
Ryanthi membuka mata dengan perasaan yang tak biasa. Pagi itu terasa indah, setelah semalam Adrian datang membawa kue perdamaian yang disertai ungkapan cinta.
Setelah mengumpulkan segenap kesadaran, Ryanthi beranjak ke kamar mandi. Hingga beberapa saat dia menghabiskan waktu di sana. Bersamaan dengan dirinya yang keluar dari kamar mandi, Surya datang ke kamarnya.
"Apa kamu mau pergi?" tanya Surya.
"Adrian mengatakan akan kemari. Namun, entah jadi atau tidak. Dia akan ke pabrik terlebih dulu," jawab Ryanthi.
"Oh, begitu." Surya duduk di tepian tempat tidur. "Lucu sekali. Ayah baru tahu bahwa Arshan adalah karyawan di pabrik milik Adrian."
"Iyakah? Ayah tahu dari mana?"
"Arshan yang mengatakannya. Selama ini, kami memang tidak pernah berbicara selayaknya menantu dengan mertua. Dia seperti sungkan untuk menyapa dan berbincang bersama Ayah," ujar Surya.
"Kenapa Ayah tidak memulainya. Sama seperti padaku dulu," saran Ryanthi diiringi senyuman lembut.
Surya tersenyum seraya mengangguk. "Harus selalu ada awal untuk segala hal," ujarnya.
"Mengenai rencana pendidikanmu, Ayah akan segera mengurusnya. Namun, Ayah tidak bisa menemukan akta kelahiran serta dokumen lain. Apa mungkin ibumu yang menyimpannya? Ayah membutuhkan untuk mengurus segala hal yang diperlukan."
"Akan kucari di koper ibu. Bagaimana jika Ayah membantuku?"
"Boleh," jawab Surya. Dia mengikuti Ryanthi menuju ke kamar ganti, untuk membuka koper milik Farida.
Selalu ada kepedihan yang terpendam, setiap kali melihat barang-barang milik Farida. Rasanya, Ryanthi ingin menangis. Namun, segera ditahan.
Ryanthi mengeluarkan satu per satu pakaian Farida. Dia tertegun saat menemukan gaun putih dengan tali panjang di bagian lehernya.
"Itu adalah hadiah ulang tahun untuk ibumu," ucap Surya.
"Aku belum pernah melihat ibu memakainya. Jadi, aku tidak tahu ibu memiliki gaun seindah ini," sahut Ryanthi.
"Ayah membelikan gaun itu satu bulan sebelum ibumu memutuskan pergi dari rumah ini. Dia mungkin belum sempat memakainya," ucap Surya lagi.
Ryanthi meletakkan gaun itu. Dia kembali mengeluarkan isi koper Farida. Di sana, dirinya menemukan selembar foto pernikahan yang sudah terlihat usang.
"Itu satu-satunya foto pernikahan yang tersisa. Selebihnya, hangus dalam insiden kebakaran yang melanda rumah kontrakan kami," terang Surya.
"Bagaimana foto ini bisa selamat?" tanya Ryanthi penasaran.
"Ibumu menyukai foto itu. Jadi, dia menyimpannya di dalam tas yang biasa dibawa ke manapun," jelas Surya.
"Saat itu Ayah tidak memiliki banyak uang. Jadi, kami hanya mampu menyewa seorang fotographer biasa saja dan hasilnya ...." Surya tersenyum kelu mengenang pernikahannya dulu.
"Setidaknya masih ada kenangan yang tersisa," gumam Ryanthi pelan. Dia juga menemukan foto lain di dalam koper.
__ADS_1
"Itu dirimu ketika baru lahir. Kebahagiaan terbesar kami. Kamu menangis kencang, sampai-sampai Ayah kebingungan harus berbuat apa? Ibumu hanya tersenyum. Tangisanmu seketika berhenti, ketika Ayah menyerahkanmu padanya."
Ryanthi tersenyum. Dia mengusap foto itu, sebelum mengambil foto lain.
"Itu fotomu saat berusia tiga tahun, saat kita berlibur. Sepertinya kamu tidak terlalu suka laut, karena Ayah harus terus menggendongmu," jelas Surya.
Ryanthi tersenyum simpul. Dia kembali mengusap foto itu. "Mengapa ibu tidak ikut berfoto bersama kita?" tanyanya.
"Ibumu yang memotret. Dia mengambil banyak foto. Namun, Ayah tidak tahu ke mana sebagian lagi." tutur Surya.
Ryanthi terdiam. Ada bahagia dan haru yang dirasakannya. Dia tidak menyangka bahwa tak hanya Vera yang memiliki foto masa kecil bersama Surya. Namun, dia juga memilikinya. Artinya, Ryanthi tak harus merasa iri lagi kepada Vera.
Sesaat kemudian, ponsel milik Surya berdering. Dia segera menjawab panggilan masuk tersebut. "Ayah masih ada urusan. Simpan saja dulu semuanya. Nanti Ayah kembali," ucap Surya seraya beranjak keluar.
Ryanthi kembali menatap gaun putih milik Farida. Dia membayangkan betapa cantiknya sang ibu dalam balutan gaun itu.
"Kamu menyukainya?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Farida. Wanita itu berjalan mendekat kepada Ryanthi, lalu duduk di dekatnya.
"Ayahmu benar. Ibu belum sempat memakai gaun itu. Padahal, Ibu sangat menyukainya," ucap Farida lagi. Sesaat, dia memperhatikan gaun putih tadi, sebelum beralih kepada Ryanthi.
"Kenapa Ibu tidak pernah memakai gaun ini?"
"Ibu pikir, gaun itu bisa kamu pakai saat dirimu bertunangan atau ...." Farida tersenyum, lalu menggeleng pelan. Ingatannya kembali pada saat Surya, pertama kali membelikan gaun itu.
"Tadinya, Ibu akan memakai gaun itu saat ulang tahun ayahmu. Kebetulan, usia kami hanya terpaut beberapa bulan. Kami adalah teman kuliah. Ayahmu sudah menceritakannya, kan?"
"Semua yang ingin kamu ketahui sudah ayahmu ceritakan. Ibu memang sengaja tidak membahasnya, karena kamu pasti akan banyak bertanya. Bagaimanapun juga, Ibu tidak sanggup menanggung beban perasaan dan rasa bersalah terhadapmu. Sebenarnya Ibu merasa malu, karena kamu harus mengetahui semua itu." Perlahan, senyum Farida memudar dari wajahnya.
Ryanthi menatap lekat Farida. Dia tahu dan dapat merasakan beban besar, yang dirasakan oleh sang ibu. Mungkin seperti Adrian yang menanggung kisah kelam masa lalu.
Ryanthi tak dapat menghakimi mereka atas apa yang sudah terjadi. Dia juga tidak tahu seperti apa kehidupannya nanti.
"Ibu senang karena kamu sudah mulai menata kembali hidupmu. Siapa nama pria itu?"
"Adrian," jawab Ryanthi singkat.
"Apakah kamu menyukainya?"
"Aku menjadi orang yang berbeda saat bersamanya. Entahlah. Aku rasa, aku memang menyukainya."
"Apa Adrian mengetahui rencanamu yang akan melanjutkan pendidikanmu di luar negeri?" tanya Farida seraya menatap lekat Ryanthi.
Ryanthi terdiam mendengar pertanyaan Farida. "Belum. Aku akan memberitahu nanti jika waktunya sudah tepat. Aku rasa, Adrian tidak ada masalah dengan hal itu. Dia pasti mendukungku sepenuhnya. Seperti dukungan ayah padaku," jawab Ryanthi terdengar meyakinkan, meskipun hatinya merasa gelisah. Pasalnya, Adrian pernah mengatakan bahwa dia tak akan membiarkan Ryanthi menjauh darinya.
"Ibu harap begitu. Semoga dia dapat mengerti dengan apa yang sudah menjadi tujuan hidup dan cita-citamu. Namun, menurut Ibu sebaiknya kamu membicarakannya dari sekarang. Jangan sampai Adrian membuatnya terkejut atas keputusanmu."
__ADS_1
Ryanthi sempat memikirkan hal itu. Dia merasa apa yang dikatakan Farida memang benar. Ryanthi kembali menatap sang ibu. Gadis itu mengangguk pelan.
Farida memang selalu memberikan nasihat yang masuk akal. Karena itu, Ryanthi selalu menuruti apapun yang dikatakan olehnya, meskipun Ryanthi harus tumbuh menjadi seseorang yang seakan bukan dirinya.
"Aku akan menemui Adrian untuk membicarakan hal ini dengannya." Raut wajah Ryanthi tampak ragu. Ada rasa takut dalam hatinya. Dia khawatir jika Adrian tidak mengizinkan pergi. Namun, Ryanthi harus tetap berbicara tentang hal itu.
Ryanthi kembali membereskan barang-barang milik Farida. Dia juga bermaksud untuk memasukan kembali gaun putih milik sang ibu. Namun, Farida mencegahnya.
"Simpanlah gaun itu untukmu. Sayang jika harus tersimpan terus di dalam koper. Ibu rasa ukurannya cocok denganmu," ujar Farida.
Ryanthi mengangguk. Tentu saja dia menyukai gaun itu, karena modelnya yang sangat cantik. Ryanthi akan mengenakannya saat menemui Adrian.
"Terima kasih, Bu," ucap Ryanthi seraya memeluk erat Farida. "Terima kasih karena selalu ada untukku, meskipun ...." Ryanthi tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena dering panggilan di ponsel lebih dulu berbunyi.
"Sebentar, Bu. Sepertinya, Adrian menghubungiku." Ryanthi beranjak dari duduknya. Dia berlalu dari walk in closet, menuju kamar tidur. Ryanthi langsung memeriksa ponselnya. Memang benar bahwa Adrian yang menelepon.
"Hallo," sapa Ryanthi.
"Apa kamu sibuk?" Terdengar suara Adrian dari sebrang sana.
Seketika, kerinduan pun muncul di hati Ryanthi. Padahal baru semalam mereka bertemu. "Tidak juga. Memangnya kenapa?" Ryanthi balik bertanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengganggumu sebentar," jawab Adrian diiringi tawa pelan.
Ryanthi tersipu. Aneh sekali, karena dia tidak pernah merasakan hal seperti itu selama berpacaran dengan Arshan. Namun, kali ini segalanya terasa berbeda. Dia selalu merasakan ada jutaan kupu-kupu yang mengelilinginya, setiap kali mendengar rayuan dari pria tampan berdarah Perancis tersebut.
"Katakan saja langsung bahwa kamu ingin bertemu denganku!" ujar Ryanthi.
Adrian langsung tertawa mendengarnya. "Aku senang karena kamu semakin pintar setelah dekat denganku. Itu berarti, aku membawa pengaruh yang positif dalam hidupmu. Sepertinya aku harus mendapatkan hadiah yang setimpal untuk itu," jawab Adrian penuh percaya diri.
Itulah Adrian. Dia tak seperti yang terlihat di luar. Pria tampan tersebut justru kerap bersikap konyol. Namun, harus diakui bahwa Adrian begitu menghibur bagi seorang Ryanthi yang kaku.
"Jadi?" tanya Ryanthi beberapa saat kemudian.
"Makan malamlah di tempatku. Aku sudah membeli banyak bahan masakan hari ini. Aku ingin kau memasak sesuatu yang enak, berhubung suasana hatiku sedang baik."
Adrian berbelanja bahan masakan? Ryanthi tersenyum. Tentu saja dia tidak yakin dengan hal itu. "Baiklah," jawabnya setuju.
"Apa kamu jadi mampir hari ini?" Ryanthi bertanya dengan agak malu-malu, tapi penuh harap.
"Sepertinya tidak. Hari ini aku harus ke kantor pusat dulu. Karena itu aku mengubah jadwal pertemuan kita," jawab Adrian. "Kita bertemu nanti malam saja. Kuharap, kamu tidak ada masalah karenanya."
"Oh. Ya, sudah. Tidak apa-apa. Omong-omong, sudah dulu, ya. Aku sedang membereskan barang-barang milik mendiang ibu," pamit Ryanthi.
"Ya, sudah. Aku juga sedang di jalan. Aku mencintaimu. Bye." Adrian menutup perbincangan mereka dengan kata-kata yang membuat Ryanthi kembali tersipu. Namun, di sisi lain justru menjadikan keraguan yang kian besar di hati gadis itu.
__ADS_1
Ryanthi kembali meletakkan ponselnya di meja sebelah tempat tidur . Setelah itu, dia kembali ke walk in closet, untuk menemui Farida yang pasti sudah menunggunya selagi dia berbicara dengan Adrian.
"Maaf, bu. Aku ...." Ryanthi berdiri terpaku. Pasalnya, tak ada siapa pun di sana selain koper, serta beberapa barang yang masih tergeletak di lantai. Ryanthi menggigit pelan bibirnya. Seperti biasa, Farida pergi tanpa berpamitan kepadanya.