
Cahaya matahari menembus tirai jendela kamar Ryanthi, ketika gadis itu mulai membuka mata. Dilihatnya jam yang sudah menunjukan pukul delapan pagi. Dia terperanjat kaget.
Namun, sesaat Ryanthi merasa heran. Semalam, dia tertidur di pangkuan sang ibu. Akan tetapi, saat ini dirinya berada di kamar.
Sejenak, Ryanthi terdiam sambil mengumpulkan segenap kesadaran. Selain itu, kepala dan lehernya pun terasa sakit. Malas, gadis itu turun dari tempat tidur, lalu menuju ke kamar mandi.
Hari ini, keluarga Arshan akan datang untuk melamar Vera. Awalnya, Ryanthi ingin pergi saja dari rumah. Namun, gadis cantik tersebut kembali berpikir, bahwa itu bukanlah ide bagus.
Selang beberapa saat, Ryanthi telah tampil rapi. Sayup-sayup, dia mendengar kegaduhan di lantai bawah. Ryanthi yakin bahwa Arshan dan keluarganya pasti sudah datang.
Setelah memantapkan hati, Ryanthi melangkah keluar kamar menuju ruang tamu. Setibanya di sana, Ryanthi begitu terkejut saat mendapati Vera yang tengah menangis dalam pelukan Maya.
"Kamu kenapa, Ver?" tanya Ryanthi seraya mendekat kepada ibu dan anak itu. Dia bermaksud hendak menyentuh pundak Vera. Namun, gadis itu menepiskannya dengan kasar. Vera juga menatap tajam Ryanthi.
"Kamu senang sekarang? Kamu puas?" sentak Vera penuh amarah. "Kamu licik dan pura-pura naif!" tuding gadis itu lagi sambil menunjuk ke depan wajah Ryanthi.
Ryanthi semakin keheranan. "Apa maksudmu?" protesnya seraya menyingkirkan telunjuk Vera dari depan wajahnya.
"Jangan berpura-pura tidak mengetahui hal ini! Aku yakin jika kamu dan Arshan sudah merencanakan semuanya!" tuding Vera lagi.
"Rencana apa?" Ryanthi terdengar semakin tegas.
"Kamu tahu bahwa kedatangan Arshan dan keluarganya kemari bukan untuk melamarku. Melainkan ingin melamarmu!" sentak Vera penuh emosi.
__ADS_1
Seketika, Ryanthi terbelalak. Dia mengalihkan tatapan kepada sang mantan kekasih yang tengah memperhatikannya. "Apa itu benar?" tanya Ryanthi seraya melangkah ke dekat Arshan.
Arshan berdiri tepat di hadapan Ryanthi. "Ya. Itu benar," jawabnya yakin. "Aku kemari untuk melamarmu."
Mendengar jawaban Arshan, amarah dalam diri Ryanthi kian menjadi. "Jangan bersikap bodoh! Kamu pikir aku akan bersedia menerima lamaran dari seorang pengkhianat sepertimu? Tidak mungkin!" tolak Ryanthi tegas.
Di sisi lain, Surya terkejut mendengar jawaban dari putri kandungnya. Dia tak tahu apa yang telah terjadi antara Ryanthi dengan Arshan. "Apa maksudmu, Nak?" tanyanya membuat Ryanthi segera menoleh.
Ryanthi menatap sang ayah untuk sesaat. Dia lalu mengalihkan pandangan kepada Vera. Tatapan gadis itu seakan memohon, agar Ryanthi tidak mengatakan apapun.
Namun, bagi Ryanthi itu bukan jalan yang tepat. Akhirnya, dia mengambil keputusan mengungkapkan semuanya. "Itulah yang terjadi, Ayah. Arshan telah mengkhianatiku," jelas Ryanthi. Dia kembali menoleh kepada Vera yang kini hanya bisa pasrah. "Ayah ingin tahu kenapa dulu aku memukul Vera hingga babak belur? Silakan tebak sendiri," ucapnya lagi.
Surya tampak menautkan alisnya. Dia menatap Vera dan Arshan secara bergantian. Sepertinya, pria itu telah memahami maksud dari ucapan Ryanthi. "Vera, kamu ...," tunjuknya.
"Kamu sangat keterlaluan!" sentak Surya. "Bukankah kamu sudah tahu siapa Arshan dan seperti apa hubungannya dengan Ryanthi?" sentak pria itu lagi tak kuasa membendung amarah.
Vera tak mampu memberikan pembelaan apa-apa. Terlebih karena Maya juga terlihat sangat terkejut dengan kenyataan itu.
"Ada satu lagi yang harus ayah dan tante ketahui," ucap Ryanthi lagi. "Saat ini, Vera sedang mengandung," ungkapnya, sehingga membuat Maya seketika menjauhkan diri dari Vera. Dia menatap tajam gadis itu. Namun, Maya tak mampu mengatakan apapun, karena rasa terkejut yang terlalu besar. Wanita berambut merah tersebut hanya diam melongo.
"Kalian berdua sungguh memaluka!" Surya kembal berkata penuh amarah.
Sementara itu, Arshan dan keluarganya hanya diam karena tertunduk malu. Kedua orang tua Arshan merasa begitu terhina. Namun, mereka sadar bahwa putranya memang berada dalam posisi yang salah. "Maafkan kami sebelumnya, Pak. Namun, maksud kedatangan kami kemari karena ingin meluruskan, bahkan memperbaiki semua kekacauan ini," ucap ayahanda Arshan.
__ADS_1
"Putra kami sudah melakukan kesalahan besar. Namun, alangkah eloknya jika kita sebagai orang tua, bersikap bijaksana untuk menyelesaikan masalah ini," lanjutnya ayahanda Arshan lagi.
"Kami tahu bahwa Ryanthi sudah tidak ingin menerima Arshan lagi. Karena itu, untuk mengembalikan harga diri serta tanggung jawab atas diri putra kami, maka sudah diputuskan jika lamaran ini memang ditujukan untuk Vera. Bukan Ryanthi. Namun, Arshan ...." Ayahanda Arshan seperti kehilangan kata-kata.
Namun, Surya sudah dapat menangkap maksud dari penuturannya tadi.
"Maaf, karena pantang bagiku untuk mengambil kembali sesuatu yang telah kuberikan kepada orang lain. Aku sudah merelakan Arshan untuk Vera. Itu telah menjadi keputusan yang tak bisa diubah lagi," tegas Ryanthi. Dia mencoba tegar, meskipun hati kecilnya memberontak dan ingin menangis sekencang mungkin. Ryanthi memilih kembali ke kamarnya, meninggalkan perundingan panas itu.
"Jadi, bagaimana?" tanya Surya meminta ketegasan dari keputusan Arshan.
"Anda tahu saya mencintai Ryanthi," ucap Arshan setelah lama terdiam. "Namun, saya tahu bahwa ada tanggung jawab besar terhadap Vera," ucap pria itu lagi seraya mengarahkan pandangan kepada putri kandung Maya tersebut. Sorot mata Arshan menyiratkan sesuatu yang sulit diartikan oleh gadis itu.
Entah apa yang Arshan rencanakan. Dia menerima pernikahan dengan Vera, demi menutupi aib seperti yang Ryanthi yang minta. Semua menjadi kacau. Kebaikan dalam diri pria yang selama ini Ryanthi cintai tersebut seakan menguap entah ke mana, setelah dirinya jatuh dalam pesona sesaat seorang Vera.
"Putra kami sudah setuju menikahi putri Anda yang bernama Vera, Pak Surya. Sebaiknya, kita mulai membuat perencanaan, untuk melangsungkan pesta pernikahan mereka dalam waktu dekat. Terlebih, karena Vera sudah mengandung," ucap ibunda Arahan. Meski tak rela karena putranya harus menikahi gadis lain, tapi dia tak dapat berbuat apa-apa, karena dirinya pun tak bisa memaksa Ryanthi untuk tetap bersama Arshan.
Surya mengarahkan perhatian kepada Maya, yang masih menunjukkan raut terkejut atas apa yang dilakukan Vera. "Bagaimana, Ma?" tanyanya.
"Aku ikut keputusanmu, Pa. Apapun asal yang terbaik untuk Vera," jawab Maya. Ya, seperti itulah. Maya selalu mengharapkan yang terbaik untuk Vera, tanpa memikirkan yang lain.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan mengurus segala sesuatunya. Kita bisa berunding lagi nanti," putus Surya, yang langsung ditanggapi anggukan setuju dari kedua orang tua Arshan.
Sementara, Arshan menatap ke arah lain. Dia memperhatikan Ryanthi, yang berdiri di dekat pagar pembatas dekat tangga. Setitik air mata jatuh di pipi gadis itu, mengiringi keputusan besar keluarga Arshan dan keluarganya.
__ADS_1