
Surya memarkirkan Jeep Rubicon miliknya di area parkir sebuah mall. Dia lalu mengajak Ryanthi masuk. Mereka berjalan beriringan. Dari penampilan yang jauh berbeda, mereka terlihat seperti pembantu dan majikan.
Surya mengajak Ryanthi berkeliling. Di dalam mall itu, ada banyak toko dan butik dengan brand-brand ternama. Setelah berjalan beberapa saat, pria paruh baya itu membawa Ryanthi ke sebuah butik. Dia menyuruh Ryanthi memilih pakaian yang disukainya.
Ryanthi yang memang ingin mengubah penampilan, tidak menolak hal itu. Dia langsung memilih beberapa dress. Ryanthi menjatuhkan pilihan pada midi dress. Dia tak akan berani berpenampilan seperti Vera.
"Kau suka baju-bajunya?" tanya Surya pada dress yang sudah Ryanthi pilih.
Ryanthi tersenyum, sebagai jawaban kepada sang ayah. Dia langsung mencoba semua dress yang telah dipilihnya tadi.
Setelah membeli beberapa pakaian, Surya lalu mengajak Ryanthi membeli sepatu. Intinya, hari itu dia benar-benar memanjakan putri semata wayangnya tersebut.
"Kamu senang dengan acara kita hari ini?" tanya Surya sambil meneguk secangkir kopi yang telah dipesannya. Mereka kini telah berada di food court, berhubung saat itu sudah waktunya makan siang.
Ryanthi mengangguk sambil mencicipi segelas jus alpukat yang ada di hadapannya. "Terima kasih. Apa ini tidak terlalu berlebihan?"
"Tidak ada yang terlalu berlebihan untukmu. Itu sesuatu yang seharusnya Ayah berikan dari dulu," ucapnya, seraya mencicipi sate maranggi yang baru disajikan oleh pramusaji.
Ryanthi mengikuti apa yang Surya lakukan. Sambil makan, dia melihat sekeliling tempat itu. Makin siang, suasana di sana semakin ramai. Namun, satu hal yang menjadi pusat perhatian Ryanthi ialah sosok pria yang terlihat mirip dengan Arshan.
Ryanthi terus memperhatikan pria yang sedang berdiri sambil memainkan ponsel. Sepertinya, pria itu tengah menunggu seseorang. Tak berselang lama, dia beranjak dari tempatnya. Pria tadi melangkah pergi bersama gadis yang hanya terlihat dari belakang.
Setelah puas berjalan-jalan dan makan, Surya mengajak Ryanthi pulang. Seperti biasa, gadis itu tidak banyak bicara. Padahal, masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Yah," panggil Ryanthi pelan.
"Ya," jawab Surya sambil terus fokus mengemudi.
"Apa hasil tes DNA waktu itu?" tanya Ryanthi, bertepatan dengan lampu merah yang menyala.
Surya tersenyum. Dia paham jika Ryanthi merasa khawatir. Digenggamnya jemari gadis itu. "Jangan khawatir. Kamu adalah putri kandungku," jawab Surya, membuat Ryanthi tersenyum lega.
......................
Dua hari telah berlalu. Ryanthi tiba-tiba teringat pada sosok pria yang dilihatnya kemarin di mall. Entah mengapa, pikirannya terus tertuju kepada Arshan.
Terbesit niat untuk menemui pria itu. Ryanthi juga ingin Arshan melihat penampilan barunya. Gadis itu lalu berpamitan kepada Mbok Mur, berhubung Surya tengah pergi keluar.
Seperti biasa, Ryanthi menaiki bus kota saat pergi ke manapun. Padahal, di rumahnya ada mobil dan sopir yang siap mengantar.
Sore itu, cuaca cukup mendung. Untunglah, Ryanthi tiba di tempat tujuan sebelum hujan. Dia telah memasuki kawasan perumahan tempat tinggal Arshan.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya Ryanthi tiba di sebuah rumah cukup besar dengan teralis berwarna hitam. Ryanthi tertegun sesaat, karena dia melihat mobil yang terparkir di depan rumah itu. Ryanthi merasa tak asing dengan mobil sedan tersebut. Namun, dia tidak terlalu ambil pusing. Ryanthi bergegas masuk ke halaman, lalu mengetuk pintu.
__ADS_1
Namun, setelah beberapa kali Ryanthi mengetuknya, ternyata tak ada respon sama sekali. Gadis itu bahkan sudah mulai jengkel. Bertepatan saat dia akan berbalik, pintu terbuka memperlihatkan Arshan dengan celana pendek T-Shirt polos.
"Hai," sapa Ryanthi hangat. "Apa kamu sedang sibuk?" tanyanya. Ryanthi berbasa-basi, berharap agar Arshan mengomentari penampilan barunya.
Namun, ternyata pria itu seakan tak peduli. Arshan justru tampak gelagapan. "A-aku ... em ... sebenarnya ...." Pria itu bingung harus berkata apa.
Ryanthi mencoba mencerna sikap aneh sang kekasih. "Ada apa? Kuharap, kamu tidak terganggu dengan kedatanganku."
Untuk kali ini, Arshan mencoba terlihat lebih tenang. "Bukan begitu, tapi ...." Lagi -lagi, Arshan tidak dapat melanjutkan kata-katanya, sehingga membuat Ryanthi terdiam sejenak.
Tiba-tiba, Ryanthi teringat dengan mobil sedan yang terparkir di depan rumah. "Di mana gadis itu?" tanyanya dengan wajah teramat serius.
Arshan terkejut mendengar pertanyaan Ryanthi. Dia tidak menjawab. Arshan semakin tampak gelisah, ketika Ryanthi menerobos masuk dan berjalan ke sana kemari seperti sedang mencari sesuatu. Lebih tepatnya, seseorang.
"Thi ... apa yang kamu cari?" Arshan berusaha menghalangi pergerakan Ryanthi.
Namun, Ryanthi sekuat tenaga menyingkirkan Arshan dari hadapannya. Ryanthi terus melihat ke setiap bagian rumah, tapi dia tidak menemukan siapa pun. Gadis itu berdiri dan matanya menatap sekeliling. Pikirannya tertuju ke lantai dua. Ryanthi bergegas menuju tangga. Namun, Arshan segera menghadangnya.
"Minggir!" sentak Ryanthi. Namun, Arshan bergeming. Dia tetap menghalangi langkah gadis itu. "Aku bilang minggir!" sentak Ryanthi lagi sambil mendorong Arshan, hingga hampir terjatuh.
Lepas dari hadangan Arshan, Ryanthi segera menuju ke lantai dua. Dia membuka setiap pintu kamar yang ada di sana. Akan tetapi, Ryanthi tidak menemukan siapa pun. Dia hampir putus asa. Namun, dirinya yakin bahwa Arshan menyembunyikan seseorang di sana.
Akhirnya, perhatian Ryanthi tertuju pada kamar paling ujung. Dengan langkah pasti, dia berjalan ke sana. Ryanthi berdiri di depan pintu kamar tersebut, lalu membukanya.
Dia melihat Vera yang baru mengenakan pakaiannya.
Vera begitu terkejut saat melihat Ryanthi berdiri di sana sambil memperhatikannya. Sementara, Arshan tak dapat berbuat apa-apa selain pasrah. Dia berdiri sambil bersandar pada dinding. Arshan seakan sudah dapat menebak, apa yang akan terjadi pada hubungannya dengan Ryanthi.
"Ryanthi," sebut Vera sambil tersenyum. Senyum itu terasa bagaikan silet yang menyayat hati Ryanthi. Itu adalah senyum kemenangan Vera atas dirinya.
Ryanthi masih berdiri mematung sambil terus menatap gadis yang kini ada di hadapannya. Vera terlihat sangat bangga, saat melihat kekecewaan yang tergambar di wajah Ryanthi.
"Kamu disini?" tanya Vera yang langsung dijawab dengan tamparan keras di pipinya.
"Ryanthi kamu!" tunjuk Vera.
Lagi, Ryanthi menghadiahi Vera dengan satu tamparan yang sama keras, sehingga membuat Vera kembali memegangi pipinya. Vera berusaha untuk membalas tamparan Ryanthi.
Namun, dengan cepat Arshan mencegahnya.
"Minggir Arshan!" sentak Vera.
"Menyingkir dari hadapanku! Aku tak butuh perlindungan dari seorang pengkhianat sepertimu!" Ryanthi bicara sama kerasnya.
__ADS_1
Dia mendorong Arshan dari hadapannya hingga pemuda itu hampir tersungkur.
"Berani-beraninya kamu menamparku! Aku pastikan kamu akan mendapat balasan yang lebih menyakitkan dari itu!" ancam Vera.
"Tamparan itu belum seberapa! Aku pastikan kamu yang akan merasakan sesuatu yang lebih sakit dari tamparanku tadi!" balas Ryanthi tak mau kalah.
"Kamu pikir aku takut?" balas Vera mulai beringas. Dia menyerang Ryanthi dengan cara menjambak rambut gadis itu hingga terhuyung.
Namun, Ryanthi segera menyeimbangkan badannya. Dia membalas Vera dengan melakukan hal yang sama. Apalagi, rambut Vera lebih panjang, sehinggai dia lebih leluasa menarik rambut gadis itu.
Sementara, Vera terus berusaha melepaskan tangan Ryanthi dari rambutnya. Namun, Ryanthi menarik rambut Vera dengan sangat kencang. Vera meronta. Tangannya tidak tinggal diam. Dia menarik baju Ryanthi hingga robek di bagian depan. Untung saja, robeknya tidak terlalu besar, sehingga hanya memperlihatkan sebagian kecil saja dari dada Ryanthi.
Melihat baju barunya robek, Ryanthi jadi lengah. Saat itulah, Vera langsung menyerang. Dia mencakar wajah Ryanthi dengan kuku-kukunya yang tajam.
Ryanthi meringis. Dia membalas dengan menarik kembali rambut Vera dan menjatuhkannya hingga jatuh di lantai. Ryanthi segera menindih tubuh gadis itu, sambil melayangkan tinjunya hingga hidung dan bibir Vera berdarah.
"Arshan, kenapa kamu diam saja?" Vera meronta meminta pertolongan pemuda itu.
Sementara, Arshan hanya diam melihat perkelahian dua gadis di hadapannya. Dia begitu, terkejut melihat Ryanthi bisa seberani itu. Di mata Arshan, Ryanthi adalah gadis yang pendiam dan lembut.
"Athi, hentikan! Ryanthi!" Arshan berteriak, tapi gadis itu terus menyerang Vera hingga mengalami banyak luka di wajahnya.
Untunglah saat itu orang tua Arshan datang. Mereka terkejut mendengar suara gaduh dari lantai atas. Kedua orang tua Arshan terbelalak tak percaya, ketika melihat dua gadis tengah bergelut di lantai.
Sementara, hari semakin sore. Ryanthi duduk di sofa. Dia menatap Arshan penuh kemarahan. Sedangkan, Vera sudah pulang, dan mungkin sedang mengadu kepada Maya.
Tamparan keras mendarat di pipi Arshan.
Ibundanya tampak sangat marah dan kecewa, atas kelakuan anak bungsunya tersebut. "Sabar, Bu." Ayahanda Arshan mencoba menenangkan istrinya. Namun, ibunda Arshan sudah terlanjur marah, setelah mendengar pengakuan dari putranya tentang penyebab perkelahian Ryanthi dan Vera.
"Dasar anak kurang ajar!" bentak ibu Arshan.
Sedangkan, Arshan hanya diam menunduk, menyadari kesalahan yang sudah dirinya lakukan.
Sementara, Ryanthi hanya diam. Belum pernah dirinya lepas kontrol seperti tadi. Selama ini, Ryanthi selalu dapat mengendalikan diri, dalam situasi seburuk apapun. Namun, hari itu benar-benar luar biasa. Emosi dan tenaganya terkuras habis.
Gelap akhirnya datang menyelimuti bumi. Rintik-rintik hujan mulai turun mengiringi langkah kaki Ryanthi yang gontai menyusuri trotoar jalan. Makin lama, hujan turun semakin deras. Namun, Ryanthi seakan tak peduli, meskipun baju barunya basah kuyup. Dia berjalan seorang diri, di antara lampu jalanan.
Kendaraan yang lalu lalang pun melaju dengan keceptan tinggi. Mungkin karena jalanan malam itu cukup lengang, sehingga para pengemudi bisa menggeber kendaraan mereka dengan lebih cepat.
Ryanthi berdiri di pinggir jalan. Dia tidak sadar berada di mana saat itu, karena dari tadi hanya berjalan tanpa tujuan. Ryanthi melihat ke sekeliling. Tak ada siapa pun yang bisa dia tanya, sehingga Ryanthi memutuskan menyebrang. Dia tak tahu, dari arah lain muncul mobil yang sedang melaju kencang ke arahnya. Ryanthi memekik kaget, karena hampir tertabrak.
Untunglah, si pengemudi langsung mengerem kendaraan. Terlebih, karena Ryanthi jatuh pingsan tepat di depan mobil yang sudah berhenti tadi.
__ADS_1