Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Tiga Kisah


__ADS_3

Arumi tersipu ketika membaca pesan yang dikirimkan Moedya untuknya. Pria itu lagi-lagi memberikan rayuan tidak nyambungnya, yang membuat Arumi merasa lucu sekaligus berkali-kali menggelengkan kepalanya.


Sementara itu, Keanu pun sama saja. Ia terlihat asik dengan ponselnya. Berbalas pesan dengan seseorang di seberang sana.


Lain halnya dengan Ryanthi, ia kembali melanjutkan membaca buku yang belum juga ia selesaikan.


Malam terus merayap mendatangkan rasa sepi yang kian menjadi. Suasana begitu senyap dan seakan tidak ada kehidupan sama sekali. Ryanthi masih terjaga di dalam kamarnya ketika ia merasakan ada sentuhan halus di kepalanya.


Ryanthi pun memejamkan matanya untuk sejenak, menikmati belaian itu dengan penuh perasaan. Sesaat kemudian, ia pun membuka matanya dan menoleh.


"Adrian, Sayang?" desah Ryanthi pelan.


"Ini sudah terlalu malam. kenapa belum tidur?" tanya Adrian dengan setengah berbisik.


"Aku ingin segera menyelesaikan buku ini," sahut Ryanthi pelan.


Adrian tersenyum simpul. Ia kemudian meraih Ryanthi ke dalam dekapannya.


"Buku apa? Sejak kapan kamu jadi suka membaca buku?" tanya Adrian.


Ryanthi tertegun. Ia baru sadar karena memang tidak ada buku di tangannya. Ia pun ingat, jika kini ia tengah berada pada masa lalunya bersama Adrian.


"Berapa usiaku sekarang?" gumam Ryanthi pelan. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, ia tampak berfikir.


Adrian tertawa pelan. Ia kemudian mencium pucuk kepala Ryanthi dengan mesra.


"Kita baru menikah selama tiga bulan. Alasan yang sangat tidak masuk akal jika kamu berpura-pura lupa dengan usiamu sendiri," ujar Adrian seraya mengusap-usap lengan Ryanthi dengan lembutnya.


"Akan tetapi, aku benar-benar lupa ...." kilah Ryanthi. Ia mendongak dan menatap sang suami dengan cukup intens.

__ADS_1


Adrian tersenyum lembut. "Kemarilah! Biar ku ingatkan lagi!" Adrian memegangi dagu Ryanthi dan menyentuh bibirnya dengan lembut.


"Kamu masih belum berubah, Adrian," ucap Ryanthi pelan ketika Adrian mulai melepaskan bibirnya.


"Aku tidak pernah dan tidak akan pernah berubah. Banyak hal yang telah terjadi di dalam hidup kita. Ada yang datang dan pergi, semuanya silih berganti. Sebenarnya aku ingin menghentikan perputaran itu. Aku ingin selamanya seperti ini. Menikmati kebersamaan kita berdua," tutur Adrian dengan tatapan menerawang ke depan.


Ryanthi bergelayut semakin manja di dada sang suami. Untuk sejenak ia mencoba memejamkan matanya. Detakan jantung itu sangat ia kenal dan seakan terus berlagu di dalam ingatannya. Iramanya begitu lembut dan menenangkan. Ryanthi seakan tengah berdiri di padang ilalang dan menikmati senja yang indah bersama hembusan angin. Semuanya terasa begitu menyenangkan.


Detakan jantung itu, semakin lama berdegub dengan semakin kencang, laksana ombak yang kuat yang terus berusaha untuk mengalahkan kerasnya batu karang.


"Adrian, dirimu adalah langit senjaku yang indah. Langit malamku yang teduh. dan mentari pagiku yang hangat. Aku selalu mengagumimu sampai kapanpun. Bahkan hingga dirimu tak lagi di sisiku. Akan tetapi, keberadaanmu selalu aku rasakan. Kehangatanmu, semuanya masih selalu dan akan selalu terpatri dengan sangat kuat di dalam hatiku," lirih Ryanthi sambil terus memejamkan kedua matanya. Ia begitu menikmati dekapan hangat dari Adrian.


"Ya, Ryanthi. Anugerah terindah yang telah Tuhan berikan untukku adalah dirimu. Perjuangan terbesar dalam hidupku untuk mendapatkan cintamu. Semua itu tidaklah seberapa. Apa yang aku dapatkan saat ini, lebih dari semua hal yang pernah ku perjuangkan selama ini. Rasa lelah dalam penantianku, rasanya seakan tidak berarti apa-apa jika ku lihat dirimu telah berada dalam pelukanku seperti saat ini," ungkap Adrian dengan suaranya yang begitu dalam. Ia terus mengusap-usap lengan Ryanthi yang masih bergelayut manja di dadanya.


Sesaat kemudian, Adrian kembali mencium kening Ryanthi dengan lembut.


"Berhentilah untuk menempatkan dirimu dalam kesunyian! Ingatlah Keanu dan Arumi! Temanilah mereka hingga saatnya nanti kita benar-benar akan kembali bersama dalam keabadian. Aku akan selalu menatikan hal itu," bisik Adrian.


"Akan tetapi, aku ingin selalu bersamamu ...." ucap Ryanthi dengan lirihnya.


"Akan tiba saatnya nanti, ketika aku mengajakmu untuk pergi bersamaku. Aku harap jika waktunua telah tiba, maka itu adalah saat yang dirasa tepat. Jangan sampai kamu meninggalkan perasaan yang begitu menyiksa di hati kedua anak kita," ucap Adrian. Suaranya terdengar sangat berat dan pelan. Suara yang hanya terdengar seperti sebuah hembusan angin bagi Ryanthi.


"Setiap kepergian dari orang yang kita cintai, pasti akan selalu meninggalkan bekas luka yang teramat sakit. Seberapa kuatnya aku, hatiku tetap menangis. Aku tidak berdaya dan rasanya ingin mengakhiri segalanya," ucap Ryanthi. Ia masih meletakan kepalanya di dada Adrian.


"Masih ingat hari itu? Saat pertama kali aku melihatmu dari jarak yang begitu dekat. Kamu begitu tampan," Ryanthi diantara rasa sadar dan tidak. Matanya terus terpejam.


"Kenanglah apapun tentang diriku! Segala hal yang kamu sukai. Bermimpilah seindah mungkin! Aku ingin melihatmu selalu bahagia. Tidurlah, Sayang! Lupakan sejenak Adrianmu ini! Aku tidak akan pergi kemana pun," Adrian mengakhiri kata-katanya dengan sebuah kecupan hangat di kening Ryanthi yang saat itu telah terlelap.


...🕊 🕊 🕊...

__ADS_1


Hari ini matahari seakan enggan untuk menampakan sinarnya. Langit pun tidak secerah biasanya, bahkan tetes-tetes air hujan telah mulai turun dan membuat suasana pagi itu menjadi sedikit melankolis.


"Ibu belum bangun. Aku tidak berani membangunkannya," ucap Arumi seraya menyantap sarapannya pagi itu.


"Tumben. Memangnya ibu tidak ke toko hari ini?" tanya Keanu. Ia meneguk jus jeruknya dan melahap makan yang ada di dalam piringnya.


"Ibu sedang cuti. Dia ingin segera menyelesaikan buku yang ayah tinggalkan untuknya. Aku tidak tahu sejak kapan ibu jadi suka membaca?"


Keanu tertawa pelan. "Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Moedya?" pancing Keanu.


Seketika Arumi tersedak mendengar pertanyaan dari sang kakak. Itu adalah pertanyaan yang begitu tiba-tiba.


"Hubungan apa maksud Kakak?" Arumi tampak salah tingkah. Ia pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan dari Keanu.


"Kamu yakin dengan Moedya?" selidik Keanu.


Arumi terdiam seraya menatap lekat kearah pria dengan rambut cepak itu. Arumi merasa jika tidak ada lagi yang harus ia sembunyikan dari sang kakak.


"Entahlah. Aku tidak tahu seperti apa hubungan kami," ujar Arumi dengan sedikit rasa sesal di wajahnya.


"Maksudmu?" tanya Keanu.


"Moemoe sangat menyebalkan. Dia bersikap seenak hatinya, aku benar-benar muak padanya!" gerutu Arumi.


Keanu tersenyum simpul. Ia pun menyudahi sarapannya. "Mau berangkat bersama atau kamu ingin mencoba mobilmu?" tanya pria itu seraya beranjak dari duduknya.


Arumi menoleh kepada sang kakak. Ia pun mengerutkan keningnya. "Ini hari Sabtu. Memangnya Kakak mau kemana?" tanya Arumi dengan senyum penuh curiga yang ia tujukan untuk Keanu.


"Sejak kapan Kakak harus lapor padamu," jawab Keanu dengan seenaknya. Ia pun pergi begitu saja dan meninggalkan Arumi dengan wajah penuh penasaran.

__ADS_1


__ADS_2