
Ryanthi tersentak. Ia pun segera membuka matanya. Ditatapnya sekeliling kamar itu, tak ada siapa pun disana selain dirinya.
Ryanthi mengehela napas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan dirinya dan berfikir. Kepalanya terasa sakit, mungkin karena ia terlalu banyak menangis semalam.
Untuk sejenak, diliriknya buku yang semalam ia dekap erat hingga tertidur. Buku itu sudah terbuka dengan halamannya yang baru.
Ryanthi menatap buku itu dengan lekat. Ada secarik kertas diantara halaman itu, ia pun segera meraih kertas yang masih terlipat dengan rapi dari sana.
Perlahan dibukanya lipatan kertas itu. Tampaklah tulisan tangan Adrian disana dalam beberapa baris.
Ryanthi, My lovely wife
Sayang, sebenarnya aku tidak berharap jika kamu sampai membaca surat ini. Karena jika sampai itu terjadi, maka artinya aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Aku tidak akan menuliskan ungkapan cintaku padamu, karena kamu sudah sangat mengetahui hal itu. Sejak dulu hingga saat ini, bahkan hingga nyawaku terlepas dari ragaku, perasaanku padamu masih tetap sama dan tidak akan pernah berubah sama sekali.
Sayang, jika kamu menemukan surat ini, maka aku minta padamu tolong lanjutkan halaman dari buku ini yang belum sempat aku selesaikan. Aku rasa itu bukan tugas yang terlalu berat untukmu, kan?
Ya, aku tahu kamu sangat sibuk. Aku tahu jika kamu lebih mencintai kue daripada buku. Akan tetapi, sempatkanlah waktu untukku. Karena saat kamu membuka dan membaca buku ini, maka anggap saja jika aku sedang berada di dekatmu.
Aku tidak ingin kamu merasa kesepian. Kedua anak kita sudah besar dan memiliki urusan masing-masing.
Aku sedih, karena belum ada satu pun dari mereka yang memintaku untuk berdiri di pelaminan. Akan tetapi, tak apa. Aku hanya berharap jika kamu bisa bertahan, untuk dapat mendampingi mereka nanti.
Sayang, sampaikan salamku untuk Keanu. Katakan padanya agar lebih baik jika ia mencari pacar gadis lokal saja yang bersahaja sepertimu.
Juga untuk Arumi. Berikan kunci mobilnya yang selama ini menjadi haknya. Selalu ingatkan dia agar berkendara dengan hati-hati. Dia sama keras kepalanya denganmu. Akan tetapi dia setingkat di atas dirimu, karena dia berani duduk di belakang kemudi.
Namun, itu bukan masalah bagiku. Karena dengan begitu, maka kamu akan selalu membutuhkanku dan memintaku untuk menemanimu kemanapun kamu pergi.
Sayang, aku tidak punya sesuatu yang lain yang bisa kuberikan untukmu. Semuanya telah kamu miliki, karena kamu adalah cinta terbesar dalam hidupku. Samudera luas ini, sudah kamu taklukan hanya dengan sebuah perahu kecil.
Peluk cium untuk kalian bertiga. Anugerah yang sangat berharga di dalam hidupku.
^^^Your husband,^^^
^^^Adrian.^^^
Ryanthi kembali menyeka air mata yang terjatuh di atas sudut bibirnya. Kenyataan ini memang pahit, namun harus ia terima dengan lapang dada.
__ADS_1
Adrian telah pergi. Ya, dia telah pergi membawa cinta abadi dalam dirinya. Ryanthi pun meraih buku itu. Ia meletakan kembali surat itu diantara lembar halamannya.
Perlahan Ryanthi turun dari tempat tidur. Ia lalu berdiri di depan cermin dan menatap dirinya dalam pantulan cermin itu. Dirabanya wajahnya sendiri. Ya, ini memanglah dirinya. Ryanthi dengan usia setengah abad.
Ryanthi bukan gadis belia lagi yang akan terbuai dalam perasaan, dari sesuatu yang tengah menimpanya. Terlebih karena Adrian telah berulang kali melarangnya untuk tidak menangisi kepergiannya.
Sementara di bagian lain dari rumah itu, Arumi tengah sibuk membantu bibinya menyiapkan sarapan.
"Ibumu belum turun?" tanya wanita berambut pirang yang dipanggil tante oleh Arumi. Ia berbicara dalam bahasa Perancis kepada Arumi.
"Belum, Tante. Aku tidak mau mengganggu ibu. Biarkan saja dia menenangkan dirinya dulu. Dia tidak terlihat baik sejak semalam," tutur Arumi.
"Kami semua pun sangat berduka atas kepergian Adrian. Akan tetapi, dia tiada di tanah kelahirannya sendiri. Tante rasa, dia telah pergi dengan tenang," balas wanita berambut pirang yang tiada lain adalah Brigitte, adik sepupu Adrian dan merupakan istri dari Emmanuele.
"Ya, Tante. I know," jawab Arumi. Ia tidak melanjutkan perbincangan itu karena Ryanthi tiba-tiba muncul disana.
Arumi pun segera menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat. "Hi, Mommy. Good Morning. How are you today?" sapa Arumi dalam bahasa Inggris, karena Ryanthi sebenarnya tidak terlalu menguasai bahasa Perancis meskipun ia telah lama menikah dengan Adrian.
"Hi, Honey. I'm fine, thank you," jawab Ryanthi. Ia pun duduk di sebelah Arumi. "Kemana kakakmu?" bisiknya lagi kepada gadis itu.
"I don't know. Kakak sudah menghilang sejak tadi. Mungkin dia sedang lari pagi," jawab Arumi dengan gayanya yang memang terkesan tak acuh.
"Ryanthi, bagaimana jika setelah sarapan kita pergi berjalan-jalan di dekat pantai?" tawar Brigitte dalam bahasa Perancisnya yang kental.
"Good idea" ujar Arumi seraya mencicipi makanan yang ada di dalam piring. Namun, ia segera menghentikan tingkahnya itu karena Emmanuele datang untuk bergabung.
"Morning," sapa pria dengan perawakan yang tidak jauh berbeda dengan Adrian itu. Ia pun duduk di kursinya selaku kepala keluarga.
"Morning, Oncle," sahut Arumi.
Emmanuele pun melirik Ryanthi yang masih memilih untuk tidak banyak bicara. "Hi, Ryanthi. Are you okay?" tanyanya dengan penuh perhatian.
Ryanthi menoleh. Ia memaksakan dirinya untuk tersenyum. "I'm fine. Tidak perlu khawatir," jawab Ryanthi pelan.
Emmanuele dan Brigitte pun saling pandang. Mereka sangat mengerti dengan apa yang tengah Ryanthi rasakan saat itu. Emmanuele pun mengalihkan pembicaraan pada hal lainnya.
"Kemana Keanu? Dia tidak ikut sarapan?" tanya Emmanuele kepada Brigitte yang duduk di kursi dekatnya.
"Menurut Arumi mungkin dia sedang lari pagi," jawab wanita berambut pirang itu.
__ADS_1
Emmanuele pun manggut-manggut. "Bagaimana kabar tante Camille? Kapan dia akan pulang dari rumah sakit?" tanya Emmanuele lagi.
Arumi dan Ryanthi saling pandang mendengar nama wanita tua itu disebut. Camille adalah wanita tua yang sangat menyebalkan. Usianya sudah sangat senja, akan tetapi ia dikaruniai dengan umur yang panjang. Mendapat anugerah umur panjang yang dimilikinya, tidak lantas membuat wanita itu dapat bersikap manis kepada orang-orang di sekelilingnya. Entah apa yang menyebabkan dirinya bersikap seperti itu.
Satu yang pasti, Ryanthi dan Arumi hanya berharap agar saat wanita tua itu keluar dari rumah sakit, maka mereka telah kembali ke Indonesia. Terdengar agak jahat memang, akan tetapi itu adalah hal yang paling baik menurut mereka.
Seusai sarapan, ketiga wanita itu berjalan-jalan di dekat dermaga. Melihat segala aktivitas disana dengan pemandangannya yang sangat indah.
Anginnya cukup kencang saat itu, namun itu tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang Arumi lihat tanpa sengaja.
Dari kejauhan tampaklah Keanu yang tengah berbincang santai dengan seorang wanita berambut pirang. Penampilan wanita itu cukup seksi dengan bentuk tubuhnya yang memang sangat ideal.
Arumi terdiam dan berfikir. Ia sepertinya mengenal siapa wanita itu.
Akan tetapi, karena cuaca yang kian beranjak panas, akhirnya mereka bertiga pun memutuskan untuk pulang.
Arumi terus terdiam mengingat-ingat wanita yang sedang berbicara dengan Keanu tadi. Ia sangat yakin dengan dugaannya kali ini. Namun akan lebih baik, jika ia menanyakannya langsung kepada sang kakak.
Malam pun akhirnya telah tiba, kebetulan Keanu tampak tengah bersantai di lantai atas rumah itu. Ia tengah asik menikamti hamparan laut biru dari sana.
"Hai, Kak!" sapa Arumi seraya berdiri di sebelah Keanu.
Keanu menoleh sesaat. Setelah itu, ia kembali menatap lautan luas yang sejak tadi menjadi titik fokusnya. Tidak ada perbincangan diantara mereka. Kedua kakak beradik itu tengah
terhanyut dalam fikirannya masing-masing.
"Rasanya seperti mimpi. Aku tidak percaya jika ayah telah tiada," sesal Arumi sesaat setelah mereka berdua saling membisu. "Aku baru bisa menghabiskan waktu lagi dengannya setelah tiga tahun. Sungguh mengecewakan," lanjut gadis itu.
Keanu menghela napas dalam-dalam. "Kakak bersamanya setiap hari. Kami terbiasa membahas banyak hal, terutama masalah pekerjaan. Kakak merasa sangat kehilangan dia ...." Keanu menundukan wajahnya. Terdengar helaan napas berat dari mulutnya. Ia seakan tengah berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak sampai terlalu larut dalam kesedihan.
"Ini memang keinginan ayah. Dia sudah sering mengatakan hal itu kepada kami, jika ia ingin meninggal dan dimakamkan disini. Kedengarannya sangat konyol dan ... ini sangat kebetulan," tutur Keanu.
"Aku akan sangat merindukannya," balas Arumi dengan lirihnya.
"Kita semua akan sangat merindukannya," sela Ryanthi yang tiba-tiba hadir disana.
Serentak Arumi dan Keanu pun menoleh.
"Ibu ...." Arumi menyambut kehadiran Ryanthi disana dengan sebuah pelukan.
__ADS_1
Setelah itu, ia mengajak Ryanthi untuk ikut bergabung. Mereka pun berdiri dengan tenang disana, menikmati angin dan pemandangan laut di malam hari.
"Ibu rasa, mulai saat ini ... Ibu akan lebih sering datang ke kota ini," ujar Ryanthi. Ia berbicara dengan sikapnya yang sangat tenang. Mencoba untuk terlihat tegar dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan.