Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● EMPAT PULUH LIMA : Titik Balik Vera


__ADS_3

Arshan menatap lekat Ryanthi, saat gadis itu berdiri di hadapannya. Dari raut wajah yang ditunjukkan sang mantan kekasih, Arshan sudah bisa menebak apa yang akan Ryanthi bahas dengannya.


"Vera mengadu padamu?" tanyanya seraya menyunggingkan senyuman sinis.


"Sebenarnya, aku tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian. Namun, aku hanya ingin mengingatkan bahwa Vera sedang hamil. Jadi, jangan membebaninya dengan sesuatu yang tak penting," tegur Ryanthi.


"Vera tidur dengan banyak pria. Lalu, mengapa aku yang harus bertanggung jawab?" Arshan masih belum menerima pernikahannya dengan Vera.


"Aku rasa tidak perlu membahas masalah itu lagi, karena aku bisa bertanya balik padamu. Mengapa dulu kamu bermain-main dengannya? Namun, itu sudah menjadi cerita usang. Jika kamu tidak ingin mengakui bayi yang dikandung Vera sebagai anakmu, maka biarkan dia menjalani masa-masa kehamilannya dengan tenang."


Arshan tidak menjawab. Pria itu seperti kehilangan kata-kata. Pikirannya kosong. Dia merasa bingung dengan apa yang akan dilakukannya.


"Aku juga tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba mengajaknya pindah." Ryanthi menatap tajam Arshan yang terlihat malas.


Arshan terdiam sesaat, sebelum menanggapi ucapan Ryanthi. "Kamu pikir aku suka melihatmu bermesraan dengan Adrian di rumah ini?"


Wajah Ryanthi seketika berubah saat mendengar jawaban Arshan. "Aku tidak pernah melakukan apapun dengan Adrian di rumah ini," sanggahnya tegas.


"Lalu, apa yang kulihat malam itu di sini? Di teras ini!"


Seketika, Ryanthi menjadi salah tingkah. Walaupun itu merupakan hal wajar bagi pasangan kekasih. "Itu bukan urusanmu!" sergah Ryanthi seraya berlalu meninggalkan Arshan, dengan membawa rasa kikuknya.


Sementara, Arshan juga kembali ke kamarnya. Kehadiran pria itu di sana langsung disambut Vera. "Kamu sudah sarapan?" tanyanya penuh perhatian. Dia mengabaikan pertengkaran semalam dengan pria itu.


"Aku minta maaf jika sudah membuatmu marah semalam. Seharusnya, aku menurut, bukannya malah keras kepala," sesal Vera. Terlihat jelas bahwa dia takut kehilangan Arshan.


"Aku juga minta maaf karena sudah bicara terlalu kasar padamu. Jika kamu lebih senang tinggal di sini, tidak apa-apa," balas Arshan. Sikapnya jauh lebih lembut dari sebelumnya.


"Tidak, bukan begitu. Jika kamu ingin kita pindah, maka aku setuju. Lagi pula, siapa tahu aku bisa lebih dekat dengan keluargamu," ujar Vera. Dia hanya ingin membuat suaminya bahagia.


Arshan menatap lekat wanita yang kini telah menjadi istrinya. "Kamu yakin, Ver?"


Vera mengangguk yakin. "Apapun akan kulakukan, asal tidak kehilanganmu," jawabnya pelan sambil terus memegangi perut yang semakin membesar.

__ADS_1


Rasa tidak enak menyeruak dalam hati Arshan. Vera benar-benar mencintainya. Dia rela melepas semua atribut kemewahan demi dirinya. Namun, Arshan masih terus mengharapkan Ryanthi, yang jelas-jelas sudah memiliki tambatan hati lain, yaitu Adrian. Atasannya.


Arshan terus berpikir. Mungkin sudah saatnya membuka hati untuk Vera. Wanita itu sebentar lagi akan melahirkan, meskipun entah itu anak siapa. Namun, Arshan lah yang saat ini bertanggung jawab sebagai suaminya.


Hingga malam tiba, Arshan masih terus termenung. Dia memperhatikan Vera yang tidur dengan gelisah dan terlihat tak nyaman. Perut besar membuatnya kesulitan untuk mencari posisi tidur yang nyaman.


Malam kian larut. Sementara, Arshan masih duduk di sofa. Tak ada yang tahu bahwa dari semenjak menikah, dia tak tidur seranjang dengan Vera.


"Kenapa belum tidur? Bukannya besok kamu harus kerja?" tanya Vera. "Besok aku akan bicara dengan papa dan mama. Tenang saja. Aku akan menjelaskan semuanya. Kalaupun papa dan mama tidak setuju, aku akan meminta bantuan Ryanthi. Papa pasti menurut padanya," ucap Vera lagi mencoba meyakinkan Arshan, bahwa dia siap pindah dari sana.


"Kenapa harus selalu melibatkan Ryanthi? Ini masalah rumah tangga kita. Sebaiknya, kita urus sendiri dan tidak usah melibatkan orang lain," tolak Arshan.


Vera tersenyum mendengar ucapan Arshan yang seakan sudah mulai menjaga jarak dari Ryanthi.


"Baiklah. Terserah kamu saja. Aku yang akan membujuk papa dan mama." Vera tampak masih mengantuk. Sesekali, dia memejamkan matanya.


Arshan mengangguk setuju. "Ya, sudah. Sekarang, sebaiknya kamu lanjutkan tidur," suruh Arshan. Dia pun membaringkan tubuhnya di sofa. Akan tetapi, terlalu sulit untuk memejamkan mata. Arshan hanya termenung menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang entah ke mana. Hatinya juga seakan tidak berada di sana, karena saat itu dia merasa hampa.


................


Seperti janjinya pada Arshan, siang itu Vera menemui Surya dan Maya. Wanita yang tengah hamil tua itu akan bicara dan meminta izin. Meski agak ragu, tapi Vera memberanikan diri untuk mengungakapkan rencanya dan Arshan, yang akan pindah dari rumah itu ke rumah orang tua Arshan.


Maya sontak tidak menyetujui hal itu. Sementara Surya, masih mempertimbangkannya terlebih dahulu.


"Pasti Ryanthi yang sudah memengaruhi Arshan, agar mengajakmu pindah dari sini. Ryanthi ingin menguasai rumah ini sendirian. Dia ingin bebas di sini," tuding Maya. Seperti biasa, dia tidak bisa menjaga mulutnya dengan baik.


Ucapan pedas Maya, tentu saja membuat Surya selaku ayah kandung Ryanthi merasa kesal dan tersinggung. "Ryanthi anak kandungku! Dia berhak atas rumah ini dan segala yang kumiliki! Kamu jangan asal bicara, Ma!" sergah Surya dengan jengkel.


"Jika Ryanthi memang seperti itu, lantas kenapa dia ingin melanjutkan pendidikannya di luar negeri, bukan di sini saja? Kamu itu kebiasaan! Kalau bicara tidak pakai otak! Apa-apa menyalahkan Ryanthi," lanjut Surya. Pria itu benar-benar marah kepada Maya yang selalu asal bicara.


"Iya, Ma. Lagi pula, Ryanthi tidak ada hubungannya dengan rancana kepindahanku ke rumah orang tua Arshan. Selama ini, dia justru selalu membantuku. Ryanthi bahkan jauh lebih perhatian, jika dibandingkan dengan Mama yang lebih suka pergi arisan dari pada mengantarku periksa ke dokter." Vera menimpali, sehingga membuat Maya semakin tersudut. Akhirnya, wanita berambut merah itu memilih diam.


"Menurut Papa, selama kamu bersedia dan tidak ada paksaan sama sekali, Papa juga setuju-setuju saja. Lagi pula, dengan begitu kamu bisa lebih dekat dengan keluarga Arshan," ucap Surya bijaksana.

__ADS_1


"Dengar Ver. Bagaimanapun juga, Papa sudah menganggapmu sebagai anak kandung. Papa tidak akan pernah membiarkanmu hidup dalam kesusahan. Jadi, jika selama di sana kamu butuh sesuatu apapun itu, maka jangan sungkan untuk bicara pada Papa. Kamu dan Ryanthi sama berharganya." Surya mengakhiri kata-katanya dengan sentuhan lembut, di pucuk kepala Vera.


Vera menoleh padanya. Dia segera menyandarkan kepala di pundak Surya. Vera merasa sangat bahagia. Meskipun dia tidak tahu ayah kandungnya ada di mana, tapi dirinya memiliki ayah pengganti yang sangat baik dan perhatian seperti Surya. Pria itu memang tidak pernah mengubah perasaan dan sikapnya kepada Vera, meskipun kini Ryanthi sudah tinggal bersama mereka.


"Terima kasih Pa. Aku sangat beruntung mempunyai Papa sepertimu. Ryanthi jauh lebih beruntung dariku, karena dia selalu dikelilingi orang-orang baik dalam hidupnya," ucap Vera lirih.


"Aku ingin sekali meminta maaf padanya, atas semua yang sudah kuperbuat selama ini. Meskipun, aku tahu jika Ryanthi sudah memaafkanku. Namun, aku ingin sekali memeluk dan mengatakan aku bangga bisa menjadi bagian dari orang-orang baik seperti kalian." ucap Vera lagi penuh haru.


Surya tersenyum. Dia sangat bahagia dengan perubahan sikap Vera, yang kini sudah jauh lebih baik dan dewasa. Sementara, Maya hanya terdiam, melihat putrinya kini bukanlah putrinya yang dulu lagi. Kedatangan Ryanthi ke rumah itu, memang sudah membawa banyak perubahan. Apalagi terhadap diri Vera.


"Mama pasti akan sangat merindukanmu jika kamu pergi," ucap Maya sambil terisak.


Melihat sikap Maya, Vera hanya memutar bola matanya. Sementara, Surya menggelengkan kepala sambil berdecak pelan.


"Tidak perlu khawatir. Rumah keluarga Arshan tidak terlalu jauh dari sini. Papa dan Mama bisa berkunjung kapan saja kalian mau. Lagi pula, aku akan melahirkan sebentar lagi. Aku pasti butuh bantuan Mama di sana," ujar Vera mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Maya yang masih tampak sedih.


"Mama-mu ini selalu saja seperti anak kecil. Apalagi, jika kamu sampai pergi ke Perancis seperti Ryanthi. Bukan tidak mungkin dia akan langsung pingsan saat mendengarnya." Surya mencoba membuat Maya tersenyum. Namun, wanita berambut merah itu masih saja mempertahankan wajah sedihnya.


Surya dan Maya memang sering sekali berselisih paham, bahkan tak jarang sampai bertengkar hebat. Akan tetapi, kemarahan Surya biasanya tidak pernah berlangsung lama, apalagi sampai berhari-hari. Maya pun sudah sangat mengetahui hal itu. Biasanya, Surya akan kembali membuatnya tertawa dan hubungan mereka kembali normal seperti biasa.


Namun, kali ini berbeda. Maya merasakan hal lain. Dia seperti teramat berat untuk melepaskan putri kesayangannya. Naluri keibuan Maya berkata lain. Seakan ada bisikan yang menyuruhnya untuk melarang Vera pindah ke rumah orang tua Arshan.


Akan tetapi, sayangnya niat Vera sudah bulat.


Dia ingin menjadi seorang istri yang mengabdi dan taat pada suaminya. Sedangkan, Maya tidak mungkin mencegah hal itu.


Maya tidak mengerti kenapa dia mempunyai firasat yang sangat buruk akan keadaan putrinya. Padahal, Vera sendiri belumlah pergi dan masih ada di sana.


Maya berpindah tempat duduk ke sebelah sebelah Vera. Dia memeluk erat putri kesayangannya itu. Maya berharap apa yang menjadi firasatnya, hanyalah suatu rasa yang timbul karena tidak rela atas niat Vera, yang akan pergi dan tinggal di rumah mertuanya. Semoga itu bukan sebuah firasat buruk, yang akan membuatnya menyesal karena telah membiarkan sang putri pergi. Maya akhirnya menyetujui niat baik dari Vera dengan ikhlas.


"Doakan saja yang terbaik, Ma," ucap Vera sambil mengeluarkan pakaian dari dalam lemari.


Sementara, Maya membantu melipat serta menata ke dalam koper. Wanita itu mengangguk diiringi senyum.

__ADS_1


__ADS_2