
Arumi terdiam menatap pria dengan jaket kulit berwarna hitam itu. Ia pun masih memasang wajah tidak bersahabat, yang ia tujukan kepada pria yang kini tengah melangkah kearahnya.
Arumi menjadi salah tingkah ketika Moedya benar-benar berdiri di hadapannya. Ia merasakan sesuatu yang aneh ketika pria itu kembali tersenyum dengan kalem kepada dirinya.
Arumi segera melipat kedua tangannya di dada. Ia mengangkat dagunya dengan anggun, yang disertai dengan tatapan matanya yang kian sinis.
"Hai ...." sapa Moedya dengan kalemnya. Ia terlihat begitu tenang dan juga segar.
"Untuk apa datang kemari?" tanya Arumi dengan ketusnya.
Melihat sikap ketus Arumi kepadanya, Moedya pun hanya menanggapi hal itu dengan sebuah senyuman. Ia mengerti jika Arumi masih kesal pada dirinya.
"Aku ingin menemui Arumi," jawab Moedya dengan tenangnya. Ia masih melayangkan tatapan yang sangat bersahabat kepada gadis itu.
Arumi pun mendelik dengan sinis kepada pria bertato itu. Dengan segera gadis itupun membalikan badannya dan berlalu ke dalam toko.
Moedya pun segera mengikutinya. "Miemie! Tunggu!" seru Moedya. Akan tetapi, Arumi tidak mempedulikannya. Ia terus masuk ke dalam toko. Sementara, Moedya pun terus mengikutinya.
"Miemie! Ayo kita bicara sebentar!" ajak pria dengan jaket kulit hitam itu.
"Aku sibuk!" jawab Arumi dengan sinis. Ia tidak mempedulikan Moedya sama sekali.
"Miemie! Aku tahu kamu marah padaku, tapi ... aku ingin bicara sebentar saja," Moedya bermaksud untuk meraih tangan Arumi, akan tetapi dengan segera gadis itu menepiskannya.
"Miemie! Ayolah, jangan bersikap seperti itu padaku!" pinta Moedya seraya terus mengikuti kemanapun gadis itu melangkah.
"Jangan ganggu aku!" sergah Arumi dengan jengkel.
"Aku kemari bukan untuk mengganggumu, Aku kemari untuk mengajakmu bicara," jawab Moedya dengan kalemnya.
"Tetapi aku tidak mau bicara denganmu!" tolak Arumi. Ia terus melakukan kesibukannya di dalam toko itu.
"Oke. Kamu tidak harus bicara, tapi cukup dengarkan saja aku yang sedang bicara!" jawab Moedya.
"Lebih baik aku mendengarkan lagu kesukaanku daripada mendengarkanmu bicara!" sergah Arumi lagi dengan begitu kesal.
"Aku yakin kamu pasti akan menyukai dengan apa yang akan ku katakan padamu ...." Moedya tidak melanjutkan kata-katanya, karena dengan cepat Arumi menyala ucapannya.
"Aku tidak peduli dengan apapun yang akan kamu katakan padaku!" tolak Arumi lagi dengan tegas.
Moedya tidak menyerah. Ia terus membujuk gadis itu. Ia tidak peduli meskipun para karyawan yang ada di toko itu memperhatikannya.
__ADS_1
Arumi pun menyadari akan hal itu. Ia tahu jika dirinya dan Moedya kini tengah menjadi pusat perhatian para gadis disana.
"Hentikan Moemoe! Kelakuanmu itu hanya mengundang perhatian mereka saja! Jangan membuatku malu disini!" sergah Arumi dengan tegas. Ia tampak begitu jengkel.
"Kalau begitu, ayo kita keluar sebentar," ajak Moedya.
Arumi menoleh dan menatap pria itu untuk sejenak. "Aku sibuk!" tolak gadis cantik itu dengan ketusnya.
"Sebentar saja. Aku janji, hanya sebentar!" bujuk Moedya. Ia berdiri denan berpindah-pindah, mulai dari samping kiri hingga ke samping kanan Arumi. Ia terus manghadapkan tubuhnya kepada Arumi, meskipun gadis ity tidak menoleh sedikit pun kepadanya.
"Tidak bisa!" tolak Arumi seraya memelankan suaranya.
"Kenapa? Aku janji hanya sebentar!" bujuk Moedya lagi.
"Aku sudah mengatakan 'tidak bisa!'. Ibuku sedang pergi, dan aku harus menjaga toko. Jadi ... maafkan aku Tuan Gondrong Bertato karena aku tidak bisa dan tidak akan pernah pergi denganmu!" tolak Arumi dengan tegas dan sangat ketus.
Melihat sikap ketus Arumi, Moedya hanya pun tersenyum. Ia masih berdiri di samping Arumi meskipun gadis itu tidak mempedulikannya.
"Aku tahu jika kamu pasti sangat marah padaku karena ucapanku waktu itu. Akan tetapi ... kamu juga harus mengerti kenapa aku bisa sampai bersikap seperti itu padamu," bujuk Moedya lagi. Ia mencoba meyakinkan Arumi jika ia merasa bersalah. Moedya juga membela dirinya.
"Terserah kamu mau bicara dan berfikir apapun tentang diriku. Aku sudah tidak peduli. Aku tidak mau memikirkan hal yang tidak penting!" sergah Arumi lagi.
Sesaat Arumi terdiam. Tidak lama kemudian, ia menoleh kepada pria itu dan menjawab, "Tidak!" tagsnya seraya berlalu meninggalkan pria bertato itu.
"Tetapi kamu sangat penting bagiku!" seru Moedya dengan cukup nyaring. Ia berdiri menatap Arumi yang kini telah menjaga jarak dengannya.
Arumi seketika tertegun. Ia pun menepuk keningnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sangat malu karena saat itu semua yang ada di toko itu tengah memperhatikan mereka.
Arumi pun membalikan badannya. Ia lalu menatap pria berjaket kulit hitam, yang masih berdiri menatapnya dengan intens.
Moedya berjalan menghampirinya. Ia berdiri di hadapan gadis itu. Tatapannya masih lekat ia layangkan kepada si pemilik wajah cantik dengan lesung pipinya yang manis.
"Ya, kamu sangat penting bagiku ...." ungkap Moedya dengan suaranya yang begitu dalam. Suara khas dari seorang pria dewasa.
Arumi menatap pria dengan gaya rambut *man bu*n itu. Sesaat kemudian, ia melirik ke samping kiri dan kanannya. Para gadis yang sejak tadi menjadi penonton gratis dari adegan drama itu pun seketika terkejut dan menjadi kelabakan.
"Kamu sudah mempermalukanku disini," ucap Arumi dengan pelan.
"Aku bahkan telah mempermalukan diriku sendiri dengan memohon seperti ini padamu," balas Moedya.
Arumi merasa bingung. Ia tidak tahu lagi dengan apa yang harus ia katakan.
__ADS_1
"Aku mohon pergilah! Jangan ganggu aku lagi!" pinta Arumi dengan pelan namun sangat tegas.
Moedya menatapnya dengan lekat. Ia tidak yakin jika Arumi sungguh-sungguh mengatakan hal itu. Pria itu dapat melihat hal lain dari sorot mata yang ditujukan Arumi kepadanya.
"Aku tidak yakin jika itu berasal dari hatimu," bantah Moedya.
"Apa yang kamu ketahui tentang hatiku? Kamu bahkan tidak mengenalku sama sekali," tuding Arumi.
"Karena itu izinkan aku untuk lebih mengenalmu!" bujuk Moedya lagi dengan sikapnya yang kalem.
Arumi terdiam. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia senang dan bersorak mendengar ucapan Moedya kepadanya. Akan tetapi, rasa marah dan kesal akibat hinaan Moedya tempo hari, masih membuatnya merasa jengkel kepada pria itu. Ia menyesalkan sikap Moedya yang tidak bersedia untuk mendengarkannya.
"Aku sudah memberimu keempatan untuk lebih mengenalku. Bukannya kamu sudah tahu siapa aku, sehingga kamu bisa menilaiku? Kenapa kamu ingin lebih mengenalku lagi?" sindir Arumi.
"Karena ada hal lain yang masih belum ku ketahui," jawab Moedya dengan yakin.
Arumi menatap pria itu dengan intens. Ia terus mencoba untuk melawan tatapan yang ditujukan Moedya kepadanya. Sebenarnya Arumi sudah tidak tahan. Kakinya kian lemas dan seakan tidak bertulang. Apalagi dengan tiba-tiba ia teringat akan kejadian di tepi danau senja itu.
"Kenapa para pria dengan mudahnya berbuat kesalahan dan dengan begitu mudah pula meminta maaf. Sementara saat kami para wanita melakukan suatu kesalahan, maka ... kalian menganggap seolah-olah kami adalah biang dari sebuah bencana besar," keluh Arumi pelan.
"Dirimu dan Edgar sama saja. Kalian berdua pria egois yang menganggap semuanya selesai begitu setelah meminta maaf. Sesuatu yang sudah sobek akan tetap meninggalkan bekas sobekannya meskipun sudah direkatkan kembali. Lalu ... apa kabar dengan hatiku? Kalian sungguh keterlaluan!" gerutu Arumi lagi.
Sesaat kemudian, Arumi membalikan badannya. Ia bermaksud untuk kembali ke dapur. Akan tetapi, dengan segera Moedya meraih tangan gadis itu.
"Aku berhak mendapatkan kesempatan kedua," bujuk Moedya dengan tanpa melepaskan tangan maupun tatapannya dari Arumi.
Arumi menatap tajam pria dengan penampilan eksentrik itu. Ia lalu melirik tangan Moedya yang masih memegangi pergelangan tangannya dengan erat.
Tangan itu seakan telah mengalirkan sebuah energi yang begitu kuat yang terus menjalar hingga ke seluruh tubuh Arumi.
Gadis itu pun terdiam. Ia merasa sangat gelisah dengan jantung yang berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.
Perasaan itu datang kembali. Rasanya sama seperti ketika ia pertama kalinya merasakan sentuhan tangan Moedya di wajahnya.
Entah ilmu apa yang dimiliki Moedya sehingga setiap kali tangannya mententuh kulit Arumi, maka gadis itu merasa seakan tengah tersengat aliran listrik.
Arumi ingin menepiskan tangan itu. Akan tetapi, nyatanya ia begitu menikmati getaran aneh yang terus menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.
Arumi hanya dapat menyembunyikan wajahnya seraya menunduk. Ia tidak ingin jika Moedya sampai melihat rona merah dari wajahnya.
Lagi-lagi Arumi tak dapat menahan pesona dari pria tampan bertato itu.
__ADS_1