Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Kejujuran Moedya, Kebijaksanaan Arumi


__ADS_3

Menjelang makan siang, Moedya kembali naik ke lantai dua. Sementara itu, Arumi masih terlelap di atas sofa bed yang membuatnya tertidur nyenyak.


Diletakannya sebuah bungkusan kresek berwarna putih di atas meja. Moedya pun kemudian menghampiri gadis yang tengah tertidur lelap di sana.


Ditatapnya wajah cantik itu. Arumi masih tampak begitu mempesona meskipun dalam keadaan tertidur pulas. Moedya pun mengelus lembut wajah gadis itu sehingga membuat Arumi menggeliat manja seraya membuka matanya dengan perlahan.


"Waktunya makan siang," ucap Moedya dengan senyum khasnya. Ia terus mengelus lembut wajah cantik yang masih tampak sayu.


Arumi tersenyum kecil. Ia pun mengucek-kucek matanya dan bangkit dari tidurnya. Duduk bersila dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna, Arumi menatap Moedya. Beberapa saat kemudian, ia pun mulai merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan.


"Apa wajahku terlihat aneh saat sedang tidur?" Tanya Arumi dengan polosnya. Ia sudah dapat memastikan jika Moedya pasti melihatnya saat sedang terlelap tadi.


"Sangat aneh," jawab Moedya dengan entengnya. Ia sedang sibuk menyiapkan piring dan sendok untuk makan siang mereka kali ini.


Arumi merenggut saat mendengar hal itu. Ia pun turun dari atas sofa bed dan duduk di sebelah Moedya yang sudah siap menghadapi dua porsi nasi padang.


"I like it!" Ucap Arumi dengan semangat saat melihat isi bungkusan di hadapannya. Matanya bersinar melihat menu yang ada dalam bungkusan itu. Sudah lama ia tidak menikmati makanan seperti itu.


"Makan yang banyak! Kamu terlalu kurus saat ini," suruh Moedya seraya mengusap-usap pucuk kepala Arumi dengan lembutnya.


"Sungguh?" Tanya Arumi. Ia tampak merajuk.


"Ya, tidak masalah bagiku jika kamu lebih gemuk dari sekarang," sahut Moedya. Ia mulai menyantap menu makan siangnya.


"Yeah ... setelah itu kamu akan mencari gadis lain yang jauh lebih seksi dariku, dengan alasan jika tubuhku sudah tidak enak dipandang," tukas Arumi dengan sikap yang masih merajuk.


Moedya tertawa geli. Ia pun melingkarkan tangannya di pundak Arumi dan menarik gadis itu ke dalam dekapannya seraya mencium kening Arumi.

__ADS_1


"Tidak ada satu gadis pun yang mampu mengalihkan perhatianku darimu," rayu Moedya dengan santainya.


"I'm not sure!" Bantah Arumi sambil terus mengunyah makanannya.


Moedya tertawa pelan. Ia kemudian meneguk minumannya. "Ini serius!" Ucap Moedya dengan sangat yakin.


Untuk sesaat tatapan keduanya saling bertemu. Arumi menatap pria itu dengan segenap rasa terdalam di hatinya. Belum ada pria yang dapat membuatnya begitu terpesona dengan segala keunikan yang dimilikinya.


Begitu juga dengan Moedya. Ini adalah kisah cinta yang sangat indah untuknya. Terasa sangat manis dan begitu suci. Meski kisah cintanya dengan Arumi terjalin dalam waktu yang begitu singkat, namun ia merasa telah mengenal gadis itu sejak sekian lama.


"Haruskah kukatakan dengan berulang kali jika aku sangat mencintaimu? Jika aku telah mengatakannya dengan berulang-ulang, apakah itu akan membuatmu percaya pada apa yang aku katakan?" Tanya Moedya.


"Jika memang kamu dapat kupercaya," sahut Arumi. Ia menunggu pria itu untuk berbicara, sesuai dengan janjinya tadi. "Jadi ... kapan kamu akan mulai bercerita padaku?" Arumi masih melayangkan tatapannya kepada pria itu.


Moedya memahami rasa ingin tahu sang kekasih akan masa lalunya bersama Nancy. Meski sebenarnya ia enggan untuk membahas hal itu, namun ia mungkin harus mengungkapkannya di hadapan Arumi.


"Dapat kukatakan jika itu seperti cinta pertama untukku. Nancy begitu cantik, dia sangat sempurna di mataku. Dia mengajariku tentang banyak hal, tentang bagaimana caranya menjadi seorang pria sejati. Aku tidak melihat hal lain, selain semua keindahan yang ada pada dirinya. Akupun menjalani semuanya, hubungan terlarang diantara kami berdua ...." tutur Moedya.


"Maksudmu?" Tanya Arumi dengan tidak mengerti.


Moedya menatap gadis itu dengan lekat. Ada gurat penyesalan di dalam sorot matanya. "Ya, dia telah memiliki seorang suami," terang Moedya. Ia pun tertunduk.


"Oh my God! Kamu yakin jika kamu melakukan hal itu, Moemoe?" Tanya Arumi. Ia memegangi pundak Moedya dengan rona tidak percaya.


Moedya menganggukan kepalanya dengan begitu berat. Ia seakan tidak ingin menerima kenyataan atas apa yang telah ia lakukan.


"Lalu apalagi?" Tanya Arumi. Ia ingin mendengar cerita yang jauh lebih banyak dari bibir Moedya.

__ADS_1


Moedya menghela napas dalam-dalam. Tatapannya kini tertuju pada makanan yang kini tidak tersentuh lagi oleh mereka berdua. Perbincangan itu telah membuat keduanya merasa kenyang.


"Nancy memiliki hubungan yang sangat buruk dengan suaminya. Bagi sebagian orang, ia terlihat sebagai seorang wanita yang sangat kuat dan mengerikan. Akan tetapi, kenyataannya ia jauh lebih rapuh dari selembar kapas," terang Moedya.


"Aku tidak dapat pergi darinya. Jika aku menghindar, maka ia akan hancur terurai seperti kertas yang jatuh ke dalam air. Terlebih aku pernah mengatakan jika aku akan selalu bersamanya ...." Moedya terdiam untuk sejenak.


"Saat itu aku dalam keadaan yang sangat labil. Aku tidak berfikir panjang dan hanya menikmati kebersamaan kami yang ... yang dipenuhi dengan gairah ... ya Tuhan! Maafkan aku, Arum!" Moedya menopang wajahnya dengan kedua telapak tangan yang ia letakan di atas meja. Ia pun mendengkus kesal.


Arumi masih menatap pria yang ia cintai dengan perasaan yang begitu miris. Ia mulai berfikir, pria seperti apa yang tengah ia cintai saat ini? Ternyata Moedya tak jauh lebih baik dari Edgar. Mereka berdua sama saja.


"Aku berusaha untuk mengakhirinya, Arum!" Tegas Moedya.


"Apa kamu sudah melakukannya?" Tanya Arumi dengan nada yang tidak begitu yakin.


"Ya!" Sahut Moedya. "Sudah kulakukan dari sejak pertama kali aku mengenalmu!" Tegas pria itu lagi.


"Lalu seperti apa hasilnya?" Tanya Arumi dengan rasa ingin tahu yang sangat besar.


Moedya tidak segera menjawab pertanyaan Arumi. Bahasa tubuhnya menyiratkan sebuah jawaban yang bertentangan dengan apa yang diharapakan. Arumi pun seakan tak harus mendengar lagi pernyataan dari bibir Moedya. Ia sudah dapat menebak semuanya.


"Selesaikan urusanmu dengannya secepat mungkin! Barulah aku akan menerima kedatangan ibu Ranum di rumahku," Tegas Arumi. Ia pun kembali melanjutkan santap siangnya.


"Pasti! Aku pasti akan segera menyelesaikan semuanya. Aku sudah berjanji padamu! Aku juga sudah berniat untuk memulai sesuatu yang baru. Sebuah hubungan yang jauh lebih serius denganmu, karena itulah aku membawamu kepada ibuku," jelas Moedya.


Arumi tertegun mendengar ucapan pria itu. Ia pun menoleh kepadanya dan kembali menatapnya dengan lekat. Tanpa ragu, Arumi segera menghambur ke dalam pelukan pria itu.


Sebuah jawaban dari rasa takut yang Moedya rasakan sejak tadi. Tentu saja, ia membalas pelukan itu dengan antusias. Didekapnya Arumi dengan begitu erat. Ia tidak ingin melepaskan gadis itu, apalagi jika harus kehilangannya.

__ADS_1


"Terima kasih, Miemie! Terima kasih!" Ucap Moedya tanpa melepaskan pelukannya.


__ADS_2