
Hujan turun begitu deras, ketika Surya tengah berbincang hangat bersama seorang rekannya. Obrolan mereka terdengar begitu akrab.
Ryanthi yang baru selesai membuat kue bersama Mbok Mur, masuk ke ruang tamu. Dia datang ke sana membawa dua cangkir teh hangat, disertai kue buatannya tadi. Ryanthi menyuguhkan kue serta teh itu di meja.
"Ke mana Ratna? Kenapa kamu yang mengerjakan ini?" tanya Surya. Dia tidak suka, karena Ryanthi mengerjakan sesuatu yang menjadi tugas asisten rumah tangga.
"Mbak Ratna sedang ada pekerjaan lain," jawab Ryanthi tanpa menoleh kepada Surya. Dia tengah sibuk menata cangkir serta piring berisi kue di meja.
Surya hanya bisa menghela napas pelan. Pria itu menggelengkan kepala. Dia benar-benar tidak mengerti dengan karakter anak gadisnya yang satu ini.
Tidak ingin berlama-lama di sana, Ryanthi bergegaa kembali ke dapur. Dia tidak tahu siapa yang tengah berbincang dengan ayahnya. Sekilas, gadis itu melihat seorang pria dengan kaos polo berwarna putih. Meskipun sebagian wajahnya dipenuhi janggut tipis, tapi Ryanthi yakin jika pria tersebut berusia jauh lebih muda dari Surya.
Sayup-sayup terdengar lagi gelak tawa Surya, yang beradu dengan suara air hujan di luar.
Ryanthi duduk di dapur sambil memperhatikan Mbok Mur yang sedang sibuk memasak. Sesekali, gadis itu tersenyum membayangkan Surya tertawa lepas, karena perbincangan yang terlalu asyik bersama rekannya.
"Mbok merasa senang jika sudah mendengar bapak tertawa seperti itu," ucap Mbok Mur, yang telah berhasil membuyarkan lamunan Ryanthi.
"Memangnya kenapa, Mbok?" tanya Ryanthi tak mengerti.
"Karena bapak jarang sekali tertawa seperti itu, Non," jawab Mbok Mur tanpa menoleh kepada Ryanthi.
Ryanthi terdiam. Dia tidak terlalu mengenal ayahnya. Ryanthi tahu bahwa Surya merupakan pria yang baik, karena dulu sering membelikan dirinya boneka.
Ryanthi melanjutkan lamunannya di dalam kamar. Dia termenung di dekat jendela sambil menatap ke luar. Hujan sudah mulai reda. Langit pun kembali cerah. Perhatiannya, kini tertuju pada dua pria yang sedang berdiri di halaman parkir. Mereka adalah Surya dan rekannya tadi. Rekan sang ayah pamit. Dia pergi mengendarai Range Rover putih, meninggalkan halaman luas kediaman Surya.
Sayup-sayup, Ryanthi juga mendengar suara Vera. Rupanya, gadis manja itu baru pulang setelah seharian ini entah ke mana dan melakukan apa. Lain dengan Maya yang belum pulang, karena mobilnya belum terparkir di halaman.
Sungguh luar biasa. Setiap orang di rumah itu memiliki mobil sendiri-sendiri. Sementara, Ryanthi dan Farida harus berjuang banting tulang hanya untuk menyambung hidup.
Jika sudah teringat akan hal itu, rasa sakit di hati Ryanthi semakin dalam. Kekecewaannya terhadap sang ayah kian menjadi.
Sudah hampir satu minggu Ryanthi tinggal di sana. Namun, belum sekalipun dia berbicara secara pribadu dengan Surya. Padahal, banyak sekali pertanyaan yang ingin dia ajukan kepada pria itu.
__ADS_1
Setiap kali berhadapan langsung dengan sang ayah, entah kenapa bibir Ryanthi seperti terkunci rapat. Semua yang ingin dia tanyakan seakan menghilang dari pikirannya. Ryanthi bahkan lebih memilih untuk menghindar.
Ryanthi sadar jika seperti itu terus, maka tidak akan ada gunanya dia ikut pulang ke sana. Ryanthi merasa seperti ada penghalang besar yang membuatnya selalu ingin membatasi diri, ketika Surya berusaha untuk mendekat.
Maya dan Vera. Mereka hanyalah kerikil kecil yang jika ditiup pasti akan terbang dan menghilang. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari itu. Ryanthi sendiri tidak tahu apa.
Ryanthi menjadi saksi penderitaan sang ibu dengan kehidupan mereka yang teramat keras. Namun, jauh di lubuk hatinya, dia tak mampu jika harus memupuk benih kebencian yang terlalu dalam kepada Surya. Meskipun Ryanthi tidak memiliki banyak kenangan indah bersama Surya, tapi Ryanthi yakin sang ayah pernah memeluk serta menciumnya penuh kasih sayang.
Rynthi terus terhanyut dalam lamunan.
Dia baru sadar, ketika ada seseorang yang menyentuh pundaknya. "Ibu." Suara Ryanthi begitu lirih saat mendapati seorang wanita di sebelahnya.
Wanita itu tersenyum lembut. Dia menyentuh pipi Ryanthi, tanpa mengatakan apapun. Terlebih, karena Ryanthi lebih dulu memeluknya erat.
"Rambutmu sudah mulai panjang, Nak. Sudah lewat sebahu," bisik wanita yang tiada lain adalah Farida.
Ryanthi tidak menanggapi. Dia hanya ingin memeluk serta mencurahkan seluruh kerinduannya kepada sang ibu. "Bagaimana Ibu bisa ada di sini?" tanya Ryanthi heran. Dia sadar bahwa ibunya sudah tiada. Bagaimana mungkin wanita itu bisa mendataginya di sana?
Farida tersenyum seraya melepaskan pelukan. Dia menatap gadis kecilnya yang kini sudah dewasa. "Ibu kemari, karena tahu bahwa kamu sedang membutukan Ibu. Namun, sebelumnya Ibu ingin bertanya, apakah kamu tidak menangis saat Ibu pergi?"
"Semua orang bertanya. Mereka menganggapku aneh, karena aku tidak bersedih saat kehilangan Ibu. Itu semua karena mereka tidak tahu, jika akulah orang yang paling menderita dengan kepergianmu. Hanya karena aku tidak meratap, maka aku dianggap tidak berduka. Padahal di dalam hati, aku sangat kesakitan, Bu!" ungkap Ryanthi. Dia mengeluarkan segala keluh kesahnya terhadap Farida.
Farida kembali membelai rambut gadis itu.
"Ibu senang kau memutuskan untuk pulang bersama ayahmu. Ibu tahu, selama ini kau sangat merindukannya, kan?"
Ryanthi mengangguk saat menanggapi ucapan Farida.
Farida tersenyum lembut. Dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Hari mulai gelap. Lampu-lampu taman dan jalan mulai dinyalakan.
"Bicaralah padanya, Nak. Ungkapkan semua yang ada dalam pikiranmu. Tanyakan rasa penasaran yang ada di hatimu. Ibu yakin, ayahmu pasti akan memberikan jawaban. Jawaban yang kamu butuhkan," ucap Farida lagi dengan tatapan nanar. Sementara, Ryanthi hanya menatap lekat ke arahnya.
"Dia juga sangat merindukanmu," lanjut Farida lagi.
__ADS_1
"Dari mana Ibu mengetahui hal itu?" tanya Ryanthi pelan.
Farida balik menatapnya. Tampak jelas kesedihan yang teramat dalam di kedua matanya. "Ibu selalu tahu dengan apa yang dirasakan ayahmu, Nak," jawabnya pelan. Farida kemudian memalingkan wajah. Dia kembali menatap ke luar jendela.
Ryanthi melakukan hal yang sama. Dia menatap ke luar jendela. Suasana di luar sana sudah mulai gelap. Meskipun Ryanthi tidak tahu apa yang sedang dilihat sang ibu, tapi dia merasa bahwa Farida tengah memikirkan hal yang sama dengan dirinya.
"Ibu mengizinkanku bicara dengan ayah?" tanya Ryanthi seakan tak percaya.
"Ya," jawab Farida singkat. "Panggil dia "ayah", Nak," lanjutnya lagi.
Ryanthi tersenyum lega. Terjawab sudah. Itulah alasan mengapa hingga saat ini, dia tidak pernah bicara kepada Surya. Selama ini, Ryanthi hanya bertegur sapa seperlunya. Ryanthi juga tidak berani memanggilnya ayah secara langsung, karena dia terlalu sungkan untuk melakukan hal itu. Akan tetapi, kini Farida sudah memberinya izin. Ryanthi merasa sangat bahagia.
Ryanthi melirik sang ibu yang masih berdiri mematung di sampingnya. "Bu, aku ingin memanjangkan rambut seperti Vera," ucap Ryanthi polos.
Farida menoleh, lalu tersenyum. "Lakukan apapun yang menurutmu baik dan bisa membuat dirimu lebih bahagia. Sudah saatnya kamu kembali pada kehidupan yang sebenarnya. Ini semua milikmu, Nak. Maka nikmatilah sesuatu yang seharusnya menjadi hakmu," ujar Farida lembut.
"Kamu adalah gadis yang kuat. Ibu yakin kamu pasti akan mendapatkan sesuatu yang lebih, sebagai anugerah dari Tuhan. Entah esok atau lusa, atau mungkin beberapa hari ke depan. Namun, pastinya akan datang seseorang yang akan selalu membuatmu tersenyum bahagia."
"Ibu hanya dapat berpesan, jangan pernah menyia-nyiakan siapa pun yang mencintaimu. Jaga dan pertahankan. Jangan sampai kamu melakukan hal keliru, seperti yang sudah Ibu perbuat. Satu hal lagi, sebaiknya kamu segera membeli baju baru." Farida berpesan kepada Ryanthi.
Ryanthi berpikir sejenak. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan ibunya. "Arshan akan selalu menjagaku, Bu. Ibu tidak perlu khawatir," ucap Ryanthi pelan.
Farida menatap Ryanthi sekali lagi. Wajahnya seperti menyembunyikan kekecewaan yang sangat besar. Namun, dia kembali tersenyum, meskipun hanya lengkungan kecil yang dipaksakan. "Temuilah ayahmu!" suruhnya.
"Sekarang?" Ryanthi merasa tidak yakin.
Farida mengangguk pelan. Sementara, Ryanthi tidak menjawab. Dia kembali terdiam. "Ini sudah gelap. Sebaiknya kamu segera menyalakan lampu," suruh Farida.
Ryanthi mengangguk. Dia menuruti apa yang Farida ucapkan. Ryanthi melangkah ke dekat saklar, lalu menekannya. Lampu di dalam menyala terang. "Ibu suka ka-mar-ku?" Ryanthi tertegun. Farida sudah tidak ada di tempatnya lagi. Secepat itukah dia menghilang.
Ryanthi mengedarkan pandangan. Matanya menyapu seluruh sudut kamar. Nmaun, dia tak menemukan siapa pun.
Gadis itu lalu memerika ruang ganti. Namun, di sana hanya ada lemari yang sebagian besar masih kosong. Ryanthi kemudian membuka pintu kamar mandi. Di sana pun tidak ada siapa-siapa.
__ADS_1
Lemas. Tubuh Ryanthi ambruk seperti tak bertulang. Dia duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk dan hampir menyentuh lantai kamar mandi. Napasnya tersengal-sengal, seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan dan sangat sulit untuk dikeluarkan.
Akan tetapi, Ryanthi terus berusaha dengan sekuat tenaga. Dia mendorong tubuhnya dari dalam dengan sangat kuat, meskipun terasa begitu menyakitkan. "Ibu!" pekik Ryanthi dengan sangat lantang.