
Arumi baru saja bersiap hendak tidur ketika terdengar suara pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia pun kembali merapikan selimutnya dan berjalan menuju pintu, kemudian membukanya dengan perlahan.
Tampak Ryanthi berdiri di balik pintu itu dengan kimono satin merahnya.
"Ibu? Ada apa?" Arumi tampak heran melihat Ryanthi ada di depan kamarnya.
"Apa kamu sudah mau tidur?" tanya Ryanthi.
Arumi tidak segera menjawab. Sebenarnya ia merasa sangat lelah setelah aktivitasnya seharian ini, tapi ia tahu jika Ryanthi pasti akan meminta untuk ditemani mengobrol malam itu.
"Belum, Bu," jawab Arumi berbohong.
Ryanthi tersenyum manis. Ia terlihat jauh lebih muda ketika menggerai rambutnya seperti itu, tanpa sanggul ataupun lipstik merah. Ia terlihat lebih alami.
"Bagaimana jika kita berbincang dulu sebentar? Sambil menunggu kantuk," ajak Ryanthi dengan senyum lembutnya.
Arumi tersenyum seraya mengangguk. Ia tidak akan tega membiarkan ibunya kecewa dan melewatkan malam itu dengan melamun sendirian.
Jam dinding berdentang sebanyak sepuluh kali. Malam pun kian sepi. Hanya sesekali saja terdengar suara kendaraan yang lewat di jalanan depan rumah itu. Selebihnya, kesunyianlah yang menjadi penguasanya.
"Malam ini anginnya cukup kencang," ucap Ryanthi sersya menangkup kedua lengannya sendiri sambil mengusap-usapnya perlahan.
"Iya. Aku rasa mungkin akan terjadi peralihan musim," sahut Arumi dengan pelan. Ia pun melipat kedua tangannya di dada. Ia juga merasakan udara dingin itu mulai menusuk kulitnya, yang hanya dibalut oleh setelan piyama berwarna biru muda.
Kedua wanita berambut panjang itu pun, berdiri dengan berdampingan di atas balkon. Mereka kini menikmati malam yang sama. Menatap warna gelap yang sama, dan merasakan keheningan yang kian bertahta saat itu.
"Jadi ... kapan kamu akan bercerita tentang dia?" Ryanthi membuka percakapan diantara mereka. Ia menoleh sejenak kepada Arumi.
Arumi mengetahui siapa yang Ryanthi maksud. Mungkin seharusnya ia tadi menolak ajakan sang ibu untuk mengobrol.
"Dia hanya seorang teman, Bu," dalih Arumi. Ia terlalu malas untuk membahas masalah itu.
"Teman? Tetapi ... Ibu lihat dia ...." Ryanthi tidak percaya begitu saja dengan ucapan Arumi. Ia lalu menatap lekat anak gadisnya.
"Ya," jawab Arumi lagi dengan nada antara yakin dan tidak. "Bisakah kita untuk tidak membahas tentang Edgar? Aku tidak suka dengan pembicaraan ini." tolak Arumi. Ia tampak tidak nyaman.
"Kenapa?" tanya Ryanthi. "Ibu rasa Edgar pria yang baik. Ia juga terlihat sudah sangat dewasa dan mapan. Yang pasti ... ia juga memiliki wajah yang tampan," puji Ryanthi. Ia begitu terkesan dengan pria keturunan Perancis itu.
Arumi mengeluh pelan. Ia pun menggeleng perlahan. Tentu saja jika Arumi tidak setuju dengan pemikiran sang ibu.
"Edgar juga pria yang manis. Matanya mirip sekali dengan mata ayahmu," puji Ryanthi lagi. Ia tersenyum sendiri.
"Ibu heran, ada apa dengan kota Paris?" gumam Ryanthi lagi seraya berdecak kagum.
"Ah ... sudahlah, Bu! Tidak ada yang istimewa," bantah Arumi. " Aku tidak tahu kenapa Edgar bisa sampai datang kemari," sesal Arumi.
"Memangnya kenapa, Sayang?" tanya Ryanthi. "Sejujurnya jika Ibu melihat ada cinta yang begitu besar untukmu di mata pria itu. Entah kamu tidak menyadarinya atau hanya berpura-pura tidak peduli," ujar Ryanthi lagi.
"Aku memang tidak peduli!" jawab Arumi dengan sedikit kesal. "Ibu belum mengenal Edgar dengan baik. Aku heran dan sangat terkejut, kenapa Ibu harus mengundangnya
__ADS_1
untuk makan malam disini?" protes Arumi. Ia menyayangkan keputusan Ryanthi yang dinilainya terlalu terburu-buru.
"Ibu hanya ingin lebih mengenalnya, Sayang," dalih Ryanthi
"Setidaknya dia memberikan kesan pertama yang sangat baik kepada Ibu," lanjutnya.
"Memang begitulah Edgar. Pada awalnya di memang
bermulut manis," tutur Arumi.
"Ibu belum tahu seperti apa dia yang sebenarnya ... aku yakin Ibu pasti akan sangat terkejut jika sudah mengetahui hal itu," jelas gadis dengan lesung pipi itu. Ia mencoba mengingatkan Ryanthi tentang siapa Edgar yang sebenarnya.
Ryanthi menoleh kepada Arumi untuk kesekian kalinya. Ia dapat melihat dengan jelas, pasti ada sesuatu antara putri bungsunya itu dengan pria bernama Edgar.
Malam terus merayap. Suasana pun kian sepi. Sementara angin berhembus dengan semakin dingin.
"Lalu ... kemana kamu sepanjang sore tadi?" selidik Ryanthi. Ia melirik Arumi yang tiba menjadi salah tingkah. "Kamu fikir Ibu tidak melihatmu pergi dengan siapa ... coba beritahu Ibu!" pinta Ryanthi.
Arumi terlihat semakin salah tingkah. Sesekali ia melirik kepada sang ibu yang masih menatapnya dengan lekat.
"Siapa dia, Sayang?" tanya Ryanthi dengan rasa penasaran yang kian besar.
"Dia ... dia ... hanya ...." Arumi terdiam untuk sejenak. Ia teringat akan kejadian tadi sore ketika ia dan Moedya hampir saja berciuman.
Ah, Arumi tidak dapat melupakan hal itu begitu saja.
"Dia juga hanya teman," jelas Arumi dengan sedikit sesal di wajahnya.
Arumi tertunduk lesu. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jadi ... Ibu mengajakku berbincang hanya untuk menginterogasiku?" tanya Arumi pelan.
Ryanthi tertawa pelan. Ia kemudian menggeleng pelan.
"Ibu hanya penasaran," jawab Ryanthi. "Ibu harap kamu tidak seperti kakakmu yang selalu menutup rapat-rapat masalah pribadinya dari ayah dan Ibu," pinta Ryanthi dengan nada bicaranya yang tenang.
"Kakakmu tidak pernah bercerita tentang apapun yang berkaitan dengan masalah pribadinya," keluh Ryanthi.
"Dengar, Sayang! Ibu masih ada disini, dan Ibu ingin sekali menjadi sahabatmu. Kamu tidak perlu menceritakan kisah cintamu dengan terlalu gamblang kepada Ibu, tapi berikan Ibu garis besarnya saja!" rayu Ryanthi. Ia pun mulai menerawang. Tatapannya lurus ke depan, pada pepohonan yang berbaris rapi di tepi jalan.
"Dulu Ibu selalu bercerita kepada nenekmu setiap kali beliau datang menemui Ibu. Itu memang sesuatu yang sangat sulit untuk dijelaskan, akan tetapi semuanya terasa begitu nyata bagi Ibu," Ryanthi terdiam untuk sesaat.
Betapa Ryanthi sangat merindukan hal itu. Saat-saat dimana ia dapat merebahkan kepalanya di atas pangkuan Farida hingga ia dapat tertidur dengan sangat lelap.
Dengan segera Arumi memeluk Ryanthi dari samping. Ia membenamkan wajahnya di atas pundak sang ibu. Gadis cantik itu seolah-olah dapat merasakan apa yang tengah Ryanthi rasakan saat ini.
"Pasti rasanya begitu berat ketika harus kehilangan orang yang kita sayangi dan kita cintai. Aku hanya berharap semoga aku tidak pernah berada dalam posisi seperti itu," ujar Arumi dengan pelan. Ada gurat kecemasan dalam wajahnyan
Ryanthi tersenyum seraya mengelus wajah Arumi dengan lembut. "Tidak bisa seperti itu, Sayang! Jika bukan meninggalkan, maka kita yang akan ditinggalkan. Itu sudah merupakan hukum alam," terang Ryanthi dengan lembutnya.
__ADS_1
"Sedih rasanya jika harus meninggalkan orang yang kita cintai. Akan tetapi, terasa jauh lebih menyakitkan jika kita ditinggalkan oleh orang yang kita cintai."
"Rasa sakit karena kehilangan, ternyata tidak semudah itu dapat kita singkirkan begitu saja. Setiap saat, semuanya terasa semakin menumpuk dan membuat sesak. Terasa mencekik dengan begitu kuat ... terkadang Ibu tidak sanggup untuk menghadapinya," tutur Ryanthi dengan wajahnya yang mulai sendu.
"Sudah terlalu lama, Bu. Lihatlah! Bahkan saat ini aku sudah sedikit lebih tinggi dari Ibu. Apakah sesulit itu melupakan kepergian nenek?" tanya Arumi. Ia masih meletakan dagunya di atas pundak Ryanthi.
Ryanthi menggeleng pelan. "Ibu merasa bahagia saat ini, karena Ibu memiliki kalian bertiga di dalam kehidupan Ibu. Itu sudah jauh lebih dari cukup," jawab Ryanthi. Ia menepuk pipi Arumi dengan lembut.
Kedekatan mereka berdua terlihat dengan begitu nyata.
Arumi tersenyum lebar. Ia memeluk pundak Ryanthi dengan semakin erat.
"Jadi ... siapa namanya?" tanya Ryanthi lagi. Ia masih tetap merasa penasaran dengan pria yang sudah menghabiskan sore tadi bersama putri kesayangannya.
Arumi tersipu malu. Ia hanya tersenyum seraya melepaskan pelukannya dari Ryanthi.
"Namanya Moemoe ...." jawab Arumi dengan pelan.
"Oh ... Moemoe? Nama yang terdengar sangat imut," Ryanthi manggut-manggut.
"Oke. Bisa diterima," ucap Ryanthi lagi. "Pertama Ibu akan mengundang Edgar kemari. Setelah itu baru Moemoe," lanjutnya seraya tersenyum. Ia pun kemudian mencium kening Arumi dengan hangat. Ia tidak peduli meskipun ucapannya telah membuat Arumi melotot tajam padanya.
"Sudah malam. Ayo, masuk!" ajak Ryanthi. "Sudah waktunya untuk tidur," lanjutnya.
Arumi mengangguk. "Ibu duluan saja. Biar aku yang menutup pintunya," balas gadis itu.
"Ya, sudah. Jangan tidur terlalu malam! Besok kita masih harus menyelesaikan pekerjaan yang tertunda," pesan Ryanthi.
Arumi kembali mengangguk. Senyum manisnya pun mengiringi langkah anggun Ryanthi menuju kamarnya di lantai bawah.
Kini tinggalah Arumi seorang diri. Rasa kantuk dan lelah itu seakan menghilang dengan seketika ketika ia berada di balkon itu.
Arumi menatap langit gelap dengan setitik cahaya kecil disana. Fikirannya kini melayang kepada seseorang bernama Moedya. Dengan begitu singkat, pria itu telah berhasil meraih perhatiannya.
Terkadang, Arumi pun merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Ia juga tidak mengetahui seperti apa perasaan Moedya kepadanya. Mungkin ini sesuatu terlalu cepat bagi mereka berdua.
Arumi tidak ingin kembali berada dalam masalah, karena perkenalan yang terlalu singkat dengan seorang pria.
Apakah Arumi memang menyukai Moedya? Ataukah ia hanya merasa kagum dan berniat untuk mencari pelarian dari rasa kecewanya terhadap Edgar?
Jika ia merasa begitu kecewa terhadap Edgar, maka itu artinya ia memiliki perasaan yang begitu dalam kepada pria itu.
"Tidak! Itu tidak benar!" sanggah Arumi. Hati kecilnya terus membantah semua itu. Ia tidak ingin mengakui jika Edgar pernah menempati ruang kosong dalam hatinya.
Sesaat kemudian, Arumi pun memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Arumi pun segera naik ke atas tempat tidur.
Memeriksa ponselnya, Arumi kembali tersenyum ketika mendapati sebuah pesan dari Moedya yang terselip diantara beberapa pesan yang salah satunya berasal dari Edgar.
__ADS_1
Sudah tidur? Selamat malam dan semoga mimpi indah.