Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Pilihan Cinta


__ADS_3

Arumi segera berdiri dan tersenyum dengan manis ketika melihat kehadiran Moedya disana. Akan tetapi, lain halnya dengan Moedya. Pria itu tampak tidak memilik ekspresi sedikitpun. Ia hanya menatap gadis itu dengan penuh rasa kesal.


"Hai ..." sapa Arumi dengan senyum hangatnya.


"Kamu ... disini? Ada apa kemari?" tanya Moedya dengan dingin.


Arumi tertegun mendengar nada bicara Moedya yang sangat dingin kepadanya. Akan tetapi, gadis itu masih berusaha untuk tersenyum manis.


"Menemuimu. Menurutmu untuk apa aku kemari?" Arumi hanya mematung. Perasaannya menjadi aneh dan sangat canggung.


"Kamu tidak menjawab panggilanku. Kamu juga tidak membalas semua pesanku. Ada apa Moemoe? Apa ada masalah denganku?" tanya Arumi dengan bahasa tubuh yang mulai terlihat tidak nyaman.


Moedya tidak segera menjawab. Ia hanya menatap Arumi dengan tajam. Ada perasaan yang berkecamuk di dalam rona mata yang biasanya teduh menatap gadis itu.


"Tidak ada. Kenapa harus ada masalah diantara kita?" Moedya menjawab dengan seenaknya.


Arumi menjadi semakin tidak nyaman dengan nada sinis Moedya kepada dirinya. Ia lalu memberanikan diri untuk menghampiri pria itu.


"Kenapa kamu bersikap seperti itu padaku?" tanya Arumi.


"Seperti apa?" tanya Moedya.


Arumi menatap lekat pria dengan tinggi 177 cm itu. Perasaannya semakin aneh terhadap pria itu.


"Beberapa hari yang lalu kamu menciumku dengan sangat lembut, tapi setelah itu kamu mengabaikanku begitu saja. Apa kamu selalu memperlakukan seorang gadis seperti itu?" tukas Arumi.


"Gadis seperti apa? Gadis yang berciuman dengan banyak pria?" tuding Moedya dengan tiba-tiba.


"Apa maksudmu?" tanya Arumi dengan kedua matanya yang melebar sempurna.


"Pulanglah!" suruh Moedya. "Itu hanya sebuah ciuman. Tidak ada yang spesial. Aku ataupun kamu sudah terbiasa melakukan hal seperti itu," ucap Moedya dengan menahan rasa kesal dalam hatinya. Pria itu berusaha untuk tetap terlihat tenang.


"Bagaimana mungkin kamu bisa bicara seperti itu padaku?" nada bicara Arumi mulai tegas.


Moedya tersenyum sinis. "Apanya yang salah? Kamu tinggal di luar negeri selama tiga tahun. Aku juga mengenal banyak banyak gadis selama ini. Hanya sebuah ciuman kecil tidak akan berpengaruh apa-apa untuk kita," jawab Moedya semakin seenaknya.


"Aku fikir kamu adalah pria baik yang berbeda dengan mereka. Akan tetapi, kamu sama saja!" Arumi mulai bicara dengan kesal. Jari telunjuknya lurus menunjuk dada pria bertato itu.


"Aku juga awalnya berfikir seperti itu tentangmu!" balas Moedya. Rona kemarahan terlukis dengan sangat jelas pada kedua matanya.


"Apa yang telah aku lakukan sehingga kamu berani bicara seperti padaku?" tanya Arumi. Gadis itu pun sama. Ia tampak sangat marah akan sikap dan ucapan kasar Moedya kepada dirinya.


"Kenapa aku harus menjawab pertanyaan yang sudah kamu ketahui jawabannya? Fikirkan sendiri!" tegas Moedya.


Moedya segera membelakangi Arumi. Sebenarnya ia merasa tidak nyaman karena harus berkata seperti itu kepada gadis yang selama ini telah membuatnya begitu penasaran.


"Aku minta pulanglah dan jangan pernah menemuiku lagi!" tegas Moedya tanpa menoleh sedikitpun.


"Kenapa kamu sangat keterlaluan? Aku menyesal karena telah mengenalmu!" gerutu Arumi.


"Aku juga!" balas Moedya.


Dengan segera Arumi menarik lengan pria itu hingga dengan terpaksa Moedya kembali membalikan badannya.


"Jangan berbelit-belit! Katakan saja apa yang telah terjadi sehingga aku bisa memahaminya!" Arumi masih dengan nada bicaranya yang tegas. Matanya menatap tajam kepada pria itu.


"Haruskah?" tanya Moedya. Ia kembali menyunggingkan senyuman sinisnya.


"Ya!" jawab Arumi. Ia melipat kedua tangannya di dada dan menunggu penjelasan dari Moedya.

__ADS_1


"Pasti ada alasan besar yang membuatmu tega bersikap seperti padaku," ucap Arumi dengan yakin.


"Menurutmu? Tentu saja. Aku memiliki alasan yang ... yang sebenarnya ... sialan!" Moedya menggerutu kepada dirinya sendiri. Ia pun tampak mengucek-kucek rambutnya sendiri. Setelah itu ia berdiri tepat di hadapan Arumi.


"Jadi ... ayo katakan padaku, Arumi!" suruhnya dengan tegas.


Arumi tampak sangat heran dengan sikap pria itu.


"Siapa yang paling membuatmu merasa nyaman? Ciuman siapa yang paling kamu sukai? Aku atau pria itu?" sindir Moedya dengan senyum sinisnya.


Arumi terkejut bukan main mendengar pertanyaan kurang ajar dari Moedya kepada dirinya. Akan tetapi, makin lama ia semakin mengerti akan sikap aneh Moedya kepadanya.


"Jadi ... karena itu?" tanya Arumi. Ia memelankan suaranya. Arumi pun menyadari akan kekeliruannya.


"Haruskah aku menjelaskannya padamu?" tanya Arumi lagi dengan nada bicara yang jauh lebih lembut.


"Tidak!" jawab Moedya dengan sinis. "Tidak ada yang perlu dijelaskan. Lagipula ... kamu tidak memiliki kewajiban apa-apa untuk menjelaskan sesuatu padaku. Karena tidak pernah ada ikatan diantara kita," jelas Moedya dengan nada bicara yang terdengar sangat menyakitkan bagi Arumi.


Arumi manggut-manggut. Ia mencoba untuk menahan gejolak rasa yang hampir membludak, yang pastinya hanya akan menghasikan sebuah tangisan yang sia-sia untuknya.


"Baiklah!" ucap Arumi dengan suara bergetar. "Maaf sudah mengganggumu ...." tutup Arumi. Ia pun berlalu dan menuruni anak tangga untuk keluar dari dalam bengkel itu.


Moedya hanya terpaku menatap kepergian gadis itu. Ada rasa sesal yang besar dalam hatinya.


Arumi melangkah dengan terburu-buru. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia berusaha untuk terus menahan tangisnya.


Sesampainya diluar, Arumi berpapasan dengan Ranum. Mereka pun bertatapan untuk sejenak.


Ranum yang cantik dan awet muda, dengan penampilannya yang modis. Siapa yang menyangka jika usianya sudah menginjak setengah abad lebih.


Arumi segera melanjutkan langkahnya. Ia berlalu begitu saja dari hadapan Ranum.


Sesaat kemudian, tatapannya pun kini teralihkan kepada Moedya yang tengah berjalan menghampirinya.


"Ada apa, Juna?" tanya Ranum seraya menyentuh wajah Moedya dengan lembut.


"Tidak ada apa-apa, Bu," jawab Moedya dengan sikapnya yang dibuat setenang mungkin. Ia pun tersenyum kelu.


Arumi yang melihat hal itu dari kejauhan, dengan segera memalingkan wajahnya. Kesal dan marah bercampur dalam hatinya menjadi satu seperti sebuah adonan yang kental dan menggumpal.


Tidak lama kemudian, Arumi pun memberhentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas disana. Ia harus segera kembali ke toko untuk membantu Ryanthi menyelesaikan pesanan.


Sedangkan Moedya memutuskan untuk mengantarkan Ranum pulang ke rumah.


...🕊 🕊 🕊...


Malam itu, Arumi berdiri sendiri di tempat kesukaannya, yaitu balkon. Ia memikirkan perselisihannya dengan Moedya siang tadi. Ia tidak menyangka jika Moedya telah melihatnya berciuman dengan Edgar malam itu.


"Bodoh!" umpat Arumi dengan pelan. Ia pun menyentuh sudut matanya karena terdengar langkah seseorang yang datang kesana.


Arumi sangat tahu jika itu adalah langkah tenang sang ibu. Gadis itu pun menoleh. Memanglah benar adanya. Ryanthi menghampirinya dengan sebuah senyuman hangat di bibirnya.


"Kenapa tidak memakai baju hangat?" tanya Ryanthi. "Udaranya sangat dingin," lanjutnya.


Arumi tersenyum kelu. Ia hanya menggumam pelan.


"Aku suka dengan anginnya, Bu. Rasanya sangat menyejukan," jawab Arumi dengan nada bicara yang sedikit aneh bagi Ryanthi.


Ryanthi tersenyum. Ia lalu berdiri di sebelah putri bungsunya itu. "Berceritalah! Ibu pasti akan mendengarkanmu dengan baik," suruh Ryanthi.

__ADS_1


Arumi terdiam. Ia tidak tahu harus memulainya darimana. Ia merasa malu untuk mengatakan semua yang telah terjadi.


"Entahlah, Bu. Aku hanya merasa sangat bodoh saat ini," ucap Arumi pelan.


"Kenapa?" tanya Ryanthi. "Kemana kamu pergi tadi siang?" selidiknya. Ia menatap lekat putri bungsunya.


Arumi terlihat bimbang. Raut wajahnya menunjukan rasa yang tidak nyaman saat itu.


"Moemoe atau Edgar?" tanya Ryanthi lagi.


Arumi mengeluh panjang. Ia pun merangkul pundak Ryanthi. Perlahan terdengar suara isakannya.


"I hate those two, and wish i had never known them. Mereka berdua sangat menyebalkan!" gerutu Arumi.


"Sungguh?" tanya Ryanthi.


Arumi melepaskan rangkulannya. Wajahnya tampak merajuk. "Tidak ...." rengeknya seperti anak kecil.


"Kalau begitu, ceritakanlah kepada ibu!" pinta Ryanthi.


Arumi kembali menatap lurus ke depan. Fikirannya mulai menerawang kepada seorang pria Perancis dengan tampilannya yang good looking, Edgar.


Sesaat kemudian, fikirannya beralih kepada pria dengan gaya eksentrik yang menawan dan membuatnya sangat tertarik.


"Bu ...." Arumi melirik Ryanthi.


"Aku pernah sangat mencintai Edgar. Dia bahkan datang kemari untuk mencariku, tapi keyakinanku telah sirna padanya," tutur Arumi.


"Aku hanya ingin meyakinkan hatiku, apakah aku masih memiliki rasa atau tidak kepadanya. Akan tetapi, hal itu telah membuat Moedya membenciku .... dan menganggapku rendah," lanjut Arumi dengan nada penuh sesal.


"Moedya? Nama yang sangat unik," gumam Ryanthi dengan senyum khasnya.


"Apakah kamu sudah menjelaskan semuanya kepada Moedya?" tanya Ryanthi.


"Apa yang harus aku jelaskan padanya, Bu? Kami ... aku tidak tahu seperti apa hubungan kami berdua?" ujar Arumi dengan agak kesal.


"Kamu tidak mengerti dengan kedekatan antara dirimu dan Moedya, tapi dia marah melihatmu dengan Edgar?" tanya Ryanthi.


Arumi terdiam. Ia seperti mulai memahami situasi yang sedang dialaminya.


"Lalu ... seperti apa perasaanmu? Terhadap Edgar ataupun Moedya," Ryanthi kembali menatap putri bungsunya itu.


Arumi kembali terdiam. Kedua bola matanya bergerak dengan tidak beraturan.


"Yakinkan hatimu, Sayang!" Ryanthi mengelus lembut rambut panjang Arumi.


"Ibu tahu seperti apa sulitnya melupakan cinta di masa lalu, yang terkadang menutupi mata kita dari seseorang yang telah menyambut kita di masa depan. Akan tetapi Ibu yakin jika kamu pasti dapat menentukan dan mengambil sikap dengan sangat bijaksana."


Ryanthi memegangi kedua lengan Arumi dari belakang. Ia pun membisikan sesuatu di telinga gadis itu.


"Pejamkan matamu dan biarkan angin membawa pergi semua rasa gundah yang mengganggumu! Setelah itu, rasakan kesejukannya dan lihat siapakah yang dibawakan angin untukmu! Wajahnya akan hadir dalam pelupuk matamu, Sayang," Ryanthi mengakhiri ucapan lembutnya dengan sebuah kecupan hangat di rambut panjang Arumi.


"Seperti itukah, Bu?" tanya Arumi.


Ryanthi menggumam pelan.


"Coba saja!" jawabnya. "Sudah terlalu malam. Sebaiknya kamu segera tidur. Ini adalah hari yang berat dan sangat melelahkan. Iya, kan?"


Arumi mengangguk pelan. "Ibu duluan saja. Biar nanti aku yang menutup pintunya," jawab Arumi.

__ADS_1


"Baiklah. Selamat malam, Sayang," Ryanthi pun berlalu menuju kamar tidurnya, meninggalkan Arumi seorang diri di balkon itu.


__ADS_2