
Arumi menatap lekat pria dengan beberapa bekas jerawat di wajahnya itu. Ia masih terus mencari dan mencoba untuk mengerti, apa yang telah membuatnya merasa tertarik kepada pria itu.
Kenapa pria itu begitu membuatnya merasa penasaran?
Arumi bermaksud untuk menghindar. Akan tetapi, dengan segera Moedya memegangi lengannya.
“Jangan menghindariku lagi!” cegah Moedya. “Aku yakin jika keberanianmu tidak sekecil itu untuk menghadapi ku,” ucap Moedya. Ia seakan tengah menantang Arumi untuk tidak bersembunyi darinya.
“Bukannya aku tidak berani, aku hanya tidak ingin berurusan denganmu,” bantah Arumi tanpa menunjukan wajahnya kepada Moedya.
“Aku rasa tidak seperti itu kenyataannya,” Moedya kembali berdiri di hadapan gadis itu. “Apa yang kamu takutkan, Arumi?” desak Moedya.
Arumi tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya dari pria berambut gondrong itu.
“Apa yang kamu inginkan? Kamu ingin agar aku memohon padamu?” tanya Moedya.
Arumi lagi-lagi tidak segera menjawab. Kedua bola matanya bergerak dengan tidak beraturan. Ia seakan tengah memikirkan sesuatu.
“Tidak ada alasan bagimu untuk memohon padaku!” ujar Arumi dengan pelan.
Moedya menghela napas panjang. Ia tahu jika Arumi bukanlah Delia atau gadis manapun yang pernah ia kenal. Arumi jauh lebih dari itu.
“Ayo buat semuanya menjadi lebih mudah!” ajak Moedya. Ia seakan memberikan sebuah harapan indah bagi Arumi.
“Maksudmu?” tanya gadis dengan sanggul asal-asalan itu.
Moedya semakin mendekatkan dirinya kepada Arumi. Akan tetapi, ia tidak berani untuk menyentuh gadis itu. Ia hanya dapat menatap Arumi.
“Kenapa tidak mau bersikap jujur? Setidaknya, lakukan itu pada dirimu sendiri!” pinta Moedya dengan pelan.
“Tidak ada yang harus aku akui,” bantah Arumi dengan tegas.
“Sungguh?” desak Moedya.
Arumi membalikan badannya. Ia pun melipat kedua tangannya di dada.
Moedya sendiri masih berdiri di tempatnya. Ia belum ingin beranjak. Ia tidak ingin mensia-siakan kesempatannya seperti kemarin.
“Aku hanya ingin mengetahui satu hal. Diantara aku dan pria Perancis itu, siapa yang paling kamu inginkan?” tanya Moedya dengan berani. Ia tidak banyak bertele-tele.
Arumi tidak menyangka jika Moedya akan bertanya seperti itu kepadanya. Ia pun merasa bingung, meski pada kenyataannya ia sudah memiliki jawaban yang pasti. Akan tetapi, Arumi tidak ingin mengakui hal itu dengan terlalu cepat.
“Apa untungnya jika aku menjawab pertanyaan itu? Kalian berdua sama saja. Kalian datang dan pergi, kalian melakukan apapun yang kalian inginkan dan menurut kalian benar, kalian .... menyebalkan!” umpat Arumi dengan kesal. Ia masih membelakangi Moedya.
“Lalu ... bagaimana caranya agar aku tidak tampak menyebalkan lagi di matamu?”pancing Moedya.
__ADS_1
“Aku tidak tahu dan itu juga bukan urusanku!” tegas Arumi dengan jengkel. “Pekerjaanku masih banyak, jadi sebaiknya pergilah dan jangan gangu aku!” usir Arumi dengan kecing.
Terdengar sebuah keluhan dari bibir Moedya. Ini adalah kali kedua Arumi mengusirnya. Ia benar-benar merasa kasihan pada dirinya sendiri. Moedya pun hanya dapat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ini kedua kalinya kamu mengusirku. Apa kamu tidak merasa kasihan padaku?” tanya Moedya.
Arumi tertawa pelan. Ia kemudian membalikan badannya dan menatap Moedya. “Apa yang kamu inginkan?” Arumi bertanya balik.
“Kamu ....” jawab Moedya dengan entengnya.
Dengan segera Arumi kembali membalikan bedannya. Sementara Moedya hanya tersenyum kecil.
“Kamu tahu kenapa gula rasanya manis?” tanya Moedya.
“Gula memang rasanya manis,” jawab Arumi.
“Ya, gula memang manis. Namun rasa manis di dalam gula tidak terlalu berbahaya jika dibandingkan dengan rasa manis yang ku rasakan akibat sentuhan bibirmu. Karena hal itu telah membuatku tidak bisa tidur selama beberapa hari,” rayu Moedya seraya mengulum senyuman di bibirnya. Sebuah rayuan usang dan sebenarnya tidak nyambung sama sekali.
“Kamu itu jauh lebih menakutkan dari sebuah film horor. Aku seperti mendapat teror, kamu tahu kenapa?” tanya Moedya lagi.
Arumi tertegun. Ia lalu menggeleng pelan.
“Karena aku melihat wajahmu dimana-mana, bahkan hingga di dalam mimpiku, aku melihatmu. Namun, tentu saja di dalam mimpiku ... kamu tidak segalak ini. Kamu jauh lebih lembut dan ... mengesankan,” tutur Moedya kembali mengulum senyumnya.
“Mengesankan?” gumam Arumi. Kata itu telah membuat fikirannya melayang kemana-mana.
Arumi benar-benar tidak tahan dengan semua rayuan Moedya yang ditujukan kepadanya. Rasanya ia ingin melompat kegirangan karenanya. Akan tetapi, ia manahan dirinya untuk tidak melakukan hal itu. Dengan sekuat tenaga ia bertahan untuk tidak meleleh.
“Aku yakin jika kamu pasti mengatakan hal yang sama kepada semua gadis,” tukas Arumi dengan nada bicaranya yang ketus.
“Bagaimana kamu bisa tahu hal itu?” canda Moedya.
Arumi mengeluh pelan. Ia sudah dapat menebak hal itu dengan baik. "Sudah ku duga," gumam Arumi pelan.
“Tentu saja tidak!” bantah Moedya dengan tegas.
“Sebenarnya ... aku bukan tipe pria yang pintar merayu. Aku juga bukan pria yang romantis seperti Keanu. Aku hanya seorang Moedya seperti yang telah kamu kenal,” ungkap Moedya dengan wajah yang terlihat begitu serius.
“Aku belum mengenalmu sama sekali,” bantah Arumi .
“Kalau begitu ayo kita buat diri kita saling mengenal! Kita mulai lagi dari awal dan lakukan secara perlahan,” cetus Moedya dengan penuh semangat.
“Apa maksudmu?” tanya Arumi.
“Ayo kita pacaran!” ajak Moedya dengan lantang dan sangat yakin.
__ADS_1
Arumi tertegun. Ia menatap Moedya dengan hati yang berbunga-bunga karena memang itulah yang dia inginkan.
“Pacaran? Kamu mengajak ku pacaran?” tanya Arumi.
Moedya tersenyum simpul.
“Apa alasanmu mengajak ku pacaran? Aku tidak yakin jika itu semua karena cinta,” tukas Arumi lagi. Ia meragukan perasaan Moedya kepada dirinya.
Moedya menghela napas dalam-dalam. Ia pun memberanikan diri untuk menyentuh pundak Arumi dan membuatnya berbalik.
“Aku akan membuktikannya padamu. Aku juga ingin meyakinkan diriku tentang perasaan ini. Seandainya kamu bersedia untuk membantuku, maka aku akan merasa sangat bahagia. Berikan aku kesempatan, dan aku tidak akan mensia-siakannya lagi!” pinta Moedya dengan sungguh-sungguh.
Arumi tidak menjawab. Ia hanya menatap pria itu dengan lekat. Ada sebuah rasa yang begitu bergejolak di dalam dirinya. Haruskah ia tunjukan saat ini kepada Moedya tentang seperti apa perasaannya?
“Aku tahu kamu pasti butuh waktu. Aku tidak akan memaksamu untuk dapat mengatakan “iya" saat ini. Akan tetapi, kamu harus selalu ingat, jika aku menunggu jawabanmu.”
Arumi tidak menjawab. Ia kemudian mengambil sebuah box berwarna jingga keemasan dan memasukan sebuah Paris Brest ke dalamnya.
“Ini untuk mu, ambilah!” Arumi menyodorkan box itu kepada Moedya.
“Bu Ranum mengatakan jika ini adalah makanan kesukaanmu,” lanjut Arumi.
“Selamat ulang tahun, maaf karena aku belum sempat mengucapkannya padamu,” ucap Arumi lagi dengan wajah tertunduk.
Moedya menerima apa yang Arumi sodorkan padanya. Ia pun tersenyum simpul.
“Terima kasih,” jawab Moedya dengan pelan.
Arumi kembali membelakangi pria itu. “Pergilah!” ucapnya membuat Moedya kembali tertegun dan merasa bingung karenanya.
"Kamu sungguh ingin aku pergi?" tanya Moedya. Ia seakan ingin meyakinkan Arumi kembali.
Arumi tidak menjawab. Ia hanya berdiri mematung tanpa menoleh sedikitpun kepada pria dengan box jingga keemasan di tangannya.
"Kamu ingin membuatku bekerja keras, Miemie? Baiklah, aku terima tantanganmu!" ucap Moedya dengan penuh keyakinan.
__ADS_1