Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Kenangan yang Kembali


__ADS_3

Arumi hanya menggaruk-garuk alisnya ketika Edgar berada di rumahnya. Pria itu disambut hangat oleh Adrian dan juga Ryanthi. Terlebih Adrian, karena mereka sama-sama berdarah Perancis.


Keanu berkali-kali melirik sang adik yang terlihat tidak nyaman dengan keberadaan pria bermata abu-abu itu. Ia pun seakan menertawakan kegelisahan sang adik.


Arumi sadar jika Keanu tengah mengejeknya saat itu. Ia pun hanya mendelik berkali-kali kepada sang kakak dengan rasa kesal yang luar biasa.


Perbincangan hangat dan akrab pun terjadi di ruang keluarga yang nyaman itu. Adrian memang mendesain seluruh ruangan di rumahnya dengan sentuhan aroma Perancis yang sangat elegan. Termasuk dengan ruang keluarga yang bernuansa putih tulang itu.


Tirai yang tinggi dan indah dengan lampu gantung yang besar dan sangat cantik. Mereka sangat serasi dengan sofa yang ada disana, dan juga dengan beberapa furniture yang lainnya yang berwarna senada dan sangat serasi.


"Jadi, kamu berasal dari Paris?" tanya Adrian dengan ramah kepada Edgar.


"Ya. Keluarga besar saya semuanya disana," jawab Edgar. "Sewaktu mendiang ibu saya masih hidup, kami sering berkunjung ke Indonesia. Akan tetapi, setelah beliau tiada saya sudah sangat jarang kemari, jika bukan untuk urusan pekerjaan," jelas Edgar. Ia sungguh pintar dalam hal berbasa-basi.


Ryanthi yang saat itu tengah duduk di sebelah Adrian pun, tersenyum dengan sangat manis. Ia sangat terkesan dengan pria Perancis itu. Berkali-kali Ryanthi melirik Arumi yang sejak tadi tidak bicara sedikit pun. Ia tahu, jika Arumi tidak setuju atas undangan makan malam yang ia berikan terhadap Edgar.


"Edgar benar-benar pria yang sopan dan manis. Benar kan, Sayang?" puji Ryanthi. Ia bergelayut manja di lengan Adrian.


"Sama seperti diriku, bukan?" canda Adrian seraya melirik mesra sang istri.


Ryanthi tertawa manja mendengar jawaban dari Adrian. Pria itu memang selalu membuat dirinya merasa terkesan.


Keanu saling pandang dengan Arumi. Ia hanya menghela napas pendek dan menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat kemesraan kedua orang tuanya.


Perbincangan hangat pun terus berlangsung disana. Edgar bercerita tentang perusahaannya yang bergerak di bidang asuransi. Selain itu Edgar juga memiliki beberapa hotel berbintang yang tersebar di beberapa kota besar di Perancis. Ia menceritakan tentang suka dukanya kala membangun usahanya itu, dengan sangat antusias. Adrian pun terlihat sangat tertarik saat menanggapi cerita pria dua puluh delapan tahun itu.


Keanu juga bahkan ikut menanggapi cerita dari Edgar. Mereka bertiga saling berbagi cerita tentang masalah pekerjaan dan sebagainya. Yang pasti, itu menjadi sebuah kunjungan yang sangat berkesan bagi Edgar.


Pria bermata abu-abu itu tidak pernah menyangka jika Arumi ternyata memiliki keluarga yang sangat hangat dan harmonis. Ia juga merasa terkesan dengan sambutan ramah dari mereka, meski tidak begitu dengan Arumi.


Gadis itu masih terlihat tidak berselera untuk bergabung dalam obrolan santai itu. Ia malah asik sendiri dengan layar ponselnya.


Sesekali Edgar mencuri pandang kepada Arumi. Ia penasaran siapa yang tengah berbalas pesan dengan gadis itu, sehingga Arumi terlihat begitu bahagia.


Jam dinding sudah menunjukan pukul sembilan malam. Edgar pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Setelah berpamitan kepada seluruh keluaraga Arumi, ia pun melangkah keluar dengan diantar oleh gadis itu. Edgar tampak sangat kecewa.

__ADS_1


"Aku senang dengan sikap ramah keluargamu. It's feel like home. Tetapi ... aku tidak suka dengan sikapmu tadi," Edgar mengeluarkan kunci mobilnya.


"Mobil siapa ini?" Arumi mengalihkan perbincangan pada hal lain yang sebenarnya sangat tidak penting.


"Mobil temanku. Aku meminjamnya sebentar," jawab Edgar.


"Tell me, Beib! Siapa yang tadi berkirim pesan denganmu?" tanya Edgar dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat serius.


"It's not your business!" tegas Arumi.


"Kenapa kamu kasar sekali padaku?" tanya Edgar dengan kedua alisnya yang hampir bertemu.


"Because ...." Arumi mengeluh kasar. "Kenapa kamu masih saja menggangguku? Apa maumu yang sebenarnya?" tanya Arumi dengan nada bicara yang sedikit kasar. Ia benar-benar sudah tidak tahan dengan sikap Edgar yang terus mengejar dirinya.


"Because i love you!" tegas Edgar.


"No! It's not about love, Ed!" bantah Arumi dengan tegas namun ia tetap merendahkan suaranya.


"Aku tahu jika selama ini kamu masih merasa penasaran padaku. Iya, kan?" tukas Arumi.


"You mean?" tanya Edgar tidak mengerti.


"Aku tahu jika kamu hanya ingin meniduriku, kan? Sesuatu yang selalu kamu lakukan kepada pirang-pirang mu yang lain!" tuding Arumi dengan sinisnya.


Edgar menggelengkan kepalanya. Ia jelas tidak suka dengan tuduhan dari Arumi.


"Baiklah! Ku akui jika awalnya aku memang sangat ingin melakukannya denganmu. But ... setelah mengenalmu dengan lebih dekat, aku sudah melupakan niat kotor ku itu!" tutur Edgar dengan tegas.


"I love you so much. Perasaan itu sangat tulus untukmu. Aku bersumpah atas nama mendiang ibuku, jika aku sungguh-sungguh mencintaimu!" tegas Edgar lagi.


"Siapa yang dapat menjamin hal itu?" bantah Arumi.


Edgar terlihat menahan rasa jengkel di hatinya karena sikap yang ditunjukan Arumi kepadanya.


"Bagaimana aku bisa membuktikan hal itu padamu, sementara kamu sendiri tidak pernah memberiku kesempatan sama sekali untuk melakukannya!" amarah Edgar hampir pecah. Namun untungnya ia masih dapat mengendalikan dirinya.

__ADS_1


Edgar mencoba untuk menenangkan diri sejenak. Ia pun mulai mengatur pernapasannya agar jauh lebih stabil. Setelah dirasa cukup tenang, barulah ia kembali mengalihkan perhatiannya kepada Arumi.


Dipegangnya kedua lengan Arumi dengan lembut. Edgar pun melayangkan tatapannya yang penuh cinta kepada gadis pujaan hatinya itu.


"Aku mohon, berikan aku satu kesempatan lagi untuk membuktikannya padamu!" pinta Edgar dengan sungguh-sungguh.


"Aku sudah memberikannya selama enam bulan padamu. Tetapi, kamu mensia-siakan hal itu," jawab Arumi dengan wajah yang penuh sesal.


"Karena itulah aku kemari, Beib. Aku ingin mengganti enam bulan yang kulewatkan dengan sia-sia saat bersamamu," rayu Edgar lagi.


"I know, kesalahanku sangat fatal. Tetapi, aku bersumpah jika aku sudah berubah. Aku sudah meninggalkan kehidupan lamaku, hanya demi untuk meraih cintamu lagi," rayu Edgar.


"Aku sangat mencintaimu. Aku merindukanmu. Aku merindukan kebersamaan kita dulu. Itu sangat indah dan suci. Kamu tahu kenapa aku menyebutnya sebagai kebersmaan yang suci?"


Arumi menggeleng pelan.


"Because i found something different with you. Something better. Awalnya aku tidak dapat memahami apa itu. Finally, i know maybe it is a true love," ungkap Edgar dengan nada bicaranya yang sangat dalam.


"Harus berapa kali lagi kukatakan. jika aku sangat mencintaimu, aku menginginkanmu dalam hidupku. For all my life," bisik Edgar dengan lembut.


Arumi hanya mematung. Ia tidak dapat berbuat apa-apa mendengar kata-kata manis dari pria yang pernah dicintainya itu. Diakuinya jika kenangannya bersama Edgar memang terlalu indah untuk dapat dihapuskan. Akan tetapi, semuanya kini telah berubah.


"Please, Beib! Jangan abaikan aku lagi!" pinta Edgar dengan sangat. Ia begitu berharap agar Arumi bersedia untuk merubah pemikirannya.


"Maaf, Ed. But i can't. Aku sudah melupakan semuanya," tolak Arumi dengan nada bicaranya yang jauh lebih tenang.


Edgar menatap lekat gadis cantik yang ada di hadapannya itu. Dengan tiba-tiba ia menangkup wajah cantik itu. "Kalau begitu, biar ku ingatkan kembali ...." ucapnya.


Arumi tersentak. Ia tidak sempat menghindar ketika Edgar mencium bibirnya.


Arumi sempat memberontak, akan tetapi dengan cekatan Edgar memegangi kedua tangan gadis itu dan menahannya.


Untuk beberapa saat lamanya, pria berambut ikal itu tidak melepaskan Arumi sedikitpun. Gadis itu pun akhirnya pasrah. Ia hanya berdiri mematung dan membiarkan pria dengan postur 178 cm itu, memberikan kenangan lamanya yang telah ia tinggalkan di kota Paris.


Adalah masalah yang baru bagi Arumi. Ia tidak mengetahui jika saat itu Moedya tengah memperhatikan mereka dari balik pintu gerbang rumah itu.

__ADS_1


Moedya menyaksikan itu semua dengan mata kepalanya sendiri.


Dengan wajah yang kian datar dan kecewa, ia kembali menaiki motornya. Sesaat kemudian, ia pun berlalu dari tempat itu.


__ADS_2