Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Adrian, Cinta Terdalam


__ADS_3

Ryanthi terbangun karena sejak tadi ponselnya terus berdering. Dengan agak malas, ia pun bangkit dan menyalakan lampu hingga suasana kamarnya menjadi temaram.


Diraihnya benda tipis itu dari atas meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Ryanthi pun segera memeriksa ponselnya tersebut.


Sesaat kemudian, Ryanthi tampak mengerutkan alisnya. Ada dua panggilan tak terjawab, dan juga dua pesan masuk dari adik sepupu Adrian di Perancis, yang bernama Emmanuele.


Ryanthi pun membuka kedua pesan tersebut. Seketika ia terkejut. Matanya terbelalak dengan sempurna. Ia pun segera berlari keluar dari kamarnya dan menuju kamar Keanu di lantai dua.


"Ken! Arumi!" seru Ryanthi dengan paniknya. Ia menggedor pintu kamar Keanu dengan keras sehingga membuat Arumi pun ikut terbangun.


Gadis itu kemudian menyibakan selimutnya seraya bangkit dari tempat tidur. Ia lalu keluar dari kamarnya. "Ada apa, Bu? Kenapa berteriak malam-malam begini?" tanya Arumi seraya mengucek-kucek matanya yang baru setengah sadar. Rasa kantuk masih menguasai dirinya saat itu.


Tidak lama kemudian, Keanu juga membuka pintu kamarnya. Sama halnya dengan Arumi, pria berambut cepak itu tampak menguap panjang. "Ada apa, Bu?" ia juga ikut merasa heran.


Keanu berdiri di pintu kamarnya. Sedangkan Arumi menghampiri Ryanthi yang saat itu terlihat sangat panik.


"Ibu baru saja mendapat kabar dari paman Emmanuele di Perancis. Dia mengatakan jika ayah kalian saat ini tengah dalam kondisi kritis di rumah sakit," jelas Ryanthi dengan begitu panik.


Seketika Arumi dan Keanu pun terkejut bukan main. Mereka berdua saling pandang dengan wajah yang sangat cemas.


"Apa yang terjadi dengan ayah, Bu?" tanya Keanu. Sebagai satu-satunya pria di rumah itu, ia harus terlihat dan berusaha untuk tetap tenang. Terlebih jika di depan Ryanthi.


"Penyakit jantungnya kambuh lagi. Ibu sangat mencemaskannya," resah Ryanthi. Wajahnya tampak begitu pucat.


Dengan segera, Arumi memeluk sang ibu. Sementara Keanu harus bertindak dengan cepat.


"Aku akan memesan tiket penerbangan untuk besok siang. Setelah itu kita akan segera berangkat. Okay, Mom! Jadi ... tenangkan diri Ibu dulu. Jangan panik!" saran Keanu. Ia pun segera masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Tenang, Bu!" Arumi merangkul pundak sang ibu. "Kakak tahu apa yang harus ia lakukan. Semoga ayah baik-baik saja," harap Arumi.


"Ya, Ayah pasti baik-baik saja! Dia pria yang kuat dan tidak mudah menyerah," Arumi terus mencoba menenangkan Ryanthi dan juga menenangkan dirinya sendiri, meskipun sejujurnya ia juga merasa sangat khawatir.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Keanu kembali menghampiri kedua wanita itu. "Sebaiknya Ibu tidur dan melanjutkan istirahat malam ini. Aku yang akan mengurus semuanya. Aku pastikan besok kita akan terbang ke Perancis, ke Marseille!" tegas Keanu.


"Bagaimana Ibu bisa istirahat? Ibu sangat khawatir dengan keadaan ayah kalian!" Ryanthi terus terlihat resah.


"Iya, Bu. Aku sangat memahami hal itu. Tetapi Ibu juga harus menjaga kondisi badan Ibu. Mengertilah!" bujuk Keanu.


"Apa yang dikatakan kakak memang benar, Bu. Mari, aku temani kembali ke kamar," ajak Arumi seraya memegangi kedua lengan Ryanthi dan memapahnya untuk kembali ke kamar.


"Kita berdoa saja, semoga Tuhan selalu melindungi ayah," ucap Arumi setelah mereka berada di dalam kamar Ryanthi. Arumi pun berkata sambil menyelimuti sang ibu.


"Ibu tidak akan dapat tidur kembali jika sudah seperti ini," keluh Ryanthi.


"Aku juga sama cemasnya dengan Ibu. Begitu pula kakak. Dia sangat dekat dengan ayah. Jadi, Ibu tenang saja! Kakak yang akan mengurus semuanya!" bujuk Arumi. Ia terus mencoba menenangkan Ryanthi.


Sesaat kemudian, Arumi pun beranjak dari duduknya dan mencium kening Ryanthi. "Apa perlu kutemani disini, Bu?" tanya gadis itu. Tatapannya masih lekat menatap wajah sang ibu, yang tengah dilanda kecemasan yang sangat besar.


Ryanthi menggeleng pelan. "Kembali saja ke kamarmu dan lanjutkan tidurmu!" suruh Ryanthi. "Semoga kakakmu segera mendapatkan tiket untuk kita," gumamnya masih dengan wajah penuh kecemasan.


Arumi tersenyum kelu. "Ya, sudah. Aku kembali ke kamarku dulu. Jika ada apa-apa, telepon saja! Aku pasti akan langsung turun," pesan Arumi.


Arumi pun keluar dari dari kamar sang ibu. Ia segera menuju ke kamar Keanu.


"Kak!" panggil Arumi pelan. Ia berdiri di depan pintu kamar Keanu.


Tidak berselang lama, Keanu pun membuka pintu kamarnya. Wajahnya tampak tidak bersemangat. Ia pun terlihat sangat khawatir.


"Bagaimana?" tanya Arumi. Rasa khawatir gadis itu begitu besar.


"Masuklah!" ajak Keanu. Ia mempersilakan Arumi untuk masuk ke dalam kamarnya yang bernuansa gelap.


Warna coklat dan abu-abu tua mendominasi isi kamar itu. Begitu pula dengan tempat tidur besar dan juga spreinya yang berwarna senada.

__ADS_1


Arumi duduk di kursi yang berada tidak jauh dari tempat tidur Keanu, dimana sang kakak kini tengah duduk seraya melipat sebelah kakinya di atas kasur.


"Jangan katakan jika Kakak belum mendapatkan tiket untuk kita!" tukas Arumi kala melihat wajah murung Keanu.


Keanu menggeleng perlahan. "Bukan tentang itu," jawab Keanu dengan pelan.


"Urusan tiket sudah selesai semua. Kakak baru saja menghubungi paman Emmanuele. Dia mengatakan jika ... dad's condition is very critical. As if his life depended on all medical devices. Entah dia akan dapat bertahan atau tidak?" tutur Keanu.


Arumi segera menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia pun menyembunyikan tangisnya disana.


Keanu segera beranjak dari tempat tidurnya. Ia menghampiri sang adik dan duduk pada lengan kursi itu. Ia pun merangkul Arumi, menempelkan kepala gadis itu di dadanya.


"Jangan katakan apapun kepada ibu! Kakak tidak ingin jika sampai ibu terlalu banyak fikiran. Biarlah nanti dia tahu dengan sendirinya," pesan Keanu.


Arumi tidak menjawab. Ia hanya terisak dan tidak mampu untuk berkata apa-apa.


"Bersikaplah yang wajar di depan ibu!" ujar Keanu lagi.


Arumi pun akhirnya mengangguk.


"Aku sangat takut, Kak!" isaknya pelan.


Keanu terus mengelus lembut rambut sang adik. Ia pun sebenarnya sangat khawatir, berhubung Adrian pernah juga mengalami hal seperti itu. Akan tetapi, saat itu apa yang terjadi kepadanya tidaklah separah seperti saat ini.


Keanu pun bahkan tidak sanggup untuk menunjukan foto dari kondisi sang ayah saat ini. Pria itu tengah terbaring tak berdaya di ruang perwatan rumah sakit. Kondisinya terlihat begitu menyedihkan.


Sementara itu sepeninggal Arumi dari kamarnya, Ryanthi kembali bangkit dari tidurnya. Ia pun duduk termenung sambil bersandar pada kepala tempat tidur itu. Hatinya sungguh gelisah saat ini.


Ditatapnya bantal yang biasa Adrian pakai untuk menopang kepalanya. Ryanthi pun menghela napas dalam-dalam. Ia kemudian meraih sebuah bingkai foto antara dirinya dan Adrian.


Ditatapnya wajah tampan yang sudah menua itu. Diraba dengan perlahan, seiring dengan menetesnya butiran-butiran bening yang merupakan simbol dari rasa sakitnya yang tak dapat ia ungkapkan.

__ADS_1


"Bertahanlah sayang! Aku tahu jika dirimu tidak selemah itu. Kamu adalah lelakiku yang paling hebat," desis Ryanthi.


"Aku sangat mencemaskanmu. Aku akan segera datang dan menemanimu disana. Tenanglah!" Ryanthi mendekap foto itu di dadanya. Ia berharap jika Adrian dapat merasakan semua getaran-getaran rasa yang tengah ia rasakan saat ini. Semoga ikatan batin diantara mereka, akan dapat membuat Adrian untuk mampu melewati masa-masa kritisnya.


__ADS_2