Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Rindu yang Tak Terucap


__ADS_3

Hampir setiap hari, Moedya melewati jalan di depan toko kue Ryanthi. Akan tetapi, ia merasa aneh karena sudah hampir satu minggu ini toko itu selalu tutup.


Rasa khawatir mulai menyelimuti hati kecilnya. Ia pun mencoba untuk menghubungi Keanu. Akan tetapi sayang sekali, karena panggilannya selalu gagal tersambung.


Moedya masih duduk di atas motornya ketika ada seorang gadis melintas di hadapannya. Ia menuju ke toko itu.


Dengan segera Moedya mengejar gadis itu dan memanggilnya. "Kenapa tokonya selalu tutup?" tanya Moedya dengan penasaran.


Gadis itu menatap lekat kearah Moedya. Ia seperti sedang menyelidiki pria itu.


"Um ... begini, aku mendapat rekomendasi tentang kue disini, jadi ...." Moedya tersenyum. Rasa khawatir telah membuatnya bingung dan lupa pada kata-kata yang akan ia ucapkan.


Gadis itu pun manggut-manggut. "Bu Ryanthi baru akan kembali hari ini dari Perancis. Jadi selama beliau pergi, kami tidak menerima pesanan dulu. Paling yang tersedia hanya aneka kue kering saja," jelas gadis itu.


Moedya tertegun. "Tetapi, bukannya ada yang lain ... maksudku ...." Moedya kembali bingung dengan ucapannya sendiri.


"Mbak Arumi?" tanya gadis itu. "Dia juga ikut. Setahu saya, mereka kesana karena suami bu Ryanthi meninggal dunia disana," jelasnya.


Seketika Moedya tersentak kaget. Begitu juga dengan pria yang tanpa diketahui kedatangannya tiba-tiba sudah berada disana dan menyela obrolan mereka.


"What? Mr. Adrian meninggal?" tanya pria itu dengan ekspresi wajahnya yang sangat terkejut.


Seketika Moedya dan gadis itu menoleh kearah sumber suara.


Edgar sudah berdiri disana dengan atasan turtleneck hitamnya. Ia melangkah dan menghampiri mereka berdua.


"Kapan itu terjadi?" tanya Edgar lagi dengan wajah yang diliputi kecemasan.


"Hampir satu minggu yang lalu," jawab gadis itu dengan agak gugup. Ia tampak gemetaran karena harus berhadapan dengan dua pria tampan itu.


Moedya menatap lekat kepada Edgar. Ia masih ingat dengan jelas kepada pria itu. Ya, pria itu adalah pria yang sama, yang ia lihat tengah berciuman dengan Arumi malam itu.


Sepeninggal gadis itu, kini hanya tinggal mereka berdua. Tampak Edgar tengah berusaha menghubungi seseorang, namun lagi-lagi ia mengeluh kesal.


"Come on beib, angkat teleponnya!" gumam Edgar. Sesaat kemudian, ia tersenyum karena panggilannya berhasil tersambung.


Sementara itu, Moedya memilih untuk kembali pada motornya. Ia bermaksud untuk pergi dari sana, namun ia kembali tergegun ketika mendengar perbincangan Edgar di telepon.


"Where are you? Aku sangat mencemaskanmu," Edgar tampak bicara di telepon sambil terus mondar-mandir. Ia terlihat begitu cemas. Akan tetapi, wajahnya terlihat sedikit tenang setelah tahu jika Arumi ternyata telah kembali ke Indonesia.


...🕊 🕊 🕊...


Malam itu, suasana rumah begitu sepi. Ryanthi tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Tidak ada aktivitas di meja makan seperti malam-malam sebelumnya.


Moedya tampak memarkirkan motornya di halaman rumah megah itu. Ia kemudian mengetuk pintu.


Seorang pelayan di rumah itu segera membukakan pintu untuknya. Ia adalah Nining. Wanita paruh baya itu sudah bekerja disana hampir lima belas tahun lamanya. Bahkan kini, anak gadisnya pun yang bernama Puji, menjadi salah satu karyawan di toko kue milik Ryanthi.


"Saya ingin bertemu dengan Keanu," ujar Moedya dengan sopan.


"Siapa, ya?" tanya Nining. Wanita berdaster merah itu sedikit curiga.


"Saya ...." belum sempat Moedya menjawab, Keanu telah terlebih dahulu datang menghampirinya.


"Moe! Masuklah!" seru Keanu dari dalam. Ia kebetulan melintas disana.


Moedya pun akhirnya masuk.

__ADS_1


Sungguh luar biasa. Begitu ia masuk ke dalam rumah megah itu, ia seperti tengah berada di luar negeri. Arsitektur dan segala perabotan disana, semuanya bernuansa Eropa.


"Tumben kemari?" tanya Keanu setelah mereka melakukan salam pertemanan mereka.


"Aku turut berduka cita ...." ucap Moedya dengan nada penuh sesal seraya memeluk Keanu untuk sesaat.


Keanu tersenyum kelu. Ia lalu mengangguk pelan. "Ini terjadi dengan sangat tiba-tiba. Kami semua sangat terkejut," ucap Keanu dengan wajah yang sedikit murung.


"Aku tahu seperti apa rasanya," jawab Moedya. Ia pun sebenarnya tidak ingin membahas masalah itu.


"Mari!" ajak Keanu. Ia mempersilakan Moedya untuk menyertainya menuju ke ruang tamu. Kedua sahabat itu pun berjalan bersamaan kesana.


Sebelum menuju ruang tamu, mereka melintasi sebuah tangga yang sangat mewah. Tatapan Moedya pun kini teralihkan kepada seorang gadis yang tengah berjalan menuruni deretan anak tangga itu.


Arumi tampak terkejut melihat kehadiran Moedya disana. Jantungnya berdetak kencang kala tatapan mereka kembali beradu. Sejujurnya, ia mulai merindukan pria bertato itu.


"Ini Arum, adikku," Keanu memperkenalkan mereka berdua. "Kalian sudah pernah bertemu bukan ketika di bengkel?" lanjut Keanu.


Moedya dan Arumi sama-sama terdiam. Mereka hanya saling pandang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Sesaat kemudian, Moedya tersadar. Ia pun tersenyum. "Hai, Arum ...." sapanya.


Arumi tidak menunjukan ekspresinya sama sekali. Raut mukanya masih datar dan tidak bersahabat.


Padahal jauh di dalam hatinya, ia ingin sekali berteriak memanggil nama pria yang ada di hadapannya itu, bahkan mungkin ia akan berlari dan menghambur ke dalam pelukannya.


Arumi ingin menumpahkan semua keresahannya dalam dekapan pria itu.


Akan tetapi, semua itu hanya tinggal angan-angannya saja. Tidak akan pernah ada dekapan hangat dari seorang Moedya untuk dirinya.


Arumi tersadar. Ia pun menoleh kepada Keanu. "Aku mau melihat keadaan ibu dulu," ucap Arumi dengan pelan, seraya berlalu begitu saja meninggalkan kedua pria itu.


Keanu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kemudian melirik Moedya yang masih menatap kepergian Arumi dengan tatapan nanar.


"Maafkan dia. Biasanya dia tidak seperti itu," ujar Keanu.


Moedya tersenyum simpul. Ia memegang pundak Keanu dan menepuknya dua kali. "Tidak apa-apa. Aku mengerti jika adikmu saat ini masih dalam suasana berduka. Perasaannya pasti sangat kacau," bela Moedya. Ia mencoba untuk bijaksana.


Keanu tersenyum kelu. Mereka pun melanjutkan langkah menuju ruang tamu.


Sesaat kemudian, Nining datang menghampiri mereka. "Permisi, Mas. Mbak Arumi dimana, ya? Ada tamu yang mencarinya," ucap Nining dengan sopan.


"Dia tadi ke kamar ibu," jawab Keanu. Ia pun kembali melanjutkan perbincangannya dengan Moedya.


Beberapa saat kemudian, Arumi pun keluar dari kamar Ryanthi. Ia menemui tamu yang dimaksud Nining yang tiada lain adalah Edgar.


Arumi melipat kedua tangannya di dada. Ia menatap lekat pria tampan dengan mata abu-abu itu. Sebenarnya ia tidak mengharapkan kedatangan Edgar di rumahnya.


"Hi, Beib. How are you? I'm so worried about you," Edgar menghampiri Arumi dan berniat untuk memeluk gadis itu.


"No!" cegah Arumi. Ia bergerak mundur.


"Why? Ada apa lagi? Bukankah malam itu ...."


"Lupakan tentang malam itu!" sergah Arumi dengan tegas. "Aku sedang berkabung. So, jangan ganggu aku dengan membahas hal itu!" pinta Arumi. Ia masih menjaga jarak dari Edgar.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku tentang apa yang terjadi pada ayahmu? Jika saja aku mengetahuinya, maka aku pasti akan ikut kesana," Edgar terus berusaha menunjukan perhatiannya kepada Arumi.

__ADS_1


"Jika kamu memang ingin kembali ke Eropa, maka kembali lah secepatnya. Lalu katakan pada pirangmu yang murahan itu, untuk segera menjauhi kakakku!" tegas Arumi.


"Who?" tanya Edgar. Ia tidak mengerti siapakah pirang yang dimaksud Arumi.


Arumi tersenyum sinis. Kedua tangannya masih terlipat di dadanya.


"Ah ... aku lupa jika terlalu banyak pirang dalam hidupmu!" sindir Arumi. "Maksudku pirangmu yang selalu berpakaian seronok itu!" terang Arumi dengan jengkelnya.


"Oh ... God!" Edgar mulai kesal karena Arumi terus mengungkit kesalahannya dulu. Edgar pun seakan tahu siapa pirang yang dimaksud Arumi.


"Please, Beib! Aku datang kemari dengan niat baik terhadapmu. Harus dengan cara apalagi ku jelaskan padamu. Kenapa kamu sangat keras kepala?"


"Karena aku tidak berniat kembali padamu. Maka dari itu aku tidak ingin mengerti dengan apapun yang kamu jelaskan padaku!" tegas Arumi.


Sesaat kemudian, Arumi mencoba untuk menenangkan dirinya. Ia sedang tidak ingin menguras energinya dengan masalah percintaan. Rasa sedih karena kepergian Adrian masih melekat dalam hatinya.


"Tolong, Ed! Aku sedang tidak ingin berdebat. Aku sangat sedih dan terpukul saat ini. Aku sedang ingin sendiri. Pergilah!" pinta Arumi dengan nada bicara yang jauh lebih tenang.


"Aku mencemaskanmu!" tegas Edgar.


"I know, but ... tolonglah, Ed!" pinta Arumi dengan sangat.


Edgar seakan tidak rela jika harus pergi begitu saja. Ia masih ingin disana untuk sebentar lagi.


"Dengar, Arum! Aku akan kembali ke Eropa lusa. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu. Seperti dulu lagi. Aku tidak tahu kapan akan kembali kemari. Aku pasti akan sangat merindukanmu ...." ucap Edgar dengan lirihnya.


"I'm sorry, Ed. Aku sudah memantapkan hatiku. Kita bisa berteman. Menjadi teman akan jauh lebih menyenangkan," ucap Arumi.


"Perasaanku tidak bisa ku ubah. Aku tidak suka dan tidak berniat menjadi temanmu, because i love you. Aku sungguh mencintaimu," tegas Edgar lagi. Ia masih tetap pada pendiriannya.


"Aku akan menunggumu untuk berubah fikiran. Kamu tahu dimana bisa menemukanku. Atau ... ask me to come back to you! Maka aku pasti akan langsung menemuimui," ujar Edgar dengan sangat yakin.


Arumi terdiam. Ia sebenarnya sangat terkesan akan kegigihan Edgar dalam memperjuangkan cintanya.


Akan tetapi, Arumi kini lebih tertarik kepada pria yang baru keluar dari dalam rumahnya. Pria yang saat itu tengah berdiri menatapnya.


Moedya berjalan menghampiri mereka berdua. Tatapannya masih ia layangkan kepada Arumi.


"Terima kasih Paris Brest nya. Seperti biasa, kue buatanmu selalu enak," ucap Moedya dengan tiba-tiba.


Arumi menatap pria bertato itu dengan heran. Ia tidak mengerti kenapa Moedya tiba-tiba menjadi ramah padanya.


"Sama-sama," jawab Arumi dengan datar.


"Apa kita pernah bertemu?" tanya Edgar kepada Moedya.


Moedya mengalihkan tatapannya kepada pria tampan berpenampilan rapi itu. Ia pun tersenyum simpul.


"Ya," jawab Moedya dengan singkat.


Edgar terdiam dan seakan tengah mengingat-ingat sesuatu. Sesaat kemudian, ia pun menggumam pelan. "Ah ... kita bertemu tadi siang di depan toko Mrs. Ryanthi," ujar pria bermata abu-abu itu.


Nih ya, ceuceu kasih visual Edgar. Meskipun rambutnya ga ikal, tapi wajahnya Edgar banget.



__ADS_1


__ADS_2