekali meluncur dari bibirnya.
"Mama tahu, ini pasti tentang rencana Ryanthi yang akan melanjutkan pendidikannya, kan?" pancing Indira.
Seketika Adrian menoleh.
"Bagaimana Mama bisa tahu?"
"Semalam Pak Surya yang mengatakan itu," jawab Indira. Wanita itu terdiam sejenak. Ditatapnya paras tampan sang anak, yang kini sudah dewasa. Usia Adrian telah menginjak hampir tiga puluh tahun. Karena itulah, Indira mengharapkan agar putranya segera menikah.
Akan tetapi, Indira mengerti akan kondisi Adrian saat ini. Cintanya yang besar untuk Ryanthi, telah membuat dia menjadi gila. Terlebih, gadis itu memutuskan untuk pergi meninggalkannya, dalam waktu yang cukup lama dengan jarak yang sangat jauh.
"Aku kecewa padanya, Ma. Ryanthi tidak pernah mengatakan apapun padaku. Tidak saat kami bicara santai atau serius. Dia tak pernah menyinggung tentang rencananya yang akan pergi ke Perancis. Tiba-tiba, dia memberitahukan itu," ada nada kecewa yang sangat besar dalam kata-katanya.
Begitu juga dengan wajahnya yang tampak sangat masam, tak ada lengkungan senyum sedikitpun.
"Mungkin Ryanthi punya alasan sendiri kenapa tidak pernah membicarakan hal itu denganmu. Mama rasa, sebaiknya kamu segera temui dia. Minta maaf dan bicaralah baik-baik," saran Indira lembut.
Namun, bukannya setuju, Adrian malah beranjak dari duduknya dan berkata, "Aku tidak akan melakukan apapun. Aku sudah terlalu sering memohon padanya," tolak pria itu, seraya kembali menceburkan diri ke dalam kolam renang berair warna biru bening itu.
Indira masih memperhatikan putra sulungnya, yang kini sedang asik bermain-main di dalam air. Selama ini, dia tidak pernah tahu tentang kehidupan pribadi Adrian. Termasuk kisah cintanya bersama para gadis. Adrian menjadi sangat tertutup, setelah sang ayah tiada.
Adrian tidak pernah bercerita apapun tentang gadis-gadis yang pernah atau sedang dekat dengannya. Meskipun, dulu Indira pernah tahu tentang skandal putranya bersama Fiona. Akan tetapi, dia tidak ikut campur sama sekali. Indira hanya memberi sedikit nasihat kepada putra sulungnya tersebut.
__ADS_1
Akan tetapi, kali ini dia ingin sekali melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar memberi nasihat, untuk membuat Adrian dan Ryanthi kembali bersama. Apalagi, dia tahu bahwa Adrian sangat menderita tanpa kehadiran Ryanthi. Sayang sekali, Adrian terlihat malas untuk kembali berjuang seperti dulu.
"Kamu tahu? Wanita senang dirayu," seru Indira. Membuat Adrian menyembulkan kepalanya dari dalam air.