Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
• EMPAT PULUH DUA : Kue Perdamaian


__ADS_3

Ryanthi tengah duduk termenung, saat menerima pesan masuk dari Indira. Segera dibukanya pesan tadi. Seketika, Ryanthi terbelalak tak percaya, melihat penampakan Adrian yang sangat konyol. Gadis itu langsung memberikan komentar.


Dia kenapa?


Sesaat kemudian, Indira membalas.


Adrian bekerja keras membuatkanmu kue. Jangan marah lagi padanya. Dia sangat kacau. Adrian bahkan sampai lupa bercukur.


Semilir angin sore menerpa wajah cantik Ryanthi, yang tengah memikirkan langkah hidup selanjutnya. Ryanthi sudah mantap melanjutkan pendidikan di luar negeri. Dia tidak akan mundur lagi. Ryanthi harus dapat mewujudkan cita-citanya dan mendiang Farida.


Lalu, bagaimana dengan Adrian? Sejujurnya, Ryanthi mulai merasakan ketertarikan terhadap pria itu.


Sesaat kemudian, mobil milik Vera berhenti di halaman. Dia baru kembali dari dokter. Vera terlihat sangat bahagia hari itu. Mungkin, karena Arshan menemaninya.


"Bagaimana, Ver?" tanya Ryanthi.


Vera tersenyum. "Semuanya normal. Kami baru bisa mengetahui jenis kelamin bayi setelah usia kandungan tujuh bulan," jawabnya.


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya.


Laki-laki atau perempuan, aku rasa sama saja," sahut Ryanthi lagi.


"Iya. Aku sudah tidak sabar ingin membeli peralatan bayi. Namun, mama mengatakan pamali jika belum tujuh bulan," sesal Vera.


Ryanthi tersenyum. "Ingat, jangan kalap!" bisiknya pelan.


Sedangkan, Arshan lebih memilih segera masuk dan berganti pakaian. Hari ini adalah jadwalnya piket ke pabrik.


"Aku masuk dulu. Hari ini Arshan akan berangkat kerja," ucap Vera seraya menuju pintu masuk.


"Piket, ya?" tanya Ryanthi.


Vera tertegun. Dia menoleh dengan tatapan nanar. Tatapan itu membuat Ryanthi merasa tidak enak hati.


"Biasanya dia libur di hari Sabtu," ucap Ryanthi lagi.


Vera tersenyum, meskipun ada sedikit perasaan aneh dalam hatinya. Dia sadar bahwa Ryanthi mengenal Arshan jauh lebih lama darinya.


Sementara, Arshan telah bersiap. Hari ini, dia tidak memakai seragam kerja, karena dirinya hanya akan memantau. Arshan memimpin sekitar enam puluh orang dalam satu cell. Sebenarnya, dia sudah cukup senior jika dibandingkan dengan anak buahnya yang lain. Namun, itu tidak membuatnya merasa kaku atau menjadi seseorang yang besar kepala.


Arshan dapat berbaur dengan semua anak buahnya. Tidak ada jarak antara atasan dan bawahan. Apalagi, dia sadar bahwa dirinya masih bekerja dan di gaji oleh orang lain.


Vera memperhatikan sang suami. Dia begitu mengagumi sosok Arshan yang baik, meskipun setelah menikah pria itu belum menyentuhnya sama sekali. Vera mencoba memahaminya. Dia juga tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Bagi Vera, berada di dekat Arshan saja sudah jauh lebih dari cukup.


"Kamu pulang jam berapa nanti?" tanya Vera, ketika Arshan sedang memakai sepatu.


"Sebelum jam lima," jawab Arshan seraya bangkit. Dia mencari jaketnya yang kebetulan sedang dipegang oleh Vera.


"Ini," Vera menyodorkan jaket itu.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik. Ingat pesan dari dokter tadi," pesan Arshan.


Vera tersenyum lebar mendengar ucapan Arshan yang dirasa sangat perhatian padanya. Dia memeluk suaminya. Namun, Arshan hanya berdiri mematung.


"Sudahlah. Aku harus berangkat." Arshan melepaskan pelukan Vera. Dia keluar kamar. Sesaat kemudian, terdengarlah suara motornya yang keluar dari halaman rumah.


................


Ryanthi baru selesai mandi dan berpakaian, ketika mendengar ada seseorang yang melempar kerikil ke kaca jendela kamar. Ryanthi tahu siapa pelakunya.


Gadis itu berjalan ke dekat jendela, lalu mengintip dari balik tirai. Tampaklah Adrian dengan sebuah kotak berwarna merah di tangannya. Pria itu tersenyum seraya memberi isyarat agar segera turun. Adrian kemudian merogoh ponsel dari saku kemejanya.


Tanpa dikomando, Ryanthi juga mengambil ponselnya yang tergeletak di tempat tidur. Setelah itu, dia kembali ke dekat jendela.


"Turunlah. Aku membawakanmu sesuatu." Adrian menunjukan kotak merah yang dia bawa.


Meski ragu, Ryanthi mencoba untuk tersenyum.


"Ayo, turunlah."


Ryanthi menutup sambungan telepon.


Dia menuruni anak tangga dengan penuh semangat. Bagaimanapun juga, Ryanthi bahagia atas kedatangan Adrian.


Sesampainya di luar, Ryanthi mendapati Adrian sudah berdiri menatapnya. Pria itu tersenyum kalem. Dia terus menatap wajah cantik yang sangat dirindukannya.


"Kau sudah bercukur?" tanya Ryanthi sambil menangkup paras tampan Adrian.


Adrian mengangguk pelan. "Aku takut dimarahi lagi," jawabnya diselingi senyum kalem.


"Aku sangat merindukanmu. Hari-hariku terasa sangat menyedihkan. Aku seperti sedang berada di sebuah gurun pasir yang luas tanpa air dan makanan. Aku menghabiskan waktuku dengan duduk termenung di tempat tidur, dan tidak bisa berhenti memikirkanmu. Kamu tidak tahu betapa tersiksanya aku saat itu," ungkap Adrian dengan sorot pilu.


"Aku juga menangis setiap malam karena teringat padamu," balas Ryanthi.


Adrian terlihat senang mendengar kata-kata Ryanthi. Dia meletakan kotak merah itu di atas kap mesin mobilnya, kemudian menggenggam erat tangan Ryanthi.


"Kalau begitu, kita sudahi kesalahpahaman ini. Aku berani bersumpah bahwa yang kutunggu hari itu bukanlah Fiona, melainkan dirimu. Coba pikir, untuk apa aku menyuruhmu datang jika di sana akan ada wanita lain?"


"Siapa Fiona?" tanya Ryanthi.


Adrian tak segera menjawab. Ada beban besar dalam sorot mata pria itu.


"Tak apa jika kamu tak ingin membicarakannya. Aku sangat menghargai itu," ucap Ryanthi sedikit kecewa.


"Kami pernah dekat sekitar dua tahun yang lalu. Namun, setelah itu aku tidak pernah berhubungan lagi dengannya." Adrian terdiam sejenak. Keluhan pendek meluncur dari bibirnya. "Kami dekat selama hampir satu tahun, sebelum aku sadar bahwa itu adalah kesalahan terbesar yang pernah kulakukan," sesal Adrian.


"Kenapa?" tanya Ryanthi penasaran.


Adrian menoleh sesaat kepada Ryanthi. Ada keraguan besar di matanya. Dia tidak berani mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. "Aku tidak yakin kamu bisa menerima ini," ucapnya ragu.

__ADS_1


"Katakan saja. Jika memang itu hanya masa lalu yang sudah kamu tinggalkan, maka aku pasti akan menerimanya," ucap Ryanthi, meyakinkan Adrian agar bersedia bicara jujur.


"Ryanthi, aku sudah menghancurkan sebuah pernikahan." Adrian kembali terdiam.


Sementara, Ryanthi menunggu kelanjutan cerita Adrian dengan jantung berdebar.


"Fiona adalah istri dari rekan papaku. Kami dulu bertemu di jamuan bisnis. Bukannya mengurusi pekerjaan, aku malah sibuk memperhatikan wanita yang juga sepertinya menaruh perhatian lebih padaku. Wanita yang sudah menikah," tutur Adrian.


"Sejak saat itu, kami jadi sering bertemu secara diam-diam. Namun, akhirnya hubungan gelap kami diketahui suaminya. Dia marah dan melampiaskan kepada papaku, sampai papaku jatuh sakit." Adrian kembali terdiam.


"Bukannya kamu pernah mengatakan tidak menyukai kisah cinta yang rumit? Menurutku, itu jauh lebih rumit dari pada kisah cintaku dengan Arshan."


"Aku belum punya keberanian untuk menceritakan itu padamu. Aku pikir, Fiona tidak akan kembali ke Indonesia."


"Itu artinya jika wanita itu tidak pernah kembali, maka kamu tak akan bercerita apapun padaku?"


Adrian menatap Ryanthi. Dia tampak serba salah. "Itu masa lalu yang buruk dan sangat memalukan. Kamu pikir aku akan menceritakan hal seperti itu kepada wanita yang kucintai?"


Jantung Ryanthi kencang, saat mendengar Adrian mengucapkan kata cinta. Dia tersenyum, dan seakan mengabaikan semua hal tentang Fiona.


"Selama dua tahun terakhir, aku sudah tidak pernah berhubungan dengannya. Dia baru menghubungiku kemarin-kemarin, saat dirinya kembali ke Indonesia. Namun, aku lebih sering mengabaikannya. Lagi pula, perhatianku sekarang hanya tertuju padamu." Adrian mencium mesra jemari Ryanthi. Hal itu membuat Ryanthi sangat tersanjung.


"Apa kamu dapat kupercaya?" tanya gadis itu.


"Sudah kukatakan jika aku mencintaimu. Meskipun aku pria brengsek, tapi papaku selalu mengajarkan agar aku setia pada satu wanita, yaitu wanita yang sedang menjalin hubungan denganku. Aku tahu jika aku belum menyatakan cintaku padamu, tapi aku yakin kamu tidak membutuhkan hal seperti itu. Kamu pasti sudah dapat mengerti arti perhatianku selama ini, meskipun bagimu aku sangat menyebalkan."


Ryanthi tersenyum. Dia tersipu mendengar kata-kata manis Adrian padanya. Sesaat kemudian, Adrian melirik kotak merah yang dia letakkan di atas kap mesin.


Ryanthi tersenyum. Dia sudah mengetahui apa isi kotak itu. Ryanthi mengajak Adrian duduk di teras. Di antara undakan anak tangga.


Senyum Ryanthi semakin lebar, ketika Adrian membuka penutup kotak merah tadi. Tampaklah kue bolu di dalamnya.


"Aku mendapat resep kue ini dari video yang kutonton semalam suntuk. Namun, jujur saja aku berhasil membuatnya seperti ini karena bantuan mamaku. Sebelumnya aku ...." Adrian tidak melanjutkan kata-katanya. Dia menatap Ryanthi sambil menggelengkan kepala.


"Kamu benar-benar keterlaluan padaku, Ryanthi. Aku pusing saat menghadapi terigu, mentega, dan telur... ya Tuhan! Jika bukan karena dirimu, aku tidak akan bisa berlama-lama diam di dapur. Di dekat oven. Aku tidak tahu rasanya seperti apa. Pastinya tidak akan seenak buatanmu, tapi aku membuat ini dengan penuh cinta." Adrian bicara panjang lebar, tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari gadis yang ada di hadapannya.


"Tidak apa-apa. Lagi pula, jika rasanya tidak enak bisa kita berikan untuk Vera."


Ryanthi mengakhiri kata-katanya dengan tawa pelan. Belum pernah dia merasa sebahagia ini, setelah dirinya tinggal di kediaman Surya.


Adrian pun ikut tertawa. "Balas dendam tak kasat mata," bisiknya, yang langsung berbalas cubitan gemas dari Ryanthi.


"Ayo cicipi. Aku tahu kamu pasti memiliki banyak pertimbangan untuk memakannya, tapi ...." Adrian tidak melanjutkan kata-katanya. Dia terlihat ragu. Namun, pria itu segera mengambil satu potong, lalu menyuapkannya ke mulut Ryanthi. Setelah itu, dia tertawa geli karena serpihan kue tadi memenuhi mulut Ryanthi.


"Kamu memang menyebalkan," protes Ryanthi. Dia memukul lengan kokoh Adrian, yang lagi-lagi hanya menanggapi dengan tawa.


Sesaat kemudian, Adrian berhenti tertawa. Dia menatap Ryanthi dari jarak yang begitu dekat. Perlahan dan hati-hati, Adrian membersihkan sekitar mulut gadis itu dengan ibu jari. Jemari Adrian lalu berpindah ke bibir, mengusapnya perlahan.


Tanpa diketahui, Arshan menyaksikan adegan manis dia sejoli itu dari balkon. Dia langsung memalingkan wajah.

__ADS_1


__ADS_2