
Siang itu Arumi baru selesai dengan Paris Brest nya. Ia memasukan hidangan penutup itu ke dalam sebuah box cantik berwarna jingga keemasan. Setelah itu, barulah ia menempelkan stiker khas tokonya dengan sebuah pita yang cantik.
"Sudah selesai?" tanya Ryanthi yang tiba-tiba muncul di belakang gadis dengan sanggul asal-asalan itu.
"Sudah, Bu. Lihatlah!" Arumi memamerkan hasil karyanya kepada Ryanthi.
Ryanthi tersenyum bangga. Ia pun mencium lembut pipi gadis itu.
"Pesanan siapa ini?" tanya Ryanthi lagi.
"Seseorang bernama Ranum Aryatama. Dia bahkan sudah melunasi semua pembayarannya," jawab Arumi. Ia pun mulai menata tiga box Paris Brest itu dengan rapi.
"Permisi, Bu. Ada yang datang mengambil pesanan," lapor salah seorang karyawan di toko kue itu.
Arumi pun mengangguk. Sebelum berlalu dari dapur, ia menyempatkan untuk tersenyum kepada sang ibu. "Jangan lupa telepon ayah!" godanya hingga membuat Ryanthi melotot dengan senyum geli kepada dirinya.
Arumi pun keluar dari dapur dengan membawa ketiga box itu.
Ranum berdiri dengan anggunnya disana. Rambut panjang yang tergerai di atas pundak sebelah kirinya, membuat dirinya terlihat sangat cantik. Begitu pula dengan floral dress vintage nya yang berwarna putih. Ia terlihat begitu segar siang itu.
Arumi memelankan langkahnya saat melihat Ranum disana. Ia masih ingat dengan jelas kepada wanita yang ia lihat kemarin di bengkel milik Moedya.
Sebagai seorang penjual yang baik, Arumi mencoba untuk mengesampingkan perasaan canggung dalam hatinya. Ia pun tersenyum dan berusaha untuk bersikap seramah mungkin.
"Selamat siang. Dengan Mbak Ranum Aryatama?" sapa Arumi sopan.
Ranum tersenyum lebar. "Iya, benar sekali," jawab Ranum. "Mungkin, akan jauh lebih baik jika panggil saja "ibu". Ibu Ranum," ralat wanita bermata indah itu.
Arumi tertegun. Ia baru ingat jika ibunda Moedya pun bernama Ranum. Seketika tubuh Arumi seakan menggigil. Ia merasa sangat gugup.
Arumi mengangguk pelan. "Baiklah, Bu Ranum. Ini pesanannya tiga box Paris Brest sesuai dengan permintaan. Semoga rasanya cocok," ucap Arumi dengan agak grogi.
Ranum kembali tersenyum. "Saya pernah memesan kue tart dulu dari toko ini. Rasanya sangat luar biasa. Sesuai dengan harga yang ditawarkan," puji Ranum masih dengan senyum hangatnya. "Apakah itu juga buatanmu?" tanyanya.
Arumi mengangguk. "Syukurlah jika Anda menyukainya," jawab Arumi pelan.
__ADS_1
Ranum tidak segera menjawab. Ia menatap lekat gadis itu, membuat Arumi merasa sedikit risih karenanya.
"Ini adalah dessert kesukaan anak saya. Saya sengaja memesan banyak karena hari ini kami akan mengadakan pesta kecil-kecilan di rumah. Beberapa orang temannya akan hadir," jelas Ranum. Tatapannya masih lekat tertuju kepada Arumi.
"Oh ..." jawab Arumi. "Semoga acaranya lancar dan berkesan," lanjut gadis itu. Ia pun tersenyum kepada Ranum dan memamerkan sepasang lesung pipinya yang cantik.
"Ya, tentu saja. Hari ini dia berulang tahun yang ke dua puluh tujuh. Sangat membanggakan karena ...." Ranum tidak melanjutkan kata-katanya. Ia menahan rasa haru dalam dirinya.
Arumi menatap wanita cantik itu. Dari gaya bicaranya terlihat dengan jelas jika wanita itu pasti seorang wanita yang luar biasa. Dia juga tampak begitu anggun dan sangat terawat.
Bagaimana bisa ia memiliki seorang putra seperti Moedya dengan penampilannya yang seperti itu? Ya, meskipun sebenarnya Moedya pun sangat bersih dan wangi. Arumi sudah mengetahui hal itu.
"Semoga putra Anda selalu sehat dan panjang umur. Semoaga dia mendapatkan jodoh yang terbaik," ucap Arumi dengan begitu saja seolah tanpa ia sadari.
Ranum masih menatap gadis itu. Ia lalu mengangguk. "Tidak ingin menyampaikannya sendiri?" tanya Ranum membuat Arumi tersentak.
Gadis itu tampak salah tingkah karena pertanyaan Ranum yang seakan menantangnya.
Tentu saja, Arumi ingin sekali menyampaikan doa dan harapan-harapan baiknya untuk Moedya secara langsung. Akan tetapi, ia bahkan baru mengetahui jika ulang tahun Moedya adalah hari ini. Lagipula komunikasi diantara mereka pun sedang bermasalah.
Arumi tersenyum simpul. Ia pun menggeleng pelan. "Aku rasa ... tidak ada bedanya antara langsung dan tidak langsung," bantah Arumi.
Arumi mengangguk.
"Baiklah," Ranum kemudian meraih ketiga box berwarna jingga keemasan itu. Ia pun menyempatkan diri untuk kembali tersenyum kepada Arumi sebelum akhirnya ia berlalu dari sana.
Baru saja berjalan beberapa langkah, Ranum tertegun. Ia kemudian kembali menoleh kepada gadis yang masih terpaku menatapnya. Setelah itu, Ranum pun kembali melanjutkan langkahnya dan keluar dari dalam toko itu.
Arumi akhirnya dapat bernapas dengan lega. Ia mengelus dadanya berkali-kali. Akan tetapi, pandangannya kini tertuju pada sebuah kertas berbentuk persegi di atas meja kasir itu.
Dengan segera, Arumi meraih kertas yang ternyata merupakan sebuah kartu nama dengan nama Ranum Aryatama. Disana juga terdapat nama sebuah butik dan salon milik Ranum.
Arumi menghela napas dalam-dalam. Apakah ini sebuah simbol lampu hijau untuknya? Gadis itu pun tersenyum. Ia lalu memasukan kartu nama itu ke dalam apronnya.
...🕊 🕊 🕊...
__ADS_1
Hari semakin sore ketika Keanu baru saja memarkirkan mobilnya, di halaman parkir sebuah mall yang terbilang mewah.
Pria dua puluh tujuh tahun itu lalu keluar dari dalam mobilnya. Ia berjalan sambil memainkan kunci mobilnya. Langkahnya tampak begitu percaya diri.
Pria dengan kaca mata hitam itu, terlihat begitu tampan dengan penampilan rapinya. Ia telah berhasil mencuri perhatian banyak gadis yang berpapasan dengannya di dalam mall tersebut.
Sore ini rencananya Keanu akan membeli sebuah sepatu sebagai hadiah. Hadiah untuk kawan baiknya yang sedang berulang tahun. Ia pun kemudian memasuki sebuah toko sepatu dengan merk yang sudah sangat ternama.
Berjalan dengan gagahnya, pria itu melihat setiap sepatu yang terpajang disana. Hingga akhirnya ia menjatuhkan pilihannya pada sebuah sepatu berwarna abu-abu. Keanu pun segera memanggil seorang pelayan disana.
Seorang gadis muda seusia Arumi datang menghampirinya. Gadis manis dengan rambut lurus dengan ikatan kuncir kudanya.
"Saya mau yang ini," tunjuknya pada sepatu yang ia maksud.
Gadis dengan kulit sawo matang itu pun mengangguk. "Tunggu sebentar," jawabnya. Ia kemudian berlalu dari hadapan Keanu.
Beberapa saat kemudian, gadis itu pun telah kembali dengan sebuah dus berisi sepatu yang sama persis dengan yang dipilih Keanu.
"Silakan periksa dulu!" ucapnya seraya menyodorkan dus itu kepada pria dengan kemeja pendek itu.
Keanu pun kemudian membuka dan memeriksa isinya dengan teliti. Sesaat kemudian, ia memasukan kembali sepatu yang baru ia periksa itu. Keanu mengangguk dan mengembalikan barang itu kepada si gadis yang bernama Puspa.
Gadis itu kemudian membawanya ke meja kasir. Keanu segera membayar disana dengan nominal yang cukup lumayan. Harga untuk sebuah pertemanan.
Sebelum pergi, pria dengan tatanan rambut rapi itu menyempatkan dirinya untuk kembali melirik gadis itu. Gadis itu pun membalasnya dengan sebuah anggukan yang disertai senyuman manis.
Tidak berselang lama, Keanu pun kembali ke halaman parkir. Ia bergegas masuk ke dalam mobil, berhubung ada sebuah panggilan masuk untuknya.
"Honey ...." sapanya dengan mesra.
Ia kemudian melanjutkan obrolannya dalam bahasa asing. Hampir beberapa saat lamanya, ia asik berbincang lewat sambungan video call itu di dalam mobilnya.
Adalah seorang wanita cantik berambut pirang. Penampilan wanita itu pun terbilang seksi, dengan pakaiannya yang memperlihatkan belahan dadanya yang membusung indah khas wanita barat.
"I have to go now. See you," Keanu mengakhiri perbincangannya dengan sebuah lambaian tangan mesra. Ia kemudian menutup sambungan telepon itu dan mulai menyalakan mobilnya. Akhirnya, mobil sedan itu pun melaju dengan anggunnya dan meninggalkan area parkir mall tersebut.
__ADS_1
Ini ya, ceuceu kasih visual Keanu.