Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● LIMA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Adrian memarkirkan mobilnya di halaman depan kediaman Surya. Sambil meletakan sebelah tangannya di atas kemudi, ia menatap Ryanthi dengan mata abu-abunya. Sementara Ryanthi hanya tersenyum kepadanya.


"Jadi, bagaimana? Kapan aku bisa mengajukan surat lamaran pekerjaanku?" tanya Ryanthi.


Sepertinya ia begitu serius ingin bekerja di tempat Adrian.


Adrian tersenyum renyah menanggapi pertanyaan itu. "Bagaimana, ya? Setelah kupikir-pikir ...." ia terdiam untuk sejenak, "aku rasa akan lebih baik jika kau bekerja di dapurku saja," lanjutnya membuat Ryanthi seketika mendelik dengan tajam padanya. Sementara Adrian hanya tertawa geli menanggapinya.


"Jangan lupa untuk memberitahukan kepada ayahmu tentang yang telah kita bicarakan tadi. Aku ingin jawaban secepatnya," ucap Adrian.


Ryanthi menoleh dan tersenyum. "Kenapa kau tidak bicara saja sendiri, bukankah kalian berteman dekat dan sangat akrab?" ujar Ryanthi. Ia ingin menguji sampai di mana keberanian Adrian.


Adrian hanya mengeluh panjang. Ia beberapa kali mengempaskan napas pendek. "Ayolah, Ryanthi. Aku mohon jangan bersikap seperti itu. Aku dan ayahmu memang berteman. Akan tetapi, untuk urusan yang satu ini, aku harus mengumpulkan segenap keberanianku dulu. Aku sangat malu," bisiknya.


Ryanthi menyunggingkan sedikit senyuman di sudut bibirnya. Gadis itu pun mengernyitkan keningnya. "Biar aku temani jika kau mau. Lagi pula, kenapa harus malu? Bukannya selama ini kau sudah biasa berbincang santai dengan ayahku? Lagi pula sejak kapan kau menjadi seorang pemalu? " Ryanthi memberondong Adrian dengan banyak pertanyaan. Namun, di balik semua itu, ia juga tengah memberi Adrian semangat.


Adrian hanya dapat menatap gadis itu. Ia tidak ingin berdebat, lagi pula memang sudah seharusnya ia yang bicara langsung kepada Surya, bukannya menyuruh Ryanthi. Akan tetapi, ini adalah hal yang baru baginya. Ia belum pernah melakukan sesuatu yang seperti itu sebelumnya.


"Baiklah," jawab Adrian mantap. Ia pun mengikuti Ryanthi turun dari dalam mobilnya dan masuk ke rumah untuk menemui Surya.


Kebetulan sekali, karena sore itu Surya tengah duduk-duduk santai bersama Maya dan juga cucu pertama mereka, yaitu Padma. Ryanthi segera mengajak Adrian menemui mereka di ruang keluarga. Melihat kedatangan mereka berdua, Surya dan Maya tampak senang sekali.


Adrian duduk di sofa yang menghadap langsung kepada Surya dan Maya. Sementara Ryanthi, asyik bermain dengan si kecil Padma. Tidak berselang lama, Vera pun datang menghampiri mereka.


Adrian dan Surya terdengar berbincang ke sana- kemari sebelum akhirnya pria bermata abu-abu itu mengutarakan niat yang sebenarnya. "Saya dan Ryanthi sudah cukup lama menjalin hubungan, dan Anda juga pasti tahu akan hal itu. Oleh karena itu, saya berniat untuk melamar Ryanthi,"


ungkap Adrian dengan sangat yakin.


Ryanthi tersipu mendengar hal itu, terlebih karena Vera meliriknya dengan nakal. Kedua gadis dari Surya Wijaya itu pun sama-sama tersenyum.


Tentu saja Surya sangat setuju dengan hal itu, meskipun pada akhirnya ia mengembalikan keputusan kepada Ryanthi sebagai yang paling berhak menolak ataupun menerima pinangan tersebut. Sedangkan Ryanthi, gadis itu hanya senyum-senyum.


"Mana mungkin Ryanthi menolaknya, Pa," sela Maya seraya melirik putri sambungnya itu.

__ADS_1


"Jika Ryanthi sudah setuju, kami selaku orang tua Ryanthi ya ikut setuju saja. Apalagi saya sudah kenal dekat dengan Mas Adrian," ucap Surya membuat Adrian melirik si pemilik wajah cantik berbaju merah itu dengan wajah dan mata berbinar.


......................


Kebahagiaan Adrian tidak terkira karena ia sudah mengantongi izin untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi bersama Ryanthi. Pagi-pagi ia sudah bangun, berolah raga, dan diakhiri dengan berenang. Setelah itu ia asyik berjemur untuk menghangatkan tubuhnya. Tanpa ia sadari, Indira datang menghampirinya.


"Keterlaluan! Ryanthi sudah pulang dan kau tidak mengajaknya menemui Mama?" protes Indira seraya duduk di kursi kayu sebelah Adrian.


Adrian tersenyum lebar. Kali ini ia tampak lebih segar, tidak loyo seperti kemarin-kemarin. Semangatnya sudah kembali. Ia kini ibarat sebuah mobil yang baru selesai di servis. "Aku belum sempat, Ma. Tadinya aku akan mengajaknya hari ini atau mungkin besok," jawab Adrian tanpa menoleh kepada Indira. Ia tengah asyik menikmati sinar mentari yang tidak pernah ia rasakan sehangat ini pada hari-hari sebelum Ryanthi kembali.


"Kau selalu mencari alasan. Kau tahu kan Mama sangat merindukan gadis itu?"


Adrian menoleh sesaat kepada wanita yang kini terlihat kesal padanya. Ia pun tertawa pelan.


"Aku jauh lebih merindukannya, dan aku belum mau membaginya dengan orang lain," jawab Adrian enteng. Ia seperti tidak sadar jika saat ini ia tengah berbicara dengan wanita yang telah melahirkannya.


"Termasuk Mama?" tanya Indira.


"Adrian!" panggil Indira. Wanita itu memasang wajah tidak suka dengan sikap Adrian yang meninggalkannya begitu saja.


Adrian menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Aku akan sarapan nanti setelah mandi," ucapnya sambil tersenyum kalem kepada Indira. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar. Sementara Indira merasa sangat penasaran dengan apa yang akan Adrian sampaikan padanya.


Ia hanya dapat menerka-nerka saja. Akan tetapi, ia harap itu adalah sebuah kejutan yang manis untuknya.


"Jadi, sebentar lagi kau akan menjadi Nyonya Adrian Winata," goda Vera sambil menyuapi Padma yang ia dudukan di kursi makannya. Ryanthi tersenyum. Ia pun kembali mengajak bermain keponakan kecilnya itu.


"Omong-omong, kemarin Arshan dapat promosi kenaikan jabatan," ucap Vera senang.


Ryanthi menoleh dengan wajah berseri. "Sungguh?" ia meyakinkan Vera.


Vera mengangguk yakin. " Arshan sendiri yang bilang. Namun, ia merasabsedikit takut kalau itu terjadi karena hubunganmu dengan Adrian bukan karena prestasi kerjanya," jawab Vera lagi.

__ADS_1


Ryanthi tidak langsung menjawab. Diakuinya jika ia pernah membahas masalah itu dengan Adrian. Akan tetapi, ia tidak pernah meminta Adrian untuk melakukan apapun, apalagi menaikan jabatannya. Dulu Ryanthi hanya bermain-main saja dengan Adrian.


"Arshan sudah lama bekerja di sana, itu yang aku tahu. Ia juga sudah sangat kompeten dalam bidangnya. Jadi menurutku dengan atau tanpa rekomendasi dariku, memang sudah seharusnya ia mendapatkan kenaikan jabatan dengan penghasilan yang jauh lebih besar. Iya kan?" jelas Ryanthi.


Vera setuju seraya manggut-manggut. "Aku senang karena semua yang ada di rumah ini sudah jauh lebih baik. Hubunganku dengan Arshan, hubunganmu dengan mamaku, dan akhirnya Adrian benar-benar melamarmu. Namun, aku masih merasa sedih dengan status mamaku. Meskipun sudah belasan tahun menemani papa, tapi ia belum mendapatkan apa yang menjadi haknya, yaitu menikah dengan papa dan melepaskan status istri sirinya. Entah apa alasan papa tidak juga mengabulkan keinginan mamaku," wajah Vera seketika tampak sedih. Ia kembali menyuapi si kecil Padma. Anak itu makan dengan lahapnya meskipun sambil terus bermain.


......................


Sore itu, Surya mengantar Ryanthi berziarah ke makam Farida yang baru. Sesuai janjinya, ia sudah membuat tempat peristirahatan terakhir Farida menjadi terlihat jauh lebih layak.


Ryanthi menarik napas panjang ketika ia berjongkok di dekat nisan dengan nama "Alfarida Aryanthi Wijaya" Pusara ibunya yang kini terlihat jauh lebih rapi dengan berlapiskan granit berwarna putih. Ryanthi pun menaburkan bunga-bunga yang ia bawa di atas pusara itu.


"Ibu, aku sudah pulang," ucapnya lirih.


"Aku sudah kembali untuk mengawali dan menata masa depanku seperti yang harapkan dulu. Aku juga ingin memberitahu ibu, jika Adrian memintaku untuk menjadi istrinya. Ia sudah bicara dengan ayah, dan sepertinya ayah sangat setuju. Aku harap Ibu juga merestui kami," sesaat Ryanthi menyeka bulir-bulir bening yang mulai menetes di pipinya. Sedangkan Surya hanya berdiri di samping gadis itu dan terus memperhatikannya.


"Aku menyesal karena ibu tidak sempat bertemu dengan Adrian. Ia memang pria yang menyebalkan dan suka sekali main perintah. Ia tidak suka jika aku membantahnya, dan ia akan menjitak keningku jika aku membuatnya kesal.


Namun, ia pria yang sangat baik. Ia menungguku selama tiga tahun, dan saat aku kembali ia langsung mengajaku menikah. Tentu saja aku mau. Aku menerimanya dengan senang hati. Ibu tahu kan jika aku sangat mencintainya, dan aku tidak mungkin membuatnya kecewa karena sebuah penolakan meskipun sebenarnya aku masih ingin bisa meraih impianku tapi ... aku bisa melanjutkan itu nanti setelah aku menikah. Aku yakin Adrian tidak akan membatasi kehidupanku. Ia pria yang pintar dengan wawasannya yang luas. Aku rasa ia akan mendukungku sepenuhnya."


"Ibu bisa beristirahat dengan tenang kali ini. Aku sudah aman. Ada banyak orang yang menyayangiku, bahkan tante Maya pun sekarang sangat baik padaku. Aku bersyukur untuk segalanya. Terlepas dari semua kepahitan yang kualami selama ini, ternyata Tuhan masih menyayangiku. DIA memberikan rasa manis yang teramat manis di akhir ceritaku."


"Tidak, ini bukanlah akhir. Namun, ini akan menjadi babak baru dalam hidupku. Sebentar lagi namaku bukanlah Ryanthi Amyra Putri Wijaya, tapi akan berubah menjadi Ryanthi Amyra Adrian Winata. Doakan semoga aku bisa menjalani babak baru dalam hidupku. Aku berjanji padamu, aku akan tetap menjadi Ryanthi-mu yang kuat, yang tidak suka berkompromi dengan kesedihan, yang tidak menjadikan air mata sebagai sahabatnya."


"Aku berjani, aku akan tetap berdiri kokoh meskipun sedang diujung kematian.


Sebagai putrimu, aku hanya bisa mendoakanmu.


Aku harap ibu pun bisa tenang dalam pelukanNya, menemukan kebahagiaan dalam surgaNya.


Jangan berhenti untuk sesekali datang ke dalam mimpiku, menawar rasa rinduku, karena aku pasti akan selalu mengenangmu, ibu. Aku pasti akan selalu merindukanmu."


Ryanthi menghapus setiap tetes air mata yang jatuh di sudut bibirnya. Ia harus tetap kuat dan berdiri tegak. Terlebih karen saat ini ia telah dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya.

__ADS_1


__ADS_2