
Entah berapa lama Ryanthi menemani Adrian bermain play station di ruangan itu. Ryanthi tak bisa memastikan. Saat dirinya terbangun, Adrian sudah tak ada lagi di sana.
Ryanthi keluar dari ruangan itu. Namun, dia tak melihat siapa pun, termasuk Adrian. Gadis itu berjalan menyusuri koridor dengan pinggir yang sebagian berlapis kaca, sehingga Ryanthi bisa melihat ke bagian bukaan yang ada di lantai dua tadi.
"Indah sekali," gumam Ryanthi takjub, saat melihat area bukaan dengan nuansa asri penuh tanaman hijau, serta kolam berukuran tidak terlalu lebar.
Ryanthi melangkah ke sana. Dia mengatur langkahnya saat menginjak rumput sintetis yang melapisi sebagian besar lantai bukaan tadi. Karena merasa penasaran, gadis itu mendekati kolam. Dia berjongkok, lalu mencelupkan telunjuknya ke dalam air.
"Hati-hati tercebur lagi," tegur suara yang sudah mulai bersahabat di telinga Ryanthi. Gadis itu menoleh. Dia melihat Adrian tengah berjalan ke arahnya. "Kupikir kamu masih tidur di ruang bermain," ucap pria tampan tersebut seraya berdiri di sebelah Ryanthi yang langsung berdiri.
Ryanthi tidak menanggapi. Dia memilih memalingkan wajah dari Adrian. Ryanthi masih kesal, karena pria itu memarahinya tadi.
"Kenapa cemberut?" tanya Adrian enteng, seakan tak terjadi apa-apa. Adrian tak menyadari bahwa pertanyaannya telah membuat Ryanthi semakin kesal.
"Kamu marah padaku?" tanya Adrian lagi.
Lagi-lagi, Ryanthi tidak menjawab. Gadis itu bahkan membalikkan badan, jadi membelakangi Adrian.
"Oh, jadi seperti saat Ryanthi merajuk?" goda Adrian. Dia terus mendekati gadis yang tetap tak bersedia bicara dengannya. "Tak apa jika kamu tidak ingin bicara denganku. Namun, Pak Surya menghubungiku tadi. Dia menanyakan ...."
"Aku tidak membawa ponsel," potong Ryanthi. Akhirnya, dia bicara juga. Ryanthi kemudian membalikkan badan kepada Adrian. "Apa yang ayah katakan?" tanyanya.
Adrian tidak segera menjawab. Pria itu hanya tersenyum kalem. Dari bahasa tubuh yang ditunjukkannya, Ryanthi dapat menebak bahwa Adrian tengah mengerjai dirinya.
"Dasar!" gerutu Ryanthi. Dia bermaksud untuk meninggalkan Adrian di dekat kolam tadi.
Namun, langkah Ryanthi langsung terhenti, ketika Adrian memegangi tangannya. "Jangan marah," pinta pria itu. Dia memasang mimik wajah yang terlihat sangat berbeda.
__ADS_1
Senja telah berlalu. Adrian mengantarkan Ryanthi pulang. Dia memarkirkan mobil kesayangannya tepat di halaman kediaman Surya.
"Aku benar-benar minta maaf atas sikapku tadi siang," ucap Adrian sebelum mereka turun dari mobil. "Aku tidak akan memintamu untuk memahamiku."
"Lagi pula, aku memang tidak dapat memahaminya," balas Ryanthi.
"Baiklah. Lupakan," ujar Adrian seraya melepas sabuk pengaman. Dia sudah bermaksud untuk turun.
"Ada syaratnya," ucap Ryanthi, yang seketika membuat Adrian mengurungkan niat saat akan membuka pintu mobil. Adrian menoleh. Dia menatap penasaran kepada Ryanthi.
"Syarat apa?" tanya Adrian. Dia kembali pada posisi duduk seperti tadi. Adrian bahkan setengah menghadap kepada Ryanthi.
"Aku tidak yakin apakah kamu akan sanggup melakukan syarat yang kuberikan," ujar Ryanthi meragukan Adrian.
Adrian tersenyum kalem. Dia tak akan terima begitu saja, saat dirinya diremehkan oleh seorang wanita. Pria tampan blasteran Indonesia-Perancis tersebut terlihat sangat percaya diri. "Itulah mengapa kamu harus lebih mengenal Adrian Winata. Dengan begitu, kamu akan mengetahui siapa pria tampan ini sebenarnya."
"Kamu yakin, Nona?" Adrian tersenyum nakal.
Terus terang saja, senyuman yang Adrian tunjukan kepada Ryanthi teramat menggoda. Putri Surya Wijaya tersebut langsung salah tingkah karenanya. Entah seberapa besar pesona seorang Adrian, sehingga mampu membuat dada Ryanthi berdebar kencang.
"Kita lihat saja," balas Ryanthi. Dia melepas sabuk pengaman, lalu membuka pintu. Namun, sebelum Ryanthi keluar dari kendaraan, Adrian lebih dulu mencegahnya. Gadis itu mengurungkan niat, lalu menoleh.
"Kenapa kamu sangat berbelit-belit, Ryanthi? Katakan sekarang juga, syarat apa yang ingin kamu berikan padaku?" tanya Adrian setengah mendesak. Namun, dia melayangkan pertanyaan tadi, dengan nada bicara yang terkesan sangat tenang.
Ryanthi tersenyum lembut. Dia menatap Adrian beberapa saat. Sikap manis gadis itu membuat pria pun yang melihatnya, pasti akan merasa begitu gemas.
Tak terkecuali Adrian. Entah apa yang terjadi dalam diri pria itu, karena dia bisa menahan diri saat berhadapan langsung dengan keindahan ragawi seorang Ryanthi. Meskipun dalam hati ada gejolak yang begitu kuat, tapi Adrian masih bisa mengendalikan naluri kelelakiannya untuk sekadar menyentuh atau mencium pipi gadis cantik itu.
__ADS_1
"Aku ingin masuk dan berganti pakaian. Rasanya seperti tercekik mengenakan baju seperti ini sepanjang hari," ujar Ryanthi.
"Mari kuantar masuk," ucap Adrian. Dia turun lebih dulu. Adrian kemudian membukakan pintu untuk Ryanthi.
"Apakah setiap kali habis marah-marah tak karuan, maka kamu akan berubah menjadi sebaik ini?" tanya Ryanthi bernada setengah menyindir.
Adrian tersenyum kalem. "Jangan macam-macam, jika tidak ingin membuatku marah," ancam pria itu bernada santai. Entah Adrian serius atau tidak saat berkata demikian, karena Ryanthi tidak terlalu memikirkannya.
Saat itu, Ryanthi hanya seperti melihat sisi lain dari seorang Adrian. Pria itu memiliki sesuatu yang menarik, dari segala sisi kehidupannya. Entah ilmu sihir apa yang dimiliki pria itu, sehingga dirinya bisa mempunyai kharisma serta pesona luar biasa. Terutama di mata kaum hawa.
"Baiklah. Sebelum masuk dan kukembalikan dirimu kepada Pak Surya, bisakah kamu memberitahuku syarat apa yang harus kupenuhi, Ryanthi?" Adrian menahan langkah Ryanthi di depan pintu masuk, saat gadis itu hendak menekan bel.
Ryanthi menoleh, kemudian tersenyum. "Kenapa kamu begitu penasaran, Adrian? Kupikir, itu bukan sesuatu yang terlalu penting untuk seseorang yang sibuk seperti dirimu," balas Ryanthi.
"Aku akan selalu merasa penasaran, atas apapun yang berhubungan dengan gadis bernama Ryanthi," ucap Adrian penuh rayuan.
Ryanthi berdiri beberapa saat sambil menatap pria tampan itu. Adrian sangat berlainan karakternya dengan Arshan. Pria berparas tampan tersebut, senang sekali menghujaninya dengan berbagai rayuan manis.
"Apa kamu selalu merayu setiap gadis yang menjadi incaranmu?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Ryanthi. Entah mengapa, dia menjadi penasaran dengan pria pengganggu yang tak jarang bersikap sangat menyebalkan tersebut.
"Kamu pikir, aku sedang merayumu saat ini?" Adrian balik bertanya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Ryanthi.
"Oh, apakah itu artinya semua sikap dan kata-kata manis yang sering kamu tujukan padaku, bukalah suatu rayuan untuk memikat hati?"
"Katakan saja langsung, Ryanthi. Aku akan melakukan apapun syarat yang kamu berikan," desak Adrian.
Ryanthi mengembuskan napas pelan. Setelah terdiam beberapa saat, gadis itu menjawab, "Buatkan aku kue yang enak. Dengan tanganmu."
__ADS_1
.