Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Perbincangan yang Memanas


__ADS_3

Sore itu, Keanu mendatangi Moedya di bengkelnya. Dengan tergesa-gesa, ia turun dari mobilnya. Ia sudah tidak sabar untuk meminta penjelasan kepada sahabat sekaligus calon adik iparnya itu.


Saat itu, Moedya baru selesai mandi dan berpakaian. Ia tengah bersiap-siap untuk pulang.


"Aku mau pulang sebentar lagi. Untung aku masih di sini," ujar Moedya seraya menyodorkan minuman kaleng kepada calon kakak iparnya. Ia pun berdiri dengan setengah bersandar pada sebuah meja.


Keanu membuka penutup minuman kalengnya kemudian meneguknya. Pria bertubuh jangkung itu terlihat tidak begitu nyaman. Raut wajahnya tampak sedikit tegang. Tidak seperti Keanu biasanya yang selalu terlihat kalem.


"Ada apa?" Tanya Moedya yang heran saat melihat bahasa tubuh Keanu yang dirasanya tampak tidak biasa.


Keanu berkali-kali menghela napas panjang dan menghempaskannya dengan kasar. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu harus memulainya darimana, atau mungkin sebaiknya aku ... aku akan langsung pada intinya saja!" Ujar Keanu dengan sikapnya yang tampak gusar.


"Tentang apa?" Tanya Moedya dengan kedua alisnya yang hampir beradu.


"Tentang dirimu!" Jawab Keanu dengan tegas seraya menatap tajam ke arah Moedya.


Tiba-tiba Moedya tergelak. Ia pun meneguk minumannya. "Tentang aku?" Gelaknya lagi. "Seberapa pentingnya diriku?" Canda Moedya. Ia masih terlihat tenang dan begitu santai. Ia tidak tahu berita apa yang akan Keanu persembahkan untuknya.


"Ini serius!" Sergah Keanu dengan nada bicara yang memang tampak sangat serius dan membuat Moedya membetulkan posisi berdirinya.


"Oke. Katakan!" Suruh Moedya. Ia menatap lekat sahabatnya dengan raut wajah yang mulai datar. Ia sama sekali tidak dapat menebak apa yang akan Keanu bahas dengannya.


"Aku harap ... ini bukan tentang lamaranku untuk Arumi," ucap Moedya dengan kecemasan yang coba ia sembunyikan.


"Sayangnya ... iya!" Jawab Keanu seraya membuang mukanya ke samping.


Jawaban singkat yang telah membuat Moedya menjadi semakin merasa cemas. Akan tetapi, ia masih berusaha untuk tetap terlihat tenang.


"Oke. Aku siap mendengarkan!" Sahut Moedya.


"Aku tidak akan menyuruhmu untuk menjadi pendengar! Aku justru ingin kamu bicara!" Tegas Keanu.


"Tentang Arumi? Kamu tahu aku sangat mencintai adikmu ...."


"Nancy!" Sela Keanu dengan datar. Ia memotong ucapan Moedya dengan segera.


Moedya pun tersentak karenanya. Ditatapnya wajah pria yang sudah lama menjadi temannya dalam segala hal. Ia tidak mengerti bagaimana Keanu dapat mengetahui hubungan terlarangnya dengan Nancy.


"Darimana kamu tahu tentang Nancy?" Selidik Moedya.


"Kamu tidak perlu tahu aku dapat informasi itu darimana. Jawab saja dengan jujur!" Sergah Keanu dengan tegas.

__ADS_1


Moedya tertawa pelan. Ia kembali meneguk minumannya kemudian meletakannya di atas meja, tepat di sebelahnya.


"Siapa pacarmu itu sebenarnya?" Selidik Moedya dengan penuh curiga.


Keanu menjadi semakin tidak nyaman ketika Moedya mencurigai Puspa. Ia pun mendelik tajam kepada pria bertato itu.


"Jangan bawa-bawa Puspa dalam masalah ini!" Sergah pria berambut cepak itu. Bagaimanapun ia berusaha untuk menutupi jati diri Puspa yang sebenarnya.


"Ayolah, Ken! Ada apa denganmu?"


"Katakan saja tentang kedekatanmu dengan wanita bernama Nancy itu! Benar atau tidak?" Desak Keanu.


"Memangnya apa yang kamu ketahui tentang Nancy?" Moedya balik bertanya. Ia seakan menantang Keanu untuk ikut bersikap jujur.


Keanu menghela napas dalam-dalam. Ia pun mengeluh kesal. "Sialan!" Gerutunya. Keanu merasa bingung dan tentunya serba salah untuk menjelaskannya kepada Moedya.


"Oke! Mari kita saling jujur!" Ucap Keanu tegas. "Aku tahu siapa Nancy. Aku pernah bertemu dengannya," ujar Keanu.


Tersungging senyuman sinis di sudut bibir Moedya. "Ada berapa Nancy di negara ini?" Sindir pria berambut gondrong itu.


"Wanita cantik dengan penampilannya yang seksi. Tinggi sekitar 168 cm, bibir penuh, perokok ...." terang Keanu seraya menatap lekat ke arah Moedya.


Moedya kembali meneguk minumannya. Ia pun manggut-manggut seakan membernarkan pernyataan Keanu tentang ciri-ciri Nancy yang dimaksud.


"Apa yang kamu lakukan dengannya?"Tanya Moedya dengan nada curiga. "Aku tidak menyangka jika ...."


Moedya tertawa pelan. Ia tidak percaya begitu saja dengan pembelaan Keanu. "Kenapa kamu bisa sampai berurusan dengan Nancy?" Desak Moedya sekali lagi.


"Jawab saja! Benar atau tidak jika kamu menjalin hubungan dengan wanita itu!" Desak Keanu.


"Ya!" Jawab Moedya dengan berani. "Aku memang pernah berhubungan dengannya," lanjut pria itu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Pernah? Sampai kapan?" Selidik Keanu. Ia seakan tengah menginterogasi sahabatnya sendiri.


Moedya tidak segera menjawab. Ia tengah mempertimbangkan jawaban yang akan ia berikan kepada Keanu. Akan tetapi, ia sama sekali tidak memiliki alternatif jawaban lain selain berkata jujur.


"Sampai aku bertemu adikmu ...." jawab Moedya dengan nada ragu. Ia tahu jika hal itu pasti akan menjadi masalah besar baginya.


"Aku berusaha melepaskan diriku darinya. Kamu tahu bukan ceritanya seperti apa?"


"Jadi ... dia adalah wanita yang sering kamu ceritakan padaku?" Tanya Keanu dengan tidak percaya.


Moedya mengangguk pelan. Selama ini, Moedya memang kerap bercerita tentang hubungannya dengan seorang wanita yang membuatnya merasa terikat. Akan tetapi, Moedya tidak pernah menjabarkan siapa wanita itu sebenarnya, sehingga Keanu hanya sekedar mengetahui di permukaan saja dan terkadang hanya sekedar memberi saran.

__ADS_1


"Aku mengikuti saranmu. Aku tidak pernah menyangka jika ternyata Arumi yang ... yang telah membantuku untuk melupakan dan melepaskan diriku darinya. Ya ... meskipun pada awalnya aku tidak merasa yakin, namun ... akhirnya aku melamar adikmu," tutur Moedya dengan nada penuh sesal.


Dengan segera Keanu berdiri di hadapan Moedya. Kemarahan mulai menguasai dirinya. Ditariknya leher baju pria itu dan dicengkramnya dengan kuat. Sepertinya tidak lama lagi akan terjadi sesuatu yang lebih seru dari sekedar perbincangan diantara mereka berdua.


"Kenapa kamu sangat brengsek, Moedya? Kamu fikir aku akan memberikan adikku kepada bajingan tengik sepertimu?" Sentak Keanu dengan kemarahan yang mulai memuncak.


"Tenanglah, Ken!" Moedya berusaha melepaskan cengkraman tangan Keanu dari leher bajunya.


"Kita memang sahabat! Aku juga tahu seperti apa dirimu dulu! Tetapi aku fikir kamu sudah berubah!" Keanu melepaskan cengkramannya dengan kasar membuat Moedya sedikit terjengkang ke belakang.


"Seharusnya aku tidak pernah mengizinkan adikku untuk menjalin hubungan denganmu!" Tunjuk Keanu dengan kemarahannya. Ia belum pernah begitu hilang kendali seperti saat itu.


"Aku mencintai Arumi! Kamu harus tahu itu!" Moedya mulai terpancing emosi.


"Persetan dengan rasa cintamu! Kamu terlalu brengsek untuk menjadi adik iparku!" Bantah Keanu dengan keras.


"Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Nancy disaat aku bertemu dengan adikmu! Aku segera meninggalkan wanita itu ...."


"Lalu lari kedalam pelukan adikku?" Sentak Keanu. Wajahnya tampak semakin memerah karena emosi yang kian menguasai dirinya.


"Aku bisa terima jika wanita itu bukan Nancy!" Keanu kembali meluruskan telunjuknya kepada Moedya.


"Ayolah, Ken! Apa-apaan kamu? Harus berapa kali kukatakan jika aku sangat mencintai adikmu!"


"Cih! Persetan dengan cintamu! Kamu jadikan adikku sebagai pelarian dari seorang ja°lang!" Bentak Keanu lagi.


Tanpa banyak berbasa-basi, Keanu pun segera beranjak dari hadapan Moedya. Pria bertubuh jangkung itu hendak pergi dengan membawa kemarahannya.


Dengan segera Moedya mengejarnya. "Tunggu, Ken!" Cegah Moedya seraya memegang pundak Keanu.


Keanu pun segera berbalik dengan sebuah pukulan yang tepat mengarah ke wajah pria berambut gondrong itu, membuatnya terhuyung seraya memegangi sudut bibirnya yang terkena pukulan keras Keanu.


Darah segar mengucur dari sudut bibir Moedya. Ada juga yang menempel di telapak tangannya. Moedya menatap sahabatnya dengan heran. Akan tetapi, jiwa pemberontaknya mulai bangkit dan terusik.


"Jangan menantangku!" Sergah Moedya dengan nada tegas. "Aku bisa melakukan hal yang lebih dari apa yang kamu lakukan, Ken!" Tunjuk Moedya. Ia mulai terpancing emosi.


"Aku akan melakukan apapun demi melindungi adikku!" Tegas Keanu.


"Aku mencintainya! Aku tidak mempunyai niat untuk menyakitinya sama sekali! Adikmu bahkan hingga saat ini masih suci!" Teriak Moedya dengan napasnya yang mulai terengah-engah. Ia tampak menahan emosinya agar tidak semakin menguasai dirinya.


"Terserah! Urus dan selesaikan persoalanmu dengan ja°langmu itu! Baru setelah itu kamu boleh menemui adikku!" Tegas Keanu lagi.


Mendengar hal itu, Moedya semakin tak dapat menahan dirinya. Ia segera mendorong tubuh Keanu hingga pria itu bersandar pada dinding. Kini, Moedya lah yang mencengkram kerah baju Keanu dengan kencang.

__ADS_1


"Jangan membuatku kehilangan kesabaran! Aku masih menjaga batasanku! Kamu bukanlah Keanu yang kukenal!"


"Saat ini aku bukanlah Keanu sahabatmu! Aku Keanu kakak dari Arumi!" Tegas Keanu.


__ADS_2