
Moedya menatap lekat pria bermata abu-abu itu. Ia ingin lebih jelas menatap pria yang telah membuatnya merasa cemburu kepada Arumi.
"Jadi Anda juga ada disini?" tanya Edgar. Ia kemudian mengulurkan tangannya kepada Moedya dengan sikap yang hangat dan terlihat sangat akrab.
Ya, seperti itulah Edgar. Dia adalah pria yang sangat ramah kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang baru ia temui. Edgar benar-benar mengingatkan Arumi kepada mendiang sang ayah akan keramahannya.
Moedya tersenyum simpul. Ia menatap lekat pria tampan bermata abu-abu itu. Moedya pun membalas uluran tangan Edgar dengan sopan. "Moedya," ia memperkenalkan dirinya.
"Saya Edgar, kekasihnya Arum ...." ucap Edgar dengan penuh percaya diri.
Seketika Arumi terbelalak mendengar ucapan yang dilontarkan Edgar kepada Moedya. "Ed! No! Apa maksudmu?" sergah Arumi. Ia mencoba protes dengan keras kepada pria itu.
Edgar menoleh kepada Arumi seraya tersenyum. "What's wrong, Beib?" tanya Edgar dengan tenangnya.
"Kamu!" tunjuk Arumi dengan kesal kepada pria asal Perancis itu.
Moedya menoleh kepada Arumi. Ia menatap lekat gadis itu. "Jadi ... dia kekasihmu?" tanya Moedya dengan kalemnya. "Oh ... pantas saja," gumam Moedya dengan senyum sinisnya.
Arumi mengalihkan pandangannya kepada Moedya. Gadis itu juga sedang merasa sangat kesal kepada pria berambut gondrong itu.
"Tidak lagi!" bantah Arumi dengan jengkel. "Hubungan kami sudah berakhir sejak aku kembali dari Paris!" tegas gadis berlesung pipi itu. Ia masih melipat kedua tangannya di dada, dengan perasaan jengkel yang luar biasa.
Moedya tersenyum simpul. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nyatanya dia ada disini saat ini," bantah Moedya seraya menujuk ke arah Edgar meski tanpa menoleh kepadanya.
"Tetapi itu bukan berarti dia kekasihku!" Arumi tetap membantah dengan tegas.
"Ya, dan kalian berciuman? Aku melihatnya sendiri!" Moedya kembali mengungkit kejadian malam itu.
Arumi menatap lekat pria dengan tato di lengannya itu. Ia benar-benar marah kepada pria itu.
"Lalu apa masalahmu? Bukankah itu hal yang biasa untukmu? Bahkan kamu mengatakan jika itu juga hal yang biasa untukku! Apa yang kamu tahu tentang diriku?" kekesalan Arumi akhirnya pecah. Semua rasa marah dalam hatinya kepada Moedya yang selama ini ia pendam, ingin segera ia lampiaskan.
"Masalahku adalah dirimu!" jawab Moedya. Ia tetap berbicara dengan sikapnya yang tenang.
"Bullshits!" umpat Arumi seraya memalingkan mukanya dari Moedya.
Edgar tidak mengerti dengan perselisihan Arumi dan Moedya. Ia berkali-kali mengerutkan alisnya. Pandangannya berpindah-pindah dari dua orang itu secara bergantian.
__ADS_1
"Beib, who is he?" tanya Edgar dengan penasaran.
Arumi menatap Edgar masih dalam keadaan marah. Setelah itu, ia mengalihkan tatapannya kepada Moedya yang juga saat itu tengah menatapnya.
"Sama sepertimu, dia bukan siapa-siapa bagiku!" tegas Arumi.
"I hate you both! Kalian berdua adalah pengganggu!" tandas Arumi. Setelah itu, ia pun berlalu meninggalkan kedua pria itu sambil terus menggerutu.
Edgar menatap lekat lepada Moedya. Ia seakan meminta penjelasan kepada pria dengan gaya rambut man bun itu.
Moedya balas menatap Edgar. Ia hanya mengangkat kedua bahunya.
"Siapa kamu? Kenapa Arum sangat marah padamu?" selidik Edgar.
"Aku adalah pria yang sudah menciumnya sebanyak dua kali," jawab Moedya dengan tenangnya.
Mendengar hal itu, Edgar yang ramah tiba-tiba terlihat sebaliknya. Ia melotot tajam kepada Moedya.
"Arumku? Kamu mencium Arumku?" tanyanya dengan wajah tidak percaya. Jari telunjuknya pun kini lurus tepat di depan wajah Moedya.
"It's not your business!" sergah Edgar seraya terus menunjuk kearah Moedya.
"Akan menjadi urusanku jika itu berkaitan dengan Arumi. Karena aku ... aku mencintainya!" tegas Moedya dengan tatapan tajam kepada Edgar.
Edgar tergelak mendengar pengakuan Moedya kepadanya. Ia pun tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Arumi? Denganmu? No! Itu hal yang sangat mustahil!" bantah Edgar dengan keras.
"Sejak kapan Arum tertarik dengan ... sorry, pria sepertimu? Setahuku, Arum lebih menyukai pria yang rapi dan tentunya berkelas, like me," ujar Edgar dengan penuh percaya diri.
Moedya masih terlihat tenang dengan ejekan halus dari mulut Edgar yang ditujukan kepadanya. Ia tidak merasa tersinggung atau pun sakit hati. Ia justru hanya tersenyum dengan gayanya yang kalem.
"Adakalanya orang merasa bosan dengan sesuatu yang biasa, lalu mereka akan mencari sesuatu yang berbeda dan unik. Mungkin hal itu juga yang terjadi kepada Arumi. Bukan salahku jika ternyata ia tertarik padaku," balas Moedya.
"Harus ku akui jika saat ini hubungan kami memang sedikit renggang, tapi hal itu tidak akan berlangsung lama. Aku akan segera membawa Arumi kembali, dan saat ia telah kembali padaku ... maka aku pastikan, jika ia tidak akan pernah terlepas lagi dari dalam genggamanku!" tegas Moedya dengan sangat yakin.
Tatapan tajam kedua pria itu saling beradu. Mereka seakan ingin membuktikan siapakah yang terkuat dan terpilih tentunya.
__ADS_1
Edgar kembali tergelak. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "I'm not sure," ujarnya dengan sinis.
Sementara itu Arumi sendiri hanya duduk termenung di atas tempat tidurnya. Kedua pria itu hanya membuatnya sakit kepala. Darahnya terasa naik ke ubun-ubun dan mendidih disana. Mereka benar-benar tidak pengertian.
Sejenak, Arumi tersadar akan sesuatu. Ia pun bergegas keluar dari kamarnya dan menuju balkon. Dari tempat itu ia melihat dengan jelas jika Edgar dan Moedya masih ada disana. Entah apa yang tengah mereka bicarakan saat itu, tapi yang pasti Arumi merasa jika itu bukan sebuah obrolan hangat seorang sahabat.
"Hey!" seru Arumi dari atas balkon dan membuat kedua pria itu serentak menoleh kepadanya.
"Kenapa kalian berdua masih disini?" serunya lagi. "Cepat pulang dan gosok gigi! Setelah itu tidur dan peluklah boneka beruang kalian masing-masing!" umpat Arumi dengan jengkel.
Moedya menghela napas panjang. Ada sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya. Setidaknya ia tahu jika energi gadis itu telah kembali. Arumi tidak tampak lesu lagi seperti saat pertama kali Moedya datang ke rumahnya tadi.
"Beib, kemarilah!" panggil Edgar. Ia mengajak Arumi untuk turun kembali ke halaman.
"No! Kalian berdua adalah pengganggu! Aku muak melihat kalian berdua! Sebaiknya segera tinggalkan rumahku sekarang juga! Ataukah perlu ku panggilkan satpam?" usir Arumi dengan kesalnya.
Edgar dan Moedya saling pandang. Mereka berdua sama-sama menghempaskan napas pendek dengan sebuah keluhan.
Moedya kembali mengalihkan tatapannya kepada gadis berambut panjang yang masih berdiri di atas balkon itu. Ia terus melayangkan senyum kecilnya kepada gadis itu.
Arumi pun membalas tatapan pria bertato yang kini membuat hatinya sangat kesal bercampur heran. Dengan seenaknya, Moedya marah kepadanya dan tiba-tiba tersenyum seakan memberikan kembali harapan cinta yang besar untuk dirinya.
Arumi kemudian menatap Edgar. Pria itu sungguh manis. Dia teramat manis hingga selalu saja ada semut yang mengerubutinya dan membuat Arumi merasa risih karenanya.
"Ed!" seru Arumi. "Kembalilah ke Eropa. Jangan lupa sampaikan pesanku untuk pirang murahanmu itu! Aku tidak suka jika dia mengganggu kakakku!" tegasnya.
"Moemoe, kembalilah ke bengkelmu dan bermainlah dengan mobil rongsokan! Semoga kamu tahu seberapa sulitnya memperbaiki sesuatu yang sudah rusak itu!"
Arumi terus menggerutu. Ia tidak sadar jika Keanu sudah berdiri di belakangnya.
"Arum? Ada apa ini?" tanya pria berambut cepak itu dengan penasaran.
Arumi tertegun. Ia lalu menoleh kepada sang kakak. Tanpa berkata apa-apa, ia pun berlalu begitu saja meninggalkan Keanu sendiri di atas balkon.
Keanu merasa heran dengan sikap adik kesayangannya itu. Ia kemudian menoleh kearah halaman rumah dimana masih berdiri kedua pria yang telah membuat Arumi terus menggerutu.
Keanu mengernyitkan keningnya. Ia semakin tidak mengerti kenapa Arumi harus berteriak-teriak kepada kedua pria itu.
__ADS_1