
Ranum menatap tajam pria dengan kaos berwarna putih itu. Ada beberapa bercak darah di sana. Ranum pun tidak percaya dengan semua ini.
Dihampirinya pria itu, lambang cintanya bersama Arya. Ranum terus melayangkan tatapannya dengan tajam. Marah, sedih, khawatir, dan tentu saja penasaran, semua bercampur menjadi satu.
Disentuhnya wajah tampan putra kesayangannya dengan lembut. Ia pun tak kuasa menahan haru. Tangis wanita paruh baya itupun pecah seraya memeluk erat pria dengan postur 178 cm itu.
Moedya segera membalas pelukan hangat dari sang ibu. Ia tahu dan sangat memahami apa yang Ranum rasakan saat ini. Penyesalan pun seakan tiada guna lagi baginya.
"Maafkan aku, Bu," ucap Moedya pelan dengan penuh sesal. Perlahan ia melepaskan pelukannya dari Ranum.
"Apa yang terjadi, Nak?" Tanya Ranum dengan rasa penasaran yang begitu besar. Ia terus menggenggam jemari putranya setelah mereka berdua duduk di atas sebuah bangku yang ada di sana.
Moedya terdiam untuk sejenak. Ia pun mencium tangan Ranum yang masih berada dalam genggamannya. Beberapa saat kemudian, Moedya akhirnya menceritakan semuanya.
Ranum mendengarkan penuturan putra semata wayangnya itu dengan serius. Tatapannya tidak beralih sedikitpun dari wajah tampan yang kini mungkin tidak akan dapat ia tatap kapan pun ia mau, dan entah untuk berapa lama. Yang pasti, Ranum harus segera memperjuangkan kebebasan untuk putranya, atau setidaknya Moedya dapat menerima hukuman yang lebih ringan dari yang akan ia terima nanti.
"Aku tidak sengaja melakukannya, Bu" Moedya mengakhiri kata-katanya. Meskipun saat ini ia sedang dalam masalah besar, namun tidak ada rona takut sama sekali yang tergambar pada wajah tampannya. Ia masih terlihat seperti biasanya, tenang dan tentu saja selalu dengan senyum khasnya yang muncul meski hanya sesekali saja.
"Ibu akan mencarikan pengacara terbaik untukmu! Kamu tidak perlu khawatir!" Ucap Ranum dengan yakin.
Moedya tersenyum tipis. Yang ada di dalam fikirannya saat ini adalah gadis cantik pujaan hatinya, Arumi. Entah apa yang akan terjadi jika Arumi mengetahui apa yang tengah menimpa kepada dirinya saat ini.
"Tolong bicaralah dengan Arumi, Bu!" Pinta Moedya pelan. Hatinya mulai dipenuhi dengan kegalauan.
Ranum pun mengangguk setuju. Ia harus terlihat kuat demi putranya, meskipun kenyataannya saat ini hatinya benar-benar hancur.
"Ibu akan menemui dan bicara dengannya besok. Jangan khawatir!" Ucap Ranum. Ia kembali mengelus lembut wajah putranya.
__ADS_1
"Ibu akan kembali lagi besok untuk membawakanmu baju ganti. Apa lagi yang kamu inginkan? Soft drink? Rokok? Atau ...." Ranum tidak kuasa menahan air matanya ketika Moedya hanya terdiam menatapnya. Rasa haru itu ternyata sangat sulit untuk ia sembunyikan. Ranum pun segera memeluk putra semata wayangnya itu dengan begitu erat.
"Jangan menangis, Bu! Semuanya akan baik-baik!" Ucap Moedya seraya mengusap-usap punggung sang ibu dengan lembut.
"Ibu tidak akan baik-baik saja sebelum kamu kembali ke rumah dan melanjutkan rencana pertunanganmu dengan Arumi. Bagaimana ini, Sayang?" Derai air mata Ranum terus terjatuh di sudut bibirnya.
"Tidak apa-apa, Bu!" Ucap Moedya seraya menyentuh wajah Ranum dengan lembut.
"Apa yang harus Ibu katakan kepada ayahmu nanti? Dia sudah menitipkanmu kepada Ibu. Sementara Ibu ... tidak dapat menjagamu dengan baik ...." lirih Ranum.
Moedya menggeleng pelan. "Tidak, Bu! Jangan berkata begitu!" Sergah Moedya. "Ayah tahu jika Ibu adalah wanita sekaligus ibu yang sangat luar biasa. Akan tetapi ... karena aku memang bukan anak yang baik! Aku banyak melakukan kesalahan. Itu yang terjadi. Maafkan aku, Bu!" Sesal Moedya.
"Sebaiknya sekarang Ibu pulang dan beristirahatlah! Aku tidak mau jika sampai Ibu sakit," saran Moedya. Ia kemudian merogoh saku celana jeansnya dan mengeluarkan kunci mobil. Moedya pun menyodorkan kunci itu kepada sang ibu.
"Mobil Ibu masih ada di apartemen Delia," ucap Moedya. Ada gurat penyesalan yang begitu dalam pada sorot matanya yang teduh.
Sebuah anggukan pelan dari Moedya mengakhiri perbincangan mereka. Moedya harus segera kembali ke dalam selnya sementara.
Dengan berat hati, Ranum melepaskan genggaman tangan Moedya. Ia pun hanya berdiri mematung ketika menatap putra semata wayangnya itu melangkah pergi hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.
...🕊 🕊 🕊...
Arumi tertegun menatap pria berambut gondrong yang berdiri di hadapannya. Sesaat kemudian, ia pun segera menghampirinya dan memeluk pria itu dengan erat. Tangisnya pun pecah.
Moedya membalas pelukan gadis itu. Ia membiarkan air mata Arumi tumpah di dalam pelukannya. Moedya pun mengelus lembut rambut panjang yang tergerai indah menutupi punggung Arumi.
"Jangan menangis!" Pinta Moedya seraya merenggangkan pelukannya. Ia mengelus lembut wajah Arumi dan menatap gadis itu dengan senyuman kalemnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Tanya Arumi.
Moedya tidak segera menjawab. Ia kemudian mengalihkan tatapannya kepada Keanu yang saat itu menemani Arumi datang ke sana.
"Aku sudah menyelesaikan urusanku dengan Nancy. Meskipun harus berakhir dengan seperti ini, namun ... aku merasa lega ...." Keanu melepaskan rangkulannya. Ia pun duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
"Arum, maafkan aku. Ini semua di luar kendaliku. Aku tidak pernah menginginkan akhir seperti ini," sesal Moedya.
"Aku tahu jika kamu pasti tidak sengaja melakukannya. Akan tetapi ... apa ini, Moemoe? Aku tidak sanggup melihatmu dalam keadaan begini ...." lirih Arumi yang diakhiri dengan sebuah isakan pilu.
"Aku juga tidak menyukainya, Arum ...." sahut Moedya.
"Aku bahkan tidak dapat memastikan bagaimana kelanjutan ini semua, hubungan kita, rencana kita ... semuanya ...." Moedya menggenggam erat jemari lentik gadis itu. Gadis yang kini tertunduk dan menyembunyikan air matanya.
"Jangan menangis! Aku tidak suka melihatmu seperti ini!" Cegah Moedya.
Arumi tidak menjawab. Ia terus menundukan wajahnya sambil terisak pelan. Sedangkan Moedya terus menenangkan Arumi dengan belaian-belaian lembutnya.
Sesaat kemudian, Moedya pun melirik Keanu yang masih berdiri sambil terus memperhatikan mereka berdua. Tatapan kedua sahabat yang kemarin saling adu jotos itu akhirnya bertemu pada sebuah rasa penyesalan yang dalam. Moedya pun beranjak dari duduknya dan menghampiri calon kakak iparnya itu.
"Lukamu sudah sembuh?" Tanya Moedya. Ia hanya berbasa-basi. Jika Keanu tidak mempedulikannya pun, maka tidak masalah baginya.
"Aku harap kamu tidak menangis saat ibu Ranum mengoleskan obat luka di wajahmu," sahut Keanu dengan nada mengejek.
Moedya pun hanya tertawa pelan, begitu juga dengan Keanu. Pada akhirnya kedua sahabat itu kembali berpelukan.
"Tolong jaga Arumi untukku!" Bisik Moedya ketika mereka masih berpelukan.
__ADS_1
"Tenang saja! Dia adikku. Aku lebih tahu bagaimana cara menjaganya," jawab Keanu pelan.