
Arumi menatap pria itu dengan lekat. Memperhatikan bahasa tubuhnya, ekspresi wajahnya, dan ... siapa dia sebenarnya?
"Bagaimana bisa kakak berteman akrab dengan seseorang seperti itu?" fikirnya dalam hati.
Arumi terus memperhatikannya. Dari balik lengan kaos pendek pria itu, ia dapat melihat goresan berwarna-warni yang menghiasi lengan kuat dan tampak sangat kokoh itu. Terlihat dengan jelas, sebuah ketegasan dalam ukiran lengannya. Ia pasti seorang pria pekerja keras.
Arumi mencoba untuk memalingkan wajahnya. Mengalihkan pandangannya pada objek lain. Akan tetapi, lagi-lagi pandangannya kembali tertuju pada si pemilik tato dengan tindik kecil di telinganya itu.
Akan tetapi, sesaat kemudian Arumi kembali mengalihkan pandangannya kearah lain. Pria itu tiba-tiba menoleh padanya.
Ia menatap gadis yang masih duduk dengan manis di dalam mobil sedan hitam itu untuk sejenak. Begitu juga ketika ia mengantar Keanu untuk kembali ke dalam mobilnya.
"Oke. Kembali saja besok atau lusa!" ucapnya. Suaranya terdengar begitu tenang.
"Kalau bisa jangan terlalu sore. Selama beberapa hari ini aku tutup lebih awal," ucap pria itu lagi seraya melongo dari luar jendela kaca mobil yang terbuka lebar itu.
"Oke. Nanti malam aku hubungi lagi. Sekarang aku ada janji dulu dengan si cantik di sebelahku ini," balas Keanu seraya melirik Arumi, yang kemudian balas menoleh kepada sang kakak dengan senyum manisnya.
Pria itupun menatap Arumi untuk sejenak. Sorot matanya terlihat begitu dalam dan teduh. Meski terkesan agak redup, akan tetapi binar indah itu melukiskan suatu kedewasaan yang sangat matang.
Arumi merasakan ada sebuah hembusan angin sejuk yang membuat perasaan di dalam dadanya ikut berdesir.
Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena dengan segera mobil yang dikendarai Keanu pun keluar dari area bengkel itu.
"Siapa dia, Kak?" tanya Arumi. Entah kenapa karena ia kini merasa penasaran terhadap pria yang baru saja ditemui kakaknya.
"Teman," jawab Keanu datar. Ia tidak mengalihkan fokusnya dari kemudinya.
"Dulu kami satu sekolah saat di STM. Kakak jurusan teknik mesin, sementara dia dari jurusan otomotif. Kami berdua sama-sama 'dipaksa' mengikuti jejak ayah masing-masing," tutur Keanu. Ia tersenyum simpul seraya menggelengkan kepalanya.
"Oh. Jadi ... karena merasa senasib, maka kalian bisa menjadi teman baik?" ledek Arumi diselingi tawa renyah. "Aku fikir ... kaum pria tidak bisa terbawa perasaan seperti itu," gumam Arumi.
"Seperti apa?" tanya Keanu seraya melirik nakal kepada sang adik.
Arumi tertawa pelan. "Katakan padaku, Kak!" Arumi menatap sang kakak yang masih tetap fokus pada lalu lintas siang itu yang cukup padat.
"Apakah Kakak sudah mendapatkan pengganti kak Widuri ?" tanya Arumi dengan sikap manjanya kepada Keanu.
Keanu melirik Arumi dengan alis yang berkerut. Ia pun tersenyum simpul. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba Arumi bertanya tentang masalah pribadinya.
"Bukan urusanmu!" pungkas Keanu. Ia tidak ingin membahas masalah pribadinya bersama sang adik. Karakter Keanu rupanya masih saja tertutup, masih seperti dulu.
"Sejak kapan kamu jadi begitu ingin tahu dengan urusan pribadi kakakmu?" tegur Keanu dengan tanpa menoleh sedikitpun
"Sejak aku pulang dari Paris," jawab Arumi dengan entengnya.
__ADS_1
Keanu menghela napas panjang. Ia tidak ingin membahas urusan pribadinya dengan lebih jauh lagi. Karena itu ia lebih memilih untuk diam.
...🕊 🕊 🕊...
"Ibu bisa menumpang mobilku jika mau," tawar Keanu seraya memasukan makanan dari piring keramik itu ke dalam mulutnya.
Ryanthi melirik kepada Arumi. Gerak matanya seolah meminta persetujuan dari gadis itu.
Arumi meletakan sendoknya. Ia lalu menatap sang kakak dengan wajah yang cukup serius.
"Kenapa Kakak tidak membiarkanku menyetir sendiri? Aku sudah mengatakannya kepada ibu jika aku sudah belajar menyetir sewaktu aku masih di Paris," terang Arumi. Ia berharap agar Keanu dapat mengizinkannya menyetir sendiri.
"Hmm ... kenapa kamu hanya meminta izin kepada kakakmu?" sela Adrian. "Jadi, keberadaan Ayah sekarang sudah tidak ada gunanya lagi disini?" lanjutnya dengan wajah sedih.
Mendengar hal itu, seketika Arumi menghentikan makannya dan menoleh kepada Adrian untuk sejenak. Kemudian, ia menoleh kepada Ryanthi.
"Ya ampun, Bu. Lihatlah! Ayah cemburu ...." celetuknya. Sontak kata-katanya membuat Ryanthi tertawa, dan bahkan Keanu hampir tersedak karenanya.
Arumi meletakan sendok dan garpu yang ia pegang. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan segera menghampiri tempat duduk Adrian.
Dipeluknya pria tampan yang kini telah menua itu dari belakang. Kedua tangannya menjuntai di atas pundak sang ayah. Ia lalu mencium pipi Adrian dengan hangatnya.
"Ayah, tidak akan pernah tergantikan oleh pria hebat manapun di dalam hatiku. Karena Ayah ... telah menempati tempat yang sangat spesial disana," ucap gadis dengan sepasang lesung pipi itu.
"Sungguh?" tanyanya. "Ayah berani mengatakan jika kamu jauh lebih pintar merayu jika dibandingkan dengan ibumu dulu," goda Adrian seraya melirik Ryanthi yang duduk di kursi dekat dirinya.
Ryanthi membalas lirikan sang suami dengan senyumannya. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jadi ... ibuku dulu adalah seorang gadis manis yang sangat pemalu?" tanya Arumi.
"Sangat ...." jawab Adrian. "Padahal Ayah tahu jika dia sangat menginginkan Ayah. Tetapi dia selalu jual mahal dan berpura-pura tidak peduli kepada Ayah," tutur Adrian tanpa mengalihkan tatapannya dari Ryanthi, yang kini hanya dapat menanggapi ocehan sang suami dengan senyum lebarnya.
"Padahal dulu Ayah sangat tampan. Bagaimana bisa ibu tahan untuk mengabaikan Ayah begitu saja? Aku sungguh tidak mengerti," tanya Arumi lagi.
"Ya, itu juga yang telah membuat Ayah merasa heran. Ketampanan Ayah di masa lalu, ternyata tidak dianggap sama sekali oleh ibumu. Dia lebih tertarik dengan buku resep," sesal Adrian, masih dengan tatapan mesranya kepada Ryanthi.
"Sudah, hentikan!" cegah Ryanthi. "Kamu adalah pria paling tampan yang pernah aku kenal, dan tentu saja ... aku sangat menyukai suaramu, Sayang," balas Ryanthi seraya menggenggam tangan Adrian, yang pria itu letakan di atas meja makan.
"Ah ... aku paling malas kalau sudah melihat adegan seperti ini!" seloroh Keanu. Ia kembali melanjutkan makan malamnya.
Adrian tertawa pelan, begitu pula dengan Ryanthi. Kehangatan seperti itu, memang selalu hadir dalam keluarga kecil mereka. Terlebih setelah kini Arumi kembali. Lengkap sudah rasanya kebahagiaan Ryanthi dan juga Adrian.
Apalagi yang kurang dari kehidupan mereka berdua? Rasanya, mereka telah memiliki segalanya. Harta, kesuksesan, dan tentu saja kehangatan keluarga yang tidak mereka rasakan di masa lalu.
Kehadiran Keanu dan Arumi dalam hidup mereka, adalah sebuah anugerah sekaligus tanggung jawab yang sangat besar.
__ADS_1
Keanu dengan karakternya yang tertutup, sedangkan Arumi dengan sifatnya yang manis dan sangat ceria. Gadis itu selalu tersenyum dan bersikap ramah kepada siapapun.
Begitu juga seperti hari ini. Arumi tengah menemani sang ibu untuk berbelanja di sebuah super market.
Dengan tenang, ia mendorong trolley berisi belanja bulanan yang biasa Ryanthi beli.
"Biasanya, ayahmu yang bertugas untuk mendorong trolley. Dia selalu menggerutu karena Ibu dinilai berbelanja terlalu lama," ucap Ryanthi seraya memasukan bebapa bungkus gula pasir ke dalam trolley itu.
"Aku yakin Ibu pasti tidak mempedulikannya," sahut Arumi. Ia masih setia menemani Ryanthi tanpa mengeluh sedikitpun.
"Ya, tentu saja. Ayahmu bukan tipikal pria penyabar," imbuh Ryanthi. Ia memasukan beberapa barang dan membuat trolley itu kian terisi penuh.
"Tetapi ayah adalah pria yang sangat menyenangkan. Dia tidak membosankan seperti kakak," celoteh Arumi sambil terus mendorong trolley itu dengan perlahan dan mengikuti langkah pelan Ryanthi.
"Sayang!" Ryanthi tertegun. Ia lalu menoleh kepada Arumi.
"Biarkan saja trolley nya disini. Ayo, kita ke lantai bawah!" ajak Ryanthi.
"Ada apa disana, Bu?" tanya Arumi penasaran.
"Tiba-tiba Ibu ingat, jika Ibu membutuhkan wajan yang baru," jawab Ryanthi. Ia pun berjalan mendahului Arumi menuju ke lantai dasar, dimana terdapat banyak sekali perabot rumah tangga.
Dengan sabar, Arumi menemani Ryanthi yang sedari tadi sibuk memilih wajan. Entah apa yang membedakan mereka, karena menurut Arumi semuanya tampak sama. Tidak ada bedanya sama sekali.
Lama- kelamaan, Arumi pun merasa bosan.
"Pantas ayah tidak mau menemani ibu belanja," keluh Arumi di dalam hati. Ia pun berinisiatif untuk melihat-lihat hal lain yang bisa menghilangkan rasa bosannya.
"Bu, aku lihat-lihat kesana dulu, ya," tunjuk Arumi pada deretan gelas-gelas dan dan botol air minum.
Ryanthi mengangguk tanpa memberi jawaban ataupun menoleh. Ia masih sibuk dengan wajan yang membuatnya merasa bingung.
Arumi pun berjalan diantara deretan gelas-gelas cantik itu. Semuanya tampak sangat lucu untuknya. Pandangannya pun kini tertuju pada sebuah mug berwarna biru muda. Ia kemudian meraih mug itu dan melihatnya dengan lebih dekat.
Tidak ada yang istimewa dari mug itu. Tampilannya polos tanpa gambar atau apapun juga. Akan tetapi, entah kenapa karena Arumi begitu tertarik untuk melihatnya.
Ia mengamati mug berwarna biru muda itu dengan seksama. "Apa yang menarik dari mug ini?" gumamnya dalam hati. Arumi pun menggeleng pelan.
Sesaat kemudian, Arumi kembali meletakan mug itu. Akan tetapi, dengan tidak sengaja tangannya menyenggol mug yang ada di sebelahnya hingga hampir jatuh.
Untunglah mug itu tidak sampai jatuh ke lantai, karena seseorang telah menangkapnya dengan sangat cekatan.
Arumi tersentak. Ia menutup mulutnya yang hampir terpekik karena kaget. Ditatapnya seseorang yang telah membantunya 'menyelamatkan' mug itu dari lantai.
Seseorang yang kini tengah balas menatapnya dengan lekat.
__ADS_1