Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Bertemu Vera


__ADS_3

Hari ini, Ryanthi kembali membuka tokonya. Ia tidak ingin hanya berdiam diri di rumah dan bahkan mengurung dirinya di dalam kamar.


Kesedihan itu tidak akan pernah hilang dari dalam hatinya. Bagaimanapun juga, pasti akan sangat menyakitkan ketika kita harus kehilangan orang yang sangat kita cintai.


Ryanthi mencoba untuk bersikap wajar. Hampir satu minggu telah berlalu sejak kepergian Adrian. Ia bahkan meninggalkan pria itu disana, di tanah kelahirannya.


Akan tetapi, memang itulah keinginan dari Adrian. Ia ingin dimakamkan di dekat makam sang ayah. Sementara makam Indira, berada di pemakaman keluarga besarnya di Indonesia.


Suara dering ponsel pun terus berbunyi sejak tadi. Akan tetapi, Ryanthi masih asik dengan aktivitasnya sendiri. Ia seakan tidak menyadari akan suara dering telepon itu.


"Bu, kenapa teleponnya tidak diangkat?" tanya Arumi. Ia baru saja masuk ke dalam dapur itu.


Ryanthi tersentak. Ia tampak gelagapan. Dengan segera, ia meraih ponsel itu dari dalam tasnya.


Adalah sebuah panggilan masuk dari Vera. Ryanthi pun segera menjawabnya.


"Hai, Ver. Apa kabar?" sapa Ryanthi. Ia berusaha untuk bersikap wajar seperti biasanya.


"Hai, Ryanthi. Aku baik-baik saja," terdengar suara Vera dari seberang sana. "Bagaimana keadaanmu?" Vera bertanya balik.


Ryanthi tersenyum kelu. Ia kemudian menggumam pelan. "Sudah jauh lebih baik," jawab Ryanthi datar.


"Aku ada di toko sekarang. Kemari saja!" ajak Ryanthi.


"Ya. Aku sedang di jalan sekarang," jawab Vera.


"Sudah lama kita tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu," lanjut istri dari Arshan itu.


Ryanthi tersenyum renyah. "Datang saja! Kita bisa pergi hari ini, kan?" tanya Ryanthi.


"Oke. Sudah dulu, ya. Aku sedang menyetir."


"Dah ..." Ryanthi pun menutup sambungan teleponnya. Ia kembali termenung untuk sejenak.


"Siapa, Bu?" tanya Arumi. "Apa itu tante Ve?"


Ryanthi mengangguk. "Ibu akan pulang lebih cepat. Kamu lanjutkan saja disini!" jawab Ryanthi seraya meraih tasnya. Ia akan menunggu kedatangan Vera untuk menjemputnya disana.


Arumi mengangguk. Sesaat kemudian, ia pun segera memeluk sang ibu dengan erat. "Aku sangat menyayangi Ibu. Tetaplah menjadi wanita idolaku!" ucap Arumi dengan pelan.


Ryanthi tersenyum. Ia membalas pelukan Arumi dengan hangat. "Jangan khawatir! Ibu adalah Ryanthi, dan air mata bukanlah sahabat seorang Ryanthi!" tegas wanita setengah abad itu.


Arumi melepaskan pelukannya dengan perlahan. Ia memegang erat kedua tangan sang ibu. "Itulah yang membuatku selalu berusaha untuk tidak menangis. Karena aku juga tidak ingin bersahabat dengan air mata," ujar gadis cantik itu.

__ADS_1


"Sudah seharusnya, Sayang!" sahut Ryanthi pelan. Ia memegangi wajah cantik Arumi dengan lembut. "Jangan fikirkan hal-hal yang hanya akan membuatmu pusing! Apalagi, Ibu punya sesuatu untukmu ...." Ryanthi tersenyum lembut kepada Arumi.


Arumi mengerutkan kedua alisnya hingga hampir beradu. Matanya bergerak dengan tak beraturan. Ia tidak dapat menerka apa yang Ryanthi maksud.


"Apa itu?" tanya Arumi dengan binar indah pada kedua matanya.


Ryanthi tersenyum lebar melihat antusiasme dari putri bungsunya itu. Ia kemudian merogoh sesuatu dari dalam tasnya dan menunjukannya tepat di hadapan gadis itu.


Arumi terbelalak dengan mulut terbuka lebar. Ia tidak percaya dengan apa yang Ryanthi berikan kepadanya.


"Ambilah! Ayahmu sudah memberimu izin untuk memakai mobil itu. Tetapi, dia berpesan agar kamu harus selalu berkendara dengan hati-hati," ucap Ryanthi. Ada gurat kesedihan dalam raut wajahnya yang hari itu tanpa polesan make up sama sekali.


"Tentu saja, itu bukan hanya pesan dari ayahmu. Akan tetapi, pesan dari Ibu dan juga Keanu," lanjut Ryanthi seraya mengelus lembut rambut Arumi.


Arumi menatap lekat sang ibu. Sebenarnya ia ingin sekali memeluk wanita itu dan menumpahkan segala keluh kesah yang ada di dalam hatinya kini.


Ryanthi seakan mengerti dengan bahasa tubuh dari Arumi. Ia kemudian menyentuh wajah gadis itu dengan bahasa keibuannya. "Kita akan bicara nanti malam. Di tempat biasa," ujarnya.


Arumi tersenyum manis. Ia kemudian mengangguk setuju.


Tidak lama kemudian, ponsel Ryanthi kembali berdering. Rupanya, Vera sudah tiba disana.


"Tante Ve sudah tiba. Ibu pergi dulu. Sampai nanti sore, Sayang," Ryanthi mencium kening Arumi dengan hangat.


Ryanthi mengangguk setuju. Arumi pun segera menggandeng lengan sang ibu dan menemaninya keluar dari toko.


Di halaman parkir, Vera sudah menunggu dengan sedan merahnya. Ia masih setia dengan warna dan jenis mobil yang sama meskipun sudah berkali-kali mengganti mobilnya.


Usaha Arshan yang kini sedang berada di puncak kejayaannya, membuat kehidupan ekonomi mereka berada dalam posisi jauh lebih dari kata cukup.


Vera, masih terlihat cantik. Meskipun telah berumur, namun bentuk tubuhnya tidak pernah berubah. Ia masih tetap terlihat langsing dan juga seksi.


"Tente Ve ...." seru Arumi seraya menghambur ke dalam pelukan wanita itu.


Vera tersenyum lebar dan menyambut keponakannya dengan penuh haru.


"Kenapa kamu tidak berkunjung ke tempat Tante?" protes Vera seraya mencubit hidung mancung Arumi.


"Aku sibuk, Tante," jawab Arumi. "Hari pertamaku disini, langsung aku habiskan di dapur kesayangan ibu," ucap Arumi seraya melirik Ryanthi.


"Alasan saja kamu! Padahal Padma sangat merindukanmu. Begitu juga dengan Tristan. Dia sering menanyakanmu," Vera mengakhiri ucapannya dengan sebuah bisikan.


Arumi hanya tersenyum manis ketika menanggapi ucapan dari Vera.

__ADS_1


"Apa kamu akan ikut juga bersama kami?" tanya Vera kepada Arumi.


"Tidak! Arumi harus menjaga toko. Kami sudah terlalu lama tutup," sela Ryanthi.


Vera mengeluh pelan. "Sayang sekali. Kapan-kapan datanglah ke rumah. Nanti Tante buatkan sayur asem kesukaanmu," rayu Vera.


"Aku tidak yakin ...." gumam Arumi dengan wajah menyeringai kepada Vera. Ia merasa sangsi jika Vera bisa memasak.


Vera mendelik kepada gadis itu. Ia pun mengalihkan tatapannya kepada Ryanthi.


"Coba kamu beritahu gadis cantik ini, jika sekarang tantenya sudah pintar memasak," gurau Vera membuat Ryanthi tersenyum lebar.


"Aku tidak ingin memberikan putriku harapan palsu," balas Ryanthi seraya mengibaskan tangannya.


"Ah, kalian berdua sama saja!" gerutu Vera. "Ya, sudah. Ayo, berangkat sekarang!" ajaknya kepada Ryanthi.


Ryanthi pun mengangguk. Sebelum masuk ke dalam mobil Vera, ia kembali mencium kening Arumi.


"Ibu tidak akan lama. Baik-baik disini, ya!" pesan Ryanthi.


"Memangnya Ibu dan tante Ve mau kemana?" tanya Arumi dengan penasaran.


Ryanthi melirik Vera. Ia seakan menyuruh wanita dengan postur yang sedikit lebih tinggi darinya itu, untuk mewakilinya dalam menjawab pertanyaan Arumi.


"Kami akan ke makam kakek Surya," jawab Vera.


Arumi kemudian melirik Ryanthi yang kini terlihat murung kembali, untuk sejenak. Ia lalu tersenyum seraya melirik Vera.


"Jangan biarkan ibuku menangis disana, Tante," ucap Arumi. Tatapannya kini kembali kepada Ryanthi yang juga tengah menatapnya.


Vera merasa tidak nyaman dengan suasana yang tiba-tiba terasa mengharukan itu. Ia pun segera menghampiri Arumi dan berkata, "Tenang saja. Setelah dari sana, Tante akan mengajak ibumu untuk makan es krim."


Arumi tersenyum. "Oke. Hati-hati! Jangan lupa belikan juga es krim untukku!" canda Arumi.


Ryanthi tersenyum. "Kita beli nanti. Jangan minta kepada tantemu, karena dia tidak akan punya uang receh," jawab Ryanthi seraya masuk ke dalam mobil Vera.


Arumi dan Vera saling pandang. Vera pun mengedipkan sebelah matanya seraya mengikuti Ryanthi masuk ke dalam mobil.


Sepeninggal kedua wanita cantik itu, Arumi bermaksud untuk kembali ke dalam toko. Akan tetapi, langkahnya harus terhenti ketika ia mendengar suara motor yang masuk ke dalam halaman parkir toko itu.


Arumi menoleh. Seketika ia memasang wajah 'jahat'nya seraya melipat kedua tangannya di dada.


Moedya baru saja melepas helmnya. Ia meletakan kedua tangannya di atas helm itu seraya tersenyum kalem kepada Arumi.

__ADS_1


__ADS_2