Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● EMPAT PULUH ENAM : Memadu Kasih


__ADS_3

Vera sudah memantapkan hati untuk ikut sang suami pindah ke rumah mertuanya. Dia akan memulai lembaran baru di sana. Belajar menjadi istri sesungguhnya.


"Sudah semua?" tanya Surya. Dia memeriksa barang-barang di dalam bagasi.


"Sudah, Pa," jawab Vera. Perut besar, membuat gerak wanita itu menjadi sangat terbatas. Vera bahkan terkadang kesulitan melakukan sesuatu yang sebenarnya sangat mudah untuk orang lain.


"Mama sedih jika kamu tidak ada di rumah ini lagi," isak Maya penuh haru.


"Jangan khawatir. Aku pasti akan menjaga Vera dengan baik," ucap Arshan. Tak biasanya, pria itu berbasa-basi kepada Maya.


"Jika mau, aku bisa menemani Tante ke sana," ucap Ryanthi tulus. Namun, tentu saja tak berbalas hal sama dari Maya. Ibunda Vera tersebut bahkan seakan tak menganggap Ryanthi ada di sana. Dia langsung masuk ke mobil, karena Maya dan Surya akan mengantar Vera ke rumah mertuanya.


"Jangan lupa untuk berkunjung," pesan Vera, saat mobil yang Surya kendarai mulai melaju meninggalkan halaman.


"Pasti," balas Ryanthi sambil melambaikan tangan.


Ryanthi berdiri terpaku beberapa saat di pintu gerbang. Setelah merasa puas, dia berbalik hendak menutup kembali pintu berbahan besi itu.


"Biar saya saja, Non," cegah seorang satpam.


Ryanthi tersenyum, diiringi anggukan pelan. Baru saja dia akan melangkah meninggalkan pintu gerbang, terdengar suara klakson mobil dari luar.


Seketika, Ryanthi menoleh. Gadis itu kembali tersenyum, saat melihat Range Rover putih memasuki halaman, lalu berhenti di depannya.


Seorang pria tampan berkacamata hitam, keluar dari sana.


"Adrian," sapa Ryanthi semringah.


"Apa kabar, Nona?" sapa Adrian diiringi senyum kalem. Dia melepas kacamata hitamnya, lalu melipat dan memegangnya. "Aku sengaja datang kemari untuk mengajakmu keluar," ujar Adrian.


"Tidak bisa," tolak Ryanthi segera.


"Kenapa?"


"Aku sedang tidak enak badan."


Adrian mengernyitkan kening mendengar jawaban Ryanthi. "Kamu terlihat sehat," ujarnya ragu.


"Kamu tidak akan mengerti," balas Ryanthi, seraya berlalu dari hadapan Adrian.


"Hey! Aku adalah pria paling pengertian di negara ini," protes Adrian seraya mengikuti langkah Ryanthi menuju pintu masuk.


"Hanya di negara ini?" Ryanthi menoleh sekilas, sebelum melewati pintu yang terbuka lebar.


"Ah, ya. Di dunia ini. Seluruh planet," celoteh Adrian sambil terus mengikuti Ryanthi ke ruang keluarga.


"Ya, tentu saja. Tidak ada yang bisa menandingimu," sindir Ryanthi halus, yang langsung berbalas tawa dari Adrian. Mereka lalu duduk berdekatan.

__ADS_1


"Aduh." Ryanthi meringis sambil memegangi perut bagian bawah. "Ini selalu terjadi setiap bulan," ucapnya.


"Sakit sekali ya?" Adrian akhirnya paham maksud sang kekasih. "Kemarilah." Dia merengkuh tubuh Ryanthi. Membuat gadis itu langsung menyandarkan kepala di pundaknya.


"Biasanya akan hilang dalam sehari," jawab Ryanthi. Sikap putri kandung Surya tersebut begitu manja kepada Adrian.


"Aku suka saat kau bersikap manja seperti ini," bisik Adrian seraya mengecup hangat kening Ryanthi. Adrian juga menggenggam erat tangan gadis itu. "Aku merindukanmu," bisik Adrian lagi.


Ryanthi seakan dapat memahami apa yang diinginkan sang kekasih. Tanpa diminta, dia segera mendongakan wajah, yang langsung disambut oleh Adrian dengan senang hati.


Cukup lama mereka terhanyut dalam pertautan manis itu. Terlebih, suasana rumah yang sepi. Tak ada siapa pun yang akan mengganggu keduanya b


Ryanthi pun kini tidak sungkan lagi untuk melakukan itu. Dia sudah terbiasa dan tak lagi terlihat kaku, sehingga gadis itu bisa mengimbangi seorang Adrian yang sudah memiliki jam terbang tinggi.


"Sekarang, kamu mulai pintar. Aku sangat menyukainya. Omong-omong, siapa yang mengajarimu?" bisik Adrian, setelah mereka selesai berciuman. Dia membelai lembut pipi Ryanthi, kemudian memegangi dagu gadis itu seraya kembali menciumnya mesra.


Ryanthi tersenyum manja. Dia menyukai perlakuan seperti itu dari Adrian. Ryanthi meletakan kepalanya di pundak sang kekasih. "Siapa lagi jika bukan kamu?" jawabnya malu-malu.


Sejenak, Ryanthi terhanyut dalam dekapan Adrian. Pria itu begitu bersih, wangi, dan segar. Ryanthi seakan sudah benar-benar hafal seperti apa aroma tubuh Adrian.


"Aku menyukai hidupku yang sekarang," ucap Ryanthi pelan. "Ini bukan tentang materi. Namun, ada sesuatu yang lebih dari itu."


"Apa?"


"Kamu."


"Akan kusampaikan kepada ayah." Ryanthi tersenyum simpul. Sesaat kemudian, gadis itu terdiam.


"Kenapa?" tanya Adrian.


Ryanthi menggeleng pelan.


"Omong-omong, ke mana semua orang? Dari tadi aku merasa hanya ada kita berdua di rumah ini?" tanya Adrian heran.


"Mereka sedang mengantar Vera," jawab Ryanthi dengan wajah sedikit muram.


"Ke mana?" tanya Adrian lagi. "Apa dia akan melahirkan?"


"Ah, tidak. Bukan itu," bantah Ryanthi. "Arshan mengajak Vera pindah ke rumahnya." Ryanthi kembali terdiam sejenak. "Vera sudah banyak berubah saat ini."


"Bukankah itu bagus? Setiap orang pasti akan menemukan titik balik dalam hidupnya," ucap Adrian kalem. "Aku tidak terlalu mengenal Vera. Namun, aku cukup tahu seperti apa dia dulu."


Ryanthi menatap curiga pada kekasihnya. Dia seakan ingin agar Adrian menjelaskan arti kata 'tahu'.


"Ya, Tuhan. Jangan melihatku dengan cara seperti itu," protes Adrian, yang memahami makna tatapan Ryanthi. "Jika aku berkunjung kemari, maka terkadang kami bertemu. Namun, tidak mesti juga. Kamu tahu sendiri seperti apa Vera dulu. Dia sering sekali tersenyum nakal kepadaku," jelasnya.


Ryanthi tidak berhenti menatap Adrian. Kali ini, tatapannya terlihat lebih tajam. Sikap Ryanthi yang demikian, telah membuat Adrian menjadi serba salah.

__ADS_1


Adrian menggaruk keningnya yang tidak gatal. Dia mencoba mencari kata-kata yang sekiranya dapat Ryanthi pahami. "Astaga. Seharusnya tadi aku diam saja," sesal Adrian pelan. Dia mencoba kembali menjelaskan kepada gadis itu.


"Begini. Jika kamu pikir aku pernah memiliki hubungan istimewa dengannya, maka kamu salah besar. Meskipun Vera sangat cantik dan seksi, tapi sayangnya aku tidak tertarik sama sekali. Pertama, dia bukan tipeku. Kedua, aku tahu bahwa dia hanya menggodaku," jelas Adrian lagi serba salah, karena Ryanthi terus saja menatapnya intens.


"Ya, dan kamu tergoda?" tukas Ryanthi dengan nada sedikit kecewa.


Adrian tertawa pelan. Dia mengerti jika Ryanthi pasti merasa cemburu. "Tidak. Tentu saja tidak. Aku selalu mengabaikannya," sanggah Adrian.


"Lagi pula, aku selalu menghabiskan waktuku hanya untuk berbincang dengan ayahmu jika berkunjung kemari. Kamu tahu sendiri bahwa dulu kami sahabat di club pecinta jeep. Namun, berhubung sekarang aku sudah tidak aktif lagi, maka jika aku ingin berbincang dengan ayahmu, satu-satunya jalan adalah dengan datang kemari."


Adrian kembali menjelaskan, meski dia sadar tak ada gunanya. Ryanthi masih memasang ekspresi wajah yang sama seperti tadi.


"Vera memang meresahkan," gumamnya. Adrian mulai gusar. Dia tak ingin ada masalah dengan Ryanthi.


Namun, kegusaran Adrian perlahan memudar, saat melihat Ryanthi yang tiba-tiba tersenyum. Gadis itu tertawa pelan. Ryanthi merasa begitu geli, melihat mimik wajah Adrian yang kikuk dan khawatir. Pria itu terlihat sangat takut, jika dirinya akan marah atau cemburu.


Adrian hanya mengernyitkan kening, saat menanggapi sikap aneh Ryanthi saat itu.


Sesaat kemudian, Ryanthi berhenti tertawa.


"Kenapa kamu harus gugup seperti tadi? Jika aku dapat menerima kenyataan tentang Arshan yang saat itu masih menjadi kekasihku, maka kenapa aku harus marah padamu untuk sesuatu yang kamu lakukan jauh sebelum mengenalku? Aku yakin, aku ataupun dirimu tentunya tidak pernah berpikir bahwa kita akan bertemu dan memiliki ikatan seperti ini," jelas Ryanthi seraya tersenyum manis kepada Adrian.


"Kata siapa aku tidak tahu? Aku tahu. Berbeda denganmu. Aku sudah merasakannya. Ada suatu keyakinan dalam diriku bahwa suatu saat nanti, aku akan menemukan seseorang sepertimu," ujar Adrian.


"Lihatlah, ternyata kamu sekarang ada di hadapanku. Aku tidak peduli meskipun kamu galak dan keras kepala. Kamu juga suka membantah dan terkadang sulit diatur. Namun, intinya aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Seluruh hidupku dan aku ingin sekali dapat memilikimu seutuhnya." Adrian mengakhiri kata-katanya dengan sentuhan lembut di bibir berwarna merah muda milik Ryanthi.


Sedangkan, Ryanthi tampak sebaliknya. Dia justru terlihat ragu dan sedih. Ryanthi hanya diam dan tidak merespon apa yang Adrian katakan padanya. Gadis itu kini berada dalam kegalauan antara cinta dan cita-cita.


Sesaat kemudian, Adrian beranjak dari duduknya. Dia meraih ponsel dan kunci mobil yang tergeletak di meja. Sepertinya, pria itu akan pergi. Ryanthi pun mengikutinya berdiri.


Seperti biasa, Adrian memengangi pergelangan tangan Ryanthi. Sedangkan, gadis itu mengikutinya dengan raut wajah yang masih tidak berseri. Tepat di depan pintu, Adrian menarik lembut gadis itu, sehingga kini mereka saling berhadapan.


Adrian melepaskan genggaman tangannya. Dia beralih pada wajah Ryanthi. Pria itu menagkup paras cantik sang kekasih. Tanpa di duga, Adrian mencubit pipi kiri dan kanan Ryanthi. Membuat gadis itu memaksakan diri untuk tersenyum.


"Aku pergi dulu. Kamu tidak apa-apa 'kan di rumah sendirian?" tanyanya. Dia terdengar khawatir meninggalkan Ryanthi sendiri di rumah.


Ryanthi mengangguk. "Tidak apa-apa. Lagi pula, ada mbok Mur yang menemaniku. Aku rasa, sebentar lagi juga ayah dan Tante Maya akan pulang," jawabnya mencoba menghilangkan kecemasan di wajah Adrian.


Adrian tersenyum. Di usapnya pucuk kepala Ryanthi, sehingga gadis itu kembali tersenyum manis.


"Apa kamu akan selalu mendukungku dalam segala hal, Adrian?" tanya Ryanthi tiba-tiba. Pertanyaannya telah membuat Adrian menjadi sedikit heran.


"Tentu saja. Selama yang kamu lakukan itu sesuatu yang benar, maka aku pasti akan selalu mendukungmu. Namun, jika sebaliknya maka aku yang akan pertama kali menjitak keningmu, karena kamu sudah berbuat nakal," jawab Adrian diakhiri dengan senyuman penuh arti.


Ryanthi tersenyum lega mendengar jawaban kekasihnya itu. Dia segera memeluk Adrian.


"Kamu ingin aku masuk lagi?" tawaran manis tersebut dilontarkan Adrian, karena Ryanthi yang terus memeluk dan bersikap manja sejak tadi.

__ADS_1


Sementara, Ryanthi hanya menanggapinya dengan senyuman dan pelukan hangat.


__ADS_2