Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● DUA PULUH TIGA : Melepaskan Beban


__ADS_3

Ryanthi sudah terlihat rapi dengan midi dress hitam polet putih. Rencananya, hari ini dia akan menemani Vera memeriksakan kandungan. Ryanthi merasa khawatir, terlebih setelah insiden perkelahian yang melibatkannya dengan Vera kemarin-kemarin.


"Aku ingin keluar sebentar," ucap Vera saat berpamitan kepada Maya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Maya. Dia begitu heran, saat melihat kebersamaan antara Ryanthi dan Vera.


"Hanya makan-makan, Ma. Aku akan mengajak Ryanthi ke restoran sushi langgananku," jawab Vera sambil melirik putri kandung Surya tetsebut.


Ryanthi membalasnya dengan senyuman. Lain halnya dengan Maya yang tampak khawatir. Dia mendekat kepada Vera. "Kamu yakin, Ver?" tanyanya sambil menyentuh kening putrinya.


Mendengar ucapan Maya yang sangat mengkhawatirkan Vera, Ryanthi segera menanggapi. "Tenang saja, Tante. Aku tidak akan memukul Vera tanpa alasan," ujarnya.


Sebelum Maya sempat menanggapi ucapan Ryanthi, Vera langsung menggandeng gadis itu keluar. Dia tak ingin banyak bicara dengan Maya. "Jangan membuang waktu dengan meladeni mamaku," ujar Vera setelah mereka melewati pintu.


Sore yang ramai di ibukota. Vera begitu lihai mengendarai sedan keluaran terbaru yang Surya berikan sebagai hadiah ulang tahunnya. Setelah beberapa saat beradu dengan padatnya lalu lintas, mereka tiba di sebuah klinik khusus ibu dan anak.


Vera langsung mendaftar. Sambil menunggu namanya dipanggil, gadis itu asyik memainkan ponsel. Sedangkan, Ryanthi hanya duduk memperhatikan orang yang berlalu-lalang.


Beruntung, hari itu antrian tidak terlalu panjang. Setelah menunggu beberapa saat, nama Vera akhirnya dipanggil. Namun, ternyata gadis itu merasa gugup jika harus masuk sendiri.


"Temani aku," pintanya.


Ryanthi mengangguk diiringi senyuman lembut. Kedua gadis itu masuk ke ruang periksa. Di sana, sudah ada seorang dokter yang langsung mempersilakan Vera untuk naik ke tempat tidur, setelah sang dokter membubuhkan beberapa catatan dalam kartu pemeriksaan atas nama gadis itu.


"Bagaimana kondisi kandungan saya, Dok?" tanya Vera, setelah dirinya selesai melakukan USG.


"Semuanya bagus. Tidak ada masalah. Saya akan memberikan resep vitamin untuk Anda," jawab sang dokter.


Ryanthi akhirnya dapat tersenyum lega setelah mendengar penjelasan sang dokter. Dia tak lagi merasa was-was.


"Perbanyak istirahat, dan hindari stress ya, Bu," saran dokter tadi, sebelum mempersilakan Vera dan Ryanthi keluar dari pemeriksaan.


Setelah dari sana, kedua gadis cantik itu menuju apotek untuk menebus resep. Mereka disuruh menunggu beberapa saat.


"Aku senang karena kandunganmu baik-baik saja," ucap Ryanthi lega.


Vera tersenyum manis. Belum pernah dia melakukan hal itu terhadap Ryanthi. "Makin lama, perutku akan semakin besar. Entah apa yang akan terjadi andai mama dan papa mengetahui hal ini," ucap Vera. Sorot matanya menyiratkan kecemasan.


"Tenang saja. Aku akan membantumu," balas Ryanthi seraya menggenggam erat jemari lentik Vera.


Sepasang mata Vera sudah berkaca-kaca. Namun, dengan segera Ryanthi menegurnya. "Jangan menangis di sini. Malu."

__ADS_1


Setelah menebus resep, mereka melanjutkan perjalanan ke tempat makan. Meski belum waktunya makan malam, tapi Vera mengeluh bahwa dirinya sudah kelaparan. Dua porsi olahan ikan salmon, menemani kebersamaan dua gadis yang awalnya saling berseteru tersebut.


Menjelang petang, mereka menutuskan pulang. Vera langsung menuju kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan, Ryanthi menghampiri Surya yang memanggilnya. Pria paruh baya itu memberikan sebuah goodie bag kepada Ryanthi.


"Apa ini, Yah?" tanya Ryanthi penasaran.


"Buka saja," jawab Surya.


Ryanthi yang penasaran, langsung membongkar isi goodie bag tadi. Seketika, gadis itu terbelalak tak percaya. "Ini untukku?" tanyanya memastikan.


"Ya. Ayah juga sudah membelikanmu kartu SIM yang baru. Kamu tinggal memakainya," jawab Surya.


Ryanthi menatap tak percaya pada ponsel canggih keluaran terbaru yang diberikan Surya untuknya. Dia tidak pernah menyangka akan memiliki telepon genggam yang dulu hanya menjadi angan-angan baginya.


Namun, seketika wajah ceria Ryanthi berubah murung. Dia tak tahu siapa yang akan menghubungi dan dirinya hubungi, berhubung sekarang tak ada lagi Arshan yang setia menemaninya berkirim pesan.


"Terima kasih, Yah. Ini bagus sekali," ucap Ryanthi. Tanpa sungkan, dia memeluk Surya. Setelah itu, Ryanthi berlalu ke kamarnya. Baru saja dia meletakkan goddie bag tadi di kasur, terdengar suara ketukan di pintu. Ryanthi segera membukanya.


Tampakah Vera yang memasang wajah semringah.


"Ada apa? Kelihatannya, kamu senang sekali."


"Ya. Aku sangat bahagia. Arshan dan keluarganya akan besok. Dia akan melamarku," jawab Vera antusias.


"Ya, Tuhan. Syukurlah. Aku ikut bahagia untukmu, Ver," ucap Ryanthi kembali tersenyum, meski ada kegetiran dalam hatinya.


Vera langsung memeluk Ryanthi. Dia terlihat begitu bahagia. "Terima kasih karena telah membantuku meyakinkan Arshan," ucapnya. Entah apa yang Vera pikirkan saat itu. Dia seakan tak menyadari bahwa dirinya telah membuat hati Ryanthi begitu teriris. Entah di mana rasa empati yang dimiliki gadis itu.


Ryanthi kembali tersenyum. "Lalu, apa yang akan kamu katakan jika Arshan dan keluarganya datang kemari untuk melamarmu? Kamu tahu sendiri bahwa di mata ayah, dia adalah ...." Ryanthi tak kuasa melanjutkan ucapannya.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Bagaimana besok saja," ujar Vera enteng.


Ryanthi menggumam pelan. "Sebaiknya, kamu segera beristirahat. Jangan lupa minum vitamin. Ingat pesan dokter," ucap Ryanthi mengingatkan.


"Ayo. Aku harus memastikan kamu benar-benar meminum vitamin yang dokter berikan." Ryanthi menarik tangan Vera menuju kamar gadis itu. Di sana, dia mengambilkan air putih serta vitamin tadi. Ryanthi langsung memberikannya kepada Vera.


"Terima kasih, Ryanthi," ucap Vera tiba-tiba. Gadis itu menatap Ryanthi dengan sorot berbeda.


"Sudahlah. Aku akan membantumu sebisaku. Aku hanya ingin agar kamu dan bayi dalam kandunganmu selalu sehat. Selama ini, aku hanya hidup berdua dengan mendiang ibu. Sekarang, aku memilili saudara. Rasanya sangat berbeda," ucap Ryanthi tulus, meski hatinya masih terasa sakit saat teringat kepada Arshan.


"Ryanthi ...." Vera tak bisa berkata-kata. Dia langsung memeluk putri kandung Surya teraebut.

__ADS_1


Malam datang menggantikan petang, yang penuh drama mengiris hati bagi Ryanthi. Seperti biasa, gadis itu berdiri termenung di balkon. Seorang diri, merasakan embusan angin yang terasa menyejukan.


Ryanthi memandang langit gelap beberapa saat. Tatapan gadis itu menerawang jauh, menembus lorong waktu yang membawanya pada beberapa tahun silam. Namun, sebelum lamunan Ryanthi semakin dalam, gadis cantik itu lebih dulu tersadar karena sentuhan lembut di pundak. Ryanthi sudah tahu dan terbiasa dengan hal itu.


"Ibu?"


Farida sudah berada di belakang Ryanthi. Sambil tersenyum lembut, wanita itu maju hingga berdiri menyejajari sang putri. "Apa kabar, Nak?" tanyanya.


"Aku tidak baik-baik saja, Bu," jawab Ryanthi lirih. "Rasanya, aku ingin menjerit sangat kencang. Aku ingin semua orang tahu tentang apa yang kurasakan." Ryanthi tertunduk, menyembunyikan air mata yang sudah menggenang di pelupuknya.


"Ibu senang karena kamu bisa menerima semua ini. Ayahmu baik, kan? Ibu juga merasa lega, karena kamu tidak menghakimi kami berdua."


"Aku bukan Tuhan yang bisa menghakimi dosa seseorang," jawab Ryanthi datar.


Farida menggumam pelan. Dia mengikuti arah tatapan Ryanthi. "Malam ini begitu tenang. Ibu menyukainya," ucap Farida lembut.


"Ya. Aku juga," timpal Ryanthi. Dia menatap sang ibu, yang masih mengarahkan pandangan lurus ke depan. Namun, Ryanthi tak tahu harus berkata apa. Terkadang, dia masih bingung dengan kehadiran Farida di dekatnya. Namun, Ryanthi bersyukur akan hal itu.


"Apa kamu masih ingat?" tanya Farida. "Dulu, kamu pernah bertengkar dengan Alesha hanya karena sebuah boneka usang?" Wanita itu menoleh kepada Ryanthi yang masih mengarahkan tatapan ke arahnya.


"Iya. Itu boneka kesayanganku," jawab Ryanthi pelan. "Aku masih ingat dengan baju yang kupakaikan untuk boneka itu. Aku sangat menyukainya, dan berharap bisa memiliki gaun indah seperti bonekaku." Ryanthi tersenyum kelu. Dia mengalihkan pandangan ke depan. Pada suasana malam yang kian sunyi, berhubung saat itu sudah hampir tengah malam.


"Ya. Kamu sering merengek meminta dibelikan gaun seperti itu. Namun, akhirnya kamu memberikan bonekamu kepada Alesha, hanya karena dia menangis." Farida tersenyum simpul.


"Dia temanku, Bu. Aku menyayanginya. Aku tidak suka melihat Alesha menangis." Ryanthi mengalihkan perhatian kepada Farida yang kembali tersenyum simpul.


"Kamu ingat apa yang terjadi setelah itu?" Farida bertanya lagi. Dia seakan tengah menguji daya ingat Ryanthi.


Untuk kali ini, Ryanthi tersenyum hangat. "Tentu saja. Aku ingat betul bahwa Ibu membelikanku boneka baru yang jauh lebih bagus," jawabnya. Senyuman di bibir Ryanthi kian lebar.


"Kamu tidak berniat mengambil boneka usang yang telah diberikan kepada Alesha, kan?" Farida menatap Ryanthi dengan sorot penuh arti.


"Tidak. Untuk apa? Aku sudah punya boneka baru yang jauh lebih bagus. Aku tidak membutuhkan lagi boneka lama yang usang." Ryanthi mulai bosan dengan percakapan itu, karena menurutnya sangat tidak penting


Farida kembali tersenyum lembut. Dia lalu mengajak Ryanthi duduk. Seperti biasa, wanita itu memberikan pangkuannya sebagai penyangga kepala sang putri.


Farida terus membelai rambut Ryanthi, hingga gadis itu memejamkan mata.


"Jangan mengharapkan apa yang sudah kamu berikan pada orang lain, karena itu bukan milikmu lagi. Ikhlaskan semua. Maka, kamu akan mendapatkan ganti yang jauh lebih baik. Mungkin tidak langsung. Namun, dengan merelakan, akan membuat beban dalam hatimu jadi berkurang."


Ryanthi tidak menjawab. Dia hanya memejamkan matanya.

__ADS_1


Farida menghela napas panjang. Ditatapnya wajah putri tercinta yang kini sudah tertidur pulas dalam pangkuan. Perlahan dia menyentuh wajah Ryanthi, lalu kembali membelai rambut gadis itu. Dengan hati-hati, Farida memindahkannya, hingga Ryanthi tidur meringkuk di lantai balkon.


Farida mendekatkan bibir ke telinga Ryanthi. Wanita itu membisikkan sesuatu. "Lepaskan semuanya. Sudah cukup bagimu menjadi tameng dari kepahitan hidup ini. Jika dirmu memang ingin menangis, maka luapkan. Selama itu bisa membuat rasa sesak di dada jadi berkurang." Farida mencium hangat kepala Ryanthi, sebelum pergi meninggalkannya.


__ADS_2