
Arumi telah menyelesaikan latihan mengemudinya hari ini. Ia kemudian menghampiri Keanu yang sedang berdiri dengan gayanya yang kalem.
Menyandarkan lengan kanannya pada tiang, Keanu lekat menatap kedatangan sang adik kearahnya.
"Bagaimana?" tanyanya dengan sedikit senyuman di wajahnya.
"Apanya?" Arumi balik bertanya.
"Instrukturnya!" jawab Keanu dengan nada jengkel. "Tentu saja latihan mengemudinya!" jelasnya.
Arumi tertawa pelan. "Aku sudah mengatakannya berkali-kali, jika aku sudah lancar mengemudi. Kakak dan ayah saja yang tidak percaya," jawab Arumi dengan setengah merajuk. Ia melipat kedua tangannya di dada.
"Segala sesuatu harus dibuktikan dahulu baru bisa dinyatakan itu benar atau tidak," debat Keanu.
"Whatever!" cibir Arumi seraya berlalu menuju mobil Keanu terparkir.
Keanu tersenyum simpul. Ia pun segera mengikuti sang adik berjalan menuju mobilnya. Akan tetapi, sebelum ia sempat masuk ke dalam mobilnya, terdengar suara ponselnya berdering. Keanu pun menyempatkan diri untuk menjawabnya.
Arumi memperhatikan sang kakak dari jarak yang tidak terlalu jauh. Ia menunggu sambil menyandarkan tubuhnya pada mobil sedan merah milik Keanu. Tiba-tiba, Arumi teringat akan sesuatu.
Gadis itu mulai berfikir seraya mengerutkan keningnya. Ia pun merogoh ponsel dari dalam tas kecilnya.
Sebelum Keanu selesai dengan obrolan di teleponnya, dengan segera Arumi menghubungi seseorang yang tiada lain adalah Moedya.
Sementara itu, Moedya sendiri tengah sibuk dengan sebuah mobil di bengkelnya. Ia tidak sempat untuk membuka ponselnya sama sekali. Ia bahkan tidak mendengar jika ponselnya berdering sebanyak dua kali.
Dengan kecewa, Arumi memasukan kembali ponsel itu ke dalam tas kecilnya. Apalagi karena Keanu datang menghampirinya.
"Ayo, pulang!" ajaknya seraya melangkah dan mulai masuk ke dalam mobilnya.
Arumi pun mengikuti sang kakak. Ia segera masuk dan duduk dengan wajah yang tidak berseri sama sekali. Ia juga tidak berniat untuk bertanya macam-macam kepada pria dengan penampilan yang rapi itu.
"Apa Kakak ada acara hari ini?" tanya Arumi. Ia sangat berharap jika pria itu menjawab "iya".
"Memangnya kenapa?" Keanu bertanya balik tanpa menoleh sedikitpun.
"Tidak ada. Biasanya Kakak selalu sibuk, bukan?"
"Ayah senang melihat Kakakmu ini terlihat sibuk," celetuk Keanu.
Arumi tertawa pelan. "Aku tidak akan merayu kalian lagi untuk mendapatkan hakku," gerutu Arumi dengan pelan.
"What's wrong with you?" Keanu melirik sang adik yang tiba-tiba mengerutu tanpa alasan yang jelas.
Arumi tidak menjawab. Ia hanya memalingkan mukanya dengan kedua tangan yang terlipat rapi di dada.
"Aku tidak akan merepotkan Kakak lagi, seandainya aku diperbolehkan untuk menyetir mobilku sendiri," tandas Arumi. Raut wajahnya terlihat kian masam.
"Hal itu sudah kita bahas, oke!" pungkas Keanu dengan jari telunjuk lurus ke atas, yang menandakan bahwa ia tidak ingin membahas masalah itu lagi.
Arumi memutar bola matanya dengan kesal. Ia pun sama. Ia sedang tidak ingin bicara panjang lebar saat ini.
"Kemana Momoe? Kenapa ia tidak menjawab panggilanku?" batin Arumi dengan wajah yang masih ditekuk.
__ADS_1
Akan tetapi, tiba-tiba rona kesal itu berubah dengan cepat ketika mobil sedan merah yang dikendarai Keanu, kini memasuki halaman sebuah bengkel.
Arumi mengulum bibirnya dan tersenyum. Begitu juga ketika Keanu menghentikan mobilnya dan mulai melepas sabuk pengamannya.
"Tunggu sebentar! Kakak tidak lama," ucapnya seraya keluar dari dalam mobil itu.
Arumi hanya memperhatikannya melangkah ke dalam bangunan bengkel itu, dari dalam mobil. Ia masih duduk manis disana dengan wajahnya yang sesekali berkerut dan tampak berfikir.
Kedua bola matanya bergerak tak beraturan. Entah apa yang tengah ia fikirkan, karena dengan tiba-tiba semua yang ada di dalam kepalanya itu seketika buyar saat ia menatap wajah itu.
Tampak Moedya melangkah keluar berbarengan dengan Keanu. Mereka terlihat asik membicarakan sesuatu.
Perlahan, Arumi menurunkan kaca mobil di dekatnya. Ia menatap lekat pria dengan kaos singlet hitamnya, dengan wearpack yang bagian atasnya dilitkan pada pinggangnya.
Arumi berkali-kali menghela napas panjang ketika melihat lengan yang dipenuhi dengan gambar yang tidak ia pahami itu.
"Banyak sekali tatonya," gumam Arumi. Untuk sesaat ia mengalihkan tatapannya lurus kedepan. Ia bahkan tidak mengetahui jika Moedya saat itu mencuri-curi pandang terhadapnya.
Moedya pun kembali mengalihkan fokusnya kepada Keanu. Mereka kembali berbincang dengan akrab.
Akan tetapi, obrolan mereka harus terhenti ketika dengan tiba-tiba Arumi datang dengan wajahnya yang tidak nyaman.
"Aku harus ke toilet," ujarnya dengan gelisah.
Kedua pria itu menatapnya dengan penuh rasa heran. Ekspresi wajah mereka seakan bertanya kepada Arumi.
"Jangan bertanya untuk apa!" sergah Arumi dengan wajah yang semakin gelisah. Ia terus menggerakan tubuhnya dan mengapitkan kedua pahanya.
Keanu melirik sahabat bertatonya. Ia memberi isyarat kepada pria itu.
Dengan segera, Arumi mengikuti Moedya yang masuk ke dalam bengkel dan menuju kamar mandi. Moedya bahkan mengantar Arumi hingga di depan pintu kamar mandi itu. Ia berdiri tepat di hadapan gadis itu.
"Silakan, tapi disini tidak ada shower ataupun
closet duduk," terang Moedya dengan tatapan lekatnya kepada gadis itu.
"Tidak masalah," jawab Arumi. Ia pun masih berdiri di hadapan Moedya dengan semakin gelisah. Ia balas menatap pria dengan tato di beberapa bagian tubuhnya itu.
"Aku bukan seorang permaisuri, jd kamu tidak perlu menungguiku disini," larang Arumi yang seketika membuat Moedya tersadar.
"Oh ... iya. Tentu. Maaf, aku hanya tidak menyangka karena kamu ikut kemari," ucap Moedya dengan sikapnya yang sedikit aneh.
Arumi menatapnya. Ia pun mengangguk pelan. "Oke ... um ... bisakah kamu segera keluar? Jangan sampai aku ... oh ... ****!" Arumi segera berlari ke dalam kamar mandi, ia bahkan menutup pintu kamar mandi itu dengan asal-asalan.
Sementara Moedya, ia hanya tertawa pelan melihat ulah gadis itu. Tak ingin menimbulkan kecurigaan di hati Keanu, ia pun kembali ke luar.
Arumi terdiam di dalam kamar mandi yang sederhana itu. Pakaian dalamnya kini telah basah. Dengan terpaksa, ia harus keluar tanpa memakainya. Setelah membilasnya, Arumi pun keluar dari dalam kamar mandi dengan menggenggam pakaian dalam itu. Ia menggulungnya menjadi sangat kecil, sehingga tidak terlalu tampak jika dilihat sekilas saja.
Dengan langkah tidak yakin, Arumi menghampiri kedua pria yang belum selesai berbincang sejak tadi.
"Kakak!" panggil Arumi pelan. "Aku tunggu di mobil. Jangan terlalu lama!" pesannya. Ia pun melanjutkan langkahnya tanpa melihat kearah Moedya yang tampak keheranan.
Moedya tersenyum simpul. Ia melihat Arumi menggenggam sesuatu di tangan kanannya. Sesuatu dengan warna hitam.
__ADS_1
Arumi masuk kembali ke dalam mobil. Ia pun duduk dengan wajah datar yang sedikit tegang. Ia juga tampak merasa risih dengan dirinya sendiri.
Moedya hanya tersenyum simpul. Ia seakan mengetahui apa yang terjadi kepada Arumi. Ia pun segera mengakhiri perbincangannya bersama Keanu.
Sesaat kemudian, Keanu pun telah kembali ke dalam mobilnya. Ia telah bersiap untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Dengan ragu-ragu, Arumi menoleh kearah pria dengan singlet hitam itu. Pria yang kini melayangkan sebuah senyuman kecil, untuk dirinya.
Arumi hanya tersipu malu seraya mengalihkan pandangannya ke depan. Ia tidak ingin menatap pria dengan banyak tato itu untuk lebih lama lagi.
Beberapa saat kemudian, mobil sedan merah itu mulai meninggalkan area bengkel milik Moedya dengan anggunnya
Sementara Moedya masih berdiri menatap nanar kepergian gadis yang telah membuat hatinya merasa terusik.
...🕊 🕊 🕊...
Malam itu, Moedya memutuskan untuk tidur di bengkel. Ia memperhatikan beberapa orang teman-temannya yang yang tengah asik bermain kartu. Sesaat kemudian, ia pun bangkit dari duduknya dan melangkah menuju tangga.
"Aku turun dulu sebentar," ucapnya sambil terus berlalu tanpa menunggu jawaban dari teman-temanya.
Moedya duduk di atas motornya. Ia pun mulai menghubungi seseorang.
"Hai, selamat malam?" sapanya.
"Hai. Selamat malam," terdengar jawaban dari seberang sana. Sebuah suara lembut yang sudah lama tidak ia dengar.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Moedya. Wajahnya tampak serius.
Terdengar tawa renyah dari suara lembut itu. Tawa yang tidak berselang lama telah berganti menjadi sebuah isakan. "Kamu mengetahuinya. Kamu sangat tahu jika aku tidak baik-baik saja," rintih si pemilik suara itu.
Moedya terdiam. Ia hanya menghela napas panjang. "Seharusnya aku tidak menghubungimu lagi," sesal Moedya.
"Tidak, Moedya! Aku mohon, jangan abaikan aku! Hanya kamu yang bersedia mendengar keluh kesahku," terdengar isakan pelan dari ujung telepon. Ia seakan tengah meratap.
"Kamu sudah berjanji untuk selalu ada untukku. Sekarang aku menagih janjimu padaku!"
"Tetapi ... lain dulu lain sekarang. Semuanya telah berubah!" tegas Moedya.
"Pasti ada orang lain yang dapat membantu dan mendengarkan segala keluh kesahmu, dan aku rasa aku harus berhenti sampai disini. Cukup!" ucap Moedya lagi dengan lebih tegas.
"Tidak! Aku mohon ... jangan bersikap seperti itu padaku!"
"Terserah. Tetapi, aku sudah mengambil keputusan. Aku harap kamu dapat menghormati keputusan yang telah ku ambil. Aku rasa itu saja. Semoga semuanya segera membaik," Moedya pun mengakhiri perbincangannya di telepon.
Sesaat ia termenung di atas motornya dengan ponsel yang masih berada di dalam genggamannya. Ingatannya kini tertuju kepada gadis dengan sepasang lesung pipi itu.
Beberapa lama ia berfikir, akhirnya ia pun kembali ke atas dan meraih jaket beserta kunci motornya. Ia memutuskan untuk pergi keluar.
Moedya memacu motornya dengan cukup kencang. Ia merasa ingin segera sampai di tempat tujuan.
Beberapa saat kemudian, Moedya pun menghentikan motornya di depan sebuah rumah megah dengan cat berwarna putih. Ia melepas helmnya dan menatap lekat rumah itu. Ia juga tidak ingin melewatkan seseorang yang tengah berdiri di atas balkon itu, sendirian.
Gadis dengan rambut panjang terurai yang menjuntai dengan indah di pundak sebelah kirinya.
__ADS_1
Moedya terus memperhatikan gadis itu. Sejenak ia berfikir, apakah yang telah membawanya datang ke rumah itu? Arumi hanyalah seorang gadis yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu, dan Moedya bukanlah seseorang yang mudah untuk terkesan apalagi jatuh cinta.