
Dia adalah pria kemarin yang Arumi lihat di bengkel. Pria yang berbincang akrab dengan kakaknya, Keanu.
"Sedang apa dia disini?" gumam Arumi dalam hatinya. "Ah ... ini supermarket, semua orang bebas datang kemari," fikirnya lagi.
Arumi kembali pada karakternya yang ramah. Ia pun tersenyum kepada pria itu. "Terima kasih," ucapnya. "Untung saja tidak sampai jatuh," gumam Arumi menyadari kecerobohannya.
Pria itu hanya membalas keramahan Arumi dengan sebuah anggukan. Ia masih terlihat canggung untuk menyapa gadis manis itu.
"Apa Ken juga ada disini?" tanya pria itu dengan nada bicaranya yang datar dan nyaris tak terdengar oleh Arumi.
"Um ... tidak. Kakakku sedang berada di belakang meja kerjanya pada jam-jam seperti ini," jawab Arumi. Pandangannya kembali tertuju pada deretan mug yang ada di hadapannya.
"Kakak?" tanya pria itu dengan nada yang terdengar agak heran.
Arumi menoleh dan mengangguk. Setelah itu, ia kembali memilih mug yang sesuai dengan keinginannya.
"Jadi ... kamu adalah adiknya Keanu?" gumam pria itu pelan. "Aku fikir kalian ...." pria itu tidak melanjutkan kata-katanya. Ia pun tersenyum simpul.
"Apa aku terlihat serasi dengan kakakku? Sampai-sampai aku disangka sebagai pacarnya," gurau Arumi.
"Entahlah. Aku rasa ... iya," jawab pria itu. Ia kini terlihat jauh lebih santai dari sebelumnya. "Jadi ... dengan siapa kamu kemari?" tanyanya lagi.
Arumi menunjuk kearah Ryanthi yang belum beranjak dari tempatnya tadi. Ia masih sibuk dengan wajan-wajan di hadapannya. "Ibuku sejak tadi belum selesai memilih penggorengan. Dia terlalu perfeksionis. Entah wajan seperti apa yang dia mau, karena menurutku semuanya terlihat sama," ujar Arumi dengan senyumnya.
"Mungkin ibumu mempunyai kriteria khusus dalam memilih sesuatu. Itu bagus. Karena itu artinya ia sangat detail dan berhati-hati," balas pria itu.
"Menurutku itu sangat membosankan. Sesuatu yang terlalu sempurna justru akan terlihat monoton. Aku rasa ... sedikit bumbu 'tidak wajar' akan jauh lebih menyenangkan," bantah Arumi. Ia kembali tersenyum.
"Apa kamu selalu tersenyum seperti itu?" tanya pria itu lagi. Ia menatap lekat Arumi yang kini balas menatapnya.
"Memangnya kenapa? Apa itu mengganggumu?" tanya Arumi tanpa mengalihkan tatapannya dari mata pria dengan penampilannya yang eksentrik itu.
"Tentu saja tidak," bantah pria itu. "Senyummu terlihat sangat manis," lanjutnya.
Arumi mengulum bibirnya. Ia menahan tawa yang akan keluar dari sana, karena merasa geli dengan ucapan pria itu. Ia tidak ingin terburu-buru menganggap kata-kata manis itu sebagai sebuah rayuan untuknya.
Arumi hanya tersenyum seraya kembali melihat-lihat mug yang sebenarnya sudah ia lihat sejak tadi. Namun, Arumi tidak tahu harus melakukan apa saat itu. Ia pun kembali meraih mug dengan warna biru muda itu.
"Moedya ...." pria itu mengulurkan tangan seraya menyebutkan namanya.
Arumi kembali menatapnya. Ia pun meletakan mug itu di tempatnya semula. Setelah terdiam untuk sejenak, Arumi pun membalas uluran tangan itu.
__ADS_1
Namun, baru saja ia akan menyebutkan namanya, tiba-tiba ponselnya berdering.
Arumi tersadar. Ia lalu melepaskan tangan pria bernama Moedya itu. Ia pun mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya.
Ryanthi menghubunginya. Ia mencari-cari keberadaan gadis itu.
"Iya, bu. Aku kesitu sekarang," jawab Arumi. Ia pun menutup sambungan teleponnya.
"Ibuku sudah selesai memilih wajan. Aku harus kesana. Sampai nanti ... Moemoe," ucap Arumi seraya berlalu meninggalkan rasa penasaran di hati bujang bernama Moedya.
Moedya pun terus memperhatikan gadis dengan senyuman manis itu. Sementara Arumi pun demikian. Ia membalas tatapan pria itu seraya berlalu. Arumi membawa serta desiran angin lembut yang membuat hatinya merasa terbang entah kemana.
Arjuna Moedya Aryatama, itulah nama lengkap pria dengan penampilan eksentrik itu. Pria dengan gaya rambut man bun dan celana jeans yang robek-robek dibagian lututnya. Pria dengan tato di lengan dan juga pergelangan tangan bagian bawahnya.
Moedya kini berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Ia hanya tinggal bersama sang ibu yang merupakan seorang perancang busana, sekaligus pemilik butik dan juga beberapa salon kecantikan yang sudah dikenal diantara para wanita dari kalangan atas.
Ranum juga merupakan pemilik dari rumah makan dengan lebih dari lima belas cabang. Ia sungguh seorang wanita yang luar biasa. Kuat dan mandiri.
Moedya adalah putra tunggal dari pasangan Ranum dan Arya. Ia begitu mengidolakan sang ayah, sampai-sampai ia meniru gaya keseharian dari pria yang telah tiada sejak beberapa tahun silam itu.
Arya menjadi sosok yang begitu penting dalam kehidupan Moedya. Pria itu adalah ayah sekaligus partner dalam segala hal.
Ranum, wanita cantik dengan kariernya yang kian menanjak. Usianya kini sudah setengah abad lebih. Namun, kecantikan itu masih melekat dengan sempurna pada wajahnya yang selalu tampak awet muda.
"Bu ...." Moedya mencium pipi wanita yang tengah asik dengan spatula kayu di tangannya.
"Malam ini kamu akan makan malam disini, kan?" tanya Ranum. Ia memperhatikan putra semata wayangnya yang baru saja mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas.
"Sudah Ibu katakan jangan terlalu sering mengkonsumsi minuman kaleng bersoda!" larang Ranum dengan nada keibuannya. Ia mengerutkan keningnya karena merasa jengkel dengan tingkah Moedya yang sulit untuk diatur.
"Aku baru minum sekarang. Seharian ini ada banyak sekali pekerjaan di bengkel," kilah Moedya seraya kembali meneguk minumannya.
"Kamu itu memang sulit diatur. Usiamu sudah dua puluh tujuh tahun, tapi kamu seolah-olah tidak mengerti dengan ucapan dari Ibu!" gerutu Ranum. Ia pun mematikan kompor dan memindahkan masakan yang masih panas itu ke dalam piring saji yang berbentuk oval.
Setelah membersihkan ceceran bumbu yang menetes pada pinggiran piring itu, Ranum pun meletakannya pada meja yang lain. Barulah nanti akan ia pindahkan ke meja makan jika sudah saatnya makan malam tiba.
Ranum berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada. Ia menatap lekat kepada Moedya dengan tatapan yang sarat akan ketegasan.
Ranum, masih dengan karakternya yang dulu. Ia tetap jadi seorang wanita tegas yang tidak suka berbasa-basi tentang hal yang tidak penting. Ketegasan itulah yang telah membawanya hingga pada puncak kariernya saat ini.
"Ibu sudah masak banyak. Ibu harap kamu makan malam disini malam ini!" paksa Ranum.
__ADS_1
Moedya menatap wanita dengan sanggul asal-asalan itu. Penampilan sang ibu yang masih terlihat awet muda dan modis, kerap membuatnya mendapat pertanyaan-pertanyaan nakal dari para pelanggan bengkelnya, ataupun rekan-rekan sesama anggota club motornya.
Pernah suatu ketika ada yang menyangka jika Ranum adalah kekasihnya. Moedya pun hanya tersenyum kala menanggapi ocehan-ocehan tidak penting seperti itu.
"Kamu anak Ibu satu-satunya! Tetapi kamu sama sekali tidak peduli pada Ibumu ini," keluh Ranum lagi dengan wajahnya yang kian tegas.
Moedya masih terlihat tenang. Ia pun menghabiskan sisa minuman kalengnya dan meletakan kaleng kosong itu di atas meja.
"Jadi ... Ibu menyuruhku datang hanya untuk memarahiku?" tanya Moedya dengan sikap tak acuhnya.
"Kapan lagi Ibu bisa memarahimu?" jawab Ranum dengan kesalnya. "Kamu hanya akan pulang saat kamu suka. Kamu lupa jika Ibumu masih hidup dan butuh teman?"
"Bukannya Ibu selalu menyibukan diri dengan segenap rutinitas Ibu? Kalaupun aku pulang, Ibu pasti lebih memilih berada di ruang kerja Ibu dengan gambar-gambar wanita kurus," kilah Moedya seraya menggaruk-garuk kepalanya.
"Itu sketsa rancangan Ibu, Juna," jelas Ranum dengan mata melotot tajam kepada pemuda dua puluh tujuh tahun itu.
Moedya tertawa pelan. Sebenarnya ia tidak terlalu suka dengan panggilan dari sang ibu. Ia juga kurang menyukain nama Arjuna yang diberikan oleh Ranum padanya. Nama itu terlalu membebaninya.
Sedangkan nama panggilan Moedya diberikan oleh Arya. Nama yang diambil dari nama depannya, yaitu Pramoedya.
"Kamu itu! Ibu ingin sekali menjewer telingamu!" gerutu Ranum lagi.
Moedya kembali tertawa. Ia pun menghampiri sang ibu dan memeluknya dari samping.
"Memangnya Ibu akan tega menjewer telingaku?" tanya pemuda yang menyukai kaos oblong itu.
Ranum menoleh kepada putra semata wayangnya yang kini telah bujang. Ia pun menepuk pipi dengan wajah yang kurang terawat itu.
"Lihat bekas jerawatmu itu!" tegur Ranum. "Mana ada gadis yang mau dengan bujang seperti ini!" ledeknya.
Moedya semakin tergelak mendengar ledekan dari sang ibu. Ia memang kerap mendapat protes keras dari Ranum, karena kurang merawat penampilannya.
"Meskipun wajahku penuh dengan jenggot dan bekas jerawat, tapi aku adalah anak Ibu yang paling tampan," seloroh Moedya membuat Ranum mendelik kepadanya.
"Beruntung anak Ibu hanya kamu!" jawab Ranum. Ia masih dengan sikap merajuknya. "Jangan lupa, buang kaleng kosong itu ke dalam tong sampah warna hitam. Jangan sampai salah!" tandasnya. Ia pun berlalu dari dalam dapur itu meninggalkan Moedya yang hanya senyum-senyum sendiri.
Ini ceuceu kasih visual Moedya. Mood booster dalam menghalunya ya. Bagi yang belum tahu siapa Ranum dan Arya, bisa mampir di novel ceuceu yang berjudul "Pelangi Tanpa Warna".
__ADS_1