Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Rahasia Puspa


__ADS_3

Hari telah gelap ketika Keanu mengantarkan Puspa kembali ke depan toko itu. Hujan pun telah berhenti dan hanya menyisakan sebuah genangan kecil di beberapa bagian jalan yang berlubang. Keanu, membukakan pintu mobilnya untuk gadis itu.


"Terima kasih untuk hari ini. Ini adalah hari Sabtu yang sangat berkesan untukku," ucap Puspa dengan senyum manisnya. Ia tampak mulai akrab dengan Keanu. Rasa canggung itu sepertinya perlahan mulai sirna sedikit demi sedikit.


Keanu tersenyum simpul. Ia pun mengangguk pelan. "Jangan lupa hari Senin, datanglah kesana!" ucap Keanu. Ia kembali mengingatkan Puspa tentang pekerjaannya.


Puspa mengangguk dengan yakin. "Aku permisi dulu," ucapnya masih dengan senyum manisnya.


"Ya," jawab Keanu dengan kalemnya. Ia memperhatikan gadis bertubuh mungil yang kini telah berlalu dari hadapannya.


Akan tetapi, baru saja Puspa akan memasuki gang kecil itu, seketika ia kembali mundur. Ia kembali kepada Keanu yang saat itu masih berdiri disana dan memperhatikannya.


Puspa kembali dengan wajah takutnya seperti tadi pagi. Ia membuat Keanu semakin penasaran. "Ada apa?" tanya Keanu.


Akan tetapi, sebelum Puspa menjawab pertanyaan dari Keanu, seorang pria setengah baya telah terlebih dahulu berdiri di hadapan mereka dengan angkuhnya.


Pria itu menatap tajam kearah mereka berdua. Ia sepertinya tidak menyukai kehadiran Keanu disana.


"Puspa! Pulang!" hardiknya dengan nada bicara yang sangat kasar. Matanya melotot dan dipenuhi dengan kemarahan yang luar biasa.


"Siapa dia?" tanya Keanu kepada Puspa yang saat itu berpegangan erat pada lengan pria dengan kemeja tiga perempat itu.


"Puspa, pulang!" bentak pria itu lagi.


"Aku tidak mau!" tolak Puspa dengan penuh ketakutan.


"Anda siapa?" tanya Keanu. Pria itu masih terlihat tenang.


"Seharusnya saya yang bertanya, 'kamu siapa?'. Biarkan Puspa pulang!" ucapnya lagi dengan nada tinggi membuat orang-orang yang ada disana seketika melihat kearah mereka.


Keanu mengusap-usap keningnya. Ia sadar jika situasinya sangat tidak menyenangkan. Mungkin ia juga kini tengah menempatkan dirinya dalam suatu masalah.


"Kita bisa membicarakan ini dengan baik-baik," ucap Keanu. Ia masih berusaha untuk tetap tenang dan menenangkan pria paruh baya itu.


"Bicara baik-baik? Seperti apa? Kamu bahkan telah membawa pergi Puspa tanpa seizin saya!" bentaknya. Ia tidak segan meluruskan telunjuknya di depan wajah Keanu, membuat pria itu harus sedikit memundurkan wajahnya.


"Kami hanya pergi berjalan-jalan. Kami ...." Keanu tidak melanjutkan kata-katanya, karena dengan cepat pria paruh baya itu memotong ucapannya.


"Hanya? Katamu hanya!" hardiknya masih dengan sorot matanya yang dipenuhi kemarahan.


"Tidak ada yang gratis, Tuan!" lanjut pria itu seraya menyeringai kepada Keanu.


Keanu tertegun mendengar ucapan pria itu. Ia kemudian melirik Puspa yang saat itu hanya menundukan wajahnya.


"Apa maksudnya, Puspa?" tanya Keanu dengan tidak mengerti.


Puspa tidak menjawab. Sesaat kemudian, ia melepaskan tangannya dari lengan Keanu. Ia pun menghampiri pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Sudahlah! Ayo, pulang!" ajak Puspa padanya.


"Tidak semudah itu!" tolak si pria dengan kasarnya. Ia kemudian menatap Keanu untuk sejenak sebelum akhirnya kembali menatap Puspa.


"Mana bayaranmu?" tanya pria itu seraya menengadahkan tangannya ke hadapan Puspa.


"Aku mohon, jangan disini!" pinta Puspa dengan suara pelan. "ayo, pulang!" ajaknya.


Keanu semakin tidak mengerti dengan percakapan Puspa dan pria paruh baya itu. Akan tetapi, ia mencoba untuk mencerna sedikit demi sedikit.


"Puspa, bisa jelaskan sesuatu padaku?" tanya Keanu.


Puspa menoleh. Wajahnya tampak dipenuhi dengan banyak kecemasan. Ia mengisyaratkan agar Keanu tidak ikut campur. "Pulanglah!" suruh gadis itu dengan lirihnya.


"Aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku tidak mungkin meninggalkanmu dengan pria ini," tegas Keanu. Ia tampak mengkhawatirkan gadis itu.


"Aku tidak apa-apa. Aku pastikan jika aku akan baik-baik saja," ucap Puspa. Wajahnya terus memohon agar Keanu segera pergi dari sana.


Keanu menolak. Ia tidak bisa pergi begitu saja. Ia tahu jika Puspa pasti akan menghadapi masalah yang besar saat ini.


"Aku mohon, pergilah!" pinta Puspa.


"Tidak! Aku ...." tolak Keanu tertahan.


"Pergilah!" tegas Puspa lagi.


Keanu masih terpaku disana. Ia terus berfikir tentang semua yang baru saja ia saksikan.


Siapa pria itu? gumamnya dalam hati. Keanu masih berada dalam kebingungan saat itu.


Rintik-rintik hujan kembali turun. Keanu pun memutuskan untuk kembali ke dalam mobilnya. Ia harus pulang untuk makan malam di rumah.


Selama di dalam perjalanan, Keanu tak henti-hentinya memikirkan Puspa si gadis mungil. Ia merasa semakin penasaran dengan jati diri gadis itu. Kehidupan seperti apa yang dijalaninya dan siapa pria paruh baya yang tiba-tiba datang dan memarahi mereka? Semua pertanyaan itu terus berputar di dalam kepala Keanu dan menggelitik rasa penasarannya. Ia ingin lebih mengenal gadis itu.


Berbeda dengan Keanu. Arumi kini tengah tersenyum bahagia. Ia baru memulai sebuah ikatan dengan Moedya. Pria itu telah berhasil meyakinkan Arumi untuk menjalin cinta dengannya.


Entah apa yang ada di dalam fikiran Arumi. Namun, rasa ingin memiliki yang terlalu besar, membuatnya mengesampingkan semua keksalannya terhadap Moedya.


"Kami sudah resmi berpacaran," ucap Arumi kepada Ryanthi ketika mereka selesai makan malam.


"Sungguh?" Ryanthi tersenyum mendengarnya.


"Bagaimana menurut Ibu?" tanya Arumi.


"Apanya?" Ryanthi bertanya balik.


Arumi menggeser duduknya. Ia kemudian bergelayut manja pada pundak sang ibu.

__ADS_1


"Sebenarnya aku sangat takut untuk memulai sebuah hubungan seperti ini," ungkap Arumi.


"Apa yang kamu takutkan? Kecewa? Sedih? Dikhianati?" tanya Ryanthi.


Arumi terdiam untuk sejenak. Ia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di pundak sang ibu.


"Aku bertemu dengan ibu Ranum tadi," ucap Arumi dengan tatapan lurus ke depan. Entah apa yang tengah menjadi titik fokusnya saat itu.


"Siapa dia?" tanya Ryanthi.


"Ibunya Moedya. Dia wanita yang sangat luar biasa, Bu," jawab Arumi dengan seutas senyuman di bibirnya.


"Ibu Ranum sama seperti Ibu. Dia sudah kehilangan suami dari semenjak Moedya berusia dua belas tahun. Dia wanita yang sangat kuat," puji Arumi.


Ryanthi menghela napas panjang. Ia kemudian mengelus lembut rambut panjang gadis itu.


"Belajarlah dari wanita-wanita hebat seperti itu. Belajarlah untuk menjadi wanita yang kuat dan tidak mudah menyerah!"


"Aku sudah belajar banyak dari Ibu. Ibu tidak kalah luar biasa dari ibu Ranum. Kalian berdua adalah gambaran sempurna dari seorang wanita. Cantik, kuat, dan setia pada satu cinta. Aku ingin seperti itu," tutur Arumi.


Perasaan gadis itu selalu melebur dengan sempurna ketika ia berada di dekat Ryanthi. Kekuatan besar dari wanita paruh baya itu, selalu berhasil membuatnya seakan menjadi seperti seekor kuda perang yang pemberani.


"Seperti apa sosok nenek Farida yang telah berhasil mendidik Ibu menjadi seorang Ryanthi seperti saat ini?" tanya Arumi.


Ryanthi tidak segera menjawab. Ia hanya memejamkan matanya dan membayangkan wanita cantik yang dulu selalu menjadi tempatnya untuk bersandar. Ryanthi kemudian tersenyum.


"Ibu selalu tertidur dalam pangkuan nenekmu. Belaiannya begitu menenangkan. Ibu seakan melayang di atas awan ketika sedang berada di dalam pangkuannya," tutur Ryanthi.


"Aku juga merasakan hal yang sama ketika berada di dekat Ibu," ucap Arumi.


Ryanthi tersenyum lembut. Ia kembali mengelus wajah gadis itu.


"Setiap anak gadis akan selalu menyukai kebersamaannya dengan ibu mereka. Ibu sangat bahagia ketika kamu terlahir ke dunia ini. Kamu sudah terlahir dengan wajah yang cantik. Ayahmu pun sangat bahagia karena keinginannya memiliki seorang putri dapat terwujud," tutur Ryanthi.


"Kamu tahu, Sayang? Kehidupan Ibu terasa begitu sempurna ketika Ibu mengenal ayahmu. Dia pria yang aneh menurut Ibu. Terkadang dia sangat menyebalkan. Akan tetapi, justru hal itulah yang telah membuat Ibu merasa jatuh cinta padanya."


"Apa yang kamu rasakan saat ini kepada Moedya? Apa dia juga merupakan pria yang menyebalkan?" tanya Ryanthi.


"Aku rasa dia jauh lebih menyebalkan. Aku belum terlalu mengenalnya, Bu. Kedekatan kami terjalin dengan begitu cepat, karena itulah aku merasa ragu," ungkap Arumi.


"Kalau begitu, jawablah segala keraguanmu! Buktikan jika semua rasa takutmu itu keliru! Jangan pernah melewatkan cinta yang ia tawarkan untukmu! Kita tidak pernah tahu, seperti apa kisah ini akan berakhir nantinya," Ryanthi mengakhir kata-katanya dengan sebuah kecupan lembut pada pucuk kepala gadis itu.


"Ibu harus menyelesaikan buku yang ayahmu tinggalkan. Kamu masih ingin di sini atau ...."


"Aku ingin di sini sebentar lagi," sela Arumi dengan segera.


"Ya, sudah. Jangan tidur terlalu malam!" pesan Ryanthi seraya bangkit dari duduknya. Ia pun beranjak menuju kamar tidurnya.

__ADS_1


Arumi memperhatikan kepergian sang ibu. Ia ingin menyendiri, sebelum akhirnya ia harus kembali tersenyum sendiri karena membaca sebuah pesan yang dikirimkan oleh Moedya untuknya.


__ADS_2