Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Adrian dan Masa Lalu Ryanthi


__ADS_3

Hari ini Arumi sudah tampil cantik dengan skinny jeans 7/9 nya, dengan atasan blouse lengan pendek berwarna cokelat muda.


Seperti biasa, gadis itu menggulung rambutnya dengan asal-asalan, sehingga beberapa lembar anak rambutnya jatuh dan menutupi leher jenjangnya yang berhiaskan kalung platina kecil.


Dengan tas kecil yang melintang di pundaknya, Arumi pun menuruni deretan anak tangga dengan desain mewah itu.


"Hai, Sayang!" sapa Adrian. Ia sudah bersiap dengan kemeja putihnya dan berdiri di dekat sebuah koper berwarna biru navy.


Arumi segera menghampiri sang ayah. Ia pun menggandeng lengan pria yang telah berusia enam puluh tahun lebih itu.


"Kenapa Ayah begitu tampan?" goda Arumi seraya melirik sang ayah dengan nakalnya.


Adrian melirik balik putri bungsunya itu. "Jangan merayu Ayah dengan cara seperti itu! Ibumu pasti tidak akan menyukainya!" tolak Adrian dengan gaya khasnya.


Arumi tersenyum manja seraya terus menatap sang ayah dari sampingnya. "Pantas saja jika ibu akan selalu cemburu, karena ... dilihat dari sudut manapun ... Ayah terlihat sangat mempesona," rayu Arumi lagi seraya meletakan tangannya di pundak sang ayah.


"Jadi, parfume yang itu? Apa ya namanya, Ayah lupa?" Adrian tampak berfikir.


Arumi pun membisikan sesuatu di telinga Adrian. "Oh ... iya, Ayah tahu itu," ucap Adrian seraya manggut-manggut.


"Jangan dituruti, Yah!" terdengar suara Keanu yang baru turun dari kamarnya. Hari ini pria itu pun terlihat sangat tampan dengan kemejanya.


"Wow ... aku merasa sangat bahagia dikelilingi pria-pria tampan seperti ini," goda Arumi dengan tawa lepasnya yang berbalas sebuah tepukan pelan di keningnya.


Seketika Arumi merengut. Ia lalu mendelik kepada sang kakak.


"Sudah siap, Yah?" tanya Keanu. "Mana ibu?" tanyanya lagi.


Adrian menghempaskan napas pelan. Ia memberi isyarat kepada putra sulungnya itu.


"Ayah rasa dia akan keluar dalam lima belas menit lagi," jawab Adrian.


Ya, memang seperti itulah Ryanthi. Ia akan selalu menjadi orang yang terakhir muncul jika mereka akan pergi keluar.


"Kenapa tidak segera dipanggil, Yah? Jangan sampai Ayah ketinggalan pesawat nanti!" saran Keanu.


"Baiklah!" sahut Adrian. Ia pun berlalu dari sana.


Sepeninggal Adrian, Arumi pun mendekati sang kakak.


"Aku yakin, saat ini ibu pasti sedang berdiri termenung di dekat jendela kaca karena memikirkan ayah yang akan pergi," celoteh Arumi membuat Keanu kembali menepuk kening gadis itu.


Apa yang Arumi katakan memang benar adanya. Ryanthi tengah berdiri di dekat jendela kaca kamarnya. Sepasang matanya menerawang jauh. Entah apa yang tengah menjadi titik fokusnya saat itu.


Ryanthi seakan tidak disana. Fikirannya melayang ke sebuah negara di bagian Eropa Barat itu. Ia kembali teringat akan perpisahannya dengan Adrian puluhan tahun silam.


Kehidupan Ryanthi seakan tidak pernah dapat dilepaskan dengan negara pemilik menara Eiffel tersebut.


Ryanthi tersadar. Semua lamunannya seketika buyar ketika ia merasakan ada sebuah pelukan hangat dari arah belakangnya.

__ADS_1


"Kenapa?" terdengar bisikan lembut Adrian di telinganya.


"Aku tidak akan melihatmu untuk dua minggu ke depan," jawab Ryanthi lirih.


Adrian tertawa pelan. Ia semakin mempererat pelukannya. "Aku rasa kita tidak akan kehilangan komunikasi," ujarnya dengan tenang. "Kamu tahu, Sayang? Terkadang, aku sangat merindukan masa muda kita."


"Yang mana?" tanya Ryanthi. Ia melirik wajah Adrian yang berada tepat di sebelah kanannya.


"Dulu. Ketika aku harus berkali-kali berlutut di hadapanmu. Kamu sangat keras kepala, tapi aku sama sekali tidak berniat untuk pergi darimu," tutur Adrian.


Ryanthi tertawa pelan. "Apakah aku sekeras itu?"


"Ya. Aku merasa sangat jengkel dan marah. Akan tetapi, perasaan cintaku jauh lebih besar dari kedua rasa itu. Kamu sudah berhasil mengubah segalanya dan aku ... aku tidak akan pernah berhenti untuk bersyukur, karena Tuhan telah mengirimkan wanita keras kepala ini dalam hidupku," tutur Adrian dengan senyum kalemnya.


"Kamu menjadi sangat religius sekarang," sindir Ryanthi.


"Ya, aku sudah semakin tua," ujar Adrian.


"Harus selalu ada perbaikan dalam hidupku. Aku sangat bahagia, karena dapat menjalani hari tuaku denganmu, dengan Keanu dan Arumi. Mereka berdua ... aku harap Arumi tidak keras kepala sepertimu. Jangan sampai dia membuat pria yang mencintainya menjadi pusing tujuh keliling," gurau Adrian membuat Ryanthi tertawa pelan.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu. Dua minggu itu bukan waktu yang lama, tapi bagiku itu pasti akan terasa lama," resah Ryanthi.


"Apa kabar dengan penantianku selama tiga tahun?"


Mendengar hal itu tiba-tiba Ryanthi menjadi terisak. Ia teringat akan kehidupannya dahulu. Semuanya terasa begitu menyakitkan.


Kerinduan terhadap sang ayah. Kematian Farida. Tentu saja, perpisahan tiga tahunnya dengan Adrian yang terasa begitu menyiksa.


Sudah lama Ryanthi tidak menangis di hadapan Adrian. Padahal dahulu, pria itulah yang selalu menenangkannya.


"Entahlah, Sayang. Aku merasakan rasa sakit itu tiba-tiba datang kembali. Aku takut ... aku sangat takut!" resah Ryanthi.


"Sudahlah! Aku sudah mengajakmu kemarin, tapi kamu menolaknya. Lalu sekarang, saat aku akan berangkat, tiba-tiba kamu merasa berat membiarkanku pergi sendiri. Itulah dirimu, Ryanthi ...."


Seketika tangis Ryanthi pecah dalam pelukan Adrian ketika pria itu kembali menyebut namanya setelah sekian lama ia hanya dipanggil dengan sebutan "Sayang".


Suara itu selalu terngiang di telinga Ryanthi. Suara dari masa muda pria yang sangat ia cintai. Suara berat yang selalu menyebut namanya dengan penuh kasih.


"Ya Tuhan, Adrian ... aku sangat merindukan saat-saat itu. Ketika aku merasa jika kamu adalah seorang pengganggu yang sangat menyebalkan. Ketika kamu melakukan segalanya untukku, dan membuatku tidak pernah berfikir untuk menatap pria lain selain dirimu. Aku sangat mencintaimu ...." Ryanthi dengan air matanya yang semakin deras.


Adrian menatap wanita yang telah menemaninya menghabiskan sisa waktu dalam hidupnya itu. Ia pun mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku celananya.


Dihapusnya air mata yang membanjiri wajah Ryanthi. Ia pun mencium lembut kening sang istri.


"Jagalah anak-anak selama aku pergi!" pesan Adrian.


"Kamu adalah wanita yang kuat dan tidak mudah menangis. Jangan perlihatkan kesedihanmu di depan mereka. Biarkan mereka terus melihat Ryanthi dari sisi tegarnya, bukan dari sisi lemahnya. Cukup aku yang tahu tentang seberapa rapuhnya dirimu. Jangan perlihatkan air mata ini kepada mereka!" pesan Adrian lagi.


"Aku tahu jika kita memiliki kisah yang sangat indah dulu. Terkdang ... aku pun merasa ingin kembali. Menjadi muda dan tampan ...." Adrian mengakhiri kata-katanya dengan sebuah candaan. Ia berharap agar Ryanthi tertawa.

__ADS_1


Ryanthi justru malah memeluknya dengan jauh lebih erat. Ia seakan tidak merelakan pria itu untuk pergi.


"Ini hanya dua minggu, Sayang!" ucap Adrian dengan lembut.


"Sekarang kamu tahu seperti apa perasaanku dulu, saat harus melepasmu untuk pergi selama tiga tahun? Kamu bisa memahami kenapa aku sampai marah besar?"


"Tetapi sudahlah! Kita sudah menutup semua cerita masa lalu itu dan tidak usah membuka apalagi membacanya kembali. Biarkan buku itu tersimpan dengan baik. Ia menjadi wadah yang menampung semua perjuangan hidupmu. Perjuanganku untuk memikimu dalam hidupku," tutur Adrian.


Sesaat kemudian, terdengar suara dering ponsel Adrian. Ia pun segera memeriksanya.


Sebuah panggilan masuk dari Keanu. Ia menyuruh mereka berdua agar bergegas, karena mereka masih harus menembus kemacetan lalu lintas kota untuk menuju bandara.


"Keanu dan Arumi sudah menunggu terlalu lama. Segera rapikan dirimu!" suruh Adrian. "Aku akan menunggumu disini," lanjutnya. Ia pun duduk di tepian ujung tempat tidurnya.


Adrian menatap sekeliling kamarnya. Ini bukanlah apartemennya yang dulu, yang menyimpan banyak kenangan indahnya bersama Ryanthi.


Akan tetapi, kamar ini juga telah menjadi saksi bisu dari pembuktian cintanya selama ini.


Ditatapnya tirai berwarna putih tulang itu. Matahari kian menampakan sinarnya. Untuk dua minggu ke depan, Adrian pasti akan merindukan hangatnya sinar mentari yang masuk ke dalam kamarnya itu.


Kenapa Ryanthi tiba-tiba kembali mengenang masa lalu mereka berdua? Sementara ulang tahun pernikahan mereka pun masih beberapa bulan lagi.


Hari semakin siang ketika mereka akhirnya tiba di bandara. Tanpa menunggu terlalu lama, Adrian pun kini telah bersiap dengan barang bawaannya.


"Jaga dirimu baik-baik! Jangan terlalu memaksakan diri untuk menerima semua pesanan yang masuk!" pesan Adrian seraya mencium kening Ryanthi.


Ryanthi tersenyum seraya mengangguk pelan. "Semoga perjalananmu lancar dan jangan lupa untuk memberi kabar. Sampaikan salamku untuk semua yang ada disana," balas Ryanthi.


Adrian mengangguk.


"Satu lagi, jangan lupa minum obatmu! Vitaminnya juga! Aku menyimpan sikat gigimu di dalam wadah plastik yang berwarna biru. Buku yang belum selesai kamu baca juga ada di samping lipatan baju-bajumu, dan ...." Ryanthi terdiam karena ia melihat Adrian pun hanya terdiam menatapnya.


"Aku mencintaimu ...." lanjut Ryanthi seraya memeluk erat sang suami.


Adrian membalas pelukan Ryanthi seraya tersenyum lebar kepada kedua buah hatinya yang hanya menjadi penonton sejak tadi.


Perlahan Adrian melepaskan pelukannya dari Ryanthi. Ia pun menghampiri kedua buah hatinya.


"Jaga ibu kalian selama Ayah tidak ada!" pesannya. Ia lalu melirik Arumi. "Ingatkan ibumu untuk selalu meminum vitaminnya. Bantu dan temani dia di dapur kesayangannya!" Adrian pun mencium kening Arumi. Setelah itu ia memeluk Keanu.


Situasi yang terbalik kali ini, ketika Ryanthi lah yang harus menatap kepergian Adrian hingga pria itu benar-benar tak terlihat.


"Ayo, Bu kita pulang!" ajak Keanu seraya merangkul lengan Ryanthi.


Mereka pun akhirnya kembali ke dalam mobil dan meninggalkan bandara itu.


Selama di dalam perjalanan, Ryanthi hanya terdiam. Ia duduk di jok belakang bersama Arumi, yang juga tengah resah karena sejak tadi Moedya tidak mengangkat telepon darinya.


Pria itu pun hanya membuka pesan darinya tanpa membalasnya. Arumi tidak mengetahui jika Moedya melihat apa yang ia dan Edgar lakukan kemarin malam.

__ADS_1


Moedya pun memang sengaja membiarkan gadis itu. Ia kini mencoba memfokuskan fikirannya pada pekerjaannya, meskipun kenyataanya itu sangat sulit baginya.


__ADS_2