Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Merayu Arumi 1


__ADS_3

Arumi tampak begitu konsentrasi dengan sebuah paris brest di hadapannya. Ia bahkan mengabaikan suara dering ponsel yang sejak tadi terus bergema dari dalam tas selempang miliknya.


Hari ini, Arumi menjadi penguasa di dapur itu. Ryanthi memutuskan untuk libur dan lebih memilih berdiam diri di rumah seraya melanjutkan membaca buku peninggalan Adrian. Akan tetapi, kali ini ia membaca dengan ditemani oleh Vera.


“Aku bisa gila jika terus seperti ini, Ver,” resah Ryanthi dengan wajah yang gelisah.


"Mungkin itu semua terjadi karena kamu terlalu mencintai Adrian. Kamu belum merelakan kepergiannya, sehingga kamu masih bisa merasakan keberadaannya di dekat mu,” sahut Vera seraya meneguk minumannya.


"Alam semesta mengetahuinya, seperti apa perasaanku terhadap Adrian. Terkadang aku merasa terlambat untuk mencintainya. Akan tetapi, terkadang aku merasa jika ... entahlah Ver, aku benar-benar tersiksa karena hal ini,” Ryanthi menyentuh kedua sudut matanya dengan ujung jemari. Air matanya seakan tidak pernah habis ketika ia harus mengenang seorang Adrian.


Vera terdiam untuk sejenak. Ia pun menatap Ryanthi dengan lekat. Sesaat kemudian, pandangannya beralih pada buku dengan sampul merah dan biru bergambar lembaran kertas yang membentuk simbol hati. Buku dengan judul "Risalah Rindu".


"Adrian memang seseorang yang sangat romantis. Aku tidak menyangka jika ia membaca sebuah bacaan seperti itu,” tunjuk Vera.


"Ini adalah buku antologi cerpen berisi tentang ungkapan kerinduan. Aku tidak mengerti kenapa Adrian meninggalkan buku ini untuk ku?” Ryanthi dengan wajah penuh rasa heran.


"Suamiku seolah telah menyiapkan rencana kematiannya sendiri,” lanjut wanita yang masih betah dengan kimono tidurnya itu.


"Maksudmu?” tanya Vera dengan tidak mengerti.


“Ya. Adrian selalu mengatakan jika ia meninggal maka ia ingin dimakamkan di sebelah makam ayahnya. Aku tidak tahu jika ini akan menjadi perjalanan terakhirnya,” Ryanthi berkali-kali menghela napas panjang. Ia tahu jika apa yang telah terjadi sudah tidak harus ia sesali lagi. Akan tetapi, rasa ikhlas dalam hatinya terkadang begitu jauh dan tak dapat ia raih, sehingga hanya meninggalkan sebuah penyesalan yang kian dalam.


"Cobalah buka bukunya sekarang!” cetus Vera dengan wajah antara penasaran namun tampak tidak begitu yakin.


Ryanthi menatap wanita dengan tubuh semampai itu. Sebenarnya ia takut untuk membuka buku itu di hadapan Vera. Lagipula, Ryanthi memang menikmati semua mimpi tentang Adrian. Ia merasa bahagia akan semua halusinasi yang dialaminya.


 


“Aku takut jika Adrian tidak datang menemuiku,” ucap Ryanthi dengan wajah sedikit was-was.


"Ryanthi, kita sudah terlalu tua untuk bermain-main seperti ini,” bantah Vera. Ia mencoba untuk meyakinkan wanita itu tentang semua khayalannya.


“Aku tahu. Akan tetapi, aku kembali menjadi Ryanthi berusia dua puluh tiga tahun ketika Adrian datang padaku. Aku juga lupa dengan kejadian itu, apakah memang benar-benar pernah aku alami atau tidak. Aku merasa tidak yakin akan hal itu. Namun, Adrian terasa begitu nyata untukku. Aku bahkan dapat menyentuhnya dengan kedua tanganku,” Ryanthi tampak berfikir. Ia pun merasa heran dan tidak mengerti.

__ADS_1


Sementara itu di toko, Arumi masih fokus dengan kue yang tengah dibuatnya. Konsentrasinya baru terpecah ketika tiba-tiba ia mendengar suara yang sangat dikenalnya,


Arumi tersentak dan menoleh. Moedya sudah berdiri di pintu dapur seraya menyandarkan lengan sebelah kanannya pada lawang pintu tersebut.


"Hai ....” sapa Moedya dengan hangat.


Arumi menatapnya untuk sejenak, sebelum akhirnya ia kembali pada pekerjaannya.


Moedya pun masuk dan berjalan menghampiri gadis dengan apron berwarna hitam itu. “Masih sibuk?” tanya Moedya seraya berdiri di samping Arumi dan menatap gadis itu.


“Ada apa kemari?” tanya Arumi dengan sinis.


“Menemui mu,” jawab Moedya dengan tenangnya.


"Tadinya aku ingin mengajakmu keluar, tapi kulihat kamu sedang sibuk,” lanjut pria dengan kaos oblong hitam itu.


Arumi menghentikan pekerjaannya untuk sejenak. Ia kemudian menatap pria berpenampilan eksentrik itu dengan cukup intens. Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibir berwarna joyful orange itu.


"Kalau begitu, aku yang akan menemani mu disini, bagaimana?” tawar Moedya masih dengan sikap kalemnya.


"Tidak usah. Hari ini aku sedang tidak membutuhkan seorang asisten,” tolak Arumi dengan ketusnya.


Mendengar hal itu, Moedya pun tergelak. Ia masih memperhatikan gadis dengan sanggul asal-asalan itu. Izin yang telah dikantonginya dari Keanu, ternyata seakan tak berlaku jika Arumi masih saja menghindarinya.


"Apa kamu sangat marah padaku?” tanya Moedya membuat Arumi kembali menoleh padanya. Ia lalu menutup pintu oven berukuran besar itu.


“Apa mau mu?” tanya Arumi. "Pertama, dengan seenaknya kamu menghinaku. Lalu, lalu tiba-tiba kamu datang dengan membawa sebuah senyuman manis penuh rayuan yang membuatku menjadi salah tingkah. Seenaknya!” gerutu Arumi.


Moedya tergelak. Tatapannya masih ia layangkan kepada gadis cantik dengan tampilannya yang apa adanya, bahkan beberapa lembar anak rambut gadis itu berjatuhan begitu saja menutupi lehernya.


“Kita sudah membahas itu kemarin. Haruskah kita bahas lagi sekarang?” tanya Moedya.


“Ya! Karena aku sangat marah padamu. Aku kesal dan aku muak dengan semuanya,” gerutu Arumi. Ia pun melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


“Oke. Kamu tahu kenapa aku bersikap seperti itu, bukan?” Moedya terus menatap lekat Arumi meskipun gadis itu seperti enggan untuk menoleh kepadanya.


“Aku tidak yakin jika itu rasa cemburu,” gumam Arumi. Ia masih menatap oven berukuran besar itu.


“Lalu menurutmu, perasaan apa itu?” pancing Moedya.


Arumi terdiam. Gadis itu hanya menundukan wajahnya dan menyembunyikan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya. Akan tetapi, dengan segera ia mengulum senyumannya. Membuangnya jauh dan ia tak ingin terhanyut dalam pesona pria dengan penampilan eksentrik itu.


 


“Sebaiknya pergi dan jangan ganggu aku!” sergah Arumi. “Aku senang karena Edgar sudah kembali ke Eropa. Aku harap kamu juga kembali ke bengkelmu!” lanjut Arumi seraya memeriksa kue-kue yang sedang ia panggang.


“Oh ... jadi si bule itu sudah pulang? Syukurlah. Aku senang mendengarnya,” sahut Moedya dengan senyuman khasnya yang menawan.


Ah ... Arumi tidak ingin melihat senyuman itu. Ia takut akan kembali terlena oleh pesona Moedya yang telah mengikatnya sejak awal.


Arumi ingin beristirahat dan melepaskan sejenak kisah-kisah penuh halusinasi yang hanya membuatnya merasa pusing. Perasaan yang belum terungkap sepenuhnya memang sangat menyiksa. Akan tetapi, ia tidak ingin lagi menunjukan rasa itu secara berlebihan di hadapan Moedya. Arumi merasa jika itu hanya akan membuat Moedya menjadi besar kepala.


“Aku sudah bicara dengan kakakmu. Dia bertanya macam-macam tentang kita,” ucap Moedya.


“Kita?” Arumi mengerutkan alisnya hingga benar-benar tersambung. Ia pun tertawa pelan. Ia lalu mengeluarkan loyang-loyang panas itu dan meletakannya di sebelah Moedya, bahkan hampir saja mengenai tangan pria itu.


“Hei, Nona! Hati-hati!” Moedya segera menarik tangannya. Sementara Arumi tidak mempedulikannya sama sekali. Justru ia terlihat sengaja melakukan hal itu.


“Apa yang harus dibahas tentang kita? Tidak ada!” ujar Arumi dengan gaya bicaranya yang lugas. Ia ingin menunjukan kepada Moedya, bahwa Arumi bukanlah seorang gadis yang mudah untuk terbawa suasana.


“Tidak ada apa-apa diantara kita. Iya, kan?” jelas Arumi lagi.


Moedya terdiam. Ia hanya menatap gadis itu dengan perasaan yang aneh. Ia tahu jika ia pasti akan bekerja keras kali ini.


“Jadi ... begitu rupanya. Oke. Semua yang terjadi diantara kita bukan apa-apa, termasuk kejadian sore itu di pinggir danau ....” Moedya mendekati Arumi dan berdiri tepat di hadapannya.


“Aku tidak yakin jika kamu dapat melupakannya begitu saja. Kita melakukannya cukup lama, dan aku tahu jika kamu sebenarnya sangat menyukainya, bukan?” Moedya tersenyum puas seraya terus melayangkan tatapan lembutnya kepada Arumi.

__ADS_1


__ADS_2