Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Tatapan Misterius Puspa


__ADS_3

Keesokan malamnya. Seperti yang telah dijanjikan, Keanu membawa Puspa ke hadapan Ryanthi dan Arumi. Kedua wanita dari keluarga Winata itu menyambut si gadis mungil dengan penuh suka cita.


Puspa begitu terpana melihat kemegahan rumah keluarga Winata. Ada sedikit rasa rendah diri yang mengusiknya. Keanu berasal dari keluarga kaya dan tentu saja berpendidikan. Sedangkan dirinya, hanyalah seorang gadis yang bahkan tidak memiliki kebanggan apapun dalam hidupnya.


"Ibu ... Arum, perkenalkan ini Puspa. Calon istriku ...." ucap Keanu dengan tenang dan begitu yakin.


Puspa terkejut mendengar apa yang Keanu katakan. Ia menoleh kepada pria jangkung itu dan menatapnya dengan lekat. Ia tidak menyangka jika Keanu akan memperkenalkannya sebagai calon istri.


Keanu balas menatapnya. Ia pun tersenyum seraya menggenggam erat jemari gadis dengan postur hanya sebatas pundaknya saja.


"Hai, Puspa ...." sapa Ryanthi. Ia segera menyambut gadis itu dan memeluknya. Sebuah sambutan hangat seperti yang dilakukan Indira kepadanya, sewaktu dulu. Tidak lupa Ryanthi mencium kening gadis itu, membuat Puspa merasa diterima dengan baik.


Puspa tersenyum penuh haru. Ia begitu tersanjung karena sikap ramah Ryanthi.


"Arum, ini calon kakak ipar kamu," gurau Keanu.


Arumi tersenyum manis. Ia pun segera memberi pelukan hangat kepada Puspa. "Aku senang karena akhirnya ada juga gadis yang bersedia menjadi pacar kakakku," ledek Arumi yang ditujukan untuk sang kakak.


Keanu pun segera mendekati gadis itu, ia kemudian menjitak keningnya dengan gemas.


Ryanthi hanya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ulah kedua anaknya. Akan tetapi, apa yang dilakukan Keanu kepada Arumi, telah mengingatkannya pada apa yang sering dilakukan Adrian kepadanya dulu.


Ya, Adrian sering sekali menjitak keningnya, jika pria itu merasa gemas kepada dirinya.


Ryanthi dengan segera menepiskan rasa getir dalam hatinya. Ia pun kembali pada kenyataan, ia sadar jika Adrian telah pergi untuk selamanya.


"Sayang, ajak Puspa ke ruang tamu!" Suruh Ryanthi kepada Keanu. Nada bicaranya terdengar sangat lembut.


Keanu pun mengangguk. Ia kemudian mengajak gadis itu ke ruang tamu.


"Silakan duluan!" Ucap Arumi. "Aku sedang menunggu seseorang," lanjutnya, dengan senyum manis di wajahnya.


"Moedya akan kemari?" Tanya Keanu.

__ADS_1


Arumi mengangguk dengan penuh semangat. Ia tampak sangat bahagia malam itu.


"Ya, sudah!" Tutup Keanu. "Ayo, Beib!" Keanu meraih jemari Puspa dan menuntunya menuju ruang tamu diiringi tatapan Arumi dan juga Ryanthi.


"Sayang ...." Ryanthi menatap Arumi dengan lembutnya. Arumi pun menoleh dan tersenyum.


"Dengar, Sayang!" Ryanthi melanjutkan kata-katanya, "Ibu tidak akan melarangmu untuk mengikuti kata hatimu. Jika kamu memang sudah yakin dengan keputusanmu, maka lakukanlah! Ada yang mengatakan pada Ibu, 'jangan menolak cahaya mentari di pagi hari, karena malam tak selamanya memberikan keindahan'. Pilihlah dan tentukan jalan hidupmu sendiri! Ibu hanya berharap jika dia adalah memang pilihan yang tepat untukmu," tutur Ryanthi dengan penuh haru.


"Ibu ...." Arumi tidak dapat berkata apa-apa. Ia hanya dapat memeluk sang ibu dengan erat. Arumi merasa sangat bersyukur karena telah memiliki seorang ibu seperti Ryanthi.


"Terkadang kita mencintai seseorang dengan begitu cepat dan tiba-tiba, bahkan tanpa kamu sadari," lirih Ryanthi seraya mengusap-usap punggung anak gadisnya yang akan segera menentukan masa depannya.


"Terima kasih, Bu," ucap Arumi pelan. Ia pun melepaskan pelukannya dari Ryanthi.


Samar-samar terdengar suara motor mulai memasuki halaman rumah itu. Moedya telah tiba di sana dengan penampilannya yang cukup rapi. Akan tetapi, Moedya terlalu mencintai rambut gondrongnya, sehingga ia hanya merapikan gaya man bunnya saja.


"Moedya sudah datang!" Seru Arumi pelan. Ia tampak sangat kegirangan. Dengan segera ia berlari ke arah pintu dan menyambut kedatangan sang kekasih dengan senyuman yang merekah indah, bagaikan mawar yang baru mekar di pagi hari.


Moedya baru saja melepas helmnya. Ia juga melepas jaket kulitnya dan hanya menyisakan T Shirt lengan panjangnya.


"Hai, Cantik!" Sapa Moedya seraya menyentuh wajah Arumi dengan lembut.


"Hai, mr. charming," balas Arumi dengan senyum manisnya. "Ayo, masuk!" Ajak Arumi seraya menggenggam jemari Moedya dan mengajaknya masuk.


Moedya tersenyum lebar. Ia merasa sudah mendapat jawaban yang ia inginkan. Moedya pun menjadi begitu bersemangat.


Arumi tidak langsung mengajak Moedya menuju ke ruang tamu untuk bertemu dengan Keanu dan Puspa. Akan tetapi, Arumi terlebih dahulu mengajak Moedya untuk ke dapur dan mengambil kue.


"Kamu akan terkejut, Moemoe," ucap Arumi seraya menyuapi Moedya dengan palmier buatannya.


"Kenapa?" Tanya Moedya sambil terus mengunyah.


"Kakakku membawa calon istrinya malam ini," sahut Arumi. Ia berdiri di sebelah Moedya.

__ADS_1


Seketika Moedya menoleh kepada Arumi. Raut mukanya menunjukan ekspresi tidak percaya. "Sungguh?" Moedya meyakinkan kata-kata Arumi.


Arumi mengangguk yakin. Namun, ia kemudian mengerutkan alisnya karena melihat Moedya yang tampak berfikir. Pria itu seakan tidak percaya dengan ucapan Arumi.


"Keanu tidak pernah mengatakan apapun padaku. Jangankan mengenalkan, bahkan aku tidak tahu jika dia punya seorang kekasih," gumam Moedya dengan wajah yang masih diliputi rasa tidak percaya.


"Kamu lihat saja sendiri! Mereka berdua ada di ruang tamu," suruh Arumi. "Aku rasa sepertinya gadis itu masih seumuran denganku," ucap Arumi lagi.


Moedya terdiam. Ia kemudian mengambil makanan yang tersedia dari dalam piring yang dipegang Arumi.


"Syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang," sahut Moedya sambil memasukan makanan itu ke dalam mulutnya.


"Kemana ibu Ryanthi?" Tanya Moedya. Ia baru sadar, jika sejak tadi ia belum sungkem kepada calon ibu mertuanya.


"Ibu sedang menginterogasi calon menantunya," gurau Arumi dengan diakhiri tawa pelan.


"Seperti yang kemarin dilakukannya padaku?" Tanya Moedya.


"Kurang lebih," jawab Arumi dengan entengnya. "Akan tetapi, calon istri kakakku terlihat jauh lebih tenang dalam menghadapi ibuku. Dia jauh lebih pemberani darimu," ledek Arumi dengan tawa lepasnya dan membuat Moedya mendelik tajam kepadanya.


"Tetapi kenyataannya ... kamu jauh lebih tertarik padaku," balas Moedya.


"Hey!" Sergah Arumi seraya mencubit lengan pria itu, membuat Moedya tertawa lebar. Dengan segera ia merangkul Arumi, memegangi pinggang ramping gadis berambut panjang itu, dan tentu saja menikmati joyful orange yang sejak tadi menjadi incarannya untuk beberapa saat lamanya.


"Kamu sudah memutuskannya?" Tanya Moedya setelah ia puas dengan joyful orange itu.


Arumi tidak menjawab. Ia langsung menarik pria itu dan mengajaknya menuju ruang tamu. "Aku akan menjawabnya di sana, di depan ibu dan kakakku," ucap Arumi dengan senyum manisnya.


Sementara itu, Ryanthi tengah asik berbincang dengan Keanu dan Puspa. Puspa merasa sangat senang dengan keramahan Ryanthi, terlebih karena ia sudah tidak memiliki orang tua lagi.


Akan tetapi, perhatian Puspa kini teralihkan pada sosok yang baru muncul di sana. Pria yang datang dengan Arumi, calon adik iparnya.


Puspa menatap ke arah mereka berdua dengan intens. Terutama kepada si pria berambut gondrong yang juga sempat meliriknya untuk sesaat.

__ADS_1


Puspa tidak dapat mengalihkan tatapannya dati pria itu. Bahkan ketika Arumi dengan yakinnya mengatakan jika ia menerima lamaran dari Moedya. Puspa hanya menyunggingkan sebuah senyuman kecil saat menanggapi hal itu.


__ADS_2