Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
• TIGA PULUH LIMA : Dua Kali dalam Semalam


__ADS_3

Adrian dan Ryanthi seketika menghentikan adegan ciuman mereka. Keduanya serempak menoleh, ke arah pelayan yang tadi menyalakan lampu.


Si pelayan tertunduk. Dia tak berani memandang ke arah Adrian dan Ryanthi. "Maaf, Tuan. Saya tidak tahu bahwa ... um ... saya ... sa-saya hendak menyiapkan bahan masakan untuk besok," terangnya gugup. Wanita itu bahkan langsung melangkah ke dekat pintu ruangan, tempat menyimpan bahan makanan.


Adrian mengembuskan napas pelan. Dia menurunkan Ryanthi dari meja. Pria itu tampak biasa saja. Tak terlihat malu atau semacamnya. Dia menuntun Ryanthi keluar dari dapur. Langkah pria tampan tersebut begitu tenang.


"Bagaimana kamu bisa setenang ini setelah ... setelah tadi ...." Ryanthi menautkan alisnya karena tak mengerti.


Seketika, Adrian menghentikan langkah. Pria tampan itu menoleh, lalu tersenyum kalem. "Memangnya kenapa?" tanyanya.


"Apa kamu tidak merasa malu, risi, atau semacamnya?" tanya Ryanthi lagi.


"Kenapa aku harus seperti itu?" tanya Adrian lagi. Entah benar-benar tak mengerti, atau dia hanya berpura-pura bodoh demi menggoda Ryanthi.


Ryanthi memasang ekspresi tak nyaman. "Pelayan tadi melihat kita sedang berciuman. Apa menurutmu dia ...." Ryanthi menggigit bibir bawahnya.


"Apa?" tanya Adrian lagi sambil membalikkan badan. Dia semakin mendekat ke hadapan Ryanthi. Pria itu menatap nakal.


"Ah, tidak. Lupakan." Ryanthi langsung menghindar dari Adrian, yang kembali merayunya lewat bahasa tubuh. Pria itu benar-benar seperti obat bius, yang bisa membuat Ryanthi hilang kesadaran dalam waktu cepat.


Adrian tersenyum kalem. Sebagai pria yang sangat berpengalaman, dia tahu bahwa Ryanthi sudah mulai terjatuh ke dalam jebakan cinta yang dipasangnya. Sedikit lagi, gadis cantik itu akan terkurung dalam jaring-jaring asmara, yang mungkin akan membuatnya kesulitan melarikan diri.


Apa yang Adrian pikirkan memang benar. Selama berada di tempat Indira, Ryanthi menjadi terlihat lebih gelisah dari sebelumnya. Gadis itu salah tingkah, ketika sesekali mencuri pandang terhadap Adrian. Satu kemenangan telak bagi sang tuan tampan. Perjuangannya mungkin akan segera membuahkan hasil.


Tepat pukul sembilan malam, kedua sejoli itu pamit. Selama dalam perjalanan, Ryanthi hanya diam. Gadis itu larut dalam pikirannya. Entah karena terlalu menikmati suasana malam jalanan ibukota, atau tengah memikirkan hal lain.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Adrian. Suara beratnya memecah kebisuan yang sejak tadi menggelayuti perjalanan mereka.

__ADS_1


"Um, iya. Ah, tidak. Oh, i-iya ...." Ryanthi mengeluh pelan. "Ya, Tuhan." Gadis itu menggaruk keningnya yang tak gatal, demi menghalau rasa gugup.


"Kenapa kamu terlihat sangat gugup?" tanya Adrian. "Kupikir, ini bukan pertama kalinya kamu berciuman dengan seorang pria," ujar pria itu sambil terus mengemudi. Pandangannya lurus ke depan, pada lalu lintas yang masih ramai.


"Memangnya kenapa?" Lagi-lagi, Ryanthi merasa bodoh. Dia tak mengerti, mengapa dirinya harus bertanya demikian.


"Tidak apa-apa. Aku tak yakin bahwa mantan kekasih yang sekarang menjadi saudara iparmu itu, akan membiarkan gadis secantik dirimu. Maksudku, pria mana yang bisa menahan diri untuk tidak menciummu, Ryanthi?"


"Apa hanya itu yang ada dalam pikiranmu?" Ryanthi seakan hendak melakukan protes. Tersirat pula rasa kecewa dalam sorot matanya.


Adrian tertawa pelan. Dia menghentikan laju kendaraan, karena telah tiba di depan kediaman Surya. Pria itu menunggu beberapa saat, hingga pintu gerbang terbuka. Barulah Adrian kembali melajukan mobilnya memasuki halaman.


Range Rover putih milik Adrian, berhenti tepat di dekat undakan anak tangga menuju teras. Adrian tak segera turun untuk membukakan pintu bagi Ryanthi. Dia juga mencegah, ketika gadis itu hendak turun sendiri.


"Ada apa lagi?" tanya Ryanthi.


Ryanthi tidak segera menjawab. Dia hanya menatap pria tampan, yang seakan meminta harapan lebih padanya.


"Kenapa aku harus memikirkanmu?" Ryanthi balik bertanya. Gadis itu menautkan alis karena tak mengerti.


"Karena aku merasa pantas untuk berada dalam pikiranmu," jawab Adrian enteng. "Pernahkah sekali saja, kamu memikirkanku lebih dari satu jam?" Pertanyaan Adrian terdengar kian aneh.


Ryanthi yang tadinya sedikit muram, kali ini bisa tersenyum. "Kamu terlalu percaya diri," ujar gadis itu.


"Percaya diri merupakan salah satu aspek penting dalam kamus kehidupanku. Setidaknya, hanya itu yang bisa kuandalkan." Adrian tertawa renyah.


"Kamu memang aneh," cibir Ryanthi. Dia sudah hendak membuka pintu mobil. Namun, Ryanthi kembali mengurungkan niatnya. "Apa lagi?" Gadis cantik dengan midi dress hitam itu menoleh kepada Adrian yang tengah menatapnya.

__ADS_1


"Kenapa tidak berani mencoba?" tanya Adrian. Nada bicara pria itu terdengar berbeda dari biasanya.


"Mencoba apa?" Ryanthi balik bertanya.


"Melepaskan masa lalu dan menyongsong masa depan. Apa lagi yang kamu harapkan saat ini?" Tatapan Adrian begitu teduh dan menenangkan. Membuat Ryanthi merasa nyaman.


"Aku memiliki mimpi yang belum terlaksana. Itu merupakan harapan mendiang ibuku juga. Aku merasa harus mewujudkannya, dan membuat ibu bangga. Itulah prioritasku saat ini " Ryanthi tersenyum kecil.


"Aku tidak memikirkan yang lain. Belum. Entahlah. Aku ... aku merasa ...." Ryanthi menggenggam erat clutch bag di pangkuannya. Dia terlihat gelisah. "Aku harus masuk, Adrian." Menghindar, itulah yang ingin Ryanthi lakukan saat ini. Dia takut jika perbincangannya mengarah semakin dalam. Ryanthi ternyata belum siap untuk menjalin komitmen.


"Apakah cinta terlalu menakutkan untukmu?" tanya Adrian. Dia terus memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Ryanthi merasa tak nyaman. Gadis itu tidak menjawab. Dia tak tahu harus berkata apa.


"Kamu tidak menolak saat aku menciummu tadi. Kamu bahkan menyukainya. Iya, kan?" pancing Adrian.


"Bagaimana kamu bisa berkata begitu? Sok tahu." Ryanthi tersenyum mencibir.


"Aku bisa membedakannya," jawab Adrian.


"Astaga." Ryanthi menggeleng pelan. "Entah berapa banyak gadis yang sudah kamu cium." Ryanthi memalingkan wajah ke luar jendela kaca mobil.


"Apa kamu senaif itu, Ryanthi?" Adrian menggeser tubuhnya. Tangan kanan pria itu meraih wajah Ryanthi, lalu membalikkan ke arahnya. "Jangan takut," ucap Adrian pelan dan dalam.


"Aku tidak takut. Aku hanya ...." Ryanthi tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Adrian mengulangi adegan saat di dapur tadi. Malam itu, Adrian menikmati bibir Ryanthi hingga dia kali. Sementara, Ryanthi sendiri tak menghindar apalagi menolak.


Gadis itu tersenyum lembut. Dia seakan diterbangkan angin ke nirwana. Ryanthi memejamkan mata, merasakan ribuan kupu-kupu yang menggelitik hatinya. Ryanthi melangkah masuk ke kamar dengan membawa senyum terkembang. Perasaannya sungguh tak karuan.


Begitu juga dengan Adrian. Pria tampan tersebut mengendarai mobil dalam kecepatan sedang. Raut wajahnya memang terlihat biasa saja. Namun, binar indah dari sepasang mata pria berdarah Indonesia-Perancis tersebut tampak jelas menyiratkan rasa bahagia tak terkira. Rasanya, Adrian ingin melompat setinggi mungkin dengan menggunakan trampolin. "Ryanthi," ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2