
Sepertinya ini akan kembali menjadi sore yang berkesan bagi Arumi. Ia akhirnya dapat menatap pria dengan tato di lengan kanannya itu, dengan begitu leluasa.
Moedya tengah asik melakukan hal yang biasa ia lakukan tiap datang ke danau itu. Sementara Arumi hanya berdiri dengan setengah bersandar pada motor milik Moedya. Sesekali ia tersenyum ketika melihat apa yang sedang dilakukan pria bertato itu.
Ketika sedang bermain kerikil seperti itu, Moedya tampak seperti seorang anak laki-laki yang sangat polos. Ia tampak lepas dan tanpa beban sedikit pun.
"Apa kamu akan menghabiskan semua kerikil yang ada disini?" seru Arumi. Ia memberikan sindiran halusnya kepada Moedya, yang sejak tadi sibuk dengan permainannya dan mengabaikan dirinya.
Moedya menoleh. Pria itu kemudian tersenyum kalem kepada Arumi. Ia pun menghampiri gadis itu dan berdiri di sampingnya.
"Rupanya bermain kerikil jauh lebih menyenangkan untukmu jika dibandingkan dengan bicara padaku," Arumi berpura-pura merajuk di depan Moedya.
Moedya tertawa pelan. Ia menatap gadis dengan sanggul asal-asalan itu.
Arumi begitu manis. Namun, ada satu hal yang membuat Moedya sangat penasaran kepadanya, yaitu karakter Arumi yang hampir menyerupai karakter Ranum, ibunda tercintanya.
Dia wanita yang keras dengan gaya bicaranya yang lugas. Begitu pula dengan kebiasaannya yang selalu melipat tangan di dada, ketika sedang merasa kesal. Semua itu benar-benar mengingatkan Moedya kepada sang ibu.
Merasa jika dirinya sedang diperhatikan, Arumi pun segera menoleh. Lagi, tatapan mereka kembali bertemu.
Moedya memang tidak bermata abu-abu seperti Edgar. Akan tetapi, ia memiliki daya tarik yang sungguh luar biasa. Sorot matanya yang dalam dan teduh, terasa begitu menyejukan bagi Arumi.
Sorot mata itu rasanya seperti sebuah hembusan angin di sore hari, yang menerpa wajahnya dengan lembut dan membuatnya merasa begitu nyaman dan segar. Terkadang Arumi merasa terbang dan melambung tinggi, jika Moedya sudah menatapnya dengan cara seperti itu.
Begitu pula dengan penampilan dari pria itu yang terkesan apa adanya. Moedya selalu terlihat santai. Ia tidak serapi Edgar, apalagi seformal Keanu. Arumi merasa jika pria seperti Moedya, akan cocok untuk dirinya yang suka 'memberontak'.
Moedya pun terlihat sangat kalem dan jauh lebih tenang dari Edgar, meskipun penampilannya lebih menakutkan dari pria penebar pesona itu.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Moedya. Pertanyaannya telah membuyarkan semua lamunan Arumi tentang dirinya dan membuat gadis itu tersipu malu.
Arumi pun segera mengalihkan tatapannya kearah lain. Ia terlihat salah tingkah, karena kini Moedya balas menatapnya dengan lekat.
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Arumi, dengan raut wajah yang terlihat tidak begitu yakin.
"Apa?" Moedya balik bertanya.
Arumi berfikir untuk sejenak. Ia pun kembali menatap Moedya. "Apakah saat ini kamu ... sedang mencintai seseorang?" tanya gadis itu.
Akan tetapi, dengan segera Arumi kembali memalingkan wajahnya. Ia juga mengulum bibirnya dan menyadari kebodohan atas pertanyaan yang telah ia lontarkan barusan.
"Maksudmu?" tanya Moedya. Ia seakan tengah memancing Arumi untuk lebih terbuka.
__ADS_1
Arumi tidak menjawab. Ia lalu berdiri dan kemudian berjalan mendekati danau itu.
Senja sudah turun. Petang pun kini mulai menguasai hari yang tadinya terang. Ia telah membuat suasana hari ini menjadi sedikit temaram. Arumi melihat bayangan jingga itu pada permukaan air danau yang tenang. Sungguh indah.
Ada sesuatu yang tengah ia rasakan saat ini. Akan tetapi, terasa begitu berat untuk ia ungkapkan. Arumi pun merasa bingung dan tidak tahu bagaimana caranya, agar ia dapat menyampaikan perasaan itu dengan tanpa meninggalkan kesan yang buruk.
"Tidak apa-apa. Itu bukan pertanyaan yang penting," ralat Arumi dengan pelan. Ia lebih memilih untuk tidak membahasnya.
Moedya beranjak dari dekat motornya. Ia lalu menghampiri Arumi yang masih terpaku di dekat danau itu.
"Apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Moedya dengan tatapannya yang lurus tertuju ke depan.
Arumi tidak segera menjawab. Ia masih merasa bingung untuk merangkaikan kata-katanya.
"Aku ... aku ... ah, lupakan saja!" pungkas Arumi. Ia hanya dapat menggerutu di dalam hatinya.
Moedya menggumam pelan. Ia lalu mengalihkan tatapannya kepada gadis yang ada di sebelahnya itu.
"Katakan saja!" desaknya. "Tidak baik menyimpan segala sesuatunya sendirian. Kecuali jika kamu memang ingin jerawatan," Moedya mengakhiri perkataannya dengan sebuah candaan. Ia pun tertawa pelan.
"Tidak!" tolak Arumi seraya membelakangi Moedya. "Kita pulang saja," ajaknya.
Moedya terdiam. Ia masih menatap gadis yang kini tengah membelakanginya itu. Ia pun memberanikan diri untuk menyentuh pundak Arumi dan membuat gadis itu kembali membalikan badannya.
Arumi menatap pria dengan gaya rambut man bun itu. Wajah gadis itu tampak sedikit memerah dengan mata yang agak sayu. Ia terlihat gelisah.
"Sebenarnya ... aku masih ingin disini," Arumi maralat ucapannya dengan pelan.
Moedya tersenyum simpul. Tatapannya masih ia layangkan kepada Arumi yang tiba-tiba menjadi seperti seorang gadis yang pemalu.
Moedya pun semakin mendekatkan dirinya kepada gadis itu. Sementara Arumi hanya terpaku menatap pria yang kini berdiri tepat di hadapannya, dengan jarak yang hanya beberapa senti saja.
Arumi tahu apa yang akan Moedya lakukan padanya, karena itu pulalah yang juga ia inginkan.
Arumi pun hanya terdiam dan membiarkan saja ketika tangan kanan Moedya mulai menyentuh wajahnya dengan lembut. Ia semakin terdiam ketika wajah pria itu berada tepat di hadapannya. Arumi bahkan kini memejamkan kedua matanya.
Ia menantikannya. Menunggu dengan hati yang berdebar-debar, untuk sebuah sentuhan bibir dari seorang pria yang telah membuatnya merasa sangat penasaran.
Lalu ketika hal itu benar-benar terjadi, dengan seketika seluruh kekuatan dalam diri Arumi pun terasa luruh dan berbaur dengan angin petang yang dingin menusuk kulit. Tubuh Arumi bergetar hebat ketika untuk pertama kalinya ia merasakan sentuhan bibir Moedya yang begitu dalam. Bukan hanya sebuah sentuhan di permukaan saja seperti sebelumnya, melainkan sebuah permainan yang jauh lebih indah dari itu.
Moedya mengajaknya menari dan dalam sebuah pertautan yang menggelitik hati Arumi.
__ADS_1
Arumi tidak pernah menyangka, jika ternyata Moedya adalah seorang 'pencium' yang hebat. Permainan bibirnya sangat berbeda dari Edgar, yang terbiasa hidup dengan dikelilingi rambut pirang yang cantik.
Siapa sangka jika seorang Moedya dengan penampilannya yang terkesan sangar, ternyata bisa begitu lembut dalam memperlakukan seorang wanita. Ia tidak memaksa Arumi untuk mengikuti permainannya. Akan tetapi, ia justru telah membuat Arumi ngin terus berada dalam permainan itu.
Arumi sangat menyukainya. Ia berharap agar Moedya tidak segera mengakhiri apa yang sedang pria itu lakukan terhadapnya. Arumi ingin menikmati pertautan itu dengan lebih lama lagi.
Terdengar helaan napas berat dari pria berambut gondrong itu. Moedya pun membiarkan Arumi untuk mengambil udara sejenak, sebelum akhirnya ia kembali menyentuh bibir berwarna joyful orange itu untuk kedua kalinya.
Arumi pun tidak kuasa menahan perasaannya. Ia akhirnya dapat menyentuh lengan bertato itu dengan leluasa.
Petang berlalu dan menghadirkan malam gelap yang menyelimuti mereka yang masih berdiri di dekat danau. Moedya pun akhirnya melepaskan Arumi setelah ia merasa puas dengan gadis itu.
"Mau pulang sekarang?" tanya Moedya dengan wajahnya yang masih berada tepat di depan wajah Arumi.
Arumi tersenyum seraya memainkan bibirnya. Ia lalu mengangguk.
Moedya pun menggandeng tangan Arumi menuju motornya. Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah kembali berboncengan untuk perjalanan pulang.
...🕊 🕊 🕊...
Sejak pagi, Arumi dan Ryanthi sudah disibukan dengan aktivitasnya di toko. Hari ini mereka harus menyelesaikan lima ratus pesanan snack box. Untunglah karena semua karyawan toko sedang lengkap, sehingga pekerjaan itu bisa dikerjakan dengan jauh lebih cepat.
"Ingat, kita harus menyelesaikan ini semua sebelum pukul enam petang nanti!" ucap Ryanthi kepada gadis-gadis yang tengah sibuk di dapur tokonya itu.
"Siap, Bu!" seru mereka dengan bersamaan dan penuh semangat.
Itulah potret sehari-hari yang ada di toko Ryanthi. Semangat, kerja sama, dan kekeluargaan.
Ryanthi tidak pernah bersikap angkuh terhadap para karyawannya. Karena itu, gadis-gadis yang bekerja di tokonya itu, telah menganggap Ryanthi seperti ibu kedua bagi mereka.
Dibalik semua sikap tegas dan keras kepalanya, Ryanthi tetaplah seorang wanita yang sangat lembut. Ia adalah seorang penyayang yang bijaksana.
Waktu istirahat makan siang pun tiba. Makanan yang dipesan Ryanthi pun telah datang. Mereka makan bersama di dapur itu dengan penuh keakraban.
Arumi pun dapat berbaur bersama mereka dengan sangat mudah. Terlebih karena gadis dengan lesung pipi itu, memang merupakan seorang pribadi yang supel.
Beberapa saat setelah makan siang, Arumi menyempatkan diri untuk memeriksa ponselnya.
Benar saja, ada beberapa pesan masuk dari Edgar. Pria itu tidak patah semangat untuk membawa Arumi agar kembali dalam pelukannya.
Arumi pun mendapat dua pesan dari Moedya. Pria yang telah berhasil membuat jantungnya terasa berdegub dengan jauh lebih kencang, setelah kejadian kemarin petang.
__ADS_1
Waktu istirahat pun telah selesai. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Ryanthi, harus segera menyelesaikan semua pesanan ini. Apalagi, karena nanti malam ia telah mengundang Edgar untuk makan malam di kediamannya.