
Arumi menghentikan mobilnya di depan bengkel milik Moedya. Ia pun segera keluar dan melangkah masuk ke dalam bengkel itu.
Dengan ragu Arumi melangkahkan kakinya karena ia tidak menemukan siapa pun di sana, terutama Moedya. Entah kemana pria itu?
Samar-samar, Arumi mendengar suara seseorang yang tengah berbicara lewat sambungan telepon. Arumi tahu jika itu adalah suara milik Moedya. Arumi pun melangkahkan kakinya menuju lantai dua.
Terdengar Moedya bicara dengan nada yang cukup kesal. Entah siapa yang tengah menjadi lawan bicaranya, namun yang jelas perbincangan itu telah membuat Moedya kehilangan sisi lucunya.
"Moemoe?" Panggil Arumi dengan agak nyaring. Ia masih berdiri pada undakan kedua anak tangga itu.
Mendengar suara Arumi, Moedya segera menghentikan pembicaraannya di telepon. Ia pun melangkah menuju tangga.
"Hai ...." sapa Moedya. Ia mematikan sambungan teleponnya dengan sepihak dan segera menyambut kedatangan Arumi.
"Kamu sedang sibuk?" Tanya Arumi dengan rasa tidak enak di dalam hatinya.
Moedya terdiam untuk sejenak. Ia pun menggeleng pelan. "Tidak!" Jawabnya. "Kemarilah!" Ajaknya.
Arumi pun melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga hingga ke lantai dua. Ia tersenyum dengan manis mendapati sambutan hangat Moedya kepadanya.
"Apa kabar?" Tanya Moedya. Ia tampak sedikit kikuk. Mungkin ia takut jika Arumi mendengar percakapannya tadi di telepon.
"Baik," jawab Arumi pelan. "Ini, kubawakan kue untukmu," ucap Arumi seraya menyodorkan sebuah box berwarna jingga kepada Moedya.
Moedya menatap Arumi untuk sejenak, kemudian ia mengalihkan tatapannya kepada box berwarna jingga itu. Ia pun meraih box itu dengan senyum kalem ala Moedya.
"Kenapa kamu membuatku merasa sangat istimewa?" Tanya Moedya seraya meletakan box itu di atas meja. Ia kembali menatap Arumi yang masih berdiri menatapnya.
Dihampirinya gadis cantik dengan sanggul asal-asalan itu. Ia pun kemudian menyentuh wajah Arumi dengan lembut seraya menciumnya mesra dan penuh perasaan.
Arumi hanya terdiam ketika menikmati sentuhan halus Moedya di wajahnya. Pria itu selalu membuat jantungnya berdetak dengan lebih cepat dari biasanya.
Moedya adalah pria yang sudah sangat berpengalaman. Ia tahu bagaimana cara memperlakukan seorang gadis seperti Arumi.
Sekali lagi ia mencium gadis itu dengan lembut, membuat Arumi terlena dan seakan ingin segera terbang tinggi, terlebih ketika Moedya mengalihkan ciumannya pada leher dan bagian lainnya.
__ADS_1
Entah apa yang terjadi kepada Moedya? Tidak biasanya pria itu menjadi sangat antusias dan seakan ingin melahap habis tubuh sang kekasih.
Sementara itu, Arumi semakin tak berdaya. Tubuhnya terasa begitu lemas menerima semua cumbuan Moedya yang begitu tiba-tiba, bahkan pria itu kini telah membawanya ke atas tempat tidur.
Dengan cekatan, Moedya menaikan kaos yang dipakai Arumi hingga sebatas dada dan memperlihatkan dua cup renda berwarna hitam. Moedya pun tidak melewatkan hal itu, ia segera membenamkan wajahnya di sana dan membuat Arumi semakin tidak berdaya. Gadis itu berkali-kali mendongakan wajahnya dengan de°sahan pelan, ketika Moedya menjamahnya tanpa henti.
Ini pertama kalinya Arumi merasakan sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman. Ia belum pernah memperlihatkan tubuhnya kepada pria manapun, termasuk Edgar. Akan tetapi, ia tidak mampu melawan Moedya. Ia membiarkan pria bertato itu menjelajahi tubuh indahnya.
Akhirnya, tibalah pada satu titik inti permainan itu. Arumi tersentak dan menyingkirkan tubuh Moedya dari atas tubuhnya sehingga membuat pria itu keheranan.
"Kenapa?" Tanya Moedya. Ia menatap Arumi dengan sedikit kecewa.
Arumi membetulkan letak bra yang dipakainya hingga berada di tempatnya. Ia juga menurunkan midi skirt yang tadi sempat tersingkap ke atas.
"Aku belum siap melakukannya," ucap Arumi pelan dengan napas yang sedikit terengah-engah.
Moedya menghela napas panjang. Ia mencoba untuk memahami gadis itu. Ia pun tersenyum seraya meraih Arumi ke dalam dekapannya.
"Kamu merasa takut?" Tanya Moedya pelan.
Arumi mengangguk pelan dengan wajah yang sedikit pucat.
"Kamu percaya padaku, kan?" Tanya Moedya seraya menangkup wajah cantik yang sudah tampak gusar itu.
"Iya. Akan tetapi keberanianku belum sampai ke sana. Aku masih merasa sangat takut," resah Arumi.
"Apa yang kamu takutkan?" Tanya Moedya lagi.
Arumi terlihat tidak nyaman. Ia berkali-kali mengeluh pelan. Moedya pun mencoba untuk memahami apa yang dirasakan sang kekasih.
"Aku ... maafkan aku, Moemoe!" Arumi beranjak dari atas tempat tidur dan diikuti oleh Moedya. Pria berambut gondrong itu memeluk Arumi dari belakang yang saat itu tengah berdiri di dekat jendela.
"Seandainya aku melamarmu saat ini ... apakah kamu akan menerimaku, Miemie?" Tanya Moedya dengan pelan namun membuat Arumi sangat terkejut. Ia menoleh ke samping, dimana wajah Moedya berada. Pria itu meletakan dagunya di atas pundak Arumi dengan nyaman.
"Maksudmu?" Arumi tidak mengerti.
__ADS_1
Moedya menggumam pelan. Ia pun tersenyum simpul. "Aku hanya ingin agar hubungan kita di bawa ke arah yang jauh lebih serius. Entahlah, namun aku merasa jika sudah saatnya aku mulai memikirkan masa depan," jelas Moedya.
"Denganku?" Arumi meyakinkan ucapan Moedya kepadanya.
"Kamu keberatan?" Moedya bertanya balik.
"Of course not. Aku hanya sedikit terkejut karena ini begitu tiba-tiba," bantah Arumi. "Lagipula hubungan kita baru seumur jagung, apa ini tidak terlalu terburu-buru?" Arumi kembali meyakinkan Moedya akan niatnya.
Moedya melepaskan pelukannya dari Arumi. Ia pun kemudian duduk di ujung ranjangnya dan terdiam untuk sejenak.
"Aku hanya ingin agar hubungan kita memiliki arah yang jelas. Tidak apa-apa jika tidak langsung menikah. Aku hanya ingin agar ini bukan sekedar menjadi sebuah hubungan yang biasa," harap Moedya.
Arumi menatap lekat pria itu. Ia kemudian menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Arumi pun menyandarkan kepalanya pada pundak pria dengan gaya rambut man bun itu. Ia membuat dirinya senyaman mungkin.
"Aku ingin menikah di usia dua puluh lima. Itu artinya sekitar dua tahun lagi. Akan tetapi ... terkadang aku ingin melakukannya jauh lebih cepat dari targetku, tapi ... entahlah ...." Arumi terdiam untuk sejenak.
"Aku tahu mungkin kamu tidak yakin untuk menjalaninya denganku," tukas Moedya pelan. Ada gurat kecewa dalam kata-kata yang ia ucapkan.
Arumi menegakan tubuhnya. Ia menatap lekat Moedya yang ia rasa bersikap sangat aneh saat itu. Arumi tidak tahu apa yang telah mempengaruhi pria itu, sehingga menjadi tidak seperti biasanya.
"Are you okay?" Tanya Arumi dengan heran.
"Hari ini kamu bersikap sangat aneh. Tidak biasanya kita membahas sesuatu yang berat seperti ini," ucap Arumi dengan sedikit kecemasan dalam tatapan matanya.
Moedya membalas tatapan gadis itu. Ia juga merasa jika dirinya telah meluapkan emosinya dengan terlalu berlebihan.
Moedya menghela napas dalam-dalam. Ia pun membungkukan badannya dan menopang kening dengan kedua tangannya. Ia terlihat gelisah saat itu.
Arumi dapat merasakannya dengan jelas. Ia pun menjadi sangat khawatir karenanya. Sebagai pacar yang baik, tentu saja ia tidak bisa untuk bersikap tidak peduli.
"Ada apa?" Tanya Arumi lagi.
Moedya segera menoleh. Ia pun kembali menegakan tubuhnya dengan tatapan yang masih ia layangkan kepada gadis cantik itu. Segera dipeluknya Arumi dengan erat.
"Aku mencintaimu, Arumi ...." bisik Moedya dengan agak lirih.
__ADS_1
Arumi terdiam. Meskipun ia membalas pelukan Moedya, akan tetapi ia masih merasakan jika ada sesuatu yang janggal saat itu.
"Aku tahu," jawab Arumi pelan dengan nada bicara yang terdengar ragu.