Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● SEMBILAN : Kehilangan Paling Menyakitkan


__ADS_3

Awan hitam tampak sudah menguasai seluruh langit. Sesekali, angin berembus cukup kencang. Ia seakan tengah memberitahu dunia, bahwa hari ini alam akan murka.


Tiga hari telah berlalu dari semenjak kepergian Farida, yang meninggalkan goresan luka begitu dalam bagi Ryanthi. Hingga saat ini, gadis itu masih memilih berdiam diri, seperti seorang pertapa dalam gua. Meskipun begitu, Ryanthi tetap bertahan agar dirinya tidak semakin terpuruk.


Ryanthi mencoba untuk selalu kuat. Dia harus tetap berdiri kokoh, meskipun kakinya terasa sangat lemah dan hampir tak dapat menopang lagi berat tubuhnya. Satu hal yang selalu gadis itu ingat dari kata-kata sang ibu, bahwa dirinya harus menjadi wanita yang kuat dan tidak pernah menunduk di hadapan rasa sakit. Sakit? Itu sudah pasti. Tak ada kata-kata paling menyeramkan, yang dapat mewakili perasaan gadis itu saat ini.


Sepi. Ryanthi tinggal sendiri di rumah kontrakan itu. Tidak ada lagi napas selain napasnya di sana. Bagian yang terbesar dalam hidup gadis cantik tersebut, telah hilang dan tidak akan pernah kembali.


Menyesal? Ya, tentu saja. Suatu penyesalan besar bagi Ryanthi, karena dia tidak ada di samping Farida ketika sang ibu mengembuskan napas terakhirnya. Ryanthi tak tahu apakah saat itu ibunya merasa kesakitan, atau justru bahagia karena terbebas dari perasaan menyiksa yang selama ini dia derita?


Perlahan, Ryanthi bangkit dari tempat tidurnya. Dia berjalan agak gontai menuju kamar Farida. Desir kepedihan menerpa hatinya yang paling dalam, ketika dia menatap kasur di mana sang ibu terbaring beberapa hari yang lalu. Saat itu, Ryanthi masih menyuapinya walaupun harus sedikit dipaksa.


Keluhan pelan meluncur dari bibir Ryanthi, saat gadis itu berjalan mendekat ke kasur tadi. Di sana, masih tertata dengan rapi dua buah bantal yang biasa menopang kepala sang ibu.


Ryanthi menyesal, karena justru bantal-bantal itu yang menemani Farida saat meregang nyawa.


Kenapa di saat Ryanthi bertemu kembali dengan sang ayah, dirinya justru harus kehilangan ibunya? Semua pertanyaan 'kenapa' itu hanya menjadi suatu misteri yang tidak terjawab. Ryanthi pun tak ingin terlalu memikirkan hal tersebut. Dia masih bingung, akan dibawa ke mana arah hidupnya saat ini.


Pandangan Ryanthi beralih pada sesuatu yang lain. Sorot matanya mulai menyapu setiap sudut kamar. Di sana, tersimpan sebuah tas berisi pakaian lama Farida. Ryanthi kemudian berjalan mendekati tas tadi. Sudah lama sejak mereka pindah ke rumah kontrakan itu, Farida tidak pernah membukanya lagi.

__ADS_1


Perlahan, Ryanthi menggeser resleting ke samping, hingga tampaklah tumpukan pakaian lama milik Farida. Baju-baju yang sebenarnya masih bagus serta layak pakai tentunya. Merasa tak ada yang terlalu penting, Ryanthi kembali menutup resleting tas tersebut.


Pandangan gadis cantik berambut pendek itu, beralih pada beberapa kain jarik yang menumpuk tak jauh dari barang-barang yang lain. Farida gemar mengkoleksi kain jarik. Ada banyak motif yang bagus dengan harga terjangkau. Iseng, Ryanthi melihat lipatan jarik itu satu per satu.


Di sana ada satu kain yang merupakan kesayangan Farida. Sang ibu pernah bercerita, bahwa kain jarik tersebut merupakan pemberiam dari almarhum nenek Ryanthi yang telah lama tiada. Kondisi kain itu pun masih bagus, karena terbungkus rapi.


Sebenarnya, Ryanthi merasa malas untuk menggerakan tubuh. Dia hanya ingin berbaring dan berdiam diri. Namun, besok Surya akan menjemputnya ke rumah kontrakan. Pria itu telah berhasil membujuk Ryanthi, agar bersedia ikut pulang ke tempat di mana seharusnya dia berada. Jadi, Ryanthi dengan terpaksa membereskan barang-barang yang akan dirinya bawa.


Saat gadis itu baru selesai merapikan semua peninggalan Farida, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Ryanthi!" Seseorang memanggilnya dengan cukup nyaring.


Ryanthi bergegas keluar kamar Farida. Dia langsung menuju pintu. Seorang tetangga yang bernama Bu Salimah datang. Wanita itu adalah orang yang dititipi Farida, ketika Ryanthi pergi mencari Surya. Sesuai rencana, Bu Salimah akan membantu Ryanthi membereskan barang-barang yang lain.


Ryanthi menyunggingkan senyumnya meski agak terpaksa, ketika melihat wajah wanita paruh baya tersebut. "Sudah selesai beres-beresnya?" Bu Salimah bertanya, karena belum ada satu pun barang yang terkumpul di ruang tengah.


"Lalu, perabotan yang lain bagaimana?" tanya Bu Salimah lagi.


"Sepertinya tidak dibawa. Lagi pula, kami tidak memiliki banyak barang, hanya perabotan dapur seadanya saja dan juga beberapa peralatan kue. Itu juga hanya sedikit," jawab Ryanthi lagi agak lemas.


Bu Salimah manggut-manggut, setelah mendengar penjelasan dari gadis itu.

__ADS_1


Ryanthi terdiam sesaat. "Jika Ibu mau, ambil saja. Kecuali peralatan kue ... jangan." Ryanthi tertawa pelan. Dia merasa lucu dengan ucapannya.


"Yakin tidak dibawa?" Bu Salimah bertanya lagi.


Ryanthi menanggapinya dengan mengangguk yakin. "Iya, Bu. Ayah melarang saya membawa barang-barang yang tidak diperlukan," jelas Ryanthi.


Tentu saja. Surya adalah orang berada. Perabotan di rumahnya sudah sangat lengkap dan pasti jauh lebih bagus, jika dibandingkan dengan perabotan milik Ryanthi. Lagi pula, Surya sudah berpesan agar Ryanthi hanya membawa barang-barang yang penting saja.


"Ya sudah. Kalau begitu, Ibu bantu bereskan dapur dulu ya," ujar Bu Salimah seraya beranjak ke dapur, tentunya setelah mendapat persetujuan dari Ryanthi.


Sementara, Ryanthi sendiri melanjutkan membereskan barang-barang miliknya. Itu bukan pekerjaan sulit bagi Ryanthi, karena dirinya tidak memiliki banyak pakaian atau aksesoris lain khas para gadis zaman sekarang.


Di luar hujan turun dengan deras, ketika semua barang sudah selesai dibereskan dan dikumpulkan oleh Bu Salimah di ruang tengah. Sementara, Ryanthi masih berkutat di kamar dengan barang-barangnya.


"Jadi, pria yang kemarin itu ayahmu, Ry?" tanya Bu Salimah sambil membantu Ryanthi memasukan baju ke dalam tas. Ryanthi hanya mengangguk samar, tanpa memberikan jawaban. "Masalahnya, Ibu belum pernah melihat dia datang kemari selama kalian tinggal di sini," lanjut wanita paruh baya itu lagi.


Ryanthi hanya membalas dengan senyuman kecil. Dia tidak ingin membahas urusan pribadi dengan orang lain. Tidak semua orang harus mengetahui tentang masalah keluarganya.


"Ibumu juga tidak pernah bercerita apapun tentang ayahmu. Jadi, kami pikir beliau sudah meninggal selama ini," ucap Bu Salimah lagi.

__ADS_1


Dia seperti tengah memancing Ryanthi, agar mau bercerita.


Namun, Ryanthi tidak menanggapi kata-kata bu Salimah dengan terlalu berlebihan. Ryanthi sudah mengetahui seperti apa karakter wanita itu. Lagi pula, dirinya akan pergi meninggalkan rumah kontrakan, yang telah hampir empat tahun dia tempati bersama Farida. Ryanthi akan kembali ke kediamannya, yang sudah lama ditinggalkan.


__ADS_2