Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Sesuatu yang Masih Samar


__ADS_3

Keanu duduk di hadapan Arumi dengan tatapan yang sejak tadi ia layangkan kepada gadis cantik itu. Sedangkan Arumi, sejak tadi memasang wajah cemberut. Ia tidak berani melawan tatapan sang kakak kepadanya.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Keanu dengan nada bicaranya yang terdengar cukup tegas.


"Bukan hal yang penting!" jawab Arumi dengan jengkel.


"Bukan hal penting, tapi bisa membuatmu bersikap seperti itu?" tanya Keanu lagi. Ia masih melayangkan tatapannya kepada Arumi.


"Kenapa kamu memaki Edgar dan Moedya?" Keanu kembali menghujani Arumi dengan sebuah pertanyaan, yang sebenarnya membuat Arumi begitu malas untuk menjawabnya.


Keanu menatap gadis itu dengan begitu lekat. Sepasang matanya terus menyelidiki sang adik, hingga Arumi merasa tidak nyaman.


"Aku tahu jika Kakak berhubungan dengan si pirang murahan itu. Benar, bukan?" tanya Arumi. Ia bersikap sebaliknya, seolah-olah Keanu lah yang saat itu sedang diinterogasi.


"Apa maksudmu?" tanya Keanu. "Kakak yang sedang bertanya padamu. Kenapa malah jadi kamu yang menyelidiki Kakak?" Keanu menarik wajahnya ke belekang. Ia merasa heran dengan pertanyaan dari Arumi.


"Begini, Kak. Aku melihat Kakak waktu itu, ketika kita masih Marseille," ujar Arumi.


"Aku mohon, sebaiknya Kakak jauhi si pirang itu karena dia bukan wanita yang pantas untuk Kakak!" pinta Arumi dengan begitu yakin.


"Siapa maksudmu? Pamela?" tanya Keanu.


Arumi memutar kedua bola matanya. Ia begitu malas ketika Keanu harus menyebutkan nama wanita itu.


"Jangan sebutkan namanya!" sergah Arumi.


"Memangnya kamu mengenal Pamela?" selidik Keanu. Hati kecilnya mulai tergelitik oleh rasa penasaran yang cukup besar.


"Tentu saja. Ya, meskipun tidak terlalu mengenalnya juga. Aku tidak tertarik dengan hal itu," jawab Arumi dengan yakin. Ia pun berfikir untuk sejenak.


"Oke. Coba ceritakan tentang dia, jika kamu memang mengenalnya!" pinta Keanu. Ia merasa semakin tertarik dengan yang akan Arumi ceritakan padanya.


Arumi kembali memutar bola matanya dengan malas. Sedangkan Keanu masih menantinya untuk berbicara.


"Aku malas harus membicarakan tentang dia. tapi yang pasti aku tidak suka jika Kakak mendekatinya. Si pirang itu ... dia hanya seperti seekor semut yang akan datang ketika mencium aroma gula yang manis!" terang Arumi.


"Begitukah?" Keanu merasa tidak yakin dengan apa yang dikatakan Arumi.


"Bagaimana kamu bisa mengetahui hal itu?" selidiknya lagi.


Arumi tertawa pelan. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah ke dekat jendela kamarnya. Sebelum menutup tirai jendela kaca itu, ia menyempatkan untuk menatap keluar.

__ADS_1


Malam kian larut. Suasana sepi kian terasa. Arumi berdiri di dekat jendela kaca itu, dengan fikiran yang melayang pada suatu ketika. Masa ketika hampir satu tahun yang lalu. Masa dimana ia masih menikmati indahnya kebersamaan bersama Edgar.


"Dia ... Pamela adalah mantan pacar Edgar," jelas Arumi.


Keanu menatap sang adik yang masih asik berdiri di dekat jendela. Ia cukup terkejut dengan apa yang baru saja Arumi katakan kepadanya.


"Lalu apa maslahnya jika dia mantan pacar Edgar?" tanya Keanu. Ia menganggap jika itu bukan alasan yang terlalu penting untuk diributkan.


"Tidak ada masalah apa-apa jika dia hanya mantan pacar Edgar. Tetapi, akan menjadi masalah ketika aku melihatnya berada di atas tempat tidur Edgar dengan tanpa pakaian," terang Arumi.


"Itu terjadi saat Edgar masih berhubungan denganku. Dia mencari apa yang tidak didapatkannya dariku dan diberikan secara cuma-cuma oleh si pirang itu," tutur Arumi.


"Tidak masalah jika dia hanya melakukannya bersama Edgar. Tetapi aku tahu, jika dia melakukannya dengan setiap pria. Itu yang Edgar katakan padaku," tutur Arumi lagi. Ia kemudian terdiam untuk sejenak.


Keanu menghela napas panjang. Ia kemudian memutar posisi duduknya jadi menghadap kearah Arumi berdiri.


"Lalu ... apa hubunganmu dengan Moedya?" selidik Keanu lagi.


Mendengar nama Moedya disebut, Arumi pun tersadar dengan cepat. Akan tetapi, ia merasa bingung bagaimana harus menjelaskannya kepada Keanu.


Arumi pun memilih untuk tidak menjawabnya.


"Kenapa diam?" tanya Keanu. Ia berjalan menghampiri sang adik yang kini tampak salah tingkah.


Arumi menoleh kepada pria tampan berambut cepak itu. Ada keengganan dalam mata gadis itu, untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Keanu.


"Jangan bertele-tele!" pinta Keanu.


"Dengar, Arum! Mulai saat ini, Kakak adalah pengganti ayah. Jadi, sudah kewajiban Kakak untuk menjadi pelindung bagimu dan juga ibu. Kakak harus tahu, dengan siapa saja kamu bergaul, karena jangan sampai jika suatu saat nanti kamu akan memberikan beban rasa bersalah yang besar bagi Kakak!" tegas Keanu. Ia berkta dengan nada bicaranya yang sangat dewasa. Bahkan jauh lebih tegas dari nada bicara mendiang sang ayah.


Arumi kembali melirik sang kakak. Akan tetapi, ia masih terlihat ragu.


Keanu berdiri di sebelah adik kesayangannya itu dengan tatapannya yang ikut menerawang keluar jendela. Ada sebuah tanggung jawab yang besar di pundaknya kini, yang harus ia pikul. Keanu harus bersikap dengan jauh lebih dewasa dan bijaksana tentunya. Ia tidak boleh gegabah sama sekali.


"Sejak kapan?" tanya pria dengan tinggi hampir 180 cm itu. Ia membuat Arumi tidak dapat menghindar lagi dari pertanyaannya.


"Aku tidak tahu ...." jawab Arumi dengan ragu.


"Apanya yang tidak tahu?" Keanu menatap Arumi dengan heran. Ia tidak mengerti dengan maksud dari sang adik.


"Aku memang tidak tahu sejak kapan. Semuanya terasa tidak jelas bagiku!" keluh Arumi seraya duduk di ujung tempat tidurnya.

__ADS_1


"Bagaimana sikap Moedya padamu?" selidik Keanu. Sikapnya benar-benar sudah seperti seorang ayah kepada Arumi.


"Dia baik dan sopan. Pada awalnya, kami pernah bertemu secara tidak disengaja. Terkadang kami juga berbicara di telepon ...." Arumi tertegun. Tiba-tiba ia manjadi sangat gelisah.


Rasa rindu itu sebenarnya ada. Akan tetapi, terasa begitu sulit untuk ia ungkapkan.


Keanu mengikuti Arumi duduk di ujung tempat tidur. Tatapannya masih ia layangkan kepada adik satu-satunya itu.


"Apa ibu mengetahui hal ini?" tanya Keanu.


"Ya. Aku sudah bercerita kepadanya," jawab Arumi seraya menoleh kepada sang kakak.


"Lalu kenapa kamu tidak bercerita kepada Kakak? Kamu tahu bukan jika Moedya adalah sahabat dekat Kakak?"


"Ya, tentu saja aku tahu. Karena itu pula aku tidak bercerita kepada Kakak!" tegas Arumi.


"Kakak pasti jauh lebih mengenal Moedya daripada aku. Aku tidak tahu akan seperti apa respon Kakak saat mengetahui jika aku dekat dengannya," ucap Arumi dengan raut muka yang masih terlihat gelisah.


"Sudah sejauh mana kedekatan kalian?" selidik Keanu.


Arumi menatap sang kakak dengan cukup intens.


"Sudahlah, Kak! Itu hanya kedekatan biasa. Tidak ada yang istimewa," bantah Arumi dengan sedikit sesal pada rona matanya.


"Oke!" Keanu beranjak dari duduknya. Sebelum keluar dari dalam kamar Arumi, ia sempat kembali menatap sang adik tercinta.


"Kakak tidak akan pernah membatasimu untuk dekat dengan siapa pun, karena batasan itu ada pada dirimu sendiri," ujar Keanu dengan tenangnya.


"Kamu sudah cukup dewasa untuk dapat memilih seseorang yang pantas dan tidak untuk kamu jadikan teman, dalam segi apapun itu. Tetaplah berfikir secara rasional!"


"Kamu sangat dekat dengan ibu. Kakak rasa, kamu pasti sudah mengetahui karakter beliau seperti apa. Seperti Kakak yang banyak belajar dari ayah, maka banyak-banyak belajarlah dari ibu. Beliau wanita yang luar biasa," Keanu mengakhiri kata-katanya.


Sesaat kemudian, ia lalu mencium kening Arumi dengan lembut. "Tidurlah! Ini sudah terlalu malam," suruhnya seraya beranjak menuju pintu.


"Kakak!" panggil Arumi dengan tiba-tiba.


Keanu tertegun dan menoleh.


"Kakak akan berhenti untuk berhubungan dengan Pamela, kan?" tanya Arumi dengan penuh harap.


Keanu tersenyum simpul. "Akan Kakak fikirkan," jawabnya seraya membuka pintu dan keluar dari sana.

__ADS_1


Arumi mulai merenung. Sejenak ia berfikir, apakah ia sudah memaksakan kehendaknya kepada Keanu?


Akan tetapi, ia memiliki alasan yang jelas. Bukan hanya karena rasa sakit hati kepada Pamela, namun karena rasa sayang yang terlalu besar kepada sang kakak.


__ADS_2