Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Di Penghujung Senja


__ADS_3

Moedya menghentikan tawanya. Ia lalu menghela napas dalam-dalam. Kembali diliriknya gadis cantik yang masih berdiri di sebelahnya itu.


"Berapa jarak usiamu dengan Keanu?" tanya Moedya dengan suaranya yang begitu dalam.


Arumi menoleh kepada pria dengan tato di pergelangan tangan kanannya itu untuk sesaat. Setelah itu, ia kemudian mengalihkan tatapannya pada air danau yang tenang.


"Usiaku sekarang hampir dua pulih tiga tahun. Memangnya kenapa?" Arumi balik bertanya.


"Tidak apa-apa," jawab Moedya dengan tenangnya. Ia pun menggumam pelan. "Aku fikir ... kamu jauh lebih dewasa dari itu," lanjut Moedya seraya membungkukan badannya. Ia memungut sebuah kerikil dan melemparkannya ke tengah danau.


Kerikil itu pun meloncat di atas air sebanyak tiga kali, menimbulkan riakan kecil yang berurutan.


Arumi tersenyum lebar. Ia kembali memperhatikan pria yang kini asik melemparkan kembali kerikil kecil itu ke tengah danau.


Arumi bertepuk tangan dengan riang. Tingkahnya seperti anak kecil yang sedang diajak bermain oleh ayahnya.


"Hebat," pujinya. "Bagaimana kamu bisa melakukan hal itu?" tanya Arumi dengan penuh penasaaran.


"Mau mencoba?" tawar Moedya.


Arumi pun mengangguk pelan. Ia lalu menerima kerikil yang disodorkan Moedya kepadanya.


"Coba kamu lemparkan seperti ini ...." Moedya memberikan contoh untuk gadis muda itu. Arumi pun segera mengikutinya, akan tetapi sudah lebih dari tiga kali, nyatanya Arumi tak juga berhasil membuat kerikil itu melompat di atas air.


"Payah!" gerutu Arumi dengan wajah yang kecewa.


Moedya tertawa pelan. "Kamu menyerah?" tanyanya.


Arumi terdiam dan berfikir. Ia kemudian merebut sebuah kerikil kecil dari tangan Moedya. Dengan konsentrasi yang tinggi ia mencoba sekali lagi. Gadis itu, benar-benar tengah memfokuskan dirinya pada apa yang akan ia lakukan.


Sesaat kemudian, ia lalu mulai melemparkan kerikil kecil itu ke tengah danau dan luar biasa, kerikil kecil itu kini tampaknya mulai ingin bersahabat dengannya.


Arumi melonjak kegirangan. Tawa riang pun terdengar jelas meluncur dari bibir classic brown nya.


Moedya tersenyum dengan kalemnya melihat sikap berlebihan Arumi saat itu. Baginya itu hal yang sangat biasa, tapi bagi Arumi itu adalah sesuatu yang sungguh luar biasa.


Namun, Moedya pun teringat saat ia mendapatkan lemparan pertamanya. Luapan kegembiraannya hampir sama persis dengan Arumi saat ini. Apalagi, saat itu usianya baru sekitar sepuluh tahun. Itulah saat pertama kali Arya mengajarinya melakukan permainan kerikil seperti itu.


Senja mulai turun menyapa kedua insan itu. Moedya berdiri dengan setengah bersandar pada motornya. Ia terus memperhatikan Arumi yang terlihat sangat asik dengan suasana tempat itu.


"Aku suka tempat ini," ujar Arumi. Ia menoleh kepada Moedya yang tengah menatapnya.


"Nikmati saja. Gratis," sahut Moedya. Ia pun menghampiri gadis itu.


"Aku sering kemari saat sedang merasa suntuk dengan hari-hariku," ucap Moedya dengan wajah yang sedikit datar.


"Siapa yang sering kamu ajak kemari?" pancing Arumi.


Moedya menatap gadis dengan sanggul asal-asalan itu. Ia pun tersenyum simpul.


"Tidak ada," jawabnya singkat.


Arumi mengalihkan tatapannya dari wajah tampan itu. Ada rasa tidak percaya jika Moedya tidak memiliki 'seseorang' dalam hidupnya.

__ADS_1


"Aku tidak yakin ...." gumam Arumi.


Moedya masih melayangkan tatapannya kepada Arumi. Entah kenapa karena ia merasa tidak bosan untuk terus menatapnya.


"Wajahmu cukup mirip dengan ibumu. Apakah Keanu juga mirip dengan ayahmu?" tanya Moedya.


"Entahlah. Aku tidak pernah membandingkan mereka berdua. Yang pasti, ayahku adalah pria yang sangat tampan. Aku sering melihat foto-foto masa mudanya," jawab Arumi. Ia tersenyum sendiri. Entah apa yang telah membuatnya seperti itu.


"Apa kamu sangat dekat dengan ayahmu?"tanya Moedya lagi. Ia seperti tengah menginterogasi Arumi.


"Ya ... bisa dikatakan seperti itu," jawab Arumi. "Ayah dan ibuku selalu berusaha untuk mendekatkan diri mereka denganku ataupun kakakku. Kami sering pergi berlibur bersama dulu, sebelum aku berangkat ke Paris dan menghabiskan masa tiga tahunku disana," tutur Arumi.


"Paris?" Moedya mengerutkan alisnya.


"Ya," jawab Arumi. "Aku belum genap satu bulan berada disini," lanjutnya.


"Lalu ... apa yang kamu lakukan disana?" tanya Moedya lagi.


"Belajar," jawab Arumi. Ia kemudian menatap Moedya dengan cukup intens.


"Aku ingin mengikuti jejak ibuku. Dia wanita yang sangat hebat, dengan segala kegigihan dan kerja kerasnya," ujar Arumi dengan senyum bangga di wajahnya.


"Ayahku pernah mengatakan jika ibuku memang terlihat lemah lembut. Akan tetapi, di balik semua sifatnya itu, ibuku adalah wanita dengan karakter yang sangat keras dan juga pendiriannya yang kuat," tutur Arumi lagi.


"Ibuku selalu mengatakan, jika kedua orang tuaku menyekolahkanku sampai ke jenjang yang paling tinggi, atau bahkan hingga ke universitas terbaik di luar negeri ... itu bukanlah agar aku atau pun kakakku bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus dan menjadi seorang pegawai dengan gaji yang tinggi. Mereka ingin agar kami dapat bertahan dengan segala kompetensi yang kami miliki," terang Arumi. Ia bercerita dengan begitu tenang seolah-olah ia sudah benar-benar mengenal dekat sosok Moedya.


"Ya, memang seharusnya seperti itu," Moedya membenarkan penuturan dari Arumi.


"Lalu ... apa yang ingin kamu lakukan untuk menghabiskan hari tuamu?" tanya Arumi. Sebenarnya itu merupakan pertanyaan yang bagus, akan tetapi terdengar sedikit aneh bagi Moedya. Pria itu pun tertawa pelan.


"Yang pasti ... aku ingin menghabiskan masa tuaku dengan tenang, tanpa harus memikirkan pekerjaan. Mungkin aku akan menghabiskan waktuku dengan memancing atau berkeliling dengan kendaraan yang sudah di modifikasi," Moedya kembali tertawa pelan.


"Tentu saja, aku ingin menghabiskan masa tuaku dengan seseorang yang aku cintai. Istriku. Ibu dari anak-anakku. Nenek dari cucu-cucuku ... temanku dalam berbagi segala hal," Moedya mengakhiri kata-katanya dengan sebuah helaan napas yang dalam.


"Terdengar sangat sempurna," gumam Arumi. Ia menanggapi penuturan Moedya.


Sesaat mereka berdua terdiam. Moedya dengan fikirannya sendiri, dan Arumi dengan perasaan damainya pada senja itu.


"Semua orang menyukai kisah dengan happy ending. Terkadang mereka tidak menyadari, jika sebuah perpisahan yang dramatis juga dapat melukiskan tentang kisah cinta yang begitu dalam. Terlebih jika seseorang yang ditinggalkan itu selalu menjaga cintanya dengan baik. Menjaga kesetiaan hingga tiba saatnya ia benar-benar harus pergi," terang Moedya. Wajahnya tampak datar dan sedikit sendu.


Arumi terus memperhatikan si pemilik wajah itu. Ia mencoba menerka apa yang kini tengah ada di dalam fikiran pria dengan kaos oblong abu-abunya.


Mungkinkah ada rasa yang sedang berkecamuk di dalam dadanya? Arumi terus memperdalam penglihatan mata batinnya.


"Apa kamu sedang merasa sedih, Moemoe?" tanya Arumi dengan tiba-tiba.


Moedya menoleh dan menatap lekat gadis itu. Ia begitu cantik dan terlihat sempurna. Tatapan manja yang Arumi tujukan untuk dirinya, sungguh telah menggelitik hatinya sebagai serang pria normal yang terbiasa hidup dengan banyak cinta.


"Siapa yang telah tega meninggalkanmu?" tanya Arumi lagi dengan suaranya yang setengah berbisik


Moedya tidak segera menjawab. Ia masih terus menatap gadis dengan senyum indah, yang dihiasi oleh sepasang lesung pipi yang membuatnya tampak semakin manis.


Tatapan mereka berdua pun terus beradu. membuat naluri kelelakian dalam diri Moedya kian meronta. Ia begitu penasaran dengan adik dari sahabat dekatnya itu.

__ADS_1


Perlahan Moedya mengerakan tangannya ke belakang leher Arumi yang dihiasi oleh kalung platina kecil.


Arumi pun hanya terdiam dan membiarkan tangan itu meremas lembut tengkuk kepalanya. Ia bahkan kini mulai memejamkan matanya ketika Moedya mulai mendekatkan wajah tampannya kepada dirinya.


******* napas itu dapat ia dengar bahkan ia rasakan dengan jelas menghangat di wajahnya. Jantungnya pun mulai berdetak dengan jauh lebih cepat dari biasanya.


Arumi merasakan tubuhnya tiba-tiba lemas dan tak bertenaga ketika wajah itu semakin dekat. Arumi pun mulai merasakan bibir itu menyentuh bibirnya dan ....


Moedya tiba-tiba menghentikan adegan yang hampir membuat Arumi mati lemas itu. Ia menarik wajahnya kembali ke belakang dan menjauh dari wajah Arumi.


Arumi pun segera menundukan wajahnya. Ia mengulum bibirnya dengan perasaan yang campur aduk saat itu. Debaran jantungnya masih terasa memacu dengan kencang. Apa yang hampir terjadi baru saja, sungguh sesuatu yang membuat Arumi menjadi semakin gelisah.


"Maaf ...." terdengar suara Moedya yang begitu dalam. Ia pun terlihat tidak nyaman dengan apa yang hampir saja terjadi.


"Iya. Ti- tidak apa-apa," jawab Arumi dengan agak terbata.


"Oh ... God! Apa-apaan ini?" batin Arumi.


Senja semakin mendekati malam. Moedya pun mengajak Arumi untuk pulang.


Tidak ada percakapan selama di dalam perjalanan petang itu. Mereka kembali terhanyut dalam fikiran masing-masing.


Udara pun kian terasa dingin, apalagi saat itu Arumi tidak memakai jaket yang tebal.


"Mendekatlah, agar kamu tidak terlalu kedinginan!" suruh Moedya dan membuat Arumi tersipu malu.


Namun, pada akhirnya gadis itu pun melingkarkarkan tangannya pada pinggang Moedya. Ia pun mendekatkan tubuhnya, bahkan hingga melekat erat pada punggung berbalut jaket kulit berwarna hitam itu.


Moedya menghela napas dalam-dalam ketika ia dapat merasakan detakan jantung Arumi dengan cukup jelas.


Konsentrasinya sedikit terganggu ketika ia mendapati dagu gadis cantik itu, kini telah berada dengan sangat nyaman di atas pundaknya.


Arumi bukanlah gadis pertama yang melakukan hal itu, akan tetapi kenapa ia harus merasa begitu gelisah?


Moedya tetap berusaha untuk terus berkonsentrasi, hingga akhirnya mereka pun tiba di depan sebuah rumah mewah dengan pintu gerbang yang tinggi dan terlihat sangat kokoh.


Arumi melepaskan pelukannya. Ia pun segera turun dari atas motor. Melepas helmnya, ia lalu menyodorkan helm itu kepada pemiliknya.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang," ucap Arumi dengan lembut.


Moedya tersenyum seraya mengagguk pelan. "Ini rumahmu?" tanyanya.


Arumi mengangguk. "Kamu belum pernah kemari?" ia bertanya balik.


"Belum," jawab Moedya singkat. "Aku sudah lama berteman dengan Keanu. Tetapi, biasanya dia yang datang ke bengkelku," jelasnya.


Arumi manggut-manggut. "Ya, sudah. Sekarang sudah malam. Aku tidak ingin membuat ibuku cemas," Arumi bermaskud untuk pamit dan masuk.


Moedya menatapnya dengan cukup intens. Ia pun kemudian mengangguk.


"Sampai bertemu lagi, Miemie," ucap Moedya diselingi senyum geli.


Arumi menutupi mulutnya dengan telapak tangannya. Ia tampak menahan tawa saat mendengar Moedya memanggilnya dengan sebutan "Miemie".

__ADS_1


__ADS_2