
Rasa cemas menyelimuti perasaan Ryanthi, sebelum dirinya keluar dari privat lift yang menuju ke ruang apartemen Adrian. Hingga pintu lift terbuka, gadis itu masih merasa aneh. Terakhir dia datang ke sana, saat melihat pemandangan yang membuatnya menjaga jarak dari Adrian.
"Hey!" panggil Adrian. Pria itu berdiri dekat pembatas yang terbuat dari kaca di lantai dua. "Naiklah," suruhnya.
Ryanthi langsung mendongak. Awalnya dia hanya mematung. Sesaat kemudian, gadis itu menurut. Dia tahu bahwa Adrian akan memintanya menemani bermain PS.
Namun, perkiraan Ryanthi ternyata keliru. Adrian mengambil gitar, lalu memainkannya. Dia memetik senar alat musik akustik itu, sambil menyanyikan lagu yang sangat indah. Siapa sangka, bahwa Adrian memiliki suara merdu bagaikan penyanyi profesional.
"Kamu pandai bernyanyi," sanjung Ryanthi, saat Adrian sudah menyelesaikan lagu pertama.
"Sekadar hobi," balas Adrian. "Lagu apa yang kamu sukai?" tanyanya.
"Entahlah," jawab Ryanthi bingung.
Adrian tersenyum kalem. Dia kembali memetik senar gitar itu, kemudian melantunkan satu bait lagu. The Way You Look At Me - Christian Bautista. Adrian membawakannya sambil memandang Ryanthi penuh cinta.
Ryanthi terhanyut dalam alunan merdu itu. Hatinya begitu teriris. Dia menatap Adrian penuh penyesalan. Tanpa terasa air mata mulai menetes.
"Kenapa menangis?" tanya Adrian cemas. Dia segera melatakkan gitar itu, lalu menghadapkan tubuh sepenuhnya kepada Ryanthi. Adrian menangkup paras cantik gadis yang kini telah bersedia menjadi kekasihnya.
Ryanthi segera menggeleng. Dia berusaha tersenyum. Ingin rasanya mengatakan apa yang menjadi tujuan dia datang ke sana. Namun, bibir Ryanthi terasa kelu. "Aku hanya menyukai lagu yang kamu bawakan. Apakah itu untukku?" kilahnya.
"Tentu saja," jawab Adrian seraya mengecup lembut kening Ryanthi. "Ayo," ajaknya. Pria itu berdiri, lalu menarik tangan Ryanthi.
"Ke mana?"
"Kamu harus memasakan sesuatu untukku," jawab Adrian enteng. "Bukankah kamu kemari untuk itu?" lanjutnya. Dia terus menuntun Ryanthi menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Ryanthi kembali tertegun. Sementara, Adrian mulai membuka kulkas. Dia berdiri mematung dan tampak bingung. Sepertinya, Adrian tengah memilih sesuatu yang akan dimasak hari ini.
Sementara, Ryanthi jusru asyik memperhatikan sang pemilik apartemen mewah itu. Adrian begitu indah dan memesona. Dia sangat sempurna.
Tanpa sadar, Ryanthi tersenyum kecil. Dia tak menyangka bahwa Adrian akan menoleh secara tiba-tiba. Hal itu membuat Ryanthi langsung salah tingkah. Terlebih, karena Adrian melangkah ke arahnya.
Tanpa permisi, Adrian mengangkat tubuh Ryanthi. Dia mendudukannya di meja, sama seperti ketika di dapur Indira.
Namun, kali ini Ryanthi tidak terlalu tegang. Dia sudah mulai terbiasa dengan hal itu.
"Apa yang kamu lakukan? Memperhatikanku secara diam-diam? Nakal." Adrian menjitak kening Ryanthi karena gemas.
"Kamu terlalu percaya diri. Aku hanya menyukai lemari es milikmu," kilah Ryanthi yang langsung merasa bodoh atas ucapannya.
"Alasan macam apa itu?" ujar Adrian seraya memicingkan mata. "Aku ingin menanyakan sesuatu."
"Apa?"
Adrian terdiam sejenak. "Berapa lama kamu dan Arshan berpacaran?"
Ryanthi menautkan alisnya mendengar pertanyaan barusan. Dia tidak mengerti kenapa Adrian menanyakan hal itu padanya. "Memangnya kenapa?" Ryanthi balik bertanya.
"Aku hanya ingin tahu," jawab Adrian tenang.
__ADS_1
"Aku rasa, mungkin sekitar dua tahun," jawab Ryanthi ragu.
"Dua tahun? Itu artinya, sudah banyak hal yang kalian lakukan selama itu," tukasnya.
"Maksudmu? Aku tidak seperti mantan pacarmu. Sedangkan, Arshan bukanlah pria sepertimu. Dia selalu minta izin sebelum melakukan apapun. Ketika aku menyuruhnya mundur, maka dia pasti menurut. Berbeda denganmu. Saat kusuruh mundur, kamu justru semakin mendekat."
"Itu artinya, aku jauh lebih pemberani dibandingkan mantan kekasihmu. Bukankah kamu lebih suka pria sepertiku?" ujar Adrian penuh percaya diri.
"Siapa yang memohon untuk tetap bersamaku?" sindir Ryanthi puas. "Lagi pula, Arshan adalah pria yang sangat sibuk. Dia bekerja dari Senin hingga Jum'at. Dari pagi sampai sore. Arshan hanya memiliki waktu libur pada hari Sabtu. Terkadang, dia mengeluhkan tentang pekerjaannya."
"Contohnya?" Adrian mulai tertarik dengan penuturan Ryanthi.
"Apa lagi jika bukan masalah gaji. Kesejahteraan, bonus. Sementara, kesibukan malah semakin meningkat. Aku tidak mengerti dengan pemilik pabrik tempatnya bekerja. Apa orang itu tidak punya hati sedikit saja untuk lebih memperhatikan kesejahteraan karyawannya? Sepertinya, dia malah sibuk memperkaya diri? Menurutku, pemilik pabrik itu lebih pantas disebut sebagai penjajah, daripada sebagai pengusaha." Ryanthi tertawa dalam hati, saat melihat perubahan sikap Adrian.
"Ya, sudah. Kita masak saja," tutup Adrian.
Ryanthi segera turun dari meja. Dia membuka kulkas, lalu mengambil beberapa bahan.
"Kamu berbelanja sebanyak ini?" tanya Ryanthi sambil mencuci beberapa sayuran.
"Iya. Um ... maksudku Wati yang berbelanja," jawab Adrian gugup.
"Kenapa? Kamu terlihat gugup setelah kita membicarakan Arshan. Ada sesuatu yang salah?" pancing Ryanthi.
"Tidak ada," jawab Adrian singkat.
Ryanthi tersenyum kecil. Dia melanjutkan pekerjaannya.
Ryanthi menoleh, lalu tersenyum. Dia terlihat tenang.
"Kamu tidak terkejut?" tanya Adrian heran.
Ryanthi kembali menoleh. Dia menggeleng kencang.
Adrian semakin mendekat. Pria itu berdiri di belakangnya. Adrian meletakkan dagu di pundak sebelah kanan Ryanthi. "Kenapa kamu tidak terkejut?" tanyanya heran.
Ryanthi menoleh ke samping, di mana wajah Adrian berada. Gadis itu tertawa pelan. "Karena aku sudah tahu," jawabnya.
Mendengar jawaban Ryanthi, akhirnya Adrian paham bahwa gadis itu ternyata sengaja mengerjainya. Ulah Ryanthi yang demikian, membuat Adrian merasa gemas. Tanpa ampun, dia balik mengerjai gadis itu dengan menggelitiknya, hingga Ryanthi berteriak agar Adrian menghentikan kejahilannya.
Entah kapan acara masak itu akan selesai? Karena mereka malah sibuk melakukan hal lain. Seandainya ada yang bertanya tentang tempat yang menjadi favorit mereka, maka jawabannya sudah pasti dapur.
................
Arshan membanting pintu kamar. Dia keluar dengan perasaan marah yang luar biasa. Wajahnya terlihat merah karena menahan amarah. Sedangkan, deru napasnya memburu.
Ryanthi yang kebetulan sudah bersiap untuk tidur, merasa terganggu. Dia juga penasaran dengan apa yang terjadi antara Arshan dan Vera.
Ryanthi memutuskan keluar dari kamar. Dia melangkah menuju kamar Vera yang kebetulan berada tepat di sebelah. Gadis itu menempelkan telinga di pintu. Sayup-sayup, terdengarlah suara isakan Vera.
Ryanthi memberanikan diri mengetuk pintu.
__ADS_1
"Ver!" panggilnya tidak terlalu nyaring. Namun, tak ada jawaban dari Vera. Hal itu membuat Ryanthi merasa penasaran. Dia memutar gagang pintu, lalu masuk. Tampaklah Vera yang sedang tidur menghadap ke kiri.
Ryanthi segera menghampiri, lalu berdiri tidak jauh darinya. Sesaat, Ryanthi memperhatikan wanita itu. Vera tampak begitu sedih dan sakit hati, sampai-sampai dia menangis segukan.
Ryanthi yang merasa iba berjalan lebih dekat. Dia duduk di tepian tempat tidur, tepat di dekat Vera. "Ada apa?" tanyanya pelan.
Vera tidak menjawab. Dia menoleh sesaat kepada Ryanthi, sebelum kembali menatap lurus. Sorot mata wanita yang tengah mengandung itu tampak kosong.
"Apa kalian bertengkar gara-gara aku?" Ryanthi kembali bertanya. Dia berharap, semoga kali ini Vera mau berbicara padanya.
Namun, ternyata Vera tetap memilih bungkam.
"Aku minta maaf jika kalian bertengkar karena aku," ucap Ryanthi penuh sesal. Sementara, Vera masih tetap diam.
Melihat sikap Vera yang seperti itu, Ryanthi dapat memahami dengan baik. Vera mungkin sedang ingin sendiri. Ryanthi lalu bangkit dari duduknya. "Ya, sudah. Sebaiknya, kamu istirahat saja. Jangan lupa minum vitamin. Jangan terlalu banyak pikiran," ucapnya seraya berbalik. Dia melangkah hendak keluar kamar.
Namun, langkah Ryanthi seketika terhenti, karena tiba-tiba Vera mencegahnya.
"Tunggu Ryanthi."
Ryanthi tertegun, lalu menoleh. Tampak Vera yang berusaha bangun. Ryanthi segera menghampiri, kemudian membantunya.
"Hati-hati," ucap Ryanthi, karena Vera bangun dengan agak tergesa-gesa.
Ryanthi membantu Vera duduk. Dia memasang bantal di belakang wanita itu sebagai pengganjal punggung. Kali ini, Vera tampak sudah nyaman dengan posisi duduknya. Akan tetapi, wajah putri sambung Surya tersebut tampak lusuh dengan mata merah. Kelihatannya, dia sudah terlalu lama menangis.
"Ada apa, Ver?" tanya Ryanthi, seraya memberikan segelas air putih.
Vera menerimanya. Dia meneguk beberapa kali. Wanita itu terlihat sangat kehausan. Vera termenung. Sesekali, dia terisak meskipun sudah tampak jauh lebih tenang.
Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Vera mulai bicara. "Aku memang bertengkar dengan Arshan, tapi itu semua tidak ada hubungannya denganmu," ucap putri kandung Maya itu, sambil memegangi perut yang sudah semakin membesar.
"Lalu, kenapa? Tadi, aku mendengar Arshan membanting pintu. Sepertinya dia sangat marah."
Vera mengangguk pelan. "Dia memang marah besar padaku. Alasannya, karena aku tidak mau diajak pindah ke rumahnya," jelas Vera. Matanya kembali berkaca-kaca.
Ryanthi terkejut, karena tiba-tiba Arshan ingin membawa Vera tinggal di rumahnya. Memang kenapa jika mereka tinggal di rumah itu?
"Kenapa tiba-tiba Arshan mengajakmu pindah?" Ryanthi bertanya dengan penuh keheranan.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Namun, aku menolaknya. Karena itulah, Arshan langsung marah. Dia bahkan mengancam akan menceraikanku," tutur Vera pilu.
Mendengar hal itu, Ryanthi sontak bangkit. Wajahnya menyiratkan rasa tak suka, atas sikap Arshan terhadap Vera. Sebagai seorang wanita dan merupakan saudarinya, jelas dia merasa tersinggung dengan sikap pria itu.
"Kenapa Arshan sangat keterlaluan padamu? Bicaralah baik-baik dengannya. Aku yakin, pasti akan ada jalan keluar." Ryanthi mencoba menengahi perselisihan mereka berdua.
Vera kembali terisak. Dia menangis lagi.
Ryanthi segera menghampiri, lalu menggenggam tangannya. "Sudahlah. Jangan bersikap seperti ini. Pikirkan bayi yang ada dalam kandunganmu. Jangan terlalu dijadikan beban. Aku yakin jika nanti sudah tenang, Arshan pasti akan meminta maaf padamu. Barulah setelah itu, kalian bicara dengan baik-baik." Ryanthi mencoba menenangkan Vera, sambil terus tersenyum. Dia berharap ada energi positif yang mangalir pada wanita yang sedang hamil tersebut.
Vera hanya menatap Ryanthi tanpa berkata apa-apa. Lagi-lagi, dia merasa sangat bersyukur memiliki saudari seperti Ryanthi. Vera segera memeluk hangat Ryanthi. "Terima kasih untuk semuanya."
__ADS_1