Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● ENAM PULUH DUA


__ADS_3

Ryanthi tersentak kaget. Ia melihat ke sekelilingnya. Kini ia sudah berada di dalam kamar Adrian. Di atas tempat tidur dengan bed cover lembut berwarna abu-abu itu. Ryanthi mencoba menenangkan dirinya, mengelola pernapasannya dengan baik.


Ryanthi terduduk dengan memeluk kedua lututnya dan terisak. Kenapa ia harus mengalami mimpi seperti itu?


Itu adalah mimpi yang sangat menakutkan untuknya. Meskipun ia sudah berhasil melewati fase itu, tetapi rasa sakitnya ternyata belum berhasil membuatnya lupa untuk tidak menangis. Air mata mengalir deras dari kedua sudut matanya. Sungguh ia sangat merindukan ibunya, Farida.


Sesaat kemudian, Adrian masuk dan ia sangat terkejut melihat keadaan Ryanthi. Segera dihampirinya wanita yang kini telah menjadi istrinya itu.


"Ada apa?" Tanya Adrian seraya memeluk Ryanthi dengan hangat. Wajahnya tampak cemas.


Ryanthi pun menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Ia tidak dapat berkata apa-apa selain menangis dengan isakan yang terdengar sangat menyayat hati.


"Kamu bermimpi?" Tanya Adrian lagi.


Ryanthi mengangguk pelan.


Adrian kemudian mengelus rambut istrinya dengan lembut. Ia tidak tahu mimpi apa yang telah membuat Ryanthi sampai bisa menangis seperti itu, tapi pastinya itu mimpi yang sangat menakutkan untuk Ryanthi.


Malam itu, Ryanthi duduk menemani Adrian yang tengah asyik memetik senar gitarnya.


Sebuah lagu ia nyanyikan untuk Ryanthi.


Angels Brought Me Here _ Guy Sebastian


Ryanthi mendengarkannya dengan mata bersinar. Ia menyukai suara Adrian, ia jatuh cinta dengan cara pria itu memainkan gitar dan menyanyi untuknya. Meski ini lagu yang baru ia dengar, tetapi sepertinya harus segera ia hafalkan.


"My dreams came true


when i found you, i found you


my miracle


if you could see what i see


youre the answers to my prayers


if you could feel the tenderness i feel


you would know it would be clear


that angels brought me here"


Sesaat kemudian, Adrian mengakhiri lagunya. Ia pun melirik Ryanthi yang sedang menatapnya dan langsung mencium kening Ryanthi dengan lembut.


"Mau tidur sekarang?" Tanya Adrian dengan senyum kalemnya.


Ryanthi terdiam. Ia merasa takut untuk tidur dan memejamkan matanya. Ia pun menggeleng perlahan.


"Takut bermimpi buruk lagi?" Tanya Adrian lagi pelan. Ryanthi tidak menjawab. Ia hanya tertunduk.


Adrian terus menatapnya dengan wajah penasaran. "Mau bercerita padaku?" Tanya Adrian seraya meletakan gitarnya di sebelah sofa itu. Ryanthi menoleh. Wajahnya tampak sangat sedih.


Dengan segera Adrian meraih Ryanthi kedalam pelukannya. Ryanthi pun segera meletakan kepalanya dengan manja di dada Adrian.

__ADS_1


"Aku melihat bayangan masa kecilku di dalam mimpiku tadi. Aku juga melihat ibu yang terbaring sakit, di hari terakhir aku meninggalkannya untuk mencari ayahku. Entah kenapa kilas balik masa laluku harus muncul kembali," cerita Ryanthi dengan lirihnya.


"Mungkin karena kamu merindukan ibumu," jawab Adrian.


"Akan tetapi, itu membuatku sangat kesakitan, Adrian! Aku merasa semua kekuatan dalam diriku hilang seketika, dan yang tersisa hanyalah kesedihan."


"Jangan bicara seperti itu! Dengar, dulu aku sangat dekat dengan papaku. Kami biasa melakukan banyak hal bersama. Kami bermain play station bersama selama berjam-jam. Akupun sama seperti dirimu, aku merasa tidak rela dan menyalahkan keadaan yang telah merenggut papa dariku. Akan tetapi, apa yang aku dapat? Tidak ada. Aku menyiksa diriku dan papa tetap tidak kembali. Jika kamu benar-benar sudah merelakan ibumu, maka relakanlah! Kamu masih memiliki aku."


Ryanthi duduk dengan tegak dan menatap pria yang kini sudah menjadi suaminya. Sementara Adrian membalasnya dengan sebuah senyuman hangat.


"Kita mulai babak baru dalam kehidupan kita.


Lupakan semua masa lalu yang menyedihkan! Sekarang, mari memulai lembaran baru! Ryanthi dan Adrian. Mari tuliskan cerita tentang kita! Kita berdua, dalam sebuah buku yang baru. Jadi, kita simpan saja buku lama itu. Biarkan ia menjadi sebuah kenangan, meskipun terlalu banyak cerita di dalamnya," Adrian menggenggam jemari Ryanthi dengan erat. Ryanthi pun mengerti. Meski berat rasa hatinya, tapi memanglah seharusnya demikian.


Kini ia sudah memulai lembaran baru bersama Adrian, pria yang sudah berjuang dengan sangat keras untuk bisa membawanya menuju lembaran baru dalam hidupnya. Ia patut memberikan penghargaan yang setimpal untuk pria itu.


Ia tahu, Farida kini sudah beristirahat dengan tenang dan membebaskan semua rasa sakit serta duka dalam hidupnya. Farida kini sudah tertidur lelap dalam buaian angin. Tidaklah seharusnya Ryanthi terus-menerus mengusiknya.


Mungkin wanita itu tidak pernah menampakan dirinya lagi di hadapan Ryanthi. Akan tetapi Ryanthi yakin, jika semua semangat hidup yang dimiliki ibunya akan selalu ada dalam dirinya. Sesuai dengan janjinya dulu, ia akan selalu ada dalam hati Ryanthi. Terpatri dalam ingatan Ryanthi.


Biarlah kenangan itu menjadi sebuah kenangan, tanpa harus menjadi sebuah beban mental yang hanya akan menyiksa nuraninya sendiri.


Ryanthi sadar, jalan hidupnya masih sangat panjang. Cita-cita besarnya belum sepenuhnya terpenuhi. Kini ia harus kembali berjuang untuk meraih impiannya itu, mewujudkan apa yang ia dan Farida mimpikan bersama.


Sementara di sisi lain, ada pria tampan yang juga memiliki impian besar bersamanya. Impian yang juga harus ia wujudkan.


Pria yang menjadi semangat dan kekuatannya kali ini untuk bisa melangkah lebih jauh, untuk bisa menaiki tangga menuju puncak gunung diatas awan. Adrian.


......................


Dengan langkah pasti dan penuh percaya diri, Ryanthi berjalan di atas jembatan kecil itu. Stiletto putihnya pun tampak berkilauan terkena sinar matahari di sore itu. Begitu juga dengan floral dress hijau tosca yang ia kenakan. Bagian bawah dress itu bergerak-gerak tertiup angin laut yang cukup kencang.


Sesekali Ryanthi menyibakan rambutnya yang tertiup angin dan menutupi wajahnya. Kaca mata hitam pun kini tidak ketinggalan menemaninya saat menatap birunya air laut.


Ryanthi. Entah mimpi apa ia ketika Adrian menyerahkan sebuah tanggung jawab yang sangat besar padanya, untuk dapat mengelola resort mewah miliknya. Sudah beberapa tahun terakhir, ia menjalani hari-harinya sebagai seorang wanita karier. Itu semua merupakan tantangan tersendiri untuk Ryanthi yang belum pernah terjun dalam dunia bisnis atau semacamnya, selain menjual kue rumahan tentunya.


Namun, ia memiliki suami yang hebat. Seseorang yang selalu memberinya dukungan penuh untuk setiap langkah dan keputusan yang diambilnya, meski terkadang Adrian harus bekerja keras untuk membantunya hingga ia bisa menjadi seperti Ryanthi yang sekarang.


Ryanthi tetaplah Ryanthi. Ia tetap seorang wanita dengan hati yang lembut. Ia tetap mencintai angin dan langit senja. Ia juga masih setia dengan langit malam yang gelap.


Seperti sore itu. Ryanthi menikmati embusan angin laut itu sendirian. Menaikan kaca mata hitamnya dan menatap lautan luas dengan wajah berseri.


Ryanthi. Entah seperti apa yang dirasakannya kali ini. Sekian tahun ia lalui tanpa kehadiran Farida di sisinya. Kenyatannya, ia masih dapat berdiri tegak bahkan dengan sepatu 10cm yang ia kenakan saat ini.


Sekian tahun berlalu, dan embusan angin masih terasa sama ia rasakan. Tidak ada yang berubah tatkala angin itu menyapa wajah cantiknya. Embusannya masih terasa sangat nyaman, damai.


Berbeda dengan kehidupan Ryanthi saat ini. Ada banyak hal baru dalam hidupnya, termasuk seseorang yang tengah berlari menghampirinya.


"Ibu!" Panggil seorang anak kecil.


Ryanthi kemudian menoleh. Seorang anak laki-laki berlari menghampirinya. Usianya kurang lebih lima tahun. Dia memliki wajah yang sangat mirip dengan Adrian, pria yang mengikuti anak itu dari belakang dengan senyum kalemnya. Ryanthi tersenyum lebar saat menyambut anak itu ke dalam pelukannya.


Keanu, hembusan angin sejuk dari atas gunung.

__ADS_1


Adrian berdiri menatap mereka dengan senyumannya. "Kamu sudah selesai disini?" Tanyanya.


Ryanthi lalu berdiri. "Ada apa?" Ia bertanya balik.


"Keanu ingin makan pizza. Aku sudah bilang, kalau pizza buatan ibunya jauh lebih enak dari pizza manapun. Namun, anak ini bersikeras untuk makan pizza di tempat favoritnya," jelas Adrian tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah cantik Ryanthi.


Ryanthi melirik anak laki-laki yang sedang asik melihat laut itu dari balik pembatas kayu.


Ia kemudian mengalihkan tatapannya kepada Adrian.


"Keanu?" Mata ibu satu anak itu menyiratkan rasa yang tidak percaya.


Adrian tertawa pelan. Ia memang tidak bisa berbohong kepada Ryanthi. Ia pun menghampiri istri tercintanya dan merangkulnya dengan mesra.


"Aku," jawabnya dengan mata dan senyum nakalnya. Ryanthi tertawa pelan.


"Aku sangat merindukanmu hari ini. Kamu tidak lupa 'kan ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita? Lagi pula mama mengundang kita untuk makan malam di rumahnya," ucap Adrian.


Ryanthi mengangguk pelan.


"Aku sudah menghubungi ayah dan tante Maya. Mereka juga akan hadir," tambah Ryanthi.


"Baguslah. Kita akan berkumpul bersama. Pesta keluarga," senyum Adrian makin terkembang,


disambut oleh senyuman Ryanthi yang tak kalah terkembangnya.


Adrian terus menatap wanita yang masih ada dalam pelukannya itu dengan lekat. Sesaat kemudian, sebuah ciuman hangat pun ia berikan untuk sang istri diiringi angin dan suara-suara lautan.


"Ibu, ayo pulang!" Ajak Keanu membuat mereka tersadar kalau saat itu mereka tidak sedang berdua.


"Hey, Boy!" Panggil Adrian.


Keanu menoleh, ia seperti sudah terbiasa dengan panggilan itu dari ayahnya. Ia pun menghampiri ayah dan ibunya.


Ryanthi segera meraih tangan anak laki-lakinya itu, begitu juga dengan Adrian.


Mereka berdua menggenggam pergelangan tangan Keanu dengan erat, menuntun dari sisi kiri dan kanan anak itu, menyusuri jembatan kecil dari kayu yang menjorok ke laut lepas.


Semoga mereka berdua bisa selalu memegang tangan Keanu hingga nanti saatnya mereka benar-benar harus melepaskannya. Menjadi orang tua yang sesungguhnya, yang tidak egois dan hanya mementingkan apa yang mereka rasakan tanpa bertanya apa yang anak mereka rasa.


Semoga Ryanthi dan Adrian, akan selalu menjadi orang tua yang dapat menjadi panutan untuk anak-anak mereka kelak.


...TAMAT...


note.


Terimakasih untuk semua yang sudah mengikuti cerita hidup Ryanthi. Ambil sisi baiknya, dan buang sisi buruknya.


Kita lanjut yuk di novel kedua :



Ikuti lagi kisah cinta Ranum dan Arya dengan segala lika-likunya. Ditunggu like, koment, dan love nya.

__ADS_1


Salam Sayang,


πŸ’Komalasari.


__ADS_2