Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● TIGA PULUH DUA : Kecupan Sebelum Pulang


__ADS_3

Adrian terperangah mendengar syarat yang Ryanthi berikan padanya. Pria itu menggaruk kening sesaat, lalu berkata, "Hanya itu?" tanyanya.


"Ya. Hanya itu," jawab Ryanthi meyakinkan.


"Um, baiklah. Untuk seorang lulusan teknik mesin, sepertinya itu tak akan sulit. Ya, maksudku ... itu hanya kue dan ...." Tiba-tiba, Adrian tertawa renyah. "Kenapa kamu tak sekalian memintaku untuk membuat seribu candi, lengkap dengan danau serta perahu dalam waktu semalam?" Nada pertanyaan Adrian penuh ironi. Dia bersikap seakan hal itu merupakan sesuatu yang mudah baginya.


"Jika kamu memang sanggup, maka itu akan jauh lebih bagus. Aku merasa begitu tersanjung," ujar Ryanthi menanggapi.


"Tidak. Aku rasa itu terlalu berat untuk zaman sekarang. Aku harus mengurusi pembebasan lahan, membayar para pekerja proyek, karena aku tidak akan sanggup mengerjakannya sendirian," ujar Adrian, dengan kedua tangan di dalam saku celana.


"Terserah kamu," balas Ryanthi menanggapi sambil menekan bel.


"Kenapa harus kue?" Tiba-tiba, Adrian melayangkan protes.


"Kupikir kamu sudah setuju."


"Ya, aku setuju. Namun, kenapa harus kue dan ...." Adrian belum sempat menyelesaikan kata-katanya, ketika pintu terbuka. Seorang pelayan mempersilakan mereka masuk.


"Maksudku, kenapa tidak yang lain?"


"Seperti apa?" tanya Ryanthi.


"Ya, mungkin pernyataan cinta di depan umum," jawab Adrian enteng.


"Ah, jangan berharap," tolak Ryanthi.


Mereka menghentian obrolan tadi, setelah melihat Surya muncul di sana menyambut keduanya. Surya menyalami Adrian, lalu tersenyum lembut kepada Ryanthi. Dia mengajak pria itu ke ruang tamu. Sedangkan, Ryanthi langsung ke kamarnya.


Dua cangkir minuman hangat disajikan Ratna, sang asisten rumah tangga untuk kedua pria lintas usia tersebut.


"Semoga Ryanthi tidak menyusahkan Mas Adrian," ucap Surya.


"Ryanthi gadis yang baik, tapi ... maaf. Dia agak keras kepala," balas Adrian diiringi senyum.


"Memang seperti itulah Ryanthi. Farida sudah mendidiknya dengan keras, sehingga dia tumbuh menjadi gadis yang mandiri. Namun, sangat rendah hati dan sederhana." Surya menjawab sambil tersenyum bangga, saat terkenang dengan putrinya tersebut.


"Saya pikir, Anda tidak memiliki putri selain Vera." Adrian menatap Surya dengan sorot menyelidiki. Sebenarnya, dia ingin informasi lebih mengenai Ryanthi. Adrian berharap Surya bersedia untuk sedikit bercerita tentang gadis itu.


"Tidak. Ryanthi adalah putri dari istri pertama saya. Kebetulan, kami berpisah saat usianya masih sekitar lima tahun. Beberapa waktu yang lalu, ibunya tiada. Jadi, saya tidak mungkin membiarkanny sendirian." Surya mengawali ceritanya tentang Ryanthi.

__ADS_1


"Oh, begitu." Adrian manggut-manggut. Setidaknya, ada satu poin penting yang dia dapat hari ini, tentang kehidupan masa lalu Ryanthi. Adrian berharap untuk hal lainnya akan dia dapatkan langsung dari mulut gadis itu.


Adrian ingat kembali, Ryanthi pernah mengatakan bahwa dia memang sudah kehilangan ibunya, juga kekasih yang kini menjadi suami Vera. Namun, Ryanthi tidak pernah menceritakannya secara detail. Mungkin Adrian yang harus memancing gadis itu agar mau bercerita padanya.


Adrian masih terhanyut dengan pikirannya, ketika Ryanthi datang menghampiri mereka. Dia sudah mandi dan berganti pakaian. Gadis itu terlihat sangat segar di mata Adrian, sehingga dia tak dapat mengalihkan pandangannya dari sosok gadis cantik tersebut.


Ryanthi bukannya tidak menyadari sikap Adrian padanya. Namun, dia berpura-pura tidak tahu. Ryanthi lebih fokus kepada sang ayah.


"Bagaimana pestanya hari ini?" tanya Ryanthi sambil duduk di sebelah Surya.


"Seperti yang kamu lihat tadi sebelum pergi dengan Mas Adrian. Tidak ada yang berubah sampai acaranya selesai. Kaki Ayah rasanya sampai mati rasa, karena harus berdiri lama," keluh Surya sambi mengusap-usap betisnya.


Ryanthi tertawa lebar, memamerkan sepasang lesung pipi di kedua pipinya, yang membuat dia tampak semakin manis. Tentu saja, membuat Adrian semakin betah berlama-lama menatapnya.


"Resepsi pernikahan memang sangat membosankan. Saya pernah merasakannya dulu sewaktu Andrea menikah. Tamu datang tanpa ada jeda." Adrian menimpali.


Dia berharap Ryanthi mau meliriknya sekali saja. Akan tetapi, gadis itu masih tidak memedulikanya.


"Ya, betul sekali. Saya tidak tahu Vera mengundang orang sebanyak itu di pernikahannya tadi," ujar Surya seraya menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa, Yah. Asalkan pestanya berjalan lancar. Aku minta maaf karena tadi pergi sebelum acara selesai," ucap Ryanthi tanpa menoleh kepada Adrian sedikit pun.


"Tidak apa-apa. Ayah sangat mengerti dengan hal itu," jawab Surya lembut dan pengertian.


Surya menatapnya sesaat, lalu tersenyum. Dia lalu memegang tangan Ryanthi seraya menepuk-nepuknya perlahan.


"Ayah harap, kamu menikmati hari ini bersama Mas Adrian. Beliau pria yang baik. Kami merupakan kawan satu club." Surya berkata sambil melirik Adrian, yang menanggapi ucapannya dengan senyum kalem.


Sanjungan yang dilontarkan Surya, membuat Adrian berani mengutarakan niatnya.


"Sebenarnya, ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda," ucap Adrian sambil melirik Ryanthi sekilas.


"Oh, tentu. Silakan. Jangan sungkan dan jangan terlalu formal, karena kita tidak sedang berada di ruang rapat direksi," gurau Surya yang langsung membuat Adrian kembali tersenyum.


"Um, begini. Kebetulan, mama saya mengundang Ryanthi untuk makan malam di rumahnya minggu ini. Namun, Ryanthi ingin agar saya meminta izin langsung kepada Anda. Jadi, kira-kira bagaimana menurut Anda?" tanya Adrian seraya melirik Ryanthi. Adrian bersyukur, karena pancingannya berhasil.


Ryanthi akhirnya melirik Adrian, meski dengan mata melotot. Dia tidak menyangka bahwa Adrian akan membahas masalah itu secara langsung dengan Surya. Sedangkan, Adrian masih duduk santai dengan senyum dan gayanya yang khas.


Surya menoleh kepada Ryanthi sesaat, sebelum mengalihkan pandangannya kepada Adrian, yang masih menunggu jawaban darinya. "Ryanthi selalu tahu dengan apa yang harus dia lakukan," jawab Surya.

__ADS_1


Pria paruh baya itu kemudian kembali menoleh kepada gadis cantik yang ada di sebelahnya.


"Kenapa kamu harus menyuruh Mas Adrian untuk meminta izin kepada Ayah segala? Ayah tidak akan melarang apapun yang kamu lakukan, selama bersama seseorang yang Ayah yakin dapat menjagamu dengan baik. Ayah rasa, Mas Adrian tahu bagaimana cara melakukan itu," ujar Surya, yang kembali membuat Adrian melambung tinggi. Pria itu tersenyum lebar penuh kemenangan dan sangat puas.


Ryanthi memaksakan diri untuk tersenyum, ketika mendengar kata-kata dari ayahnya. Dia tidak tahu harus menjawab apa, karena saat itu yang dirinya inginkan hanyalah mengajak Adrian keluar dari ruang tamu dan memarahinya habis-habisan.


Ryanthi berpikir sejenak. Kebetulan, saat itu terdengar dentangan jam sebanyak sembilan kali. Sebuah ide muncul di benak Ryanthi.


"Adrian, bukannya besok kamu harus keluar kota pagi-pagi? Sebaiknya, kamu segera pulang dan istirahat. Apalagi, kamu suka sekali menyetir sendiri kemana pun seperti ayahku," ucap Ryanthi bersikap sangat lembut.


Adrian tersenyum manis kepada Ryanthi. Dia tahu bahwa gadis itu akan segera berpidato panjang lebar di hadapannya. Adrian akan sangat menyukai hal itu, karenanya dia langsung setuju untuk segera berpamitan.


Adrian berpamitan kepada Surya. Pria paruh baya tersebut mengantarnya sampai pintu. Dia tidak mau berlama-lama berdiri di sana, karena takut mengganggu dua sejoli itu.


"Bagus sekali. Apa maksudmu mengatakan itu di depan ayahku?" tanya Ryanthi kesal. Dia berdiri sambil melipat tangan di dada.


Adrian kembali menutup pintu mobil. Dia mengurungkan niat untuk masuk. Adrian menatap gadis itu dengan ketenangan maksimal.


"Hari ini, kamu menjadi orang yang paling menyebalkan untukku! Pertama, kamu dengan seenaknya memarahiku! Kedua, kamu minta maaf dengan mudah dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa! Ketiga, kenapa kamu harus cari muka di hadapan ayahku? Memangnya kamu sudah kehabisan ide lain yang lebih baik dari ini?" Ryanthi memarahi Adrian, meski dengan suara pelan karena takut menimbulkan kegaduhan.


Adrian tidak menjawab. Dia hanya berdiri dengan sikapnya yang tenang.


"Aku sudah mengatakan, bahwa diriku tidak akan ikut makan malam di rumah mamamu. Apa kamu tidak mengerti juga? Harus dengan cara apa aku menjelaskannya agar kamu dapat memahami hal itu?" lanjut Ryanthi lagi.


Adrian tidak bicara apapun. Dia hanya menanggapi kekesalan Ryanthi dengan sikap yang sama seperti tadi. Kali ini, Adrian malah tersenyum kepada gadis itu.


Melihat sikap Adrian yang seolah-olah tidak menanggapi kemarahannya, Ryanthi menjadi semakin jengkel. "Kenapa kamu ini? Aku marah-marah dan kamu malah senyum-senyum. Kamu pikir aku sedang melawak? Benar-benar keterlaluan!" gerutu Ryanthi kesal. Dia langsung membalikan badan, sehingga jadi membelakangi Adrian.


Sementara, Adrian masih menatapnya dengan senyuman yang tidak berubah sejak tadi.


"Aku lebih suka dimarahi seperti ini, daripada harus melihatmu diam dan tidak mau bicara sedikit pun kepadaku," ucapnya lembut.


Ryanthi tertegun mendengar ucapan Adrian barusan. Dia suka dengan kata-katanya, tapi Ryanthi tetap harus tahan harga, dengan tidak menggubris Adrian sama sekali. Ryanthi justru terus memasang wajah cemberut.


"Sebenarnya, aku masih ingin bicara banyak denganmu. Namun, ada yang menyuruhku untuk segera pulang dan istirahat. Aku harus menghargai seseorang yang sudah sangat peduli padaku." Adrian mengakhiri kata-katanya, dengan sindiran yang membuat Ryanthi menjadi salah tingkah.


Adrian kemudian maju. Dia berdiri di hadapan Ryanthi. Gadis itu menoleh dan menatapnya sejenak, sebelum benar-benar meleleh karena tiba-tiba Adrian mencium keningnya cukup lama. Ryanthi tidak dapat berbuat apa-apa, selain memejamkan mata, hingga Adrian mengakhiri adegan romantis tersebut.


"Jangan marah. Akan kubuatkan kue yang paling enak untukmu. Jika rasanya tidak enak, kita akan berikan kue itu kepada Vera dan suaminya, sebagai hadiah pernikahan mereka," celetuk Adrian enteng.

__ADS_1


Ryanthi mengulum bibir menahan tawa, saat mendengar kata-kata Adrian yang konyol dan keterlaluan tadi. Dia hanya menunduk, menyembunyikan paras cantiknya yang merona karena malu.


"Aku pulang dulu, Selamat malam," bisik Adrian. Dia masuk ke mobil, lalu menyalakan mesinnya. Setelah itu, Adrian pergi diiringi tatapan Ryanthi dan Arshan, yang sejak tadi menjadi penonton adegan romantis Adrian dan Ryanthi. Arshan menyaksikannya dari balkon tempat biasa Ryanthi merenung.


__ADS_2