
Dengan langkah penuh kekesalan, Arumi menuju kamar Keanu. Tanpa permisi, ia masuk begitu saja ke dalam kamar sang kakak yang kebetulan tidak dikunci.
Pada saat itu Keanu tengah berganti pakaian. Ia tengah bersiap untuk tidur. Arumi pun membalikan badannya ketika melihat Keanu yang hanya memakai celana tidurnya. Ia pun menuggu hingga sang kakak selesai berganti pakaian.
"Ada apa, Arum?" Tanya Keanu sambil memakai kaos putih dan merapikannya.
"Aku ingin bicara tentang Moedya," jawab Arumi sambil terus membelakangi Keanu.
"Dia mengadu padamu?" Tanya Keanu lagi. Ia menatap sang adik yang saat itu masih berdiri sambil menghadap ke dinding kamar.
"Aku bukan anak kecil lagi, Kak! Usiaku sebentar lagi dua puluh empat tahun," bantah Arumi. "Rasanya menggelikan melihat wajah babak belur kalian berdua!" Gumam Arumi dengan sebuah keluhan pendek dari bibirnya.
Keanu menghela napas panjang. Ia kemudian duduk di ujung tempat tidurnya seraya meletakan kaki kanan di atas paha sebelah kirinya.
"Kamu harus mengerti alasanku melakukan hal itu," Keanu mencoba untuk membela dirinya.
Arumi tidak menjawab. Ia masih berdiri sambil menghadap dinding. "Jadi apa alasan Kakak melakukan hal itu terhadap Moedya. Dia sahabatmu, dan dia juga kekasihku. Kakak fikir aku akan diam saja melihat hal itu?" Protes Arumi.
"Aku hanya menjalankan wasiat ayah," kilah Keanu.
"Tentang?" Tanya Arumi.
"Sebagai kakakmu, aku harus menjagamu dengan baik," jelas Keanu.
"Menjagaku?" Tanya Arumi lagi.
"Ya, lebih tepatnya melindungimu," Keanu memperjelas pernyataannya.
Arumi menghela napas panjang. "Melindungiku dari apa?" Tanya Arumi dengan nada bicara yang agak sinis.
"Dari pria seperti Moedya," jawab Keanu dengan yakin. "Ayo, berbalikah!" Suruh Keanu. Ia kasihan melihat Arumi yang terus-terusan berdiri menghadap tembok.
"Apanya yang salah? Moedya mencintaiku dan aku juga mencintainya. Kakak sudah tahu tentang hal itu!" Tegas Arumi seraya berbalik dan menatap Keanu yang masih duduk tenang di ujung tempat tidurnya.
"Yang aku permasalahkan bukan itu, Arum!" Bantah Keanu.
"Yeah ... i know!" Sahut Arumi dengan entengnya.
"Tidak!" Sergah Keanu seraya menghampiri sang adik. Ia berdiri di hadapan Arumi dan menatapnya tajam. "Kamu tidak tahu!" Tegasnya.
"Moedya berjanji akan menyelesaikan semuanya, Kak!" Bela Arumi.
Keanu tertawa pelan dengan nadanya yang terdengar sinis. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu tidak tahu seberapa mengerikannya wanita yang berhubungan dengannya," ujar Keanu dengan yakin.
__ADS_1
"Lalu ... Kakak sangat mengetahuinya?" Sindir Arumi.
Keanu terdiam. Ia tidak ingin membahas Nancy dengan terlalu jauh karena itu bersangkutan dengan reputasi Puspa di hadapan keluarganya.
Sebenarnya Keanu pun kebingungan dengan cara menjelaskannya kepada Arumi. Akan tetapi, ia terus berusaha memberitahu sang adik dengan kata-kata yang paling sederhana.
"Kita lihat saja, apakah Moedya benar-benar menyelesaikan urusannya yang tertunda dengan wanita itu atau tidak!" Ucap Keanu lagi.
"Dia sudah berjanji padaku," sahut Arumi. Gadis itu terus membela kekasihnya.
"Kalian sudah bersahabat sejak lama. Kakak seharusnya sudah mengetahui seperti apa karakternya. Apakah dengan saling pukul menyelesaikan masalah?"
"Lihatlah wajahmu di cermin, Kak! Kakak terlihat begitu kacau. Akan sampai kapan Kakak menghindari Ibu? Lambat laun Ibu akan mengetahuinya, atau aku sendiri justru yang akan memberitahukan hal itu kepadanya," tandas Arumi.
"Jangan bersikap bodoh, Arum!" Cegah Keanu.
"Kakak fikir apa yang Kakak dan Moedya lakukan bukanlah suatu kebodohan?" Arumi menatap tajam pria bermata abu-abu itu.
"Tindakan kalian berdua itu selain bodoh, tapi juga sangat memalukan! Kalian seperti dua pria dewasa dengan otak anak ingusan!" Umpat Arumi dengan kesal.
"Hey! Kenapa kamu malah jadi memarahiku?" Protes Keanu.
"Aku tidak memarahimu! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya dengan gayaku," Tegas Arumi.
Keanu menghempaskan napasnya dengan kesal. Ia kembali duduk di ujung tempat tidurnya dengan sedikit membungkukan badannya. Ia pun terdiam.
"Aku Kakakmu! Aku adalah pengganti ayah! Aku yang bertanggung jawab atas dirimu dan ibu saat ini!" Tegas Keanu lagi.
"Aku melakukan hal ini demi untuk melindungimu! Aku fikir kamu akan berterima kasih padaku, bukannya malah menyalahkanku seperti ini!" Keanu kembali membela dirinya.
"Aku tidak menyalahkan perhatianmu padaku, Kak! Aku sangat berterima kasih," ujar Arumi. Ia kemudian mendekati Keanu dan duduk di sebelahnya.
"Aku menyayangimu, Kak! Aku tidak ingin melihatmu celaka! Kakak fikir aku tidak sedih melihatmu terluka seperti ini?" Lirih Arumi.
"Di sisi lain, tentu saja aku juga mengkhawatirkan Moedya ...." Arumi menghela napas dalam-dalam.
"Tadi siang aku bertemu dengan ibu Ranum. Dia berharap agar aku selalu berada di dekat putranya, karena dia mengatakan jika keberadaanku membawa pengaruh yang positif untuk Moedya," Arumi terdiam untuk sejenak.
"Ibu Ranum akan kemari. Beliau ingin bertemu dengan ibu dan bicara dengannya. Tentu saja aku langsung menyetujui hal itu. Ini adalah hal yang sudah lama aku tunggu. Aku ingin melihat kedua wanita hebat itu saling bertatap muka. Mereka berdua adalah idolaku, Kak!" Arumi mengakhiri kata-katanya dengan begitu antusias.
"Dengar, Arum!" Keanu kembali berbicara.
"Kakak tidak mempermasalahkan perasaanmu terhadap Moedya. Kakak hanya tidak ingin jika kamu sampai terluka saat mengetahui kebenaran Moedya," Keanu berkilah.
__ADS_1
Arumi tampak berfikir. Ia mencoba untuk mencerna sikap berlebihan yang ditunjukan Keanu kepadanya.
"Apa yang Kakak tutupi dariku?" Selidik Arumi setelah beberapa saat mereka saling terdiam.
Keanu menundukan wajahnya. Bagaimanapun juga ia sangat mengetahui watak Arumi yang memang memliki rasa penasaran yang tinggi.
"Kamu tidak tahu siapa Nancy. Dia wanita yang sangat mengerikan, Arum," terang Keanu. Ia mencoba menjelaskan hal itu dengan pelan-pelan.
"Aku memang tidak tahu siapa Nancy dan seberapa berbahayanya wanita itu," sahut Arumi pelan.
Mereka berdua kembali terdiam dan seakan terlarut dalam fikiran masing-masing. Namun pada akhirnya, Keanu kembali membuka percakapan.
"Berjanjilah untuk tidak bicara apapun kepada ibu!" Pinta Keanu dengan sangat serius.
Arumi menatap sang kakak. Ia menunggu apa yang akan Keanu katakan kepadanya. "Aku siap mendengarkanmu, Kak!" Ucap Arumi dengan yakin.
Keanu menghela napas dalam-dalam. Ia tengah mempersiapkan dirinya.
"Arum ... Nancy adalah seorang mucikari," ungkap Keanu membuat Arumi tertegun. Gadis itu terdiam. Seketika fikirannya terasa sangat kacau ketika membayangkan Moedya menjalin hubungan dengan wanita seperti itu. Kedua bola matanya bergerak dengan tidak beraturan.
"Bagaimana Kakak mengetahui hal itu?" Pancing Arumi.
"Kakak mengetahuinya dengan jelas, karena Kakak pernah bertemu dan berbicara dengannya secara langsung," terang Keanu.
"Karena masalah Moedya?" Tanya Arumi.
"Bukan," bantah Keanu dengan segera
"Lalu?" Tanya Arumi lagi.
"Kakak menemuinya untuk ... menebus Puspa," ungkap Keanu. Akhirnya terbongkarlah jati diri Puspa yang sebenarnya.
Arumi terdiam. Ia pun menundukan wajahnya. Entah kenapa karena tiba-tiba ada getaran aneh di dalam hatinya. Ia mengerti akan maksud dari ucapan Keanu.
Moedya, Puspa, ada apa dengan mereka? Batin Arumi.
"Puspa gadis yang baik, Arum. Dia terjebak dalam dunia malam. Dia juga lah yang telah memberitahuku tentang kebenaran Moedya yang aku pun bahkan tidak mengetahuinya," jelas Keanu lagi dengan pelan.
"Apakah mereka saling mengenal?" Tanya Arumi. Ada rasa curiga dalam pertanyaannya.
"Puspa membantah jika mereka saling mengenal. Ia hanya pernah melihat Moedya dengan Nancy beberapa kali. Mereka adalah pasangan kekasih ...." berat bagi Keanu untuk menjelaskan hal itu kepada Arumi. Ia tahu jika Arumi pasti akan sangat terluka.
Arumi beranjak dari duduknya. Ia pun bermaksud untuk keluar dari dalam kamar itu. Tubuhnya terasa begitu lemas. Ia ingin segera berbaring.
__ADS_1
"Arum!" Panggil Keanu pelan.
Arumi tertegun. Ia kembali melepaskan handle pintu itu dan menoleh. "I'll be fine ... good night," ucap Arumi dengan seutas senyuman di sudut bibirnya. Ia pun memutar handle pintu itu dan keluar meninggalkan Keanu yang masih berdiri menatapnya.