
Keesokan harinya, Keanu kembali ke tempat itu lagi. Ia kemudian masuk ke dalam gang kecil itu. Untuk sejenak, Keanu tertegun melihat suasana di sana.
Di kawasan itu, ada beberapa rumah yang tidak terlalu besar. Di setiap rumah, terdapat wanita-wanita muda sepantaran Puspa dengan gaya berpakaian mereka yang terlalu seronok. Keanu sudah dapat menebak tempat apa itu sebenarnya.
Keanu menghela napas dalam-dalam. Ia pun membalikan badannya dan bermaksud untuk pergi dari sana. Akan tetapi, seketika langkahnya terhenti ketika ia mendengar tawa dari suara yang mulai familiar di telinganya. Keanu kembali membalikan badannya dan menatap kearah sumber suara itu.
Puspa tengah berdiri disalah satu rumah yang ada di sana dengan pakaiannya yang cukup terbuka. Ia seakan bukan Puspa si gadis pemalu yang Keanu kenal kemarin-kemarin. Ia telah menjadi Puspa dalam karakter yang lain.
Mungkinkah itu adalah karakter asli Puspa? fikir Keanu. Pria itu terlihat kecewa.
Keanu menatap gadis itu dengan tajam. Ia terus berdiri dengan perasaan yang mulai berkecamuk dalam dirinya.
Seperti inilah kehidupan Puspa yang sebenarnya? Keanu terus bertanya di dalam hatinya.
"Eh ... lihat, siapa si tampan itu?" tunjuk salah seorang gadis yang ada di sana. Seketika, gadis-gadis yang lain pun menoleh kearah Keanu berdiri.
Seperti tercekik, Puspa melihat Keanu ada di sana. Ia tidak dapat berkata apa-apa selain hanya berdiri menatap pria itu dengan wajah penuh sesal.
Ingin rasanya ia berteriak memanggil nama Keanu, tapi ada sesuatu yang menahan dirinya hingga ia hanya dapat terdiam.
Keanu pun memutuskan untuk kembali. Ia kemudian pergi dari sana dengan segera.
Puspa ingin sekali berlari dan menghampiri Keanu. Akan tetapi, kakinya seakan terpaku di tempatnya berdiri. Ia tidak dapat bergerak sama sekali, bahkan hingga Keanu benar-benar menghilang dari pandangannya.
Kecewa, itulah yang Keanu rasakan saat itu. Entah apa salahnya sehingga ia kembali terjerat oleh gadis seperti itu.
Keanu mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Pamela. Ia berlari dari gadis itu dan bersembunyi pada sesosok tubuh mungil yang bernama Puspa. Akan tetapi, Puspa bahkan seakan telah membohonginya.
...🕊 🕊 🕊...
Seperti yang telah direncanakan, hari ini Puspa mendatangi perusahaan yang dimaksud. Ia langsung menemui seseorang yang bernama Levi di sana. Memang benar, Puspa diterima dengan baik di perusahaan itu. Ia bahkan bisa langsung bekerja mulai besok.
Senang, itulah yang Puspa rasakan saat itu. Ia tahu, jika pekerjaan yang ia dapatkan adalah pasti atas campur tangan Keanu. Puspa pun merasa harus berterima kasih kepada pria itu.
Duduk sendiri di halte bus, gadis bertubuh mungil itu mulai membuka layar ponselnya. Ia mencoba untuk menghubungi Keanu.
Seperti yang sudah ia perkirakan. Keanu tidak menjawab panggilan darinya. Puspa pun mengirimkan sebuah pesan untuk Keanu.
__ADS_1
Satu pesan terkirim, namun tak ada balasan dari Keanu. Puspa kembali mengirimkan pesan kedua, namun tetap saja tidak ada balasan dari pria itu.
Puspa tahu jika Keanu pasti sangat kecewa padanya. Akan tetapi, ia tidak tahu dapat berbuat apa-apa. Entah penjelasan seperti apa yang harus ia berikan kepada pria berwajah indo itu.
Sementara, Keanu sendiri tengah sibuk dengan kegiatannya siang itu. Ia tengah bertemu dengan seorang supplier dari luar negeri.
Keanu tetap berusaha untuk bersikap profesional. Ia mengesampingkan hal yang tengah mengganggu fikirannya saat ini, dan fokus pada orang yang tengah berada di hadapannya. Ia membuat dirinya tampak seperti Keanu seperti biasanya.
Justru sebaliknya, Puspa lah yang kini tidak fokus pada pekerjaannya. Ia merasa gelisah dan terus memikirkan Keanu. Ia pun tidak mengerti karena jika difikir-fikir, Keanu bukanlah siapa-siapa untuknya. Keanu hanya seorang pria asing yang ia kenal tanpa sengaja.
Kenapa Puspa harus merasa tidak enak hati kepada Keanu? Puspa bahkan kini terus memikirkan pria yang baru ia kenal.
Hingga menjelang sore, Keanu bari tiba di rumahnya. Ia langsung menuju kamarnya. Keanu bahkan tidak menyapa Ryanthi yang saat itu baru selesai menyiapkan makan malam bersama Nining.
Ryanthi merasa heran dengan sikap aneh Keanu. Akan tetapi, ia tidak banyak bicara. Ia mencoba memahami sang putra. Ia rasa jika Keanu mungkin saja kelelahan karena pekerjaannya.
"Hai, Bu!" sapa Arumi. Gadis itu tampak sudah segar dengan rambut panjangnya yang tergerai dengan indah.
"Hai, Sayang. Sudah mandi?" tanya Ryanthi dengan senyum keibuannya yang lembut.
Arumi mengangguk pelan. "Kakak sudah pulang?" tanya Arumi.
"Tapi apa, Bu?" tanya Arumi.
"Dia terlihat lelah. Sebaiknya jangan ganggu dia!" saran Ryanthi.
Arumi manggut-manggut. Ia pun tersenyum. "Tadinya, aku ingin bicara dengannya," gumam Arumi.
"Nanti saja!" saran Ryanthi. "Jadi ... kapan kamu akan mengenalkan Moedya kepada Ibu?" tanya Ryanthi. Ia mengalihkan pembicaraan pada hal lain.
"Ayolah, Bu!" Arumi berusaha untuk menolak. Ia segera menuju meja makan dan mengambil makanan dari piring lalu mencicipinya.
"Sekali saja!" bujuk Ryanthi dengan senyumnya.
"Moedya ... dia berbeda," ucap Arumi sambil terus mengunyah.
"Maksudnya?" tanya Ryanthi.
__ADS_1
Arumi tersenyum. Ia pun merangkul Ryanthi dari belakang. Gadis itu selalu bersikap manja. Hal itulah yang membuat Ryanthi selalu merindukannya.
"Nanti juga Ibu pasti akan melihatnya sendiri," jawab Arumi.
Malam terus merayap menuju puncak keheningan. Rintik-rintik hujan kembali turun membasahi kota, membuat semua orang semakin terlelap dalam selimut mimpi yang hangat.
Berbeda dengan Keanu. Ia masih duduk sendiri di beranda belakang rumahnya. Ia tidak peduli dengan udara dingin yang kian menyerangnya.
Keanu masih termenung. Ia kembali memikirkan gadis cantik bertubuh mungil itu. Keanu juga kembali membuka pesan yang dikirimkan Puspa untuknya siang tadi.
Rasa tidak enak mulai menyapanya. Keanu merasa tidak seharusnya bersikap seperti itu kepada Puspa. Ia pun memutuskan untuk membalas pesan darinya.
Hingga lewat tengah malam, Keanu masih duduk sendiri disana. Ia bahkan tidak menyadari jika hujan kini turun dengan semakin deras.
Sedangkan Ryanthi yang saat itu tengah tertidur pulas pun, tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia menatap sekelilingnya. Pandangannya kini tertuju pada seseorang yang tengah berdiri di dekat jendela. Seorang pria yang memakai kemeja putih, dengan satu tangan yang bersembunyi di dalam saku celananya.
Ryanthi tersenyum. Ia pun menyibakan selimutnya dan turun dari tempat tidur.
"Hai, sedang apa?" sapa Ryanthi dengan hangat.
"Di luar hujan turun dengan sangat deras. Aku takut jika kamu tidak bisa tidur, karena itu aku menungguimu di sini," jawab pria yang tiada lain adalah Adrian.
Ryanthi menyibakan tirai yang menutupi jendela kaca itu. Ia pun melihat keluar. Benar saja, hujan turun dengan sangat deras.
Ryanthi kemudian melirik kepada Adrian. "Hujannya sangat deras. Lihatlah! Baju yang kamu pakai pun basah. Ayo, segera lepas! Jangan sampai kamu masuk angin!" ucap Ryanthi. Ia segera berdiri di hadapan Adrian dan melepas kancing kemeja pria itu satu persatu.
"Aku kedinginan, Ryanthi," ucap Adrian pelan.
Ryanthi tersenyum lembut. "Sebentar, akan kuambilkan piyama untukmu," sahut Ryanthi. Ia bermaksud untuk mengambilkan baju tidur untuk Adrian. Akan tetapi, dengan segera pria itu menarik tubuhnya.
"Peluk saja aku!" pintanya.
Ryanthi menatap pria tampan itu. Ia pun tersenyum dan segera memberikan apa yang Adrian pinta darinya. Sebuah pelukan hangat.
"Tubuhmu sangat dingin," ucap Ryanthi pelan.
"Karena itu, tetaplah disini!" pinta Adrian tanpa melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Biarkan hujan turun dengan deras. Untuk saat ini aku akan berhenti menjadi angin yang kamu sukai. Aku tidak akan menghadirkan badai untukmu, karena itu pasti akan membuatmu merasa takut disaat kamu sendirian," bisik Adrian seraya terus mendekap erat Ryanthi.