Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● DUA PULUH SATU : Keputusan Sulit


__ADS_3

Dengan langkah tertunduk, Ryanthi membuka pintu rumah. Dia ingin segera mandi dan berganti pakaian. Ryanthi sudah tak tahan memakai baju Adrian, yang terlalu besar untuknya. Namun, baru saja masuk, terdengar seseorang memanggilnya. Ryanthi tertegun, lalu menoleh.


Surya berdiri dengan ekspresi serius. Membuat Ryanthi menghela napas panjang. Dia yakin bahwa Vera pasti sudah mengadukannya. "Dari mana saja kamu?" tanya Surya. "Kamu tidak pulang semalaman?" tanya Surya sambil berjalan mendekat. Diperhatikannya Ryanthi yang berpenampilan aneh.


"Baju siapa ini?" tanya Surya lagi.


Ryanthi tidak menjawab. Dia hanya menunduk.


Tanpa diduga, tiba-tiba Maya datang dan langsung menampar pipi sebelah kanan Ryanthi dengan sangat keras.


"Maya! Apa yang kamu lakukan?" bentak Surya.


"Tamparan itu belum seberapa, jika dibandingkan dengan rasa sakit yang dialami Vera!" Maya terlihat sangat murka.


"Papa lihat sendiri kemarin. Vera pulang dengan hidung dan mulut berdarah gara-gara Ryanthi! Gadis yang terlihat naif, tapi aslinya tidak lebih dari seorang berandalan!" caci Maya lagi penuh emosi.


"Jaga mulutmu!" tunjuk Surya ke depan wajah Maya.


"Mentang-mentang dia anakmu, lantas kamu membenarkan apa yang sudah dilakukannya? Ryanthi tidak pulang semalaman! Lihatlah! Entah baju siapa yang dipakainya sekarang?" protes Maya.


Surya mengalihkan perhatian kepada Ryanthi. "Pergilah ke kamarmu," suruhnya dengan nada yang lebih rendah.


Ryanthi mengangguk, kemudian berlalu dari sana.


Kini tinggallah Surya dan Maya. "Kamu sudah bertindak sangat keterlaluan! Aku tidak akan pernah memaafkanmu, jika sampai berani berbuat seperti itu lagi terhadap putriku!" ancam Surya tegas.


"Kenapa Papa sekarang malah membelanya?" protes Maya lagi.


"Jika bukan aku yang membelanya, lalu siapa lagi? Dengar! Aku sudah menyayangi Vera seperti putriku. Namun, itu bukan berarti aku akan memanjakannya seperti yang selalu kamu lakukan! Tanyakan pada putrimu, apa yang membuat Ryanthi sampai membuatnya seperti itu. Jika memang Ryanthi yang mengawali dan terbukti bersalah, maka aku yang akan memberi hukuman padanya. Bukan kau atau siapa pun. Pahami itu!" tegas Surya seraya berlalu.


Ryanthi telah selesai mandi dan berganti pakaian. Namun, dia tidak ingin ke manapun. Ryanthi lebih memilih duduk di tempat tidur sambil termenung. Dia tak memedulikan memar di pipinya, akibat tamparan keras Maya. Untuk sejenak, Ryanthi teringat kepada Arshan. Entah apa yang tengah pria itu lakukan.


Sesaat kemudian, terdengar suara ketukan di pintu. Surya muncul dari baliknya. "Boleh masuk?" tanya Surya. Tanpa menunggu jawaban, pria itu tetap masuk, lalu menghampiri Ryanthi. "Bagaimana keadaanmu sekarang?"


"Biasa saja," jawab Ryanthi malas.


"Bagaimana dengan luka dekat matamu?"


"Aku tidak akan mati hanya karena luka sekecil ini," jawab Ryanthi datar.


Surya menghela napas panjang, lalu menyentuh pucuk kepala Ryanthi. Dia bermaksud hendak mengelusnya. Namun, gerakan pria itu terhenti, karena Ryanthi mengaduh. "Kenapa?" tanyanya cemas.


"Kepalaku terbentur dinding kemarin," jawab Ryanthi.

__ADS_1


Surya menautkan alisnya karena tak mengerti. "Ceritakan pada Ayah," pintanya.


"Dari mana kamu belajar berkelahi? Ayah tidak pernah membayangkan, kamu bisa memukul Vera hingga babak belur begitu."


Ryanthi tersenyum kecil. "Aku sangat puas bisa melakukan itu. Tadinya, aku bahkan akan merontokan semua gigi Vera, tapi aku tak tega," ujar Ryanthi.


"Ya, Tuhan." Surya berdecak pelan.


"Alangkah eloknya jika kalian bicara baik-baik. Ayah tidak tahu ada masalah apa antara kalian berdua. Namun, tidak sepantasnya seorang berbuat seperti itu. Apalagi, kalian berdua sudah dewasa," tegurnya lembut.


Ryanthi mendengarkan semua nasihat sang ayah. Dia tahu, bahwa dirinya sudah bertindak sangat brutal. "Jangan memintaku untuk minta maaf kepada Vera." Ryanthi seakan tahu maksud dari ucapan Surya.


"Jangan meminta maaf jika kamu merasa itu akan merendahkan harga dirimu. Namun, apa yang kamu dapat? Apakah harga dirimu merasa semakin terangkat setelah apa yang kamu lakukan padanya?"


"Ayah tidak tahu seperti apa kelakuan Vera. Dia ...." Ryanthi tidak melanjutkan kata-katanya. Gadis itu memilih h diam.


Surya manggut-manggut. "Ayah akan bicara padanya," ucap Surya seraya beranjak dari tempat tidur.


"Vera tidak bercerita apapun?" tanya Ryanthi penasaran.


Surya menggeleng. "Dia hanya mengatakan bahwa kamu memukulnya." Surya kembali tertawa pelan. "Istirhatlah! Kamu terlihat sangat lelah." Setelah mencium kening Ryanthi, Surya keluar dan menutup pintu kamar.


Seperti biasa, malam itu Ryanthi tidak bisa tidur. Dia memutuskan keluar dan berdiri di balkon. "Apa Ayah sudah tidur jam segini?" gumam Ryanthi pelan. Padahal, saat itu belum terlalu malam.


"Vera!" panggil Ryanthi.


Vera tertegun. Dia menoleh. Ekspresi wajahnya terlihat gugup. Tanpa memedulikan panggilan Ryanthi, dia bergegas masuk ke kamar. Tanpa diduga, Ryanthi mengikutinya.


"Kenapa mengikutiku? Jangan ganggu aku!" sergah Vera. Dia duduk di kursi dekat jendela.


Bukannya keluar, Ryanthi malah mendekat. Dia menatap Vera dengan beberapa luka lebam yang dialaminya, membuat Ryanthi merasa iba. "Maaf," ucap Ryanthi.


"Aku tidak tahu kenapa kamu harus mengganggu hubunganku dengan Arahan," sesal Ryanthi. "Kamu sudah menikmati semua yang menjadi hakku. Rumah, ayah, dan kebahagiaan."


"Karena dia kekasihmu" jawab Vera ketus. Ryanthi terdiam mendengar jawaban Vera. "Aku tidak mengerti, kenapa kamu memiliki semua yang tidak kumiliki."


"Maksudmu?"


"Ya. Kamu punya ayah yang sangat baik. Ibu yang mendidikmu dengan benar. Sementara aku? Awalnya aku hanya berniat menggoda Arshan agar dia meninggalkanmu. Namun, dalam beberapa hari mengenalnya, aku rasa jika dia adalah pria yang sangat tepat untukku," jelas Vera.


"Tepat untukmu?" Ryanthi tidak mengerti.


Vera tidak menjawab. Dia hanya menunduk, lalu terisak pelan.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kamu menangis?" tanya Ryanthi lagi.


Vera masih terdiam. Bibirnya mulai bergetar menahan perasaan yang tidak dapat dia ungkapkan. Namun, sepertinya terlalu berat jika harus dipikul sendiri. Akhirnya, Vera menyerah. "Aku hamil," jawabnya dengan suara bergetar.


Ryanthi terperanjat mendengar pengakuan mengejutkan gadis itu. "Apa kamu yakin?" tanya Ryanthi ragu. "Ta-tapi, kamu ... kamu baru mengenal Arshan kemarin-kemarin. Bagaimana bisa kamu hamil secepat itu?" Ryanthi benar-benar tak mengerti. Keluhan pendek meluncur dari bibir Ryanthi. Sepertinya, dia memang harus benar-benar mengakhiri hubungan dengan Arahan.


"Maafkan aku Ryanthi." Tanpa diduga, Vera merangkul Ryanthi. Dia menangis dalam pelukan gadis itu.


"Apa itu benar-benar bayinya Arshan?" tanya Ryanthi meyakinkan. Dia juga tak menolak untuk membalas pelukan Vera.


"Bukan," jawab Vera sambil melepas pelukannya.


Ryanthi dapat sedikit bernapas lega. "Lalu, siapa ayah bayi itu?" selidiknya.


Vera tidak langsung menjawab. Dia hanya terisak. Vera terlihat sangat takut.


"Sebenarnya, aku sendiri tidak yakin siapa ayah dari bayi dalam kandunganku ini." jawab Vera yang hanya bisa tertunduk malu.


Seketika Ryanthi berdiri dan melotot pada gadis yang kini menyembunyikan wajahnya. "Gadis murahan! Di mana harga dirimu?" sentak Ryanthi. "Apa yang akan terjadi jika ayah sampai tahu tentang keadaanmu? Kenapa kamu selalu memikirkan diri sendiri? Kenapa kamu tidak memikirkan reputasi orang tuamu?" Ryanthi begitu marah dengan kelakuan Vera, yang tidak bisa menjaga kehormatannya dan keluarga


"Aku mohon jangan sampai papa tahu tentang hal ini. Aku bahkan tidak memberitahu mama. Dia pasti akan membakarku hidup-hidup jika sampai mengetahui hal ini," pinta Vera. Dia bersimpuh di hadapan Ryanthi.


Ryanthi merasa tidak enak hati melihatnya. Namun, dia juga merasa sangat jijik dengan apa yang sudah dilakukan Vera selama ini.


Akan tetapi, lagi-lagi rasa iba mengalahkan segala kemarahan dalam diri Ryanthi. Terlebih, karena Vera terus memohon padanya. "Aku mohon Ryanthi. Bantulah aku. Bujuklah Arshan agar bersedia menikahiku!" pinta Vera sambil terus terisak.


Ryanthi terbelalak mendengar permohonan gila dari Vera. "Jangan gila kamu! Kamu ingin Arshan yang bertanggung jawab atas kehamilanmu ini? Bagaimana bisa kamu menjebak pria sebaik dia, untuk membayar hasil dosamu dengan pria lain? Kamu bahkan tidak tahu siapa yang harus bertanggung jawab atas kehamilanmu!" Ryanthi kembali tak dapat mengendaikan emosi atas pikiran gila Vera.


"Justru karena Arshan pria yang baik, maka aku sangat menginginkannya. Aku mohon Ryanthi. Arshan pasti akan bersedia jika kamu yang memintanya. Aku mohon, Ryanthi. Bantulah aku." Vera ambruk dan terduduk di lantai. Dia terus menangis.


Ryanthi menatap tajam gadis yang tengah bersimpuh di hadapannya. Tidak ada lagi Vera yang dulu angkuh dan sombong. Tak terlihat lagi Vera yang selalu berdiri sambil bertolak pinggang serta mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Gadis yang ada di hadapan Ryanthi sekarang, hanyalah seseorang yang putus asa dengan kelanjutan hidupnya.


Ryanthi mengembuskan napas berat. Dia memang sudah berniat untuk mengakhiri hubungan dengan Arshan. Alasannya jelas, karena pria itu telah berkhianat.


Namun, Ryanthi tak berpikir bahwa dia harus membantu Vera, menyeret pria yang pernah dicintainya tersebut ke dalam lingkaran kemelut yang Vera ciptakan sendiri dalam hidupnya.


"Apa yang harus kulakukan, Tuhan?" gumam Ryanthi sambil mendongak ke langit. Ditatapnya selimut malam berwarna pekat itu.


"Haruskah aku membantu Vera? Dengan begitu, aib dalam keluarga pun akan tertutupi. Lalu, bagaimana dengan perasaan Arshan dan keluarganya?" pikir Ryanthi lagi.


"Ibu. Apa yang terjadi dalam hidupku? Kenapa rasanya begitu tidak adil." Ryanthi tertunduk. Dia ingin sekali menangis. Namun, sentuhan lembut di pundak telah mencegahnya. Ryanthi segera menoleh. Tepat di belakang gadis itu, telah berdiri seorang wanita yang tak lain adalah Farida.


"Ibu?" Ryanthi menautkan alis. Dia tak yakin bahwa wanita itu benar-benar ada di hadapannya. "Bagaimana Ibu bisa ...."

__ADS_1


"Terkadang, hidup membawa kita pada banyak pilihan sulit. Namun, kamu harus tetap memilih salah satu dan mengorbankan yang lain. Saat ini, mungkin itu akan terlihat seperti kesalahan. Namun, suatu saat ini hikmah dari keputusan keliru yang kamu ambil, bisa kamu dapatkan. Kamu akan merasa bersyukur karenanya," tutur Farida.


__ADS_2