
Ryanthi kembali ke dalam sambil mengusap-usap kening yang baru dikecup mesra Adrian. Dia tak habis pikir, karena pria itu terus menggodanya.
Ryanthi langsung menuju kamar. Dia lelah dan ingin segera beristirahat. Namun, alangkah terkejut Ryanthi, karena Arshan berdiri menghadangnya. "Minggir. Aku mau lewat." Ryanthi bersikap ketus kepada pria itu.
"Kita harus bicara," ucap Arshan penuh penekanan. "Ayo!" Arshan meraih pergelangan tangan Ryanthi. Dia menuntun paksa gadis itu kembali ke lantai satu. Arshan membawa Ryanthi ke dapur.
"Lepas Arshan! Tanganku sakit!"
"Gila! Ini gila!" gerutu Arshan kesal setelah melepaskan genggaman tangannya dari Ryanthi.
"Apa maksudmu? Tolong jangan ganggu aku!"
Ryanthi bermaksud keluar dari dapur. Namun, Arshan segera menghalanginya. "Minggir! Jangan sampai ada yang melihat kita dan berpikiran yang tidak-tidak! Aku tidak mau bermasalah dengan Vera!" sergah Ryanthi.
Namun, Arshan justru semakin mendekat. "Katakan, apa hubunganmu dengan pria itu?" tanyanya penuh penekanan.
"Apa urusanmu?"
"Jawab aku! Apa hubunganmu dengan Pak Adrian?" desak Arshan.
Ryanthi tidak menjawab. Gadis itu menatap heran kepada Arshan.
"Apa kamu menjalin hubungan dengannya?" desak Arshan lagi.
"Bukan urusanmu!"
"Tentu saja itu akan menjadi urusanku, karena aku tidak suka melihatnya!"
"Dengar, Arshan! Kamu sudah menikahi Vera. Itu artinya, kamu tidak berhak ikut campur lagi atas apapun yang kulakukan!" tegas Ryanthi penuh penekanan.
"Kita berdua tahu anak yang dikandung Vera bukanlah anakku. Aku menikahinya hanya agar bisa dekat denganmu," ungkap Arshan penuh penekanan.
Ryanthi menggeleng tak percaya atas ucapan Arshan. "Keterlaluan! Aku tidak akan membiarkanmu mempermainkan Vera. Aku juga tidak akan pernah bersedia berdekatan lagi denganmu!" tegasnya seraya berlalu dari hadapan Arshan.
Arshan menatap lekat Ryanthi. Sorot tajamnya sudah mulai melunak. "Kenapa kamu tidak bersedia memberikan kesempatan kedua padaku?"
"Tak ada kesempatan bagi seorang pengkhianat. Kesalahanmu terlalu fatal," jawab Ryanthi tegas. "Sudahlah. Jangan menyesali apapun akibat dari kebodohan yang sudah kamu lakukan!" Setelah berkata demikian, Ryanthi bergegas meninggalkan Arshan di dapur. Dia langsung menuju kamarnya.
Arshan menyandarkan tubuh pada dinding dapur. Dia tampak begitu tak karuan. Sesaat kemudian, Arshan membalikan badan. Dia memukul-mukul dinding yang menjadi tempat dirinya bersandar tadi. Kekesalan pria itu semakin memuncak, tapi tidak dapat dia lampiaskan. Arshan terus memukul-mukul dinding sambil menggerutu. "Kenapa harus pria itu?"
Sementara, Ryanthi sudah berada di kamarnya. Dia langsung merebahkan tubuh di kasur. Rasanya memang sangat nyaman. Namun, kenyamanan itu tidak dapat menghilangkan gelisah di dalam hati.
__ADS_1
Ryanthi kemudian bangkit. Dia menata bantal beserta selimut. Sebelum tidur, Ryanthi sempat memeriksa ponselnya, meskipun dia tahu tak ada siapa pun yang akan mengiriminya pesan selain Adrian.
Hal itu memang benar. Ada dua pesan masuk yang belum terbaca.
Terimakasih untuk hari ini. Aku senang menghabiskan waktu bersamamu, meskipun kamu hanya tertidur di sampingku.
Ryanthi tersenyum membaca pesan pertama. Dia lalu membaca pesan kedua.
Selamat malam. Semoga malam ini tidurmu nyenyak, karena itu hal yang sangat kamu butuhkan. Jangan lupa mimpikan aku.
Ryanthi tersenyum kecil membaca kedua pesan itu. Namun, dia tidak berniat membalasnya. Ryanthi mengira bahwa Adrian pasti sudah tidur nyenyak saat ini. Gadis itu meletakan kembali ponselnya di atas meja kecil sebelah tempat tidur. Ryanthi kemudian mematikan lampu, lalu berusaha memejamkan mata. Seperti yang Adrian katakan dalam pesan kedua, dia memang membutuhkan tidur yang nyenyak.
......................
"Selamat pagi, Yah." Ryanthi menyapa hangat sang ayah, yang baru kembali dari olah raga pagi.
"Selamat pagi juga, tapi jangan mendekat dulu, karena Ayah masih bau keringat," ucapnya sambil mengendus ketika yang basah oleh keringat.
"Ya ampun." Ryanthi tertawa geli.
Tak berselang lama, Maya muncul dengan baju olah raga yang serba ketat, sehingga memperlihatkan dengan jelas beberapa lipatan di pinggangnya.
Ryanthi tak ingin berkomentar dengan penampilan ibu tirinya tersebut. Dia hanya merasa heran, karena sang ayah bisa tertarik dengan wanita berpenampilan aneh seperti Maya. Ibunda Vera tersebut, seakan tak bisa melewati hari tanpa riasan tebal.
"Pagi," balas Maya singkat sambil berlalu begitu saja. Dia meninggalkan Ryanthi yang masih tersenyum padanya.
Baru saja Ryanthi hendak beranjak ke kamar, dia berpapasan dengan Vera yang tengah menuruni undakan anak tangga. Sesaat kemudian, Arshan menyusulnya. Pria itu sudah tampak mengenakan jaket bomber yang menjadi ciri khasnya.
"Hai, Ver," sapa Ryanthi hangat.
Vera tidak menjawab. Dia tampak kecewa terhadap Ryanthi. Mungkin, karena kemarin Ryanthi pergi dari pesta pernikahannya.
"Kupikir, kamu akan kembali lagi ke pesta. Ternyata, sampai acara selesai kamu tidak muncul lagi," ujar Vera kecewa.
"Maaf. Aku ada acara dengan Adrian ...." Perhatian Ryanthi beralih kepada Arshan.
"Apa kalian mau pergi?" tanyanya.
"Ya. Hari ini Arshan mengajakku ke rumah ibu. Kami akan menginap di sana selama dua hari. Itu artinya, nanti malam kamu tidur sendiri di lantai atas," jawab Vera sambil menggandeng mesra lengan Arshan.
Ryanthi tersenyum hangat. "Kenapa hanya dua hari? Aku akan sangat senang menjadi penguasa lantai atas sendirian," guraunya, yang disambut tawa renyah oleh Vera.
__ADS_1
Sementara, Arshan hanya terdiam. Sesekali, dia mencuri pandang kepada gadis yang ada di hadapannya. Arshan belum melupakan perbincangan panas mereka semalam. Dia belum sempat meminta maaf kepada Ryanthi. Namun, Arshan sadar tak mungkin melakukannya di depan Vera.
"Aku akan pamitan dulu kepada papa dan mama," ucap Vera. Dia beranjak ke arah kamar Surya dan Maya.
"Mereka baru pulang olah raga. Sepertinya, sekarang sedang bersiap-siap," ujar Ryanthi menghentikan langkah Vera.
Vera tertegun, lalu berbalik. Dia kembali menggandeng lengan suaminya yang dari tadi tidak berkata apa-apa, selain memperhatikan Ryanthi. "Kalau menunggu papa dan mama pasti lama. Kita berangkat sekarang saja," cetus Vera.
Akan tetapi, Arshan langsung menolaknya.
"Tunggu saja sebentar. Lagi pula, kita akan menginap di sana. Jadi, jangan sampai pergi tanpa pamitan terlebih dulu," cegahnya. Sejak dulu, Arshan memang pria yang berpikir dewasa. Sayang, dia harus terpeleset karena godaan kecantikan Vera.
Mendengar Arshan berkata seperti itu, Vera menurut. "Kamu memang suami terbaik," sanjungnya. Tanpa canggung, Vera mencium Arshan di depan Ryanthi. Entah sengaja atau tidak, tapi adegan itu membuat Arshan menjadi tidak nyaman.
Begitu juga dengan Ryanthi. Gadis itu segera memalingkan wajah, karena tidak ingin menyaksikan adegan yang tidak seharusnya mereka pertontonkan secara langsung.
Entah apa maksud Vera melakukan hal seperti demikian di hadapan Ryanthi. Namun, Ryanthi sangat tahu dengan sifat asli Vera yang memang seperti itu. Dia seolah-olah sengaja melakukannya. Entah karena ingin membuat Ryanthi cemburu dan merasa tersisih, atau hanya ingin memperlihatkan kemesraan yang wajar antara suami-istri.
"Aku ke kamar dulu. Jika kalian mau berangkat, berangkat saja. Hati-hati di jalan. Aku yakin kamu pasti betah di sana, karena kamu sudah tidak asing lagi kan dengan rumahnya Arshan," sindir Ryanthi seraya memeluk Vera, sesaat sebelum dia meniti undakan anak tangga untuk pergi ke kamarnya.
Vera hanya tersenyum sambil mengangguk. Dia sepertinya tidak terlalu memedulikan sindiran Ryanthi. Berbeda halnya dengan Arshan yang merasa tidak enak mendengar ucapan gadis itu.
Ryanthi melangkah tenang menuju kamar. Dia sudah memutuskan untuk tak lagi memikirkan apapun yang berkaitan dengan Arshan. Ryanthi hanya ingin memulai hidup baru. Bersamaan dengan dirinya yang masuk kamar, terdengar dering panggilan masuk dari Adrian. Ryanthi langsung menjawabnya.
"Hallo," sapa Adrian.
Tak ada jawaban dari Ryanthi. Gadis itu hanya menggumam pelan.
"Aku hanya ingin memastikan untuk nanti malam. Kamu akan ikut denganku atau tidak?" tanya Adrian.
Masih belum ada jawaban. Entah apa yang sedang dilakukan Ryanthi saat itu. Mungkin dia sedang mengerjai Adrian.
"Ryanthi, kamu tahu bahwa aku bukanlah seorang penyabar seperti dirimu, jadi ...."
"Jemput saja. Aku akan bersiap-siap," sahut Ryanthi menyela ucapan Adrian.
Adrian tersenyum semringah. Dia baru selesai berenang. Pria itu menyugar rambutnya yang basah. "Baiklah. Aku jemput nanti malam. Berdandanlah yang cantik dan buat mamaku terkesan," ucap Adrian seenaknya.
"Kamu juga. Jangan lupa cukur dan rapikan janggutmu terlebih dulu, agar terlihat jauh lebih tampan," balas Ryanthi diiringi tawa renyah.
Adrian menautkan alis. Sesaat kemudian, pria itu kembali tersenyum. Dia merasa senang, karena itu berarti Ryanthi mulai memperhatikan penampilannya.
__ADS_1
"Ya sudah. Sampai nanti malam."
Adrian mengakhiri perbincangan tadi dengan perasaan lega. Beberapa saat lamanya dia termenung, sebelum teringat akan pesan Ryanthi tentang janggutnya. Adrian meraba pipi dan dagu. Mungkin, memang sudah saatnya dia bercukur.