Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Berdamai Dengan Kenangan


__ADS_3

Malam ini Moedya tidak tidur di bengkelnya. Ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Suasana hatinya sedang kacau saat ini. Apa yang ia lihat kemarin malam, memang sesuatu yang sangat menyebalkan bagi dirinya.


"Bagaimana bengkelmu, Jun?" tanya Ranum setelah selesai makan malam. Mereka kini tengah duduk santai di ruang keluarga.


Moedya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. Akan tetapi, sesaat kemudian ia pun beranjak dari duduknya.


"Aku mau merokok dulu," ucapnya seraya berlalu dari ruang keluarga itu.


"Apa ada masalah?" tanya Ranum yang telah berhasil membuat Moedya menghentikan langkahnya.


Moedya pun menoleh. Ekspresi wajahnya kian datar saja. Pria bertato itu kemudian menggeleng. "Tidak ada, Bu," jawabnya datar. "Aku hanya sedikit lelah," lanjutnya.


Ranum menatap lekat putra semata wayangnya. "Bagaimana jika besok kita keluar," cetus Ranum. "Kamu bisa menutup bengkelmu untuk sehari saja, kan?" tanyanya.


Moedya tidak langsung menjawab. Ia tampak berfikir. Sesaat kemudian, ia pun mengangguk. "Boleh," jawabnya. "Di bengkel masih ada teman-temanku," lanjutnya.


Ranum beranjak menghampiri Moedya. Ia berdiri di hadapan putranya.


Disentuhnya wajah yang selalu mengingatkan dirinya kepada mendiang sang suami. Ia pun mencium lembut kening dan pipi Moedya.


"Jika sudah siap, berceritalah kepada Ibu!" ucapnya. Ia seakan tahu jika saat ini Moedya tengah merasa gundah.


"Meskipun kita jarang sekali berbincang, akan tetapi bukan berarti Ibu tidak tertarik untuk mendengar sesuatu darimu," lanjut Ranum.


Moedya menatap sang ibu yang selalu terlihat awet muda. Wanita itu memang selalu berpenampilan modis, yang membuatnya tampak selalu ranum.


"Bukan hal yang penting, Bu," jawab Moedya.


"Seremeh apa hal yang telah membuat putra Ibu terlihat resah seperti ini?


Jangan cengeng! Atau Ibu akan menyuruhmu memakai salah satu baju yang Ibu gambar!" celoteh wanita bermata indah itu.


Moedya tertawa pelan. "Ibu mau melihatku memakainya?" tanya Moedya.


"Ya, mungkin sesekali pada karnaval di hari kemerdekaan," jawab Ranum dengan seenaknya.


"Lebih baik kuberikan untuk pacar orang lain," celetuk Moedya. Ia seakan tengah memberikan sebuah clue kepada Ranum.


"Hmmm ...." Ranum melipat kedua tangannya di dada dengan wajah yang seakan mengerti akan sesuatu. Ia dapat menangkap maksud dari celetukan putra semata wayangnya itu.


Moedya memalingkan wajahnya melihat sikap yang ditunjukan oleh Ranum kepadanya. Hal itu telah mengingatkannya kepada Arumi.


"Kita lanjutkan saja perbincangan ini lain kali. Aku mau merokok dulu," Moedya mencoba untuk menghindari perbincangan itu. Ia tahu jika Ranum pasti akan bertanya yang lebih jauh lagi tentang ucapannya tadi.


"Melarikan diri saja. Ibu tahu kamu pasti akan melakukannya," tukas Ranum.


Moedya hanya menanggapinya dengan tertawa. Tanpa menjawab ucapan sang ibu, ia pun merunduk dan pamit selayaknya seorang pelayan terhadap permaisurinya.


Ranum tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ulah putra bungsunya itu.


Saat ini baru jam sembilan lewat tiga puluh malam. Akan tetapi, suasana sudah begitu sepi.


Asap tipis mengepul dari rokok yang baru saja disulut oleh Moedya. Ia kini sedang berdiri sendiri dan setengah membungkukan badannya pada teralis pembatas lantai tiga rumahnya.

__ADS_1


Tatapannya menerawang jauh menembus langit gelap pada Kamis malam itu. Ia kembali teringat kepada Arumi.


Gadis itu berkali-kali mencoba menghubunginya selama seharian ini, namun dengan sengaja ia mengabaikannya.


Moedya merasa tertipu oleh sikap manis Arumi. Akan tetapi, saat ini akhrinya ia mengetahui karakter asli dari gadis itu. Ternyata Arumi bukanlah seorang pribadi yang spesial, yang ia cari selama ini.


Jika ia ingat-ingat, pria yang kemarin malam berciuman dengan Arumi penampilannya tidak terlalu jauh dengan Keanu. Moedya dapat menebak jika pria itu pasti berprofesi sama dengan kawan baiknya itu.


Ya, pria seperti itulah yang menjadi incaran dari banyak gadis.


Moedya kembali mengepulkan asap rokoknya ketika ia mendengar ponselnya berdering. Ia pun segera merogoh benda tipis itu dari dalam saku celana jeansnya.


Sebuah panggilan masuk dari Arumi.


Sebenarnya, Moedya ingin sekali menjawab panggilan itu. Akan tetapi rasa kesal dalam hatinya, telah membuatnya mengurungkan kembali keinginannya.


Ia membiarkan ponsel itu untuk terus berdering hingga lebih dari tiga kali. Sesaat kemudian, sebuah pesan pun masuk. Moedya membuka pesan itu dan membacanya.


Ada apa? Apa masalahmu denganku?


Sebuah pesan dari Arumi.


Moedya tidak berniat untuk membalas pesan itu. Ia biarkan saja, dan ia kembali pada asap rokoknya.


Terdengar ponsel itu kembali berdering. Moedya pun memeriksanya. Sebuah panggilan masuk kembali melainkan bukan dari Arumi, tapi dari kontak bernama Delia.


Moedya pun kembali mengabaikan panggilan itu. Saat ini ia sedang tidak ingin bicara dengan siapapun.


Malam kian larut. Rasa kantuk itu tak jua datang menyapa Moedya. Ia masih betah menikmati kesendiriannya dalam keheningan malam.


Begitu pula dengan Arumi. Hatinya kini sangat gelisah. Ia tidak tahu apa yang terjadi kepada Moedya. Pria itu tiba-tiba menghindar setelah berhasil mencium dirinya.


"He is such a bastard!" gerutu Arumi. Ia sungguh kesal dengan sikap Moedya kepadanya.


Samar-samar, Arumi mendengar Keanu yang tengah berbicara dengan seseorang di telepon. Obrolannya terdengar begitu mesra.


Arumi menghela napas dalam-dalam. Ternyata Keanu hanya terlihat dingin di permukaan saja. Jika sudah berhadapan dengan seorang wanita, ia tetaplah seorang pria normal yang tak ubahnya dengan Adrian, sang ayah.


...🕊 🕊 🕊...


Keesokan harinya.


Ranum berdiri diantara empat pusara yang berderet rapi dengan berlapis marmer berwarna putih.


Di sebelahnya, berdiri Moedya yang masih setia dengan kaos oblong putih dan gaya rambut man bun nya.


Ketiga pusara itu tampak terawat dengan begitu baik. Berada di deretan paling ujung adalah pusara dengan nama Ibrahim Wangsanagara. Itu merupakan pusara milik mendiang ayah Ranum.


Di bagian tengah adalah pusara dengan nama Nurmaida. Wanita itu meninggal setelah Moedya berusia tiga tahun, karena sakit-sakitan.


Berada di deretan ketiga adalah pusara dengan nama Hastari. Sudah jelas jika itu adalah pusara ibu kandung Ranum, yang hanya ia ketahui wajahnya dari selembar foto. Ranum baru memindahkan makam ibu kandungnya, setelah hampir setahun dari kematian Nurmaida.


Tatapan wanita bermata indah itu, kini tertuju pada pusara terakhir yang membuat hatinya terasa begitu hancur. Ia tak kuasa menahan air matanya, jika sudah di hadapkan pada nisan dengan nama Pramoedya Aryatama.

__ADS_1


Ia adalah si pemberi warna dalam hidupnya, sekaligus seseorang yang telah kembali merenggut warna itu untuk selamanya.


Betapa hatinya sangat terguncang saat itu, ketika dengan tiba-tiba ia harus menerima kabar tentang kematian Arya, sang suami tercinta.


Masih terekam dengan jelas dalam ingatan Ranum pada hari itu. Itu adalah hari Kamis yang paling menyedihkan dalam hidupnya.


Sore itu, Ranum masih berada di butiknya ketika ia mendapat telepon dari pihak rumah sakit, yang mengabarkan bahwa Arya tengah berada disana dalam kondisi kritis.


Kecelakaan parah yang dialaminya, telah membuat pria itu berada dalam kondisi antara hidup dan mati.


Motor yang ia kendarai mengalami kerusakan yang sangat parah, setelah bertabrakan dengan sebuah truk kontainer yang dikabarkan mengalami rem blong.


Melihat kondisi motornya, Ranum tak dapat membayangkan seperti apa beratnya luka yang dialami Arya saat itu.


Yang pasti, saat ia tiba di rumah sakit, Arya sudah dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis yang menanganinya.


Hancur dan terpuruk, itulah yang ia rasakan saat itu. Pria yang sangat ia cintai telah pergi untuk selamanya, tanpa sempat berpamitan kepada dirinya.


Ranum meratap dan memohon agar Tuhan segera mengembalikan pria itu kepadanya. Akan tetapi, semua tangisan yang ia keluarkan tidak dapat mengubah apapun juga.


Siapa yang dapat merubah takdir Yang Maha Kuasa? Dia adalah penentu dari segala yang ada di alam semesta ini.


Untunglah karena Ranum masih diberi kesadaran, dan tidak sampai mengalami depresi kembali. Ia masih memiliki tanggung jawab yang besar, amanat dari Arya yang paling berharga, yaitu Moedya.


Siapa sangka jika kini putra semata wayangnya itu, tumbuh dengan menjadi duplikat nyata dari sang ayah.


Ranum mengusap air mata yang menetes di balik kaca mata hitamnya. Air matanya seolah tidak pernah habis ketika ia harus mengenang seorang Arya. Kesedihan itu seakan tak mau beranjak dari lubuk hatinya yang paling dalam, padahal sudah sekian lamanya waktu berlalu.


"Bu ...." Moedya merangkul pundak Ranum dengan hangat. "Ayah sudah tenang, jangan mengusiknya dengan air mata yang Ibu teteskan!" ucap Moedya dengan perlahan.


"Jadilah pria yang baik seperti ayahmu, Juna!" lirih Ranum.


"Tentu. Aku akan selalu berusaha untuk bisa menjadi seperti ayah. Karena beliau selalu dikenang oleh seorang wanita hebat seperti Ibu. Maaf jika selama ini terkadang aku sering mengabaikan dan membiarkan Ibu sendirian di rumah. Aku berjanji ... setelah ini, aku akan pulang setiap hari."


Ranum menggumam pelan. Ia mengelus lembut wajah Moedya yang berada di atas pundaknya.


Hari semakin siang. Sang surya pun kian meninggi dan membuat cahayanya yang panas, menimbulkan keengganan bagi sebagian orang untuk keluar dari dalam rumah mereka.


Sepulang dari berziarah, Moedya menyempatkan untuk mampir ke bengkel. Ia mengajak serta Ranum bersamanya.


"Aku hanya sebentar, apa Ibu ingin turun dulu?" tanya Moedya seraya melepas sabuk pengamannya.


"Tidak usah!" tolak Ranum. "Ibu tunggu disini saja," ucapnya.


Sebenarnya Ranum lebih sering menolak jika Moedya mengajaknya untuk ke bengkel itu. Bengkel peninggalan Arya itu menyimpan begitu banyak kenangan untuknya, meskipun bengkel itu sudah direnovasi total.


"Moed, ada tamu," ucap salah seorang teman Moedya.


"Siapa?" tanya Moedya.


"Es teh manis," jawab temannya yang lain. Mereka pun tertawa. Sementara Moedya hanya terdiam. Ia mencoba menerka siapakah tamu yang disebut 'es teh manis' oleh teman-temannya.


Moedya segera naik ke lantai dua bengkel itu. Sesampainya disana, ia hanya tertegun melihat Arumi sedang duduk manis, menunggu kedatangannya.

__ADS_1


__ADS_2